waktunya tiba.

1095 Words
Sehari setelah dibentuknya keanggotaan Laskar Arunika,belum ada pemberitahuan selanjutnya bagaimana tugas yang akan mereka lakukan.Kini mereka hanya menunggu panggilan dari atasannya.Satu persatu anggota terpilih menghubungi keluarga dan meminta restu atas kelancaran bertugas,meski mereka tidak memberi tahu tugas apa yang akan diemban. Namun Randy tidak demikian.Sikap Ayahnya yang begitu dingin dan menentang cita-citanya sebagai seorang Tentara,membuat hubungan Ayah-anak itu sedikit merenggang.Bagas Adiwira sang Ayah,hanya merespon seperlunya tiap kali Randy menelpon atau pulang ke rumah,setelah itu ia lebih memilih menenggelamkan diri dalam kesibukan berbisnis atau hobinya bermain golf ketimbang bercengkrama bersama putra sulungnya itu.Hanya Rani sang Ibu,serta Bian si gadis kecil adiknya lah yang selalu antusias menerima keberadaan Randy. "Kau tidak mengubungi keluargamu? " Tanya Miki.Matanya terlihat sedikit sembab setelah menelpon sang Ibu yang menetap di Manado. "Kau menangis? hahaha tak kusangka pria idealis sepertimu bisa melow juga.." canda Randy mengalihkan pembicaraan.Keduanya duduk di teras depan kamar asrama. "Sudah,jangan mengalihkan topik.Kembali pada pertanyaanku barusan.Kenapa kau tidak menghubungi keluargamu di Yogya?" Randy menarik napas dalam-dalam lalu menggelengkan kepalanya. "Ayahku selalu menolak saat aku mencoba menelpon.." curhatnya. "Dia belum bisa menerima?" "Belum.." Miki menarik napas dan menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu. "Mungkin tidak sekarang,tapi suatu saat nanti.Kau hanya perlu membuktikan bahwa kau mampu membuatnya bangga.." "Kau betul.." "Ya sudah,kau hubungi Ibumu saja.Aku yakin beliau juga akan memberi tahu Ayahmu kalau kau menelpon.." Miki memberi saran. "Baiklah.." *** Saat ini Randy sibuk di kantor,ia ditempatkan di bagian administrasi.Wajahnya terlihat begitu serius mengutak-atik lembar kerja yang menumpuk.Satu-persatu ia kerjakan dengan baik,baginya bekerja dengan setulus hati akan menghasilkan sesuatu yang maksimal. *kriiiiinnggg..* telpon kantor di atas mejanya berbunyi. "Selamat siang, kesatuan Nusantara dengan Sersan Randy disini.." ucapnya memberi salam. "Selamat Siang,Sersan Randy.Saya Sanders.Pukul 2 nanti saya tunggu kehadiran anda di kantor saya,yaa.." Sang kolonel memberi titah. "baik, laksanakan kolonel!" ia pun langsung menutup telponnya. waktu menunjukkan hampir pukul 2,itu artinya Randy harus segera menuju kantor Sanders agar sampai tepat waktu disana.Ia bergegas.Sedikit tergesa ia berjalan kaki menuju tempat tujuan.Ia segera masuk, sesampainya di kantor Sanders setelah dipersilakan oleh staf. "Hormat,Kolonel.Sersan Randy melapor diri!" Sikap sempurna Pemuda gagah itu selalu dikagumi oleh siapapun yang melihatnya.Sang kolonel membalas dengan mengangkat tangan kanannya hingga berada di ujung pelipis mata. "Silahkan masuk ke ruangan saya.." Randy kemudian diajak masuk pada suatu ruangan lain di dalam kantor Sanders.ruangan yang baru ia ketahui sekarang.sepertinya tidak banyak orang yang berlalu lalang kesini Karna terlihat begitu pribadi. Iapun berhenti disatu titik dimana Sanders memberinya kode untuk berhenti.Di ruangan yang begitu terlihat gelap tanpa ada ventilasi udara,hanya lorong-lorong besar dan begitu rahasia yang ia lihat sepanjang ia mengikuti langkah Sanders. "Jenderal Sudiro?" Randy memekik terkejut setelah mendapati sang Jenderal berada disini.Ia tidak mendengar berita kedatangan beliau sedikitpun.Beliau duduk di belakang kursi yang ia putar sesaat setelah kedatangan Randy. "Selamat siang,sersan.." sapa beliau.sikap sempurna kembali dilakukan oleh Randy sebagai tanda hormat.." "Selamat siang Jenderal.." hatinya bergemuruh hebat. "Tak perlu berlama-lama.Sersan Randy, Sepertinya saya harus memberikan tugas khusus untukmu.." Ujar Jendral Sudiro,sesaat ketika ia telah membubarkan bawahannya yang lain.Kini ia hanya bersama Kolonel Sanders dan Sersan Randy,Seorang anggota tentara yang baru saja direkrut menjadi bagian dari laskar Arunika berusia 27 tahun diruangannya. "Siap Jendral,apapun tugas yang diamanatkan pada saya,akan saya laksanakan dengan sungguh-sungguh!" Jawab Randy dengan penuh rasa hormat.Dengan posisi tubuh berdiri tegak dan ekspresi wajah serius,Sikap sempurna sebagai seorang aparat negara selalu ia terapkan terutama setiap kali mendapat panggilan tugas. "Bagus,saya suka sekali mendengar jawaban darimu.Meski usiamu masih begitu muda dan masih terbilang anggota baru,namun sikap tegasmu membuat saya yakin,kalau kamu akan mampu mengemban tugas ini dengan baik.."Puji Jendral Sudiro dibalik meja kerjanya.Secangkir kopi yang sejak tadi terhidang sudah tandas tak bersisa. "Seperti yang sudah kamu dengar sebelumnya,kita sedang dihadapkan dengan permasalahan yang begitu besar.Sindikat penjualan n*****a besar berskala Internasional ini kemungkinan besar telah memasuki wilayah ini.Ini sangat serius,kita tidak boleh lengah sama sekali.Oleh karna itu,seperti yang telah kamu dengar dari kolonel Sanders,saya harus membagi tugas untuk kalian mengawasi tiap yang gerak-gerik mencurigakan di tiap sudut kota.Semua kawan dan para seniormu sudah saya panggil satu persatu,lalu saya tugaskan mereka di suatu tempat dimana hanya saya dan mereka masing-masing yang tahu.Disana mereka harus menyamar menjadi berbagai profesi sembari tetap memberi laporan.." Randy mengangguk sambil terus mendengarkan ucapan dari sang Jenderal dengan penuh fokus. "Duduklah,akan saya perlihatkan sesuatu padamu.." Jendral Sudiro meminta Randy duduk dihadapannya.Beliau membuka perangkat laptop lalu memperlihatkan map serta gambar satu daerah. "Ini peta pergerakan kita.Di daerah sini pula diperkirakan sindikat p**************a beraksi di wilayah ini.Bisa dibilang,wilayah ini paling mengkhawatirkan karna dekat dengan kompleks sekolah serta universitas.Saya curiga,mereka telah mengincar target korban mahasiswa maupun pelajar sekolahan.." Jendral Sudiro menjelaskan dengan tenang namun terlihat cemas, sementara Randy menghela napas mendengarnya. "Lalu,apa yang bisa saya lakukan Jendral?" Jenderal Sudiro menatap pemuda itu dengan lekat.Ia lalu menyentuh keyboard laptop lalu memperlihatkan sebuah foto gedung sekolahan bertuliskan SMA NUSA BHAKTI 2. " Randy,demi mengusut kasus ini,mulai Minggu depan saya tugaskan anda untuk menyamar dan menjadi bagian dari sekolah ini!" Perintah Jendral Sudiro. "Baik,pak.Tapi masalahnya,saya harus mengajar mata pelajaran apa? Supaya saya bisa menyiapkan materi sesegera mungkin.." jawab Randy lugas.jendral berusia 48 tahun itu tertawa kecil yang berhasil membuat kapten Randy kebingungan. "Tidak,Randy.Saya tidak akan menugaskan kamu menyamar menjadi seorang guru.Karna saya yakin kamu akan kesulitan mencari informasi,sementara kasus ini berhubungan langsung dengan siswa-siswi yang mana kamu harus bisa mengorek informasi dari mereka.." Randy masih belum paham dengan maksud Jendral Sudiro. "Tapi,saya juga tidak mungkin meminta kamu menyamar menjadi petugas OB,pedagang kantin ataupun pedagang jajanan di depan sekolah.." Beliau berdiri lalu melangkah menuju satu lemari lalu mengambil sebuah tas ransel berwarna biru navy,lalu menyerahkannya pada Randy. "Bukalah.." sebuah tas ransel berukuran sedang diberikan pada Randy.Pemuda itu masih terheran-heran dengan apa yang telah dilakukan Jendral Sudiro.Ia membuka tas tersebut lalu menemukan sepasang seragam SMA,lengkap dengan buku, peralatan tulis,lengkap dengan kartu pelajar 'imitasi' bertuliskan Nama Ren Rafael,yang tidak lain adalah dirinya sendiri. "I,ini apa Jendral?" Randy terkejut melihat isi dari tas Ransel yang diberikan padanya.Beliau tersenyum lembut. "Sersan Randy,saya tugaskan kamu untuk menyamar menjadi siswa baru di SMA NUSA BHAKTI 2!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD