KSM – 3

1761 Words
"Sayang, kenapa lama sekali kamu di dalam. Aku sudah tidak sabar menunggu hasilnya," panggil Shakeel yang sudah menunggu satu jam lebih. "Ia sebentar. Ini juga aku mau keluar," jawab Kanza dari dalam toilet. "Bagaimana hasilnya?" tanya Shakeel begitu mendengar suara pintu terbuka. Sedari tadi pria ini memang sudah harap-harap cemas. "Po–positif, Mas ..." ucap Annisa gugup dengan suara yang hampir tak terdengar. "Jangan takut, sayang. Aku disini akan selalu bersama kamu. Ayo kita hadapi dunia ini." Shakeel menggenggam tangan Annisa. Memberi kekuatan untuk kekasihnya di saat hati dan perasaannya juga sedang gelisah. "A–aku takut, Mas," Dengan susah payah kalimat itu keluar dari bibir Annisa. "Sstt jangan takut sayang. Mas akan selalu disini menemani kamu. Sekalipun dunia menertawakan kita, menghina kita. Jika kita berjalan bersama kita pasti bisa. Kamu hanya perlu menggenggam tanganku dan berdiri di belakangku. Ikuti langkah ku. Percaya padaku," ucap Shakeel dengan lantangnya. "Ta–tapi, Mas ...." "Tidak ada tapi-tapi, sayang. Mari kita hadapi bersama," kata Shakeel menggenggam erat tangan Annisa. Menatap Lekat manik mata kekasihnya itu. Annisa langsung menghambur ke pelukan Shakeel. Wanita itu menumpahkan sakit di hatinya. Sesak di dad@. Bagaimana bisa dia hamil? Bukankah Shakeel selalu mengeluarkan pelepas di luar. Lalu bagaimana bisa semua ini terjadi padanya? Cukup lama Annisa menangis tersedu-sedu dalam pelukan Shakeel. Sesekali wanita itu berteriak mengatakan bahwa Tuhan tidak adil padanya. "Kenapa, Mas. Kenapa harus kita? Huhuhu. Aku tidak bisa, Mas. Bagaimana jika keluarga ku tau? Bagaimana, Mas?" "Annisa, sudahlah ... bukan kah sudah ku katakan bahwa kita akan menghadapinya bersama. Ini semua bukan kesalahanmu tapi ini adalah keteledoran ku, Sayang. Sudah lah kamu tidak perlu menangis lagi," kata Shakeel membujuk wanitanya. "Mas, bagaimana kalau kita gugurkan saja?" tanya Annisa tiba-tiba. "Aku setuju. Sebenarnya aku juga malu tapi, apakah kamu tau jika menggugurkan kandungan dapat membahayakan dirimu," ucap Shakeel memperingati. "Aku tahu. Aku takut, Mas. Huhuhu." "Annisa, aku mohon jangan menangis lagi. Jika kamu menangis terus seperti ini kamu akan sakit. Kepalamu bisa pening dan matamu bengkak. Sudahlah kita pikirkan jalan keluarnya. Kamu jangan menangis lagi," bujuk Shakeel. "Aku takut, Mas." Annisa mengulang perkataannya. Tangis tak kunjung reda tapi, ia melepaskan belitan tangannya di tubuh Shakeel. "Aku juga takut Annisa! Aku takut menghadapi orang tua ku! Kalau di gugurkan aku juga takut akan nyawamu! Aku lebih takut dari kamu Annisa! Aku takut!" Suara Shakeel yang menggelegar membuat Annisa menghentikan tangisnya. Hampir lima bulan menjalin kasih belum pernah Annisa mendengar suara lantang terucap dari bibir Shakeel. "Sa–sayang," panggil Annisa. "Bukan hanya kamu, Nis. Aku juga takut! Aku juga malu! Bahkan aku marah pada diriku sendiri." Shakeel meremas rambutnya, memukul-mukul tembok kamar kostan. Frustasi jelas dirasakan pria itu. "Jika kemarin aku bilang bahwa aku menerimanya maka, itu benar Annisa! Itu benar! Aku mohon kamu jangan menangis ... mari kita lewati semua ini bersama," kata Shakeel dengan suara bergetar. "Maafkan aku mas ...." "Aku kan keluar membelikan makanan. Jangan pergi kemanapun sebelum aku kembali." *** Shakeel Pov Sengaja aku meninggalkan Annisa sendiri. Membuat wanita itu berfikir lebih dalam. Sebenarnya sudah sejak satu bulan lalu aku tau karena setiap meminta berhubungan Annisa tak pernah menolak bahkan setau ku pun dia belum mendapatkan tamu bulanannya. Pernah aku mencoba bertanya namun Annisa hanya menjawab mungkin minggu depan sebab sering sekali tamu bulanannya datang tidak teratur apalagi di pekerjaannya dia harus mengangkat beban berat. Aku menelusuri jalan setapak yang menghubungkan kost ku dengan jalan raya. Kost kami terletak jauh dari permukiman penduduk karena tempat ini di huni oleh para manusia bej@t seperti kami. Kasihan itu pertama kali muncul di benak ku saat melihat Annisa terpuruk begitu mengetahui hasilnya. Dengan tegar aku mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Aku akan selalu ada bersamanya. Annisa, dia adalah wanita pertama bagiku, bahkan aku juga adalah pria pertama baginya. Aku sangat mencintai Annisa melebihi apapun. Saat sedang di jalan tiba-tiba saja aku melihat sepasang kekasih yang tengah berseteru. Jalan setapak menuju kost ini memang sunyi wajar saja jika banyak pasangan yang memadu kasih disini. Apalagi tempatnya terdapat di dataran tinggi membuat laut yang berada di ujung jalan terlihat begitu jelas. Awalnya aku tidak tertarik namun entah mengapa aku melangkahkan kaki mendekati mereka. Sayup-sayup ku dengar bahwa mereka memiliki masalah yang sama dengan kami. Aku mendengar laki-laki itu menenangkan wanitanya dia juga berkata bahwa testpack bisa jadi salah. Bisa saja benda itu sudah kadaluarsa! Pria itu memutuskan untuk membawa kekasihnya ke Dokter Obgyn. Tiba-tiba aku terpikir dengan Annisa mungkin saja keberuntungan akan bersama kami. Aku harus segera membeli makanan dan membawa Annisa ke Dokter Kandungan. "Mang, Sup daging 1, Ayam penyet 2, Udang Balado 1, Nasinya 4," ucapku pada Mang Udin penjual makanan langgànan kami. "Siap Mas. Mbaknya gak ikut?" tanyanya. Mungkin karena aku kesini selalu bersama Annisa jadi ketika tidak melihat pasanganku Mang Udin heran. "Enggak, Mang. Lagi sama temannya di kost. Makanya saya beli banyak makanan," jawab ku berbohong tentunya. "Biasa juga Mas sama Mbak makannya banyak. Hehe." "Mamang tau sendiri kalau kami ini sama-sama porsi kuli." Sudah lama aku berlanggànan makanan dengan Mang Udin malah dari sebelum mengenal Annisa. Di warung Mang Udin kami para anak kost boleh ngebon dan membayar nanti di tanggal gajian. "Itu namanya jodoh, Mas. Wajah kalian saja mirip. Sifatnya apalagi, awalnya saya kira Mbak Annisa itu adiknya eh ternyata kekasih hati." "Si Mamang bisa aja." "Nunggu agak lama ya, Mas. Banyak pesanan ayam soalnya. Wajan saya cuman satu jadi nunggu ayam siap di goreng baru bisa masak udang baladonya." "Gak apa-apa, Mang. Saya selalu setia nungguin Mamang." "Alah si Mas bisa aja. Pantesan Mbak Annisa kelepek-kelepek." "Haha bukan dia yang tergila-gila sama saya tapi kebalikannya saya yang ngejar-ngejar dia. Susah dapat perempuan baik dan penurut seperti Annisa di jaman sekarang ini, Mang." "Yang penting si Mas ganteng, Mbak Annisa juga cantik. Sama-sama baik. Sudah pasti Gusti Allah akan menjodohkan kalian." "Aamiin ...." "Ini, Mas pesanannya. Semuanya 50rb saja, ini hari jum'at jadi saya sedikit berbagi. Masnya juga jangan lupa berbagi supaya segala urusan berjalan lancar." "Terimakasih, Mang. Saya pamit dulu kasian Annisa dan temannya menunggu." "Sama-sama. Hati-hati dijalan." Aku berjalan keluar dari warung, Mang Udin. Tujuanku bukan langsung kembali ke kost melainkan masjid dekat sini untuk memberikan sedikit rezeki mumpung adzan magrib belum berkumandang. "Salah jalan, Mas." Ku dengar suara Mang Udin. Ternyata dia memperhatikan ku. "Berbagi, Mang." Aku tersenyum melihat pria berumur itu. Mang Udin sudah ku anggap seperti Ayahku sendiri. Sampai di halaman masjid aku mencari kotak amal yang biasanya ada disisi gerbang. Aku enggan untuk masuk, rasanya terlalu hina diri ini untuk sekedar berpijak pada kawasan suci. Sepuluh menit kemudian aku tiba di kostan, ku pandangi wajah teduh Annisa yang sedang terlelap. Matanya sembab, hidungnya memerah. Aku tau dia menyimpan luka yang berat. Aku juga bisa merasakan bebannya. Aku bisa melihat dia menyayangi buah hati kami dengan tangan yang menyentuh perut walau raganya tertidur. "Sayang, bangun." Aku mengelus kepalanya, membuatnya sedikit terganggu agar makanan bisa masuk ke perutnya. Beberapa hari ini ku perhatikan nafsu makan Annisa akan bertambah jika aku menyuapinya. Namun, jika ia makan sendiri tak sesuap pun akan berlabuh di dalam mulutnya. "Kenapa lama sekali?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur. "Tadi bercerita sedikit dengan, Mang Udin." "Kamu makan, ya. Biar aku yang suapi. Nanti setelah makan kita coba periksa ke Dokter Kandungan. Hasil dari testpack belum tentu akurat." "Hasilnya udah benar, Mas. Aku juga sadar bahwa haid terakhirku bulan lalu sedangkan sekarang sudah memasuki bulan baru. Aku telat satu bulan dua minggu, Mas." "Tidak masalah kalau memang hasilnya akurat. Aku hanya ingin memastikan lebih dengan datang ke Dokter Kandungan." "A–apa kita akan datang berdua?" "Ya, Sayang. Mana mungkin aku membiarkan mu periksa sendirian di saat Ibu Hamil lainnya ditemani para suami mereka." "A–aku takut kamu membiarkan aku sendirian seperti sebelumnya." Rupanya Annisa menyimpan beban saat aku tak pernah menemaninya masuk ke dalam Klinik maupun Rumah Sakit saat ia akan periksa. Aku pikir mengantarnya sampai depan area saja itu sudah lebih dari cukup. Ternyata Annisa juga ingin aku menemaninya masuk kedalam. "Kali ini beda, Sayang. Kita akan ke Dokter Obgyn, aku tidak akan membiarkan mu sendirian. Sekarang kita makan dulu, ya." Annisa mengambil piring untuk menghidangkan makanan kami. Aku membuka bungkusan nasi yang masih hangat. Saat baru terbuka aroma nasi panas bercampur daun pisang menyeruak. Perutku makin terasa lapar jadinya. Namun, berbeda dengan Annisa. Ku lihat ia langsung menutup mulut dan pergi ke kamar mandi. Hueekk Hueekk Hueekk "Sayang kamu baik-baik saja?" tanyaku menghampiri Annisa. Tidak mungkin ku biarkan ia sendirian di kamar mandi dalam kondisi seperti itu. "Aku tidak menyukai bau nasi yang kamu beli ..." jawab Annisa lirih. Aku kasihan melihatnya. "Biar aku yang menyulangimu. Apa sudah selesai muntahnya?" tanyaku yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Annisa. Dua puluh menit berlalu. Namun, Annisa masih betah di kamar mandi. Wajahnya memucat, tangannya juga dingin. Akhirnya ku paksa dia untuk ke keluar. Aku menuntun Annisa berjalan dan mendudukkan dia di atas tempat tidur. Dengan telaten aku mengelap wajahnya yang sudah basah dengan keringat bercampur air keran. "Sayang, ganti baju dulu sebelum kamu makan, ya." Aku mencari pakaian Annisa yang berada dalam koper ku. Di posisi ini segalanya kami bagi bersama. "Pakai ini," ucap ku menyodorkan piyama berwarna soft pink. "Makasih ...." Selesai Annisa memakai pakaian aku langsung menyuapinya makan. Jika melihat posisi sekarang ini aku seperti sedang merawat anak ku sendiri. Dua porsi nasi putih, satu potong ayam, serta sup daging dan udang balado habis di santap Annisa. Aku heran tadi katanya muak melihat semua makanan ini. Giliran aku menyuapinya malah habis dengan lahap. Bayi itu benar-benar anakku bahkan dia membuat mamanya tak berkutik jika aku sudah turun tangan. Nafsu makan Annisa akan bertambah saat aku menyuapinya. Kini ku lihat wanita yang paling ku cintai itu tengah duduk diatas kasur, menyandarkan punggung didinding. Aku tahu ia pasti sedang kekenyangan. Lama kelamaan matanya terpejam dengan gerakan malas membaringkan tubuh yang masih langsing. Ku pastikan dalam beberapa menit wanita itu sudah tertidur pulas. Ku pandangi wajahnya. Aku melihat keteduhan dimata tertutup itu. Entah mengapa hati kecilku berkata bahwa Annisa menginginkan buah cinta kami hadir ke dunia. Aku juga menginginkannya. Namun, aku hanya ingin Annisa bahagia ... aku tak ingin dia menanggung malu akibat perbuatan haram ini. Aku mengingat-ingat kembali saat kami pertama bertemu. Saat sama-sama pertama kali melakukan hubungan badan. Annisa gadis polos yang telah ku nodai. Ia juga seperti candu bagiku. Aku selalu menginginkannya lagi, lagi, dan lagi. Aku mencintaimu,Annisa! Sampai kapan pun aku akan selalu mencintaimu. Apapun keinginan kamu mengenai kandungan ini sebisa mungkin akan aku turuti. Maafkan aku, Annisa. Maafkan aku yang telah membuatmu jadi seperti ini. Disini akulah yang bersalah bukan kamu. Pov and
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD