KSM – 2

2002 Words
"Bagaimana hasilnya?" tanya Shakeel menatap amplop putih di tangan Annisa. Belum sempat gadis itu mengucap sepatah kata perawat tadi sudah datang kembali. "Mari, Bu kita masuk keruangan Dokter untuk membaca hasilnya." Annisa masuk kedalam ruangan dengan pintu yang di buka oleh perawat. "Selamat siang, Bu Khairunnisa," sapa manis sang Dokter pada pasiennya. "Siang Dok," jawab Annisa sedikit gugup. "Tidak terjadi apapun dalam tubuh anda. Semuanya normal, mungkin kemarin hanya karena kelelahan saja." Dokter berkata setelah membaca sekilas hasil test urine Annisa. "Apa saya hamil atau tidak, Dok?" Sedari tadi Annisa tidak memperdulikan hasil pemeriksaan tubuhnya. Dalam pikiran wanita itu hanya ... bagaimana jika dia hamil. Hanya itu saja! "Dari hasil pemeriksaan ini saya tidak menemukan poin yang menyatakan bahwa anda sedang hamil." Dokter menunjukan secarik kertas hasil pemeriksaan dan menjelaskan secara terperinci. "Sudah berapa lama menikah, Bu?" tanya sang Dokter. "Baru tiga bulan dua minggu, Dok." Tak ingin di ketahui jawabannya berbohong Annis menjawab dengan cepat dan tegas. Haha "Masih baru ternyata. Sabar saja dulu, Bu. Lakukan hubungan s*x dengan suami lebih sering agar si kecil segera hadir." "Kalau masih penasaran Ibu dan suami bisa melakukan pemeriksaan langsung ke Dokter Obgyn." "Bila perlu kalian bisa melakukan program kehamilan. Kehadiran buah hati memang selalu di tunggu-tunggu para pasangan suami istri." "Saya doakan semoga si kecil cepat hadir ya, Bu." Panjang lebar Doker berkata. Annisa mencoba tenang dan tersenyum senatural mungkin sambil menganggukkan kepalanya. "Ada yang ingin di tanyakan lagi, Bu?" "Tidak, Dok. Semuanya cukup jelas. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Annisa sopan. Wanita itu masih berusaha menutupi kerisauan hatinya. "Jika ingin si kecil cepat hadir, maka banyaklah berusaha dan ikhtiar semoga Tuhan memberikannya dalam waktu dekat. Terimakasih. Sampai jumpa kembali," ucap sang Dokter terdengar tulus dengan senyumnya yang ramah. Annisa berjalan gontai keluar dari ruangan Dokter. Hatinya masih tak puas dengan apa yang di katakan Dokter tadi. Entah mengapa Annisa yakin bahwa telah terjadi sesuatu pada dirinya. "Kenapa, Sayang?" tanya Shakeel yang melihat Annisa berjalan sambil termenung keluar dari ruangan Dokter. Seperti seorang yang memikul beban berat. "Dokter bilang tidak terjadi apapun padaku, Mas," ucapnya lirih. "Jika tidak terjadi apapun lalu mengapa wajahmu seperti sedang memikirkan sesuatu? Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Shakeel. Hati pria ini pun sama gelisah nya dengan, Annisa. Hanya saja dia mencoba untuk tenang. Bayangan akan dosa yang di perbuat selalu hadir di pikirannya. Namun, rasa nikmat yang timbul dari dosa itu membuat dirinya yang hanya memiliki separuh titik iman melemah. Menginginkan lagi dan lagi. "Entah lah. Aku tidak puas dengan perkataan, Dokter tadi. Aku rasa telah terjadi sesuatu pada diriku." "Jika memang aku tidak hamil maka itu adalah berita yang sangat membahagiakan. Lalu ada apa dengan diriku sebenarnya, Mas?" Pikiran Annisa mulai menjelajah lebih jauh sementara Shakeel hanya diam dan mencerna setiap ucapan sang pujaan hatinya itu. "Akhir-akhir ini, aku perhatikan kalau kamu itu seperti orang yang banyak pikiran. Sebaiknya kamu jangan berpikir macam-macam." "Pemeriksaan itu gak mungkin salah apalagi tertukar, misalnya. Cuma kamu yang hari ini datang untuk test urine. Sudahlah jangan di pikirkan." "Jika memang kamu hamil, maka mari kita hadapi bersama dan kalau tidak, bisa jadi Tuhan masih menutup aib kita." Shakeel mencoba tegar demi Annisa. Mau bagaimana pun keadaannya ini adalah kesalahan mereka berdua. "Aku takut ..." ucap Annisa lirih matanya memerah membendung air yang siap untuk jatuh. "Ssttt ada aku. Aku tidak akan meninggalkanmu dalam kondisi apapun." Shakeel mencoba menguatkan pujaan hatinya itu. "Ayo kita pulang kamu harus beristirahat." Rasa cinta keduanya begitu besar. Perasaan itu di rasakan makin mendalam saat Annisa dan Shakeel menghabiskan malam pertama kali. Keduanya sama-sama pertama kali merasakan surga dunia membuat cinta itu tumbuh semakin dalam. Entah itu Cinta atau hanya Napsu semata tapi, perlakuan keduanya sungguh terlihat begitu tulus. Sering kali mereka sepakat untuk tidak melakukan perzinahan. Namun, nyatanya Napsu tak terkalahkan. Setiap selesai dengan ritual panas yang seharusnya di lakukan pasangan suami istri mereka pasti menyesal dan berjanji tidak mengulangnya lagi. Namun, sayang janji itu hanya sebatas ucapan. Keduanya sama-sama menginginkan kenikmatan surga dunia. Setibanya di kostan Shakeel, Annisa mengatakan bahwa ia ingin langsung pulang ke asrama saja. Sudah banyak pakaian kotor yang menumpuk menunggu sang empunya mengantar ke laundry. Belum lagi Annisa memikirkan seprai yang sudah dua minggu tidak di ganti karena terlalu sering menginap di kost Shakeel. "Pucat amat, Neng," ucap salah satu teman sekamar Annisa begitu melihat wanita itu masuk. "Biasalah ... anemia aku kambuh," jawabnya bohong. Annisa memang mengidap anemia namun saat ini penyakitnya itu sedang tidak kambuh. Temannya pun hanya menggelengkan kepala. Lima tahun hidup bersama dalam asrama milik perusahaan ini membuat mereka saling memahami satu sama lain. Diantara penghuni kamar hanya Annisa yang sering tidak masuk kerja dan dirawat di Rumah Sakit karena memang dia mengidap Anemia. Sebuah keberuntungan bisa masuk perusahaan ini dan lulus saat test medical dulu. "Mau kemana lagi, Nis?" tanya teman Annisa yang lainnya. "Mau kebawah ngantar pakaian kotor. Sekalian mau belanja ... pengen masak bakso mercon. Udah lama gak makan pedas semenjak drama asam lambung itu." Bukan hanya Anemia Annisa juga menderita asam lambung karena terlalu sering telat makan dan mengkonsumsi mie instan. "Jaga tubuh mu baik-baik, Nis. Baru 23 tahun juga udah banyak penyakit. Konsumsi sayuran jangan lupa!" Karena hanya Annisa yang sering sakit membuat satu kamar itu lebih memperhatikan kesehatan Annisa. Annisa memiliki gaji yang cukup besar Namun, dia harus rela hanya mendapat seperepmat dari gajinya. Sisanya akan di kirim ke kampung. Memiliki Ayah yang suka bermain judi dan Ibu seorang buruh cuci serta tiga orang adik dalam masa pendidikan membuat Annisa rela hidup susah di rantau agar keluarganya berkecukupan. "Nis, ayo aku temani kamu ke bawah. Aku gak mau sampai terjadi sesuatu sama kamu nanti. Wajahmu pucat banget soalnya," kata salah seorang teman baik Annisa. "Mbak, Annisa gak apa-apa. Kalau mau menemaniku turun,ya sudah ayo lah. Aku jadi punya teman mengobrol di jalan nanti," ucap Annisa. **** Pagi sudah mulai muncul ke peraduan. Jam menunjukkan pukul lima pagi hari saat sebuah asrama putri tampak ramai dengan kegiatan para karyawati yang sedang bersiap pergi kerja. Para kaum hawa itu sudah sibuk dengan diri mereka masing-masing. Ada yang memasak untuknya sendiri, ada yang bernyanyi di kamar mandi layaknya artis Ibu Kota ternama dan ada juga yang mencuci pakaian. Di salah satu kasur twin bertingkat ciri khas anak asrama ada seorang gadis yang masih betah meringkuk dibalik selimut mencari kenyamanan dengan bantal guling yang empuk. "Nis, bangun ... kamu gak kerja, ya?" tanya teman sekamar Annisa. Huuuaaaa Annisa mencoba merenggangkan otot-ototnya dengan masih berbaring, memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan. "Woy! bangun kenapa ... biasanya juga jam segini elu udah siap masak." Wanita yang kerap disapa Nanas itu mengguncang tempat tidur Annisa. "Apaan sih gak jelas banget. Aku pusing nih kepalanya, kayaknya anemia masih berlanjut," ucap Annisa beralasan. Tangannya tiba-tiba saja terulur sendiri mengelus perut rata, seolah sedang berinteraksi dengan makhluk kecil di dalamnya. "Makanya, Nis. Kamu itu harus banyak makan, makanan yang bergizi! jangan asik makan Ayam Geprek sama mie instan aja setiap hari. Kalau masak juga gak jauh dari cabe-cabean. Penyakitan kan lu akibat gak ada vitamin." "Tiap hari juga aku makan, makanan yang bergizi. Cabe juga mengandung banyak gizi tau ... udah ahh mau mandi udah jam enam." Annisa beranjak dari kasur menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi Annisa tiba-tiba saja terdiam saat memandang tubuh polosnya. "Sepertinya ada yang aneh pada tubuh ku." Di pandangnya lagi tubuhnya sendiri dari atas sampai bawah. Hingga pandangannya berhenti di perut. Bagian perut bawah pusarnya seperti di tarik masuk ke dalam tapi, Annisa segera menepis pikiran itu. "Apa perut wanita yang tidak perawan memang seperti ini?" tanya Annisa pada dirinya sendiri. Cukup lama wanita itu berada di kamar mandi merenungi setiap kejadian aneh yang menimpa dirinya beberapa minggu belakangan ini. Pukul 06:30 seluruh penghuni asrama sudah bergegas menuju parkiran untuk menunggu kedatangan bus yang akan mengantarkan mereka ke perusahaan. Setelah bus datang tidak ada yang berebut masuk, masing-masing masuk dengan tertib. Perjalanan dari Asrama ke perusahaan hanya memakan waktu 15 menit. Annisa tiba-tiba saja merasakan bahwa dirinya pusing sekali, dia mencoba bertahan dengan mengambil obat anemia di saku baju kerjanya. Biasanya jika dia pusing maka sudah bisa dipastikan bahwa Anemia yang diderita Annisa sedang kambuh. Sampai di perusahaan Annisa masih bisa bekerja dengan normal di kubikel nya. Mengecek satu- persatu barang yang masuk, mengangkat bin-bin besar berisi produk perusahaan mereka. "Nisa!" teriak Lusi salah satu teman bekerjanya. "Lusi, kamu udah selesai cuti?" tanya Annisa. "Udah dong. Ini oleh-oleh buat kamu." Lusi menyodorkan paper bag di tangannya. "Makasih sayang," jawab Annisa menerima bungkusan itu. "Eh hari ini kita lembur loh, kamu semangat ya, Nis. Aku lihat wajahmu pucat banget." "Aku gak apa-apa. Biasalah Anemia," kata Annisa tersenyum manis. "Hei! Kalian ini bukannya kerja malah menggosip. Kalian itu di gaji perusahaan untuk menghasilkan out put yang banyak agar perusahaan ini semakin berkembang bukannya malah menggosip gak jelas. Ingat, ya hari ini lembur! Gak ada yang boleh izin. Semuanya wajib lembur!" "Dasar leader gak berakhlak! Bisa gak sih kalau ngomong jangan ngegas! Kayak kurang belaian aja padahal tiap malam tempur mulu." "Ehh jaga mulutmu, ya. Perempuan jal@ng! Aku itu masih suci. Se-suci embun pagi." "Idihhh sejak kapan orang suci di lehernya banyak bekas cup@ngan." "Udah, Lus. Udah ... kamu harus ingat bahwa dia itu atasan kita," kata Annisa menengahi mencoba meredam emosi Lusi yang mudah meluap. "Dengar itu teman kamu ngomong! Posisi aku lebih tinggi dari kalian. Kalau kalian berani macam-macam akan aku adukan pada SPV. Haha." "Dasar wanita sejuta umat." "Jaga mulutmu perempuan jal@ng atau kamu akan ku adukan!" "Adukan saja pada yang mulia ratu mu itu. Aku tidak takut!" "Udah ahh princess gak pantas bergabung sama raky@t jel@ta sebaiknya aku pergi saja dari sini." "Sudah Lusi sudah, kamu harus ingat bahwa dia adalah atasan kita." "Benci banget aku sama dia, Nis. Udah wanita sejuta umat, pintar cari muka lagi." "Kalau dia enggak pintar cari muka, bagaimana bisa jadi wanita sejuta umat? Sudahlah, nanti juga setelah habis kontrak dia akan jadi gembel. Kita ini hanya karyawan kontrak kalau tidak bisa menabung untuk buka usaha maka kerja keras sebagi buruh akan sia-sia." "Haha ia juga. Kita kan hanya perantau yang sedang mengadu nasib di kota orang. Jika sudah kembali ke kampung halaman tidak akan merasakan semua ini lagi nantinya kecuali, kita masih memilih bertahan dan berjuang untuk menjadi lebih baik lagi." Kedua gadis itu masih terus larut dalam pembicaraan mereka, meski kadang harus terjedah karena mengobrol sambil bekerja namun obrolan tak berarti itu tetap terus berlanjut. Saat jam makan siang entah mengapa tiba-tiba saja perut Annisa bergejolak ingin mengeluarkan isi dalamnya seiringan dengan kepala yang semakin sakit membuat penglihatannya kabur dan tiba-tiba saja pingsan. Para karyawan lain yang melihat Annisa jatuh di lantai kantin, segera mengangkat tubuhnya ke klinik perusahaan. "Annisa kamu tidak mengkonsumsi obat Anemia mu lagi ya?" "Pagi tadi saya baru meminumnya, Dok," "Tekanan darah mu rendah sekali, Nis. Kamu istirahat saja di sini sampai jam pulang kerja. Jika nanti tidak ada kemajuan saya akan memberi rujukan ke Rumah Sakit," ucap perawat di klinik perusahaan. "Baik, Mbak." Kondisi Annisa mulai stabil. Namun, perawat klinik menyarankan agar dia tidak lembur karena kondisinya yang baru stabil takutnya jika kelelahan Annisa akan pingsan kembali. Jam menunjukkan pukul 15:20 artinya jam kerja shift pagi sudah selesai. Annisa berjalan keluar menuju parkiran tapi, dia memilih untuk tidak naik bus perusahaan. Annisa memilih pergi ke kost Shakeel. Sampainya di kost, Annisa menceritakan segala kejanggalan yang dirasakannya serta kejadian dia pingsan siang tadi. Shakeel pun memutuskan untuk pergi membeli test pack dan menyuruh Annisa agar tetap menunggunya di kost. Hampir 30 menit berlalu, namun Shakeel belum kembali. Saat Annisa baru akan memejamkan mata tiba-tiba saja pintu kost terbuka dan tampaklah wajah Shakeel. "Sayang ..." sapanya dengan senyum mengembang menatap sang pemilik hati yang sedang berbaring dengan mata sedikit terpejam. "Hem." "Cepat pakailah ini agar kita tau apa yang terjadi sebenarnya." Shakeel menyodorkan benda kecil itu pada Annisa. Hampir satu jam berlalu saat benda itu menunjukkan hasilnya. Hasil yang mampu mengubah dunia sepasang kekasih itu. "Sayang, kenapa lama sekali kamu di dalam. Aku sudah tidak sabar menunggu hasilnya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD