"Sersan Randy,saya tugaskan anda untuk menyamar menjadi siswa di SMA NUSA BHAKTI 2!"
Randy tercengang,ia tidak bisa berkata-kata dengan perintah yang diberikan sang Jenderal padanya.Percaya tidak Percaya,ia harus kembali ke masa Sekolah,masa yang sudah ia lalui lebih dari 10 tahun lalu.
"K-kenapa harus saya, Jenderal? Kenapa harus menjadi siswa?" pemuda gagah itu sulit mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.Kepalanya terasa berputar karna masih tidak percaya.
Jenderal Sudiro dan Kolonel Sanders tersenyum melihat respon dari Randy.
"Karna kasus ini berhubungan langsung dengan para siswa,mau tidak mau harus ada yang bisa berbaur langsung dengan mereka.Jalan satu-satunya ya,harus ada prajurit yang menyamar menjadi siswa.Setelah melihat biodata lengkapmu,diantara prajurit lain saya merasa kamu paling pantas.Umurmu masih muda,wajahmu pun masih cocok jika menjadi murid sekolah.." Beliau benar,Wajah tampan Randy begitu baby face meski terlihat lebih maskulin dengan postur tubuh sixpack.
"Tapi saya sudah lama sekali tidak berurusan dengan dunia sekolah.."
"Kamu menolak tugas dari saya?"
"Siap,tidak Jenderal!"
"Bagus,tugas kamu menyelidiki pergerakan peredaran n*****a di sekolah dan sekitarnya.Awasi mereka jika ada tingkah laku yang mencurigakan.Lapor apapun berita yang kamu dapati langsung pada Kolonel Sanders,Saya maupun Letjend Pratama.Kita bekerja sama dengan polisi,pasukan akan langsung bergerak jika ada hal yang patut dituntaskan.." Randy membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.
"Satu lagi,di SMA NUSA BHAKTI 2,ada siswi kelas 2 bernama Yasmin Nadia.Dia anak saya.Selama ini,ia selalu menolak jika saya memberi nya penjagaan ketat.dia kerap kali mengusir siapapun orang yang saya utus untuk menjaganya.
Padahal,sebagai seorang Jenderal begitu banyak ancaman yang bisa saja diperoleh keluarga saya.Saya harap dengan keberadaanmu disama,selain bertugas dalam pengintaian kau juga mampu menjaga putri bungsuku itu.Tolong jaga dia,yaa.Saya percayakan semua padamu.." Jelas Jenderal Sudiro.
"Baik, Jenderal.Apapun tugas yang diberikan pada saya,akan saya lakukan sebaik dan semaksimal mungkin.Demi kedaulatan negara Indonesia.." Ujar Randy penuh kepastian.
"Baik,kalau begitu.Mulai hari ini kamu bukan Randy Adiwira,Seorang Sersan satu berusia 27 tahun.Melainkan kau adalah Ren Rafael,seorang anak remaja berusia 17 tahun.Sanders akan membimbingmu lebih lanjut.Silahkan kembali ke tempat.."
"Siap, Jenderal!" Hormat Randy sembari meninggalkan tempat.
"Menjadi seorang anak SMA?apakah aku bisa?" gumamnya dalam hati.
***
Seminggu berlalu,besok adalah hari pertama Randy ke Sekolah.ya, Setelah 5 tahun lamanya ia menjadi tentara,kini ia harus kembali lagi ke dunia sekolahan.Bulu di wajahnya ia rapikan,serta rambutnya yang cepak sedikit ia panjangkan agar tidak terlihat seperti tentara.
"Oke,Randy.Kau harus siap.oh,tidak.Ren Rafael.Namaku Ren Rafael,umurku 17 tahun.." ucapnya sembari berlatih di depan cermin.
Keesokan harinya tiba.Randy sudah siap bertugas.Seragam SMA yang sudah lama sekali tidak ia pakai, sekarang harus ia kenakan tiap hari.Ia diantar oleh Kolonel Sanders yang bertindak sebagai wali murid baginya.
"Benar apa kata Jenderal Sudiro.Kau masih cocok menjadi murid SMA.." canda Sanders mencoba mencairkan suasana.Ia bisa melihat raut wajah Randy begitu tegang.
"Tapi,Kolonel..Saya.."
"sudah kubilang jika diluar seperti ini,kau tidak perlu memanggilku Kolonel.Panggil namaku saja,Cukup Bang Sanders.Apalagi aku sekarang menjadi wali murid bagimu.Disekolah nanti aku menjadi Abangmu.Ingat tidak ada seorangpun yang boleh tahu tugas dan status kita di lapangan.."
"Baiklah,bang Sanders.."
Mereka langsung menuju SMA NUSA BHAKTI 2 dengan mengendarai mobil pribadi Sanders.
"Apakah pihak sekolah SMA NUSA BHAKTI 2 ada yang tahu tentang penyamaran ini?" Randy bertanya.Kini ia duduk disamping kursi kemudi diduduki oleh Sanders.
"Tidak ada.Hanya Pak Zaenal sebagai Kepala Sekolah yang mengetahuinya.Beliau adalah teman sejawat dari Jenderal Sudiro.Selain itu tidak ada lagi.Jadi saya harap,kau bisa menjaga diri dengan baik.Jangan sampai ketahuan siapapun dan jangan mudah percaya pada siapapun,kau paham?" Randy mengangguk.
Tak sampai 10 menit,mereka sudah tiba di area sekolah SMA NUSA BHAKTI 2.Randy begitu gugup sehingga Sanders harus sedikit memaksanya masuk.
"Tentara tidak boleh takut dengan apapun!" Tegas Sanders.
Mereka lalu memasuki area sekolah yang terlihat begitu luas tersebut.Meski jam masuk masih 15 menit lagi,namun suasana sekolah sudah begitu ramai dengan rombongan para siswa yang baru saja tiba.Riuh gemuruh canda tawa menyertai kedatangan mereka.Security sekolah tidak segan menunjukkan ruangan Kepsek yang hendak dituju oleh mereka.
*tok tok tok..* Security yang mengantar keduanya mengetuk pintu ruangan kepsek.
"Silahkan masuk.." Suara berat menjawab dari dalam.Tampak terlihat sesosok pria paruh baya dengan pakaian parlente menyambut kedatangan Security yang mengantar mereka langsung pamit untuk kembali bertugas.
"Kalian pasti utusan Sudiro,betul?" tanya beliau.
"Betul,Pak.Saya Sanders dan ini Randy Adiwira.Kami disini dalam rangka mengemban tugas.."
"oh,silakan duduk.Sudiro sudah menceritakan semua pada saya.Saya begitu prihatin bahwa kasus ini semakin marak.." Ujar Pak Zaenal selaku kepala sekolah.
"Jadi ini yang akan bertugas disini?" Beliau menunjuk Randy."Masih cocok jadi anak SMA,saya yakin tidak akan ada yang mencurigaimu.." Randy mengangguk malu.
"Ia Sersan Randy,pak.Tapi disini namanya jadi Ren Rafael.." Beliau mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Nanti kalau ada apa-apa,jangan segan hubungi bapak ya,Sersan eh,maksud saya Ren.." Pak Zaenal melanjutkan ucapannya.
"Baik,pak.."
"Sudah jam masuk,mari saya antar ke kelas.." Pak Zaenal menawarkan diri.
"Oke kalau begitu,Saya juga harus pamit,Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan.Ren Rafael,selamat bertugas.Ingat untuk selalu berdoa dimanapun kamu berada.." Pamit Sanders sembari bersalaman dengan pak Zaenal lalu keluar meninggalkan ruangan.
"Silakan,Sersan.."
"Maaf,Pak.Panggil saya Ren saja.." ucap Randy mengingatkan.
"Ohiya,Ayo Ren.Ikut saya.." mereka lalu menuju suatu ruangan kelas yang sudah ditentukan.Randy dijadwalkan masuk ke kelas 2A.Dalam pikirannya,ia akan masuk ke dalam kelas unggulan dimana berkumpulnya siswa berprestasi dan damai tentram.
Namun..
"Selamat pagi anak-anak.Bapak akan memperkenalkan seorang murid baru pindahan dari Yogya.." Pak Zaenal berdiri di depan kelas.Tapi sayangnya,hanya beberapa murid yang merespon kedatangan mereka.Sisanya? kacau! Saling bergurau cuek,tak peduli dengan keadaan sekitar! Ada yang memperhatikan guru,ada yang berdiam diri,ada pula yang asyik mengobrol.Jauh sekali dari kesan murid teladan.
"Kelas macam apa ini?" Gumam Randy.