Akhirnya bosan jg nongkrong Deniar nawarin nonton film tapi aku tolak dan aku minta pulang krn hrs ngerjain tugas sekolah.
“Eng mau bungkus makanan untuk bawa ke rumah buat keluarga ?” tanya Deniar nyuruh bungkus makanan.
“Nggak ahh paling mereka sudah makan jam segini mah.” Sahutk.
Tapi Deniar maksa untuk bungkus. Dia masuk ke dalam ga lama kemudian balik.
“Tunggu yaa lagi di buatkan.” Ujar Deniar. Ga lama nunggu datang pelayan bawa kresek berisi beberapa dus makanan.
“Jangan kaget Eng ini café keluarganya Deniar dikelola kakaknya, dia mah bebas,” crocos Agus. Nungky juga dibawain sama sepertiku
“Ooh pantesan kalo gitu, makasih ya Aa, ayo kita pulang.”
“ternyata baik banget yaa orangnya,” batinku, ”Ihhh ga deh dia kan om-om gitu usianya pasti ga jauh dari Aa Agus.”
Kita kadang tidak tahu banyak yang berwajah malaikat tapi ternyata hatinya seorang monster.
****
Tak terasa sudah dua bulan “pacaran” dengan Deniar, kenapa diberi tanda kutip kata pacaran nya karena kebersamaan kami bukan kesepakatan kedua belah pihak.
Hanya Deniar saja yg merasa pacaran denganku.
Aku sudah ga tahan dengan keadaan ini. Deniar makin ke sini makin mengekang aktivitasku.
Dilawan dengan kasar gak mempan, dia jadi lebih kasar. Menghindari tetep saja gak bisa di bilang aku gak tau diri, karena dimata orang-orang dia begitu lembut dan gajinya pun di transfer ke rekeningku, penuh perhatian ! Segala kebutuhanku dipenuhi dan begitu royal pada keluargaku.
Aku ingin mengungkapkan nya betapa dia selalu mengintimidasiku dibelakang keluarga dan orang lain.
Tetapi aku gak punya nyali untuk mengungkapkannya karena dia selalu penuh ancaman. Makin ke sini makian dan ancaman nya semakin serius. Sering kata-katanya melecehkan aku atau keluargaku.
Terkadang ngungkit masa lalu kakakku atau miskinnya keluargaku. Dia selalu bilang aku beruntung dicintai dia karena derajat keluargaku akan terangkat.
Sebenarnya rumahku dengan rumah Deniar tidak begitu jauh kurang lebih dua kilometer saja, tapi ga pernah ketemu selain ya waktu di kedai bakso mang Hasan itu. Karena Deniar sekolah di
pusat kota, dia beli rumah sendiri di kota.
Sedangkan rumah kami di pinggiran kota, tapi orang tuanya tinggal satu daerah denganku.
Malam ini menunjukan pukul tujuh, Deniar akan mengajak ketemu keluarganya. Dan tentu saja ga bisa menolaknya seperti biasa.
Awal-awal bisa menghindar untuk bertemu keluarganya karena memang merasa belum siap ada alasan kuat untuk menghindarinya karena kami belum berkomitmen.
Tapi sekarang alasan itu tidak berguna lagi, dia tidak mau tahu. Karena
orangtuanya selalu mendesak untuk segera menikah. Begitu alasan dia. Daripada harus ribut ya sudah aku iyakan saja.
Aku lagi mode bengong, menunggu jemputan Deniar. Mobil Deniar berhenti depan terasku, diabergegas keluar dari mobil dan menghampiriku.
“Ayo sayang kita berangkat keluargaku sudah menunggumu, aku masuk dulu ya mau minta ijin Amih bawa kamu ke keluargaku,” Deniar bilang sambil berlalu masuk kedalam rumah.
Ga lama Amih dan Deniar keluar.
“Mih aku pergi dulu yaa,” ucapku sambil mencium tangan Amih. Diikutin Deniar cium tangan kamipun berlalu menuju mobil Deniar.
Kami berdua masuk mobil gak lama kemudian melaju menuju rumahnya, sesampai di rumahnya disambut kedua orangtuanya dan kakaknya.
“Selamat datang Eng di rumah keluarga Deniar,” mereka ternyata ramah dan terbuka menerimaku.
Aku mendekat lalu salam dan cium tangan orangtua dan kakaknya Deniar. Setelah berbasa basi sebentar orangtuanya mengajak masuk ke ruang makan.
Setelah selesai kami ngobrol di ruang tengah, "Bagaimana sekolahmu, Deniar bilang beberapa bulan lagi selesai sekolahnya,” Syahreza, ayahnya Deniar membuka pembicaraan yang rada serius kelihatan nya. Soalnya tadi di ruang
makan hanya obrolan ringan dan becanda saja.
“Iya Om, saya sedang fokus menghadapi ujian. Soalnya ga mau nilaiku jelek,” jawabku, "karena ingin nerusin kuliah Om, mumpung masih muda.”
“Ga apa-apa kok kuliah setelah nikah juga ya kan Deniar, usiamu kan sudah pantas menikah” ayahnya bicara sambil melirik Deniar, usia Deniar menjelang 28 tahun sedangkan aku baru 17 tahun jalan, lulus itu baru 18 tahun., berasa nikah dengan om-om atuhh.
Deg, iya kali Deniar sudah pantas nikah, tapi aku… aku !!! nikah ? sedikitpun ga terbersit untuk nikah cepet-cepet. Amit-amit deh gimana malunya, orang-orang pada kuliah trus aku nikah hamil gendong-gendong anak. Oooohhhh tidaakkkk dalam bayangan saja nggak ada.
“Om kenal looh sama Almarhum ayahmu Eng, makanya Om langsung setuju ketika Deniar bilang pacaran dengan anaknya pak Hadinata,” sahut Syahreza, ”Ketika masih hidup, Pak Hadi itu baik pisan.”
“kapan nih tunangannya, apa sekalian nikah saja ga usah tunangan. Sekolah kan sebentar lagi selesai ga kerasa loh beberapa bulan lagi,” kata Tatyana ibunya Deniar, mmembalas pembicaraan suaminya.
“Iya Bu, siapin saja segala sesuatunya sambil nunggu Eng selesai sekolahnya, Deniar mau menikah saja,” Deniar menyahut dengan semangat.
“Kalau Eng mau kuliah terus ga apa-apa kok, aku setuju saja, yang penting nikah dulu,”
Gustiiiiiii…. Aku ga mauuuu… aku ga yakin setelah nikah bakal setuju aku kuliah. Boro-boro kuliah di sekolah saja aku ga berkutik dijauhi teman-teman karena kelakuannya.
Setelah ngobrol ngaler ngidul, aku pamit pulang. Isi obrolan sebenarnya aku hanya menimpali sedikit-sedikit saja karena sudah mulai ga nyaman dengan isi obrolannya semuanya membahas pernikahan, sedangkan aku sama sekali ga setuju.
Kan pacaran saja masih tanda
kutip. Masih pihak Deniar yg nganggap pacaran.
Sebelum pulang orangtua nya Deniar membawakan berbagai macam penganan untuk keluargaku.
Kalo soal uang dan segala sesuatu tentang materi, sebenarnya Deniar sungguh royal sedikitpun tanpa perhitungan.
Ketika dirumah selagi tidak ada siapa-siapa ibuku sakit tengah malam dia ditelpon untuk datang, dia akan segera datang dan ngurus segala sesuatunya dengan baik.
Setelah masuk mobil, aku langsung mukul-mukul Deniar saking ga setuju, teriak-teriak sampe nangis saking ga mau.
Dia mah mau di cakar ato dipukul paling terkekeh saja yang penting keinginan nya tercapai.
Akhirnya aku diam karena kehabisan tenaga mukul-mukul Deniar.
Setelah aku diam baru Deniar bicara, ”Denger ya Eng, semua keputusan ditanganku, kamu hanya menjalankan saja. Semua kebutuhan pernikahan aku yang nanggung, kamu hanya tinggal
nerima saja nikah dengan aku.”
Aku sudah ga ada tenaga untuk bantah.
“kalo kamu menolak ato meninggalkanku, aku akan mencarimu sampai ujung dunia sekalipun. Aku akan menyakitimu seumur hidupku,” sambung Deniar.
Aku merinding pasrah.
“Kalo kamu ingin hidup tenang, kamu harus nurutin semua keinginanku,” lanjutnya.
Haaah….. apanya yang tenang, hidup sama kamu saja sudah membuat hidupku tidak tenang.
Segalanya hanya maunya dia, sedikitpun tidak pernah memikirkan maunya aku. Sedikit saja aku punya keinginan yang tidak sesuai dengan keinginan nya langsung mengintimidasi menyiksa
badanku.
Dia kira dengan materi semuanya selesai, semuanya bisa dibungkam ?
Walaupun aku tetap bareng kemana-mana sama Deniar, aku selalu menatapnya dengan sorotan permusuhan, body language ku juga memperlihatkan penolakan. Dia berkali-kali mencoba untuk mencium atau memelukku aku selalu menolaknya.
Jadi setelah berjalan tiga bulan Deniar belum pernah menjamah tubuhku. Soal ini Deniar cukup sabar menerimanya.
Bukan aku sok suci ga mau dicium lawan jenis sebegitunya, tapi mana bisa dicium yang ga kita suka cenderung benci. Rasanya jijik saja
***TBC