Pagi, aku terbangun seperti biasa. Sebelum ke kamar mandi, aku melewati meja kerja Mas Aiden. Sedikit termenung melihat meja itu berserakan dipenuhi kertas, serta laptop yang belum terlipat. Dia sangat pintar mempermainkan rasa ibaku. Kemudian berakhir dengan aku terpaksa memperbaiki lembaran-lembaran kertas itu, beserta map-mapnya. Setelah mandi dan bersiap, aku sempatkan diri untuk menyiapkan sarapan agar tidak ada lagi drama yang menyebabkan interaksi antara kami. Tapi, aku juga masih sebal padanya. Hm .... Aku membuat dua porsi nasi goreng polos dengan bumbu instan. Berbeda dari biasanya aku mencampurkan sosis dan sayuran. Dua sosis aku potong-potong. Salah satunya berbentuk memanjang, satunya lagi berbentuk koin. Setelah nasi goreng matang, aku menggoreng telur, mengorak-ariknya d

