7. Shakeel Dipecat!

2032 Words
Shakeel memandang Annisa. Wanita itu terlihat begitu kacau. Matanya membengkak, hidungnya memerah. Tampilannya juga sangat berantakan. Pakaian seragam kerja yang masih dikenakannya sudah basah. Ingus bercampur air mata serta keringat membasahi pakaiannya. Sungguh ini bukan Annisa yang Shakeel kenal. Sebelumnya wanita itu tidak pernah terlihat serapuh ini. Bahkan saat tes kehamilan mengatakan hasil positif Annisa tidak begitu kacau. Jilbabnya dia lepas, rambutnya juga acak-acakan akibat dia melampiaskan kekecewaan pada dirinya sendiri. Shakeel dipaksa menjauh. Annisa ingin sendirian Dia ingin meratapi kebodohan dirinya dan ketidak adilan yang Annisa pikir Allah berikan padanya. "Annisa," panggil Shakeel pada kekasih hatinya yang masih betah menangis sesugukan. Hampir satu jam mereka saling diam. Annisa dengan tangisnya. Shakeel berkutat dengan pikirannya. Ada sebuah rasa dendam yang ingin dia lampiaskan pada wanita bermulut bisa itu. "Aku menyerah," kata Annisa lirih. Pikiran Annisa hanya bagaimana keluarganya dikampung. Ayahnya hanya seorang buruh tani di sawah orang. Sementara Ibunya buruh cuci pakaian dirumah kepala desa. Dalam kondisi seperti ini Annisa tidak akan bisa bekerja. Lalu bagaimana nasib keluarganya dikampung nanti jika dia tidak mengirim uang. Untuk rentenir ditempatnya berhutang. Gaji terakhir di bulan ini rasanya cukup jika harus melunasi hutangnya yang tidak terlalu banyak. Annisa tidak bisa mengharap sepenuhnya pada Shakeel. Pria itu bahkan lebih parah. Sejak merantau ke kota dia menjadi tulang punggung keluarganya. Ayahnya memutuskan untuk berhenti bekerja. Katanya sudah tua, sudah tidak mampu lagi. Saatnya Shakeel berbakti dengan cara menafkahi keluarga mereka. "Percaya padaku. Aku yakin kita pasti memiliki jalan keluar untuk semua cobaan ini," kata Shakeel menguatkan Annisa. Dihampiri wanita yang beberapa bulan ini mengisi hidupnya. Tempat berbagi kehangatan, melampiaskan hasr@t yang membuncah. Dari padangan mata Shakeel cintanya pada Annisa terlihat begitu besar dan tulus. Namun, sayang ada napsu yang menghancurkan ketulusan cinta mereka. "Mas, diluar sana banyak manusia yang berzina. Lalu mengapa Allah hanya menghukum kita?" tanya Annisa berteriak. Saat dihampiri Shakeel tangis itu bukannya mereda malah semakin menjadi-jadi. "Mengapa, Mas? Mengapa?" tanyanya lagi semakin histeris. Annisa memukul-mukul dad@ Shakeel yang menjadi tempat sandarannya. "Huussttt. Kamu gak boleh salahi Allah, Annisa. Ini semua adalah kesalahan kita. Ini adalah hasil perbuatan hina yang telah kita lakukan." Shakeel mencoba menguatkan Annisa. Meski mereka seumuran tapi pemikiran Shakeel masih jauh lebih dewasa daripada Annisa. Shakeel masih bisa menggunakan logikanya. Sementara Annisa, wanita itu lebih mementingkan perasaan daripada berfikir menggunakan logika. "Oke kita yang salah ... tapi gak sepantasnya Allah kasih kita cobaan seberat ini, Mas." Annisa semakin tidak terima. Semakin mendengar perkataan Shakeel yang berbeda pendapat dengannya semakin membuat dia murka. "Aku bisa terima kehadiran bayi ini. Kita juga sudah sepakat untuk merawatnya tapi ... tapi kenapa Allah harus membuat aku kehilangan pekerjaanku, Mas?" Annisa kembali bertanya lagi. Suaranya terdengar begitu lantang ditengah isak tangis yang masih belum mereda. "Kenapa, Mas? Jawab!" Histerisnya lagi "Allah tahu kan kalau kita butuh biaya yang cukup besar untuk bayi ini," kata Annisa lirih. Hilang sudah suara lantangnya tadi berganti dengan lirihan suara yang hampir tidak terdengar. Shakeel tidak mampu lagi berkata-kata. Semua ucapan yang keluar dari bibir Annisa. Semuanya benar. Shakeel mengeratkan pelukannya pada Annisa. Mungkin dengan memeluk dan mengusap-usap punggung Annisa membuat wanita itu sedikit lega. Ya, sekarang hanya itu yang bisa Shakeel lakukan. "Annisa, kamu tidak lupa, 'kan?" tanya Shakeel saat wanita itu mulai bisa mengendalikan emosinya. Annisa menggelengkan kepala. Pertanda dia tidak mengerti kemana arah perkataan Shakeel. "Allah tidak akan menguji seorang hamba diluar batas kemampuan hambanya." Deg! Annisa melepaskan pelukan Shakeel. Menatap lekat manik mata kehitaman milik kekasihnya itu. "Aku tidak yakin kita bisa melewati semua ini," kata Annisa lirih. "Kamu salah, Annisa. Kamu salah! Harusnya kamu katakan bahwa kita akan melewati semua ini. Kita bisa Annisa." Seolah stok sabar dan lapang dad@ yang dimiliki Shakeel masih begitu banyak. Pria itu berkata dengan begitu yakin. Dia yakin bahwa dia bisa melalui semua ini. "Ini terlalu berat untukku, Mas." Annisa berkata jujur. Jika boleh. Jika bunuh diri tidak dilarang. Ingin rasanya detik ini juga Annisa menenggelamkan dirinya ke laut. Atau mengiris urat nadi dengan pisau silet mungkin. "Tidak ada satu pun masalah yang berat kalau kita lewati bersama-sama," kata Shakeel terdengar begitu tulus. Lagi-lagi Shakeel mencoba menenangkan Annisa. Semua ini telah terjadi. Mau bagaimana pun mereka harus menjalaninya. "Aku benci, Mas. Aku benci dengan takdir yang sedang kita jalani saat ini," kata Annisa terisak. "Kamu tahu, Annisa. Allah menitipkan kita bayi itu bukan karena Dia membenci kita. Allah justru menyayangi kita." "Kalau sayang kenapa kita sampai seperti ini?" tanya Annisa yang sama sekali tidak terima dengan kejadian yang sudah menimpa dirinya. "Itulah tanda cintanya Allah pada kita umatnya. Kita sebagai umat telah berdosa. Melakukan dosa besar, kita berzina. Karena rasa sayang Allah terhadap kita Dia menegur dengan cara menitipkan kehidupan baru didalam rahim kamu." Shakeel menjeda kalimatnya. Melihat reaksi Annisa tapi, pandangan wanita itu tetap sama. Kosong. "Bayi ini bukan sebuah dosa. Melainkan sebuah kasih sayang yang Allah berikan. Sebuah teguran yang mampu membuat kita sadar bahwa s*x diluar nikah salah besar. Selain dosanya sulit untuk diampuni. Malunya juga susah untuk dilupakan. Apalagi di pandangan mata orang luar." Annisa masih betah menyimak perkataan Shakeel dengan tatapan yang sama. "Coba kamu bayangkan. Kalau hari ini Allah tidak menegur kita dengan cara seperti ini. Mungkin sampai detik ini kita tidak akan pernah sadar. Akan konsekuensi dosa kita yang telah kita lakukan." "Lalu kenapa orang diluar sana masih Allah izinkan berzina? Kenapa masih Allah tutup aibnya? Jawabannya satu. Mungkin saat ini belum waktunya." "Beruntunglah kita yang ditegur Allah dalam waktu cepat. Beruntunglah kita karena tidak terlalu dalam masuk kedalam lembah dosa." Sampai Shakeel memberikan sedikit arahan tapi Annisa masih tetap betah dengan diamnya. "Annisa, aku mohon. Jangan salahkan siapapun. Jangan tanyakan kenapa. Karena semua kesalahan itu terjadi atas kelalaian diri kita sendiri." Sekali lagi pria itu mengingatkan kekasihnya yang saat ini terlihat seperti tidak ada gairah hidupnya lagi. "A–aku ..." Annisa tak mampu berkata-kata. Satu sisi dia sudah tidak ingin berada didunia ini lagi. Namun, disisi lain semua yang dikatakan Shakeel ada benarnya. Mereka lah yang bersalah atas semua kekacauan ini. Mereka pantas mendapat balasannya. "Sudahlah. Kita yang bersalah. Sekarang mari kita hadapi semuanya." Shakeel menangkup wajah Annisa dengan kedua telapak tangannya. Mencium kening wanita itu dengan penuh kasih sayang. "Annisa, untuk saat ini aku memang belum bisa menikahi mu tapi, aku berjanji akan bertanggung jawab atas dirimu dan juga anak ini." Shakeel mengelus perut Annisa yang masih rata. "Mulai hari ini dan seterusnya segala keperluan mu dan calon anak kita akan menjadi tanggung jawabku seutuhnya," kata Shakeel sungguh-sungguh. "Aku mencintaimu. Ku harap hari ini dan seterusnya kamu jangan pernah mengecewakanku." Hanya sebuah harapan dengan nada yang terdengar begitu putus asa keluar dari bibir Annisa. "Aku tidak akan berjanji tapi, aku akan berusaha untuk tidak mengecewakanmu." Shakeel tersenyum setidaknya hari ini dia bisa membuat Annisa yakin. Untuk selanjutnya biar waktu yang menjawab semuanya. "Sekarang sebaiknya kamu ganti pakaian. Kita harus pergi ke Mes untuk mengambil barang-barang dan mengurus kepindahan mu," kata Shakeel pada Annisa. Barang-barang itu memang harus diangkut sekarang. Mengingat Annisa bukan lagi karyawan di perusahaan yang memiliki hak tinggal atas Mes tersebut. Pukul lima sore hari pasangan kekasih yang akan menjadi orang tua itu sudah berada di Mes Annisa. Berbekal sepucuk surat dari HRD yang diberikan pada kepala pengurus Mes. Akhirnya Annisa bisa mengangkat barang-barangnya. Memindahkannya ke kostan Shakeel. Mereka hanya butuh memesan taksi online karena barang Annisa yang tertinggal disini hanyalah pakaian dan beberapa tas serta alat make up. Mulai hari ini sampai batas waktu yang belum ditentukan kostan itu akan mereka tempati berdua. Kehidupan berumah tangga tanpa status pernikahan akan dimulai. "Orang rumah, Kil?" tanya seorang wanita bertubuh langsing saat melihat sepasang kekasih itu berdiri didepan pintu kostan dengan dua buah koper yang ukurannya cukup besar. Wanita berkulit putih, memiliki tinggi tubuh sekitar 170cm. Rambut pirang panjang tergurai. Bola mata biru akibat softlens yang ia gunakan dan hells 15cm dikakinya. "Eehh, Mbak Khanza. Mau pergi kerja, ya?" tanya Shakeel basa-basi. "Ia nih. pelanggan aku udah nunggu didepan. Aku duluan, ya." Wanita itu baru akan melangkahkan kakinya tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dipandanginya Annisa dari atas sampai bawah. "Wanita baik-baik. Kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang sama, Mbak. Mbak yakin kalian sedang memiliki masalah. Anak baik seperti kalian akan selalu berada dalam lindungan Tuhan." Kata-kata yang terlontar dari mulut wanita itu tertangkap oleh indra pendengaran mereka berdua sebagai sebuah teka-teki. Hanya ada satu pertanyaan yang memenuhi isi kepala mereka. "Bagaimana bisa wanita itu tahu kalau mereka adalah orang baik?. Sedangkan mereka adalah seorang pezina." "Kamu kenal, Mas?" tanya Annisa memecah kegugupan mereka. "Itu loh. Mami yang tinggal dipojokan," kata Shakeel menunjuk sebuah kamar dipojokan kostnya. "Itu Mbak Khanza yang sering kamu ceritain?" tanya Annisa mengerutkan keningnya. "Ia, Sayang. Yaudah masuk dulu yuk. Kita belum susun barang-barang kamu." Ajak Shakeel mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. Keduanya masuk kedalam kamar kost. Masing-masing masih menyimpan tanya tentang Khanza. "Mas," panggil Annisa saat mereka sedang menyusun barang-barang. Pikiran Annisa tidak tenang. Dia harus memastikan hal ini lebih dulu. "Ya," jawab Shakeel seadanya. Pria itu sedang sibuk menata rak tempat pakaian dan juga kosmetik Annisa. "Kamu ada cerita sesuatu sama perempuan tadi?" tanya Annisa yang mulai tidak nyaman dengan rasa ingin tahunya. "Tidak. Kami malah hanya bertemu beberapa kali. Kalau pun bertemu hanya saling bertegur sapa. Perempuan itu gak pernah keluar kamar. Dia keluar cuman karna mau pigi kerja doang." Shakeel menjelaskan apa adanya karena memang itulah yang terjadi. "Kamu gak lagi bohongi aku, 'kan?" tanya Annisa. Curiganya semakin tidak menentu arah saja. "Ya Allah, Annisa. Untuk apa aku menukar permata dengan sebiji jagung?" tanya Shakeel. Pria itu yang tadinya sibuk menyusun rak malah beralih menatap Annisa yang sedang cemberut. "Ya mana tahu kamu mau cari yang lebih berpengalaman," kata Annisa ketus. "Astaga. Mulai deh kamu. Aku juga sama kayak kamu. Aku juga bingung kenapa Mbak Khanza bisa ngomong kayak gtu." Shakeel berkata jujur. "Bod0h amat ahh. Pokoknya aku gak mau liat kamu negur dia lagi. Aku gak suka!" Akhirnya. Sebuah ultimatum atas dasar kecemburuan tak berarah keluar dari mulut Annisa. Shakeel hanya membalas dengan senyum sambil menggelengkan kepalanya pelan. Tidak heran lagi dengan tingkah laku ibu negara ini. ***** Tepat pukul setengah sembilan pagi saat Shakeel tiba ditempatnya bekerja. Dia terlambat tiga puluh menit. Pagi tadi, Annisa sudah membangunkan Shakeel lebih awal. Namun, mereka malah bergelut sampai lupa jam. Akhirnya Shakeel terlambat pergi kerja. Tempat Shakeel bekerja masih berada dalam satu kawasan yang sama dengan Annisa. Hanya berbeda beberapa blok saja. Tentunya beda perusahaan. "Shakeel Indraguna," panggil kepala pengawas di divisi tempat Shakeel bekerja. Sejak pukul delapan tadi wanita dengan setelan jas hitam dan rok mini selutut itu sudah menunggu Shakeel. Terlambat bagi Shakeel bukan hal pertama lagi. Sudah berkali-kali pria itu dipanggil pihak HR. Bahkan surat peringatan ketiga juga sudah dia dapatkan. "Ya, Bu. Ada apa?" tanya Shakeel mencoba bisa saja. Meski rasa takut hampir memenuhi delapan puluh persen perasaannya. "Ada apa? Ada apa? Kamu sadar diri tidak kalau kamu itu sudah terlalu sering terlambat." Kepala pengawas itu berkata dengan begitu keras. Sepertinya dia sudah tidak memiliki stok sabar atau kasihan terhadap Shakeel. "Maafkan saya, Bu." Shakeel berkata sambil menundukkan pandangannya. "Saya bisa memaafkan kamu tapi perusahaan tidak bisa. Ikut saya keruang HR sekarang juga," katanya langsung berjalan tanpa menunggu jawaban dari Shakeel. Suara ketukan hak sepatu 15cm yang digunakan wanita itu seolah menjadi irama mematikan di indra pendengaran Shakeel. Pikiran Shakeel menjadi semakin tidak karuan. Semalam mereka baru saja mendapatkan kabar duka cita karena Annisa dipecat. Hari ini giliran Shakeel yang dipanggil oleh pihak HRD. "Semoga saja aku tidak dipecat. Kalau aku dipecat bagaimana kelanjutan hidup kami nantinya?" kata Shakeel dalam hatinya. "Silahkan masuk dan ketuk pintu itu sendiri. Saya sudah muak melihat HR marah-marah hanya karena kamu," kata wanita itu sebelum bergegas meninggalkan Shakeel seorang diri didepan pintu ruangan HRD. Tok! Tok! Tok! "Masuk." Terdengar perintah dari dalam sana. Shakeel membukakan pintu. Baru separuh badannya masuk kedalam ruangan bersuhu dingin tersebut. Namun, suara seorang wanita menghentikan langkahnya. "Oh kamu ternyata. Tidak perlu masuk sampai sini. Cukup berdiri saja disitu." Shakeel tertunduk dengan posisi tubuh bagian kanan didalam ruangan sementara bagian kiri diluar ruangan. "Ada apa memanggil saya, Bu?" Shakeel memberanikan diri untuk bertanya. "Tidak ada apa-apa. Mulai besok kamu tidak perlu masuk kerja lagi," kata wanita itu terdengar begitu angkuh. "Ma–maksud Ibu bagaimana?" tanya Shakeel terbata-bata. "Kamu saya pecat!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD