"Kamu hati-hati dijalan, ya." Annisa berkata sambil membuka pengait helm. Memberikannya pada Shakeel.
"Kamu juga. Kalau ada apa-apa nanti telpon aku, ya." Shakeel mengambil helm yang disodorkan Annisa.
Annisa hanya membalas dengan senyum. Sebelum melajukan motor Shakeel menyempatkan membelai pucuk kepala Annisa. Hal yang selalu dia lakukan sebelum pergi.
"Aku pergi dulu, ya. Kamu juga hati-hati di sini."
"Ya, ya, ya. Sudah sana. Aku tidak ingin jadi pusat perhatian orang lain nantinya,".kata Annisa mendorong pelan bahu Shakeel.
"Kalau pusat perhatian aku mau dong," balas Shakeel malah menggoda Annisa.
"Mas! Sana pergi," usir Annisa dengan raut wajah merona.
Tak mau berdebat akhirnya Shakeel mengalah. Entah mengapa pria itu berat meninggalkan kekasihnya seorang diri ditempat ini. Ada sesuatu yang sedang mengganjal di hati Shakeel tentang Annisa.
Tempat dimana terdapat banyak orang. Tempat yang mungkin saja akan membuat Annisa risih. Membuat Annisa takut. Akhirnya ceroboh hingga orang tahu masalahnya. Mungkin saja seperti itu.
Selepas kepergian Shakeel dengan sepeda motornya. Annisa masih betah berdiri ditempat yang sama. Memandang pepohonan yang terdapat diarea Mes.
Melihat lampu-lampu yang menerangi gelapnya malam. Hingga dia sadar satu hal.
Annisa sadar bahwa bagaimanapun keadaannya. Bagaimanapun gelapnya dunia. Akan selalu ada satu titik penerang. Meski mencarinya perlu waktu dan tenang tapi, pasti akan ada penerangan.
Lampu yang terdapat di seluruh dunia mungkin bisa padam dalam waktu bersamaan. Namun, cahaya rembulan dari sinar matahari pasti akan selalu menerangi gelapnya malam.
Begitu pula keadaan yang saat ini mereka alami. Pasti akan ada jalan keluarnya. Jika guru membuat soal maka akan selalu ada jawabannya. Jika Allah memberikan umatnya sedikit masalah. Maka pasti ada jalan keluarnya.
"Aku tahu ini adalah teguran darimu, ya Rabb. Sebenarnya aku tidak ingin menggugurkan janin ini tapi––"
Annisa mengelus perutnya. Rasa sayang itu tentu ada. Apalagi yang dia kandung adalah buah cinta dari pria yang begitu ia cintai.
"Ya Rabb aku takut Shakeel berubah pikiran. Aku takut Shakeel meninggalkanku dan anak ini."
"Apa aku bisa percaya sepenuhnya pada Shakeel? Apa Shakeel tidak akan mempermainkan kepercayaan ku?"
Annisa masih berkutat dengan pemikirannya. Wanita itu memutuskan untuk duduk dipojok taman yang berada dihalaman depan Mes-nya.
Mumpung sedang tidak bersama Shakeel. Ada baiknya dia memikirkan segalanya dengan matang. Nanti setelah dapat solusi akan mencoba dirundingkan dengan ayah calon bayinya.
Hal pertama yang dilakukan Annisa adalah mencari info tentang menggugurkan kandungan. Berita yang ia tonton di TV tadi belum terlalu akurat menurutnya.
Beberapa sumber telah Annisa baca dan pahami. Ternyata hanya ada satu kesimpulan dari banyaknya artikel yang terdapat di google.
Aborsi atau menggugurkan kandungan adalah hal yang sangat membahayakan. Tindakan itu juga dilarang oleh hukum dan agama.
Aborsi hanya dilegalkan dalam dunia medis apabila sang ibu mengalami gangguan pada kehamilannya yang menyebabkan janin tidak dapat dipertahankan.
Untuk masalah Annisa. Hal ini tentu sangat dilarang keras. Jika pihak berwajib tahu bisa saja dia dan kekasihnya mendekam dipenjara.
"Andai saja aku menuruti kata hati. Andai saja aku membuang jauh-jauh nafsu yang teramat besar itu."
"Apa ini adalah sebuah jalan agar kami mempertahankan bayi ini?"
"Ku rasa keputusan kami untuk mempertahankan bayi ini adalah keputusan yang paling tepat."
"Tapi ... tapi bagaimana dengan kedua orang tuaku dikampung? Mereka pasti malu memiliki anak sepertiku."
Raut wajah Annisa berubah-ubah. Pikirannya menerawang jauh. Satu langkah akan diambilnya tapi, ada konsekuensi yang harus dia tanggung juga.
"Aaahhharrrrggggg!!!"
Wanita itu frustasi. Tangannya saling meremas. Makin banyak hal yang dia pikirkan makin banyak juga akibat yang harus dia pikul.
Jika Annisa memilih aborsi. Bisa jadi hal itu akan merusak rahimnya. Selamanya dia akan hidup sebagai wanita tanpa rahim
Atau bisa saja nyawanya tidak akan selamat. Masalah mereka tercium polisi. Shakeel masuk penjara.
Ini jauh lebih menyakitkan. Memalukan.
Pilihan kedua yang terbersit dibenak Annisa adalah ....
Mempertahankan kandungannya. Memberi tahu pada orang tua. Apapun nanti konsekuensi yang akan dia terima. Annisa akan mencoba ikhlas menjalaninya.
Tapi ... bagaimana dengan nama baik orang tuanya?
Putri dari bapak B, pergi merantau ke kota bukannya menghasilkan uang dan merubah nasib keluarga. Malah membuat aib.
Annisa siap jika harus menerima hukuman dari kedua orang tuanya. Namun, wanita yang terlahir sebagai anak sulung itu tidak akan siap jika nama baik orang tuanya rusak.
Kalau orang-orang di kampung tahu. Keluarga Annisa akan menjadi bahan gunjingan tetangga. Sungguh, Annisa tidak bisa menerima hal tersebut.
Orang tuanya tidak bersalah dalam hal mendidik anak. Dia lah yang bersalah karena telah lalai menjaga diri. Memberi kehormatan pada pria yang baru dia kenal
"Dasar bodoh!"
"Dasar wanita bodoh!"
"Kamu wanita bodoh Annisa!"
Annisa merutuki dirinya sendiri. Baru beberapa bulan menjalin kasih. Bahkan dia tidak tahu asal-usul Shakeel. Mengapa bisa dengan mudahnya dia memberi kehormatannya pada orang yang baru dia kenal.
Shakeel dan Annisa berbeda kota. Mereka hanya seorang perantau yang datang mengadu nasib. Berharap memiliki hidup yang lebih baik.
"Kalau Shakeel pergi. Akan kamu cari kemana dia, Annisa!"
Annisa semakin menyalahkan dirinya. Dialah yang bersalah dalam hal ini. Dialah yang bodoh karena memberikan kehormatannya pada pria yang baru dia kenal.
Tiba-tiba sebuah ide muncul dalam pikirannya.
"Aku bisa mempertahankan anak ini. Aku bisa!"
"Sekarang aku harus pastikan dulu bahwa Shakeel benar-benar mau bertanggung jawab," kata Annisa penuh keyakinan.
Annisa memutuskan untuk mempertahankan bayinya. Dia dan Shakeel akan merawat anak itu bersama-sama. Keputusan yang sama dengan yang mereka runding kan siang tadi.
Meski tadi Shakeel sudah mengatakan bahwa dia mencintai Annisa dan akan selalu ada disisi Annisa tapi, wanita itu merasa perlu sebuah pembuktian.
Hatinya belum terlalu yakin. Apalagi setelah menonton berita di TV siang tadi.
[Sayang.]
Sebuah pesan singkat dikirim Annisa pada Shakeel lewat aplikasi hijau.
[Ya, apa kamu perlu sesuatu?]
Hanya dalam hitungan detik pesan itu dibalas oleh Shakeel. Sepertinya pria itu memiliki perasaan yang kurang enak terkait Annisa.
[Aku sudah memikirkan ide untuk masa depan kita.]
Annisa mengirim pesan tersebut dengan penuh keyakinan.
[Aku barus saja baca sebuah artikel. Isinya, seorang ibu hamil tidak boleh terlalu banyak pikiran.]
Pesan balasan Shakeel masuk tapi pria itu tidak menanyakan ide yang terbersit di pikiran Annisa.
[KITA RAWAT ANAK INI SAMPAI DIA LAHIR. SETELAH ITU KITA PULANG KE KAMPUNG. KITA MENIKAH!!!]
Kesal karena diperingatkan oleh Shakeel membuat Annisa mengirim pesan dengan huruf besar. Tanpa aba-aba. Langsung ke inti pembicaraan.
"Dasar laki-laki tidak berperasaan. Disaat aku sedang serius dia malah coba-coba memperingatkan aku."
Sebenarnya tidak ada yang salah dari pesan yang dikirim Shakeel. Hanya saja hormon ibu hamil yang berubah-ubah membuat kacau perasaan Annisa.
Padahal isi pesan tersebut adalah bentuk dari sebuah perhatian Shakeel terhadap Annisa. Namun, karena merasa perkataannya diabaikan membuat dia kesal setengah mati.
[Aku benar-benar mencintaimu Annisa. Aku akan mendukung apapun keputusanmu. Jika pilihanmu adalah merawat bayi kita maka, aku ikut. Aku hanya ingin yang terbaik untuk mu.]
Pesan balasan itu masuk. Hampir dua menit Annisa menunggu. Mood ibu hamil itu tiba-tiba berubah lagi. Dia begitu bahagia mendapat balasan dari Shakeel.
[Apa itu artinya kamu menerima keputusanku? Setelah melahirkan kita pulang. Kita akan menjadi keluarga yang sesungguhnya.]
Annisa mengirim pesan sekali lagi dengan penuh keyakinan. Dia ingin memastikan kalau yang ia baca benar apa adanya.
[Ya, Annisa. Setelah anak kita lahir. Kita bertiga akan pulang kampung. Kita akan menjadi satu keluarga. Anak kita akan memiliki identitas.]
Sekali lagi Shakeel meyakinkan Annisa lewat pesan singkat yang ia kirimkan.
[Terimakasih, Sayang. Aku mencintaimu.]
Balas Annisa penuh dengan suka cita.
[Aku lebih mencintaimu.]
Tiga kata yang dikirim Shakeel dari ponsel pintar melalui aplikasi hijau itu semakin membuat wajah Annisa ceria.
Hatinya berbunga-bunga. Perasaan terasa terbang ke langit ketujuh. Senyum merekah tulus dari hati yang paling dalam terukir jelas diwajahnya.
Setelah mendapat pesan terakhir dari Shakeel. Annisa memutuskan untuk masuk ke dalam Mes. Wanita itu berjalan dengan langkah yang begitu anggun.
Beban yang dia pikul setidaknya sedikit berkurang. Solusinya sudah dia temukan.
"Ya Allah semoga saja Shakeel tidak bohong. Semoga dia tidak meninggalkan aku."
"Akhirnya masalah ini ada jalan keluarnya."
"Setidaknya. Lamaran, pesta akan berjalan lancar tanpa desas-desus hamil diluar nikah. Keluarga tidak akan menanggung malu."
"Tapi ... masalah tentang bayi ini. Dimana dia kami titipkan saat prosesi pernikahan berjalan?"
"Aahh, sudahlah. Nanti aku bicarakan lagi sama Shakeel. Yang terpenting masalah kami terpecahkan."
***
"Nis, kamu dipanggil HRD."
Annisa yang sedang fokus bekerja di kubikel nya tiba-tiba diam mematung. Jantungnya berdegup kencang saat mendengar perkataan leader.
"Ada apa kira-kira HRD memanggil aku?"
"Perasaan aku gak punya salah."
"Semalam juga aku punya MC. Aku gak absen."
Annisa tidak membalas perkataan leadernya. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Woy, Nis. Ya ilah bengong aja kamu. Ayo pergi ... kamu dipanggil HRD loh."
Wanita berstatus leader di Departemen tempat Annisa bekerja. Yang biasa dijuluki wanita sejuta umat. Menyenggol kasar tubuh Annisa agar dia tersadar dari lamunannya.
"Astaga, Mbak. Kalau jantung aku copot gimana?" tanya Annisa yang sudah sadar dari lamunan singkatnya.
"Makanya, kalau lagi kerja itu fokus. Mikirin apa sih kamu, Annisa? Atau jangan-jangan kamu telat, ya."
Perkataan leader-nya terdengar meledek. Namu, sayang perkataan itu mengena tepat pada kenyataan yang sedang wanita berkerudung itu alami.
"Ngomong apaan sih," kata Annisa ketus.
Annisa mencoba senormal mungkin. Dia tidak ingin aibnya diketahui banyak orang. Apalagi wanita sejuta umat dengan mulut lemes ini.
Cukup Mariana dan Samsul saja yang tahu akan rahasia mereka. Tidak perlu ada orang lain lagi yang tahu. Kalau bukan karena Shakeel bersikeras, Annisa juga tidak akan membagi masalahnya pada siapapun.
"Haha. Kalau telat juga gak apa-apa kali, Nis. Bapaknya kan jelas. Gak kayak aku yang keluar masuk sana sini."
Tanpa rasa malu wanita berjabatan leader itu mengumbar aibnya sendiri.
"Makin gak jelas nih omongannya. Udah, yuk. Anterin aku ke tempat HR."
"Serius kali, Nis. Kamu tahu gak? Aku sering makan buah dan minum minuman yang bisa melancarkan datang bulan. Jadi sebelum benih-benih yang asal usulnya gak jelas itu terbuai. Dia sudah mati duluan."
"Udah ah, Mbak. Ayo kita ke HR. Nanti Bu Lili marah lagi kalau aku datangnya lama."
"Ya ilah, Annisa. Aku itu kasih ilmu sama kamu. Biar gak kecolongan nantinya."
"Ia, Mbak. Ia. Makasih atas masukannya. Sekarang anterin aku, ya."
Mereka berdua berjalan beriringan. Sesekali Caca nama asli dari wanita sejuta umat itu memberikan petuah pada Annisa. Namun, sayang. Annisa hanya menanggapi dengan senyum tanpa berniat membalas ucapannya.
Tok! Tok! Tok!
Caca mengetuk pintu ruangan HR. Sedangkan hati Annisa sedang berdegup kencang tak karuan.
"Silahkan masuk." Hanya terdengar perintah itu dari dalam sana.
"Selamat pagi, Bu Lili. Sayadatang membawa Annisa. Tolong loh anak saya yang ini jangan dimakan. Hehe," katanya langsung saat pintu terbuka.
"Pagi, Caca. Kalau begitu kamu boleh pergi."
Aturan di perusahan ini leader hanya akan mengantar yang bersangkutan sampai didepan pintu ruangan HRD. Selebihnya, leader tidak berhak tahu apa masalah yang dialami team-nya kecuali, masalah kehadiran dan terlambat.
"Selamat pagi, Bu." Annisa menyapa dengan ramah. Menampilkan senyum semaksimal mungkin. Menutup kegugupan yang sedang menerjang dirinya.
"Pagi. Kamu tahu kenapa sayang memanggil kamu kesini?"
Sebuah pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Annisa keluar pertama kali dari bibir wanita bertubuh langsing dengan raut wajah berwibawa itu.
"Tidak, Bu." Annisa menjawab jujur.
Andai dia memiliki kelebihan untuk membaca pikiran orang mungkin Annisa tahu perihal apa yang membuat pihak HR memanggil dirinya.
"Annisa," panggil Bu Lili penuh ketegasan.
"Ya, Bu." Annisa menjawab.
Raut gugup serta khawatir terlihat jelas di wajah Annisa. Apalagi saat ini manik mata mereka sedang beradu pandang.
"Maaf. Dengan sangat berat hati saya harus mengatakan, bahwa ... bahwa kamu terpaksa harus mengundurkan diri."
Mata Annisa mengerjab beberapa kali. Syok itu dia rasakan. Jantungnya semakin berdetak tak karuan.
"Ke–kenapa, Bu?" tanya Annisa susah payah mengeluarkan suaranya.
"Tadi pagi Mariana memberikan ini pada saya," ucap Bu Lili menyodorkan sebuah amplop putih.
Tanpa menjawab apapun. Annisa mengambil amplop itu. Membukanya secara perlahan.
"Apa benar itu adalah milik kamu?" tanya HR pada Annisa.
Deg!
"Dasar Shakeel bodoh! Dari awal aku juga sudah tidak percaya pada wanita ular itu."
Annisa berkata dalam hatinya. Tangan sebelah kirinya yang berada dibawah meja mengepal. Matanya memanas. Ingin sekali rasanya Annisa merobek mulut Mariana sekarang juga.
"Annisa, silahkan ikut saya ke Klinik. Kita akan buktikan yang ada di amplop itu milik kamu atau hanya rekayasa semata."
Annisa dan Bu Lili sama-sama pergi ke Klinik perusahaan. Di sana sudah menunggu seorang Dokter umum yang siap memeriksa keadaan Annisa.
Sebelum itu Annisa disuruh menampung urinenya. Pihak klinik memasukkan test pack dalam wadah yang berisi urine. Tidak butuh waktu lama. Dua garis buru tercetak jelas dalam benda kecil itu.
Kemudian giliran Dokter umum yang memeriksa keadaan janin dalam perut Annisa. Hal yang membuat Annisa terharu. Dia benar-benar hamil. Bayi itu ada didalam tubuhnya.
"Bu," panggil Annisa lirih.
"Maaf, Annisa. Peraturan perusahaan sudah jelas. Bahwa kami tidak bisa mempekerjakan karyawan berstatus kontrak yang sedang hamil. Apalagi kamu belum menikah."
"Dasar wanita ular! Wanita sejuta umat! Bisa-bisanya dia membawa kabur hasil test pack milikku. Lihat saja kamu Mariana!"