Dengan berat hati Annisa menulis surat pengunduran diri. Diatas kertas A4 yang diberikan pihak HR dia menulis hal yang sama sekali tidak pernah dia pikirkan.
Hal ini sungguh sangat menyakitkan untuk Annisa. Dia memang tidak dipecat secara tidak terhormat.
Namun, menulis surat pengunduran diri sendiri adalah sebuah tamparan halus yang ia rasakan. Hancur sudah khayalan Annisa semalam.
Baru saja menemukan setitik keterangan tiba-tiba tanpa aba-aba penerang itu mati dengan sendirinya.
Menabung untuk memenuhi kebutuhan bayinya. Pulang kampung untuk menikah. Impian hidup bertiga menjadi keluarga bahagia hilang dalam sekejap mata.
Tanpa izin sang empunya air mata Annisa menetes. Meski hanya satu tetes tapi, hal itu mampu mewakili perasaan Annisa saat ini. Hidupnya hancur! Karirnya Hancur! Impiannya hancur! Segalanya sudah hancur!
"Semoga kamu mendapatkan kehidupan lebih baik diluar sana, Annisa." Perkataan Bu Lili terdengar begitu tulus.
Wanita bertubuh langsing itu menggengam tangan Annisa dengan penuh kasih sayang.
Dulunya Annisa adalah salah satu karyawan terbaik. Tidak pernah terlambat apalagi absen. Pekerjaannya pun cepat sehingga beberapa kali mendapatkan reward karyawan teladan.
Beberapa bulan ini Annisa berubah. Dia berubah 180 derajat. Sekarang mungkin Bu Lili tahu apa penyebab Annisa berubah.
"Dunia luar terlalu kejam untuk kamu yang masih polos, Annisa. Semoga Allah selalu melindungi kamu dimana pun kamu berada."
Diiringi senyum Bu Lili. Annisa keluar dari ruangan itu. Langkah kakinya terasa begitu berat. Berat meninggalkan tempat yang selama hampir 5 tahun ini menjadi sandaran hidupnya.
Tepat di pintu keluar, Annisa berhenti sejenak. Dia memandangi seluruh isi ruangan itu. Ini adalah tempat ia mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
Pundi-pundi rupiah yang akan membawa dia pada sebuah kesuksesan. Sayang, kini semua hanya masalalu.
Lima tahun lalu. Annisa seorang gadis polos datang dari kampung merantau ke kota. Dengan semangat yang begitu berkobar dia ingin mengadu nasib. Merubah kehidupan keluarganya dikampung.
Perusahaan ini adalah tempatnya pertama kali bekerja saat menapakkan kaki ke kota ini. Salah satu perusahaan terbesar dengan penghasilan yang lumayan.
Lima tahun, Annisa mengabdi pada perusahaan ini. Setiap tahunnya dia selalu mendapat gelar karyawan teladan. Namun, kini segalanya telah berubah.
Annisa menghancurkan mimpi dan kehidupannya sendiri.
Annisa seorang karyawan teladan ternyata hamil diluar nikah.
Rasanya tak sanggup bila nanti dia mendengar omongan itu dari teman-teman ditempatnya bekerja.
Tanpa terasa langkah kaki wanita berhijab itu sudah sampai didepan gerbang. Untuk yang terakhir kalinya dia memandang gedung perusahaan itu.
Mungkin besok, Annisa tidak akan pernah melewati kawasan ini. Atau bahkan masuk kedalamnya lagi. Annisa sungguh sudah tidak memiliki muka lagi.
Puas memandang perusahaan itu untuk terakhirnya, Annisa memutuskan untuk memesan ojek online.
Awalnya dia tidak berniat tapi, sejak beberapa menit lalu Shakeel tidak bisa dihubungi. Sambungan telpon itu selalu berakhir dengan suara lembut wanita operator.
Di keadaan seperti ini sebaiknya mereka lebih meminimalisir keuangan. Ini akan jadi sebuah perjalanan hidup mereka kedepannya nanti.
Beberapa menit kemudian driver ojol orderan Annisa tiba. Pria berseragam hijau dengan mengendarai sepeda motor matic.
"Mbak, pesan ojol, ya?" tanya driver itu pada Annisa yang sedang berdiri sendiri.
"Ya, atas nama Khairunisa, 'kan?" tanya Annisa memastikan
"Ya, silahkan dipakai helmnya." Driver itu menyodorkan helm hijau khas ojek online pada Annisa.
Annisa menerima helm itu dengan senyum yang sedikit geli. "Ini adalah helm sejuta umat." Batin Annisa tertawa.
Driver ojol itu kemudian menjalankan motornya. Tujuannya saat ini hanya satu. Kostan Shakeel.
Annisa sudah tidak ingat atau tidak ingin apapun. Dia hanya ingin bertemu Shakeel. Ingin membagi keluh kesahnya. Dan juga ingin memastikan dimana pria itu sebenarnya.
Dia bahkan mengabaikan barang-barangnya di Mes. Menurut Annisa saat ini yang terpenting adalah Shakeel. Hanya pria itu yang dia punya, tempat berbagi segala kegundahan.
Diperjalanan pikiran buruk merasuki kepala Annisa. Shakeel sejak tadi tak bisa dihubungi. Mungkin saja dia sedang tidur. Atau bisa jadi dia sudah ...
"Aahh. Tidak! Tidak! Shakeel tidak mungkin kabur."
Annisa menggeleng kepalanya kuat. Menepis pikiran buruk yang ada didalam otaknya.
Sekali lagi wanita itu mencoba menghubungi sang pujaan hati. Namun, panggilan tetap berakhir pada wanita penghuni operator.
"Kamu dimana sih, Mas? Kenapa susah sekali buat hubungin kamu?"
"Atau jangan-jangan Shakeel sedang tidur berduaan dengan wanita lain di kamar kost kami?"
"Apa dia benar-benar kabur?"
"Aahhh. Aku bisa gila kalau begini. Astaga! Ya Allah tolong lah hamba mu yang penuh dosa ini."
Annisa semakin menjadi-jadi pikiran buruknya tidak mau hilang. Bahkan tubuhnya yang duduk diatas motor juga tidak bisa diam.
Membuat driver ojol yang sedang konsentrasi dalam mengemudi sepeda motornya membuka suara.
"Mbaknya tolong jangan goyang-goyang, ya. Nanti kita kecelakaan. Kalau dibelakang goyang, saya yang kendarai motor jadi gak bisa seimbang."
Supir ojol itu berkata sedikit berteriak agar Annisa bisa mendengar ucapannya.
"Maaf, Bang. Ya deh saya diam." Annisa mengalah yang di katakan Abang ojol itu benar.
Dia harus tenang. Dia tidak boleh terlalu banyak bergerak. Agar mereka selamat sampai tujuan."
"Mbaknya ada masalah, ya?" tanya supir ojol yang mulai kepo karena sejak tadi melihat raut kecemasan di wajah Annisa.
"Tidak ada, Mas. Saya hanya kebelet pipis," kata Annisa ketus.
Sang driver ojol hanya diam tanpa menanggapi perkataan Annisa. Selanjutnya kedua manusia yang berada diatas satu sepeda motor itu saling diam.
Sisa perjalanan yang harusnya hanya memakan waktu 10 menit dirasa sangat lama oleh Annisa.
Pikiran-pikiran buruk yang merasuki otaknya membuat waktu terasa berjalan begitu lambat. Sepanjang sisa perjalanan Annisa hanya termenung. Tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Sudah sampai, Mbak. Tidak mau turun atau gimana?" tanya supir ojol saat mereka tiba disebuah kost-kosta kumuh.
"Eh ia, Bang. Makasih banyak loh udah ngingetin," kata Annisa basa-basi.
"Mbak, wanita cantik jangan banyak melamun. Nanti ketempelan."
"Ia, ia. Ini uangnya. Kembalinya ambil saja," ucap Annisa sedikit memaksakan senyum.
"Wahh dapat rezeki nomplok. Ini bukan daun, 'kan?"
"Ya ilah si Abang. Ngelunjak banget kamu, ya. Gak liat kaki aku masih napak di tanah." Annisa yang memang sedang kesal dengan Shakeel semakin dibuat kesal oleh lelucon drive ojol itu.
"Hehe. Orang cantik jangan marah-marah. Nanti cantiknya hilang," kata driver ojol sambil nyengir. Menunjukkan giginya yang terlihat sedikit kuning.
"Udah ah pamit. Permisi."
Annisa berjalan sedikit kesal meninggalkan ojol yang mulutnya cukup banyak bicara itu.
"Kalau Abang ojol itu betina bisa dipastikan bahwa ia dan Mariana akan menjadi teman akrab," gerutu Annisa.
Tok! Tok! Tok!
Begitu sampai didepan kostan Shakeel. Annisa menggedor pintu itu dengan keras. Ada amarah yang sedang mengepul diubun-ubun.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan demi ketukan di atas pintu kayu itu dilayangkan Annisa. Namun, tetap masih tidak ada jawaban dari dalam sana.
Annisa mengerjap kan matanya. Jantungnya semakin tidak karuan. Perasaannya jauh lebih berdebar daripada saat dia menghadapi pihak HRD tadi.
"Apa jangan-jangan Shakeel telah pergi meninggalkan aku?"
Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di kepalanya kala Shakeel tak kunjung membukakan pintu.
Berkali-kali mengetuk pintu akhirnya, Annisa menyerah. Wanita yang masih menggunakan setelan kerja itu terduduk lesu didepan pintu kamar kost Shakeel.
"Astaga! Inikah balasan atas dosa yang telah ku perbuat?"
"Aku dipecat!"
"Shakeel menghilang!"
"Ya Allah ... harus bagaimana aku sekarang?"
Annisa menekuk lututnya. Dia memeluk lututnya dengan kedua tangannya. Menenggelamkan kepalanya ditengah-tengah dengkulnya.
Frustasi itu jelas dirasakannya. Air mata Annisa mengalir dengan deras. Harus tinggal dimana dia sekarang? Kemana dia akan mengadu?
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari arah belakangnya. Ternyata Shakeel yang membuka pintu.
Pria itu terlihat baru bangun tidur dengan bertelanj@ng dad@. Hanya menggunakan boxser. Disudut kedua bola matanya terdapat kotoran.
"Annisa," panggil Shakeel dengan suara paru.
Deg!
"Shakeel," panggil Annisa lirih. Jantungnya semakin berdegup tak karuan.
Annisa berdiri dari tempatnya terduduk meratapi nasib. Dipandangnya kekasih hati yang terlihat begitu tidak menarik dengan tampilan bagun tidur.
"Shakeel. Ini benar-benar kamu?" tanya Annisa memandang pria itu dari atas sampai bawah.
"Ya. Kamu kenapa, Annisa?" tanya Shakeel yang masih mengumpulkan nyawanya.
"Kamu tidak berniat meninggalkan aku, 'kan?" tanya Annisa memastikan.
Kesadaran Shakeel terkumpul. Hal pertama yang ia perhatikan adalah ... mata Annisa.
Ada air mata yang mengalir membasahi pipi wanita yang ia cintai itu.
"Annisa, kenapa kamu? Ayo masuk. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kamu bisa sampai sini."
Shakeel memberondong Annisa dengan beberapa pertanyaan membuat Annisa sadar bahwa kekasih hatinya ini adalah salah satu spesies manusia yang paling sulit dibangunkan.
Jadi wajar saja jika sudah menggedor berkali-kali tapi, Shakeel masih tidak mendengarnya. Apalagi suara dering ponsel yang bunyinya tidak seberapa.
Semua hal itu tidak akan mampu membangunkan manusia raja tidur ini kecuali, air.
"Mas, kamu tahu? Bahwa kamu adalah manusia kerbau," kata Annisa saat melepas sepatunya. Perkataannya dipenuhi dengan nada emosi.
"Kamu kan tahu sendiri, Nis. Aku kalau sudah tidur sulit untuk dibangunkan. Kadang saja kamu harus memercikkan air baru aku bisa bangun."
Annisa ingat. Setiap Shakeel masuk pagi pada saat Annisa menginap di kostnya. Wanita itu selalu memercikkan air agar Shakeel bisa bangun tepat waktu.
Tapi ... tapi Annisa masih tidak percaya. Dia memandang seluruh sudut kostan. Mencari jejak wanita lain yang mungkin memang tidak akan dia temukan.
"Kamu gak lagi bohongin aku, 'kan?" tanya Annisa menyelidik.
"Bohong soal apa, Annisa?" tanya Shakeel yang memang hafal dengan sifat curiga Annisa.
Kecurigaan dan kecemburuan Annisa semakin tidak masuk akal. Apalagi semenjak dia mengandung.
Sejak itu Shakeel mencoba untuk mempelajari artikel-artikel tentang wanita hamil di google. Akhirnya pria itu paham akan mood kekasihnya yang mudah berubah-ubah.
"Bohong soal ... kalau ... kamu enggak lagi nyimpen perempuan lain, 'kan?" tanya Annisa lagi.
Ucapannya terdengar ragu tapi, cara Annisa menyampaikan penuh dengan kepercayaan diri yang tinggi.
"Astaga, Annisa. Apa sih yang ada dipikiran kamu? Bisa-bisanya kamu mikir aku disini sama perempuan lain."
Shakeel meremas rambutnya. Ini bukan hal biasa lagi sejak beberapa minggu lalu.
"Habisnya kamu itu nyebelin banget. Berkali-kali aku telpon gak diangkat," kata Annisa ketus.
"Kan kamu sendiri yang bilang kalau aku tidur kayak kerbau. Trus kenapa kamu yang marah?" tanya Shakeel selembut mungkin.
"Kamu tahu, kan. Aku semalam kerja shift malam. Jadi wajar aja kalau jam segini masih tidur," sambung Shakeel lagi.
Kalau sudah seperti ini, Shakeel harus bicara dengan sangat hati-hati.
"Kamu nyebelin," kata Annisa tidak mau kalah.
"Astaga, Annisa!"
Shakeel mengeram frustasi. Mood Annisa yang mudah berubah-ubah membuatnya harus lebih waspada.
Salah bicara satu kalimat saja bisa-bisa wanita itu akan ngambek. Disaat seperti ini sangat sulit untuk membujuk Annisa.
"Kamu kenapa jam segini datang kesini? Bukannya kamu hari ini lembur?" tanya Shakeel setelah bisa menguasai dirinya sendiri.
Deg!
Annisa baru ingat. Dia datang kemari bukan untuk memergoki Shakeel atau mencurigai kekasih hatinya itu tapi, untuk mencurahkan isi hati.
Annisa ingin berbagi duka yang baru saja dia dapat. Serta menyusun ulang rencana mereka untuk mempertahankan kandungan.
Bagaimana dia bisa mempertahankan kandungan kalau hanya Shakeel yang bekerja. Ada orang tua dua belah pihak yang harus dikirim uang tiap bulannya.
Belum lagi uang sewa kost-kostan. Makan mereka. Biaya sehari-hari dan juga uang cicilan hutang pada seorang rentenir.
Gaji Shakeel tidak akan cukup. Ada banyak keperluan yang harus mereka tutupi tiap bulannya. Sudah pasti mereka tidak bisa menabung untuk biaya persalinan dan kebutuhan bayi.
"Bagaimana ini?" tanya Annisa dalam hatinya.
"Annisa," panggil Shakeel setelah beberapa menit tidak ada respon apapun dari Annisa.
Annisa masih betah berkutat dengan pikirannya. Dia bahkan tidak mendengar suara panggilan dari bibir Shakeel.
"Annisa," panggil Shakeel sekali lagi. Kali ini pria itu mengguncang pelan tubuh kekasihnya.
"Ha? Ia. Ada apa?" tanya Annisa gelagapan.
"Kamu mikirin apa lagi sih, Annisa. Bukannya semalam masalah kita sudah selesai?" tanya Shakeel yang semakin bingung melihat tingkah Annisa.
"Aku kan sudah berjanji akan membawamu pulang ke kampung setelah bayi ini lahir. Kita juga akan menikah disana," sambung pria itu lagi mengingatkan perkataan mereka semalam.
"Bu–bukan begitu," kata Annisa gugup.
"Lalu kamu kenapa?" tanya Shakeel dengan nada selembut mungkin.
Kondisi Annisa tidak bisa dikasari. Apalagi mengingat wanita itu sedang mengandung. Jadi mau tidak mau. Rela tidak rela. Shakeel harus banyak bersabar mengahadapi ibu dari anaknya itu.
"A–aku ... aku sudah tidak bekerja lagi di perusahaan," kata Annisa susah payah berterus terang.
"Ha! Bagaimana bisa? Kamu tidak mengundurkan diri kan?" tanya Shakeel sedikit berteriak.
Annisa hanya menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kamu bisa tidak bekerja lagi? Annisa kamu tahu sendiri, kan. Untuk mempertahankan bayi ini kita butuh banyak biaya. Kamu tahu itu, 'kan?"
Annisa hanya diam mendengar perkataan Shakeel. Hatinya ingin berontak tapi, mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara.
"Annisa, kita sudah sepakat masalah ini semalam. Kamu juga tahu kita tidak bisa hidup dikota ini jika hanya mengandalkan gaji ku saja."
"Aku tidak bersalah Shakeel. Aku tahu hal itu. Aku tidak lupa."
Annisa mengeluarkan suaranya. Ucapannya pun terdengar begitu lantang.
"Terus kenapa bisa seperti ini?" tanya Shakeel melemah.
"Mariana," kata Annisa lirih.
"Mariana kenapa? kalau ngomong yang jelas." Desak Shakeel.
"Mariana memberikan bukti test pack pada pihak HR. Mereka juga memeriksa keadaanku. Disaat aku terbukti benar-benar hamil pihak HR menyuruhku untuk membuat surat pengunduran diri."
"Astaga! Dasar wanita j@lang! Wanita ular bermulut bisa. Aku begitu percaya padanya karena dia adalah kekasih Samsul tapi––"
"Sudah ku katakan, jangan umbar aib kita pada siapa pun," kata Annisa memotong ucapan Shakeel.
"Hancurlah nasib kita Annisa." Shakeel meremas rambutnya frustasi.
"Aku juga bingung, Mas. Aku harus memenuhi kebutuhan orang tuaku di kampung. Kebutuhanku disini juga akan bertambah. Aku tidak tahu harus berbuat apa."
Perkataan Annisa terdengar begitu putus asa. Membuat Shakeel sadar bahwa semua ini baru awal dari perbuatan terlarang mereka.