KSM – 4

2022 Words
Sebuah kost-kostan kumuh tempat para pasangan kekasih memadu kasih tanpa adanya ikatan pernikahan. Kamar yang hanya berukuran 3 x 3 disulap oleh Annisa. Disain ala Korea dengan warna pastel menjadi pilihan utamanya. Ada tempat tidur ukuran 160 x 200 dengan dipan pendek dilapisi seprai berwarna fog. Untuk lantai, Annisa memilih karpet perekat tahan air berwarna pewter. Di bagian sudut ruangan. Tepatnya didepan pintu kamar mandi. Terdapat meja yang diatasnya sudah tertata kompor dan berbagai alat dapur lainnya. Hampir sempurna. Sedangkan dinding dia sulap menggunakan stiker berwarna flint. Kalau dilihat sekilas seluruh warnanya hampir senada. Untuk hiasan dinding. Annisa memilih beberapa pot yang mengapit jam ditengahnya. Serta bingkai foto dan kata-kata mutiara. Di sudut kanan tempat tidur terdapat cermin panjang dengan aksen lampu di sekelilingnya. Sedangkan disudut kiri terdapat rak minimalis dengan rangka terbuat dari besi berwarna putih menambah kesan modern. Kalau hanya melihat isi kamar tersebut tidak akan ada yang percaya jika kamar itu berada di kost-kostan kumuh yang letaknya cukup jauh dari jangkauan penduduk. Annisa memang mendesain kamar kostnya senyaman mungkin. Bagaimanapun waktunya dan Shakeel akan lebih banyak dihabiskan dalam kamar ini. Kini didalam kamar tersebut ada dua pasangan kekasih. Sepasang nya adalah tamu mereka. Masing-masing duduk dengan kaki bersila di atas karpet bulu tanpa motif berwarna porpoise. Beberapa cemilan serta minuman kaleng menjadi pelengkap perbincangan. "Jadi bagaimana bisa kalian tidak kecolongan tanpa pengaman?" Annisa bertanya pada sepasang kekasih yang menjadi tamunya itu. Pasalnya semalaman, Annisa tidak tenang. Ia memilih izin untuk tidak berangkat kerja. Berbagai pikiran memenuhi kepalanya. Masalah ini harus cepat diselesaikan sebelum bau busuknya tercium oleh orang lain. Shakeel memutuskan untuk mengundang salah satu temannya yang sudah lama bergelut dalam dunia bebas. Hal yang mengejutkan ... kekasih pria sahabat Shakeel ternyata adalah teman satu kerja Annisa. "Kami tidak menggunakan pengaman apapun sejak dulu. Hanya pelepasan di luar saja." Mariana menjawab pertanyaan Annisa. Entah jujur atau tidak hanya dia dan Tuhan yang tahu. "Berapa bulan kamu telat?" tanya pria kekasih Mariana yang bernama Samsul. "Prediksi ku baru enam minggu." Annisa menjawab ragu-ragu. "Baru prediksi?" tanya pria itu lagi. "Ya. Aku sudah berniat membawa Annisa ke spesialis kandungan tapi, dia menolak." Shakeel menjawab jujur. Tidak ada rasa sungkan pada temannya membicarakan aib pribadi. Apalagi Shakeel dan temannya itu dari kampung yang sama. Membuat Shakeel menaruh kepercayaan besar. "Saran kami sebaiknya periksa dulu. Sebab kata orang testpack bisa saja salah." Mariana memberikan saran sebaik mungkin. Terdengar begitu tulus ucapannya. Mungkin karena dia juga wanita dan melakukan hal yang sama. "Mar, tolong jangan katakan apapun pada teman-teman di perusahaan, ya." Annisa minta tolong dengan nada sedikit memelas. Matanya mengembun. Malu itu sudah pasti menyelimuti dirinya. Saat setelah tahu bahwa Mariana adalah kekasih temannya Shakeel. Annisa sebenarnya tidak ingin berbagi informasi. "Tenang saja. Kamu bisa percayakan rahasia ini padaku. Untuk besok kamu masuk kerja saja." Mariana berkata sambil tersenyum. Terlihat begitu tulus. "Bukannya aku tidak mau pergi bekerja. Hanya saja aku takut mual saat jam istirahat nanti," kata Annisa. Karena memang di kehamilannya yang pertama ini wanita itu tidak suka mencium bau nasi. Makanan pun hanya bisa masuk dalam perutnya jika Shakeel yang menyuapi. "Tidak apa. Besok akan ku bawakan obat anti mual," kata Mariana menawarkan bantuan. "Darimana kamu bisa memiliki obat seperti itu?" tanya Annisa heran. "Kemarin aku mau beli obat asam lambung tapi, sepertinya apoteker itu salah memberi. Terus pas konsumsi dua kali gak berasa ada perubahan. Aku cek di google ternyata obat penahan mual. Jadi kamu tidak perlu khawatir." Lagi-lagi Mariana berkata begitu tulus. Membuat sepasang kekasih yang sama-sama polos pemikirannya percaya begitu saja. Sungguh sayang sekali. Niat mengadu nasib malah berakhir dramatis karena salah pergaulan. "Oh begitu. Aku sebenarnya takut minum obat sembarangan," kata Annisa. Perasaan wanita berumur 23 tahun itu campur aduk. Kadang dia ingin membuang janinnya. Namun, terkadang juga dia ingin merawatnya. "Aku paham kondisi kamu tapi, ini tidak akan memilik efek samping apapun pada kalian berdua. Hanya penahan mual saja," jelas Mariana. Annisa hanya membalas dengan senyuman sembari menganggukkan kepala. "Lalu apa kalian tahu dimana ada obat untuk menggugurkan kandungan di jual?" Shakeel menanyakan hal yang sejak tadi masih dia pendam. Setelah berdebat lewat pandangan mata pada Annisa. Akhirnya dia mengambil keputusan sebelah pihak. Sampai detik mereka bercerita Annisa masih enggan memberi tahu tujuan utamanya. Namun, Shakeel terus memaksa. Mengatakan bahwa temannya tidak mungkin membocorkan rahasia mereka. Yang Annisa takutkan adalah wanita bernama Mariana itu menyebar luaskan gosip tentang dirinya di perusahaan nanti. Kalau pria sahabat Shakeel bisa saja dipercaya karena mulut laki-laki tak seperti wanita. Namun, Mariana? Seluruh perusahaan juga tahu bahwa wanita sejuta umat itu adalah dalangnya tukang gosip. "Jujur kami tidak tahu obat seperti itu. Obat ilegal. Terlalu beresiko untuk bermain-main dengan obat itu." Samsul menjawab pertanyaan Shakeel. Memang benar obat seperti itu tidak diperjual belikan secara bebas dipasaran. Jika ketahuan oleh pihak berwajib maka hotel prodeo akan menjadi rumah selama masa hukuman. "Tidak perlu membeli obat seperti itu karena aku tidak ingin menggugurkannya," tangkas Annisa. Jika Shakeel bisa berkata sebelah pihak maka ia juga bisa. Haknya menutupi aibnya sendiri. "Pilihan yang tepat. Sebaiknya kalian pulang saja ke kampung. Menikahlah," kata Samsul menyukai keputusan Annisa. "Itu adalah rencana ke dua kami," kata Shakeel menimpali. Bohong itu terlihat. Namun, tidak terbaca pasangan kekasih yang menjadi tamunya. "Kalau kami diposisi kalian. Aku juga akan membawa Mariana pulang. Karena anak adalah anugerah yang Allah berikan." Perkataan Samsul mampu membuat buliran air mata Annisa jatuh membasahi pipinya. Shakeel memang berkali-kali mengajak ia menikah sebelum insiden ini terjadi. Namun Annisa memikirkan banyak hal. Termasuk resepsi pernikahan. Kemarin malam saat ia mencoba menanyakan pernikahan kembali. Tiba-tiba saja Shakeel berubah pikiran. Ia mengatakan sebaiknya bayi itu dibuang saja. Agar tidak menimbulkan malu pada keluarga Annisa. Juga keluarganya pastinya. "Nis, kalau memang mau digugurkan coba minum jamu ini deh," kata Mariana menyodorkan gambar dalam ponselnya. "Berapa harganya?" tanya Annisa mengerjabkan matanya selama ini hidup Annisa lempeng saja tidak pernah bersentuhan bahkan melihat benda-benda yang dilarang. Terkecuali saat dia dan Shakeel jatuh dalam lembah dosa seperti sekarang ini. "Kalau itu aku kurang tahu tapi, nanti bisa ditanyakan ke penjualnya langsung," kata Mariana. "Yang jual jamu ini satu suku dengan kita. Percaya saja bahwa hasilnya akan akurat." Samsul mengatakan apa yang di tahu. Di kampung mereka. Jamu untuk melancarkan datang bulan bisa untuk menghancurkan kandungan. Jamu yang biasa diminum saat anak gadis orang ketahuan memadu kasih tanpa status. Hal ilegal itu masih lumrah di sebuah perkampungan kecil yang tidak ada di peta. Annisa lebih banyak diam daripada bicara. Keraguan terlihat jelas di air mukanya. Tidak percaya itu sudah pasti. "Bagaimana, Nis?" tanya Mariana. "Apanya?" Annisa balik bertanya. Pikiran wanita itu sudah tidak fokus pada percakapan tapi pada aibnya yang sebentar lagi dirasa akan terbongkar. Annisa mempunyai feeling yang kuat soal itu. "Apa kamu benar-benar ingin menggugurkan kandungan itu?" tanya Mariana karena memang mereka sedang membahas topik tersebut. "Aku ragu tapi aku juga tidak tahu bagaimana selanjutnya ..." lirih Annisa. "Begini saja. Kalian pikirkan matang-matang dulu. Nanti kalau sudah pasti memang mau dibuang barulah kita cari jalan keluar sama-sama." Mariana memberi saran. Langkah baik atau buruk semua harus dipikirkan matang-matang. "Kalau begitu kami pamit pulang dulu. Nanti kalau ada apa-apa kamu chat saja aku lewat aplikasi hijau itu." Mariana tersenyum lembut menatap Annisa. "Terimakasih," kata Annisa menggenggam tangan wanita itu. Beberapa saat setelah kepergian pasangan kekasih sahabat Shakeel itu tidak ada pembicaraan antar Annisa dan Shakeel. Mata mereka menatap layar televisi berukuran 21 inchi. Melihat berita seorang gadis yang menggugurkan bayinya di sebuah kost-kostan bebas. Kira-kira janin tersebut baru berumur lima bulan. Sang Ibu lebih lebih memprihatikan kan. Rahimnya rusak akibat mengkonsumsi obat terlarang. Kekasih hati yang menghamili tidak tahu kemana perginya. Kasus itu masih diselidiki lebih lanjut oleh polisi. Deg! Keduanya saling diam. Memilih bungkam dengan pikirannya masing-masing. Bagaimana kalau Shakeel meninggalkan aku? Bagaimana kalau dia tiba-tiba saja membunuhku? Tidak! Tidak! Tidak! Shakeel bukan pria seperti itu! Dia pasti akan bertanggung jawab, 'kan? Aku harus apa sekarang? Aku tidak mungkin memberi tahu ayah dan ibu dikampung. Berbagai pertanyaan menyelimuti pikiran Annisa. Hingga penyesalan itu datang kepadanya. Membuat air mata jatuh membasahi pipi mulus berona merah alami. "Mas," panggil Annisa setelah lama berkutat dengan pikirannya. "Ya," jawab Shakeel tapi, matanya masih menatap televisi. Kasus seorang remaja menggugurkan kandungan itu ramai diberitakan. Bahkan setiap mengganti siaran selalu akan ada berita itu. Apa! Masih remaja 18 tahun tapi, sudah berani berbuat seperti itu. Astaga! Apa dunia memang sudah tua hingga s*x diluar nikah begitu bebas? Aku tidak ingin menjadi sorotan seperti wanita itu. Aku akan menyelamatkan bayiku. Memberinya keluarga yang utuh. Annisa menguatkan hatinya. Jalan satu-satunya adalah ia harus mempertahankan bayi itu. Dia dan Shakeel berani berbuat maka, mereka juga harus berani bertanggung jawab. Orang tua mungkin akan murka tapi, yang namanya orang tua tidak akan membuang anaknya karena kesalahan ini. Terkecuali, egonya terlalu besar dan sulit dipatahkan. "Aku rasa kita tidak perlu menggugurkan kandungan ini," kata Annisa. "Mulai sekarang aku ikut keputusanmu. Aku hanya ingin yang terbaik untuk kamu Annisa." Shakeel menghampiri Annisa yang duduk di atas kasur. Menangkup wajah wanita itu. Kedua pipinya terlihat berisi. Beda dari biasanya. "Kamu gendutan," sambung Shakeel meledek Annisa. "Aku gendut juga karena anak kita, Mas." Memang benar akan selalu ada perubahan bagi wanita yang tengah berbadan dua. "Mulai sekarang katakan apa mau mu dan inginnya anak kita. Aku akan menuruti segalanya. Aku ingin yang terbaik buat kalian." Kata-kata Shakeel terdengar begitu tulus. Hanya mendengar kalimat itu saja pikiran buruk Annisa menghilang. Annisa memejamkan matanya. Merasakan kehangatan sentuhan Shakeel diwajahnya. Cup! Satu ciuman mendarat mulus di kening Annisa. Ciuman itu lembut sekali menandakan seberapa sayangnya Shakeel pada Annisa. Krik! Krik! Krik! Shakeel menatap bingung Annisa. Masalahnya cemilan yang dibeli untuk tamu sudah habis separuhnya dimakan Annisa tapi, wanita itu tetap masih merasa lapar. "Hehe. Aku lapar, Mas" Annisa berkata malu-malu. Disaat moments romantis seperti ini si adik didalam perut malah minta makan. Napsu makan Annisa memang bertambah dua kali lipat. Namun, sayang setiap kali mencium nasi napsu makan itu akan menguap hilang terbawa udara. Shakeel pun pergi membelikan makanan untuk ibu hamil tersebut. Dia berjanji akan kembali cepat. Lagi pula warung Mang Udin tidak terlalu jauh dari kost-kostan mereka. Sekitar dua menit kemudian Shakeel sudah kembali membawa beberapa kantong makanan. Mata Annisa berbinar-binar kala melihat Shakeel pulang. Perutnya sejak tadi tak berhenti berbunyi meski sudah melahap beberapa sisa cemilan tadi. Dengan sangat telaten Shakeel menyuapi Annisa hingga dua bungkus nasi tim ayam habis dia lahap sendiri. "Sepertinya anak ini suka sekali kalau Ayahnya yang menyuapi," kata Shakeel mengelus perut Annisa dengan tangan kirinya. "Dia nurut cuman sama kamu kayaknya," kata Annisa menimpali. "Jangan gitu dong, Nak. Nanti kalau Mamanya pulang ke Mes gimana? Gak makan seharian dong nanti." Shakeel masih mengelus perut rata itu. Berinteraksi dengan makhluk kecil yang berada didalam. Hasil produksi mereka bersama. "Semoga orang-orang di perusahaan gak ada yang tahu masalah ini, ya Mas." Annisa mengungkapkan keraguannya yang ia pendam sejak tadi. "Tenang saja. Aku percaya bahwa Samsul tidak mungkin memberi tahu pada siapa pun." Shakeel berkata penuh percaya diri. Seolah ia yakin seratus persen. Padahal manusia, rambutnya saja yang sama hitam tapi, ucapannya tidak dapat dipertanggung jawabkan. "Aku takut Mariana membuka segalanya. Jika pihak perusahaan tahu maka aku akan dipecat ... tidak ada jaminan bagi karyawan kontrak kalau hamil. Apalagi jika hamil diluar pernikahan," ucap Annisa. "Annisa, jangan pernah takut apalagi rapuh karena aku akan selalu ada disisi mu. Selamanya." Shakeel menyakinkan Annisa. Meski dia sendiri bimbang akan hatinya. Ragu pada keputusan untuk mempertahankan buah hati mereka. "Semoga ucapan mu bisa dipertanggung jawabkan. Ada banyak hal yang aku takutkan kedepannya," kata Annisa sungguh-sungguh. "Tolong jangan berfikir yang bukan-bukan. Untuk hari ini dan selamanya. Aku akan selalu ada disamping mu." Hening! Annisa memilih diam setelah mendengar perkataan Shakeel. Wanita hamil memiliki mood yang mudah berubah. Dia takut jika Shakeel tidak akan sabar menghadapinya. Apalagi perubahan bentuk tubuh nantinya. Mungkin saja Shakeel akan mencari wanita baru. Bukankah manusia memiliki sifat ketidakpuasan. "Mas, antar aku pulang ke Mes sekarang, ya. Besok pagi biar bisa masuk kerja." "Yakin kamu mau kerja?" tanya Shakeel mengernyitkan keningnya. "Kita kan sudah sepakat untuk mempertahankan bayi ini. Itu artinya kamu dan aku harus tetap bekerja demi kehidupan dia mendatang." "Aku mencintaimu, Annisa. Tolong jangan ragukan hal itu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD