Jenderal Sudiro termenung di balik meja kerjanya.Rautnya begitu terlihat sangat gusar.Berkali-kali buku kerjanya ia bolak-balik.Lembaran demi lembaran terus ia buka.Terus menerus ia seperti itu,sampai tak sadar jika ajudannya sudah berulang kali mengetuk pintu ruangannya.
*Tok tok tok..*
"Siapa?" Tanya beliau.
"Hormat pak Jenderal,ada seseorang yang hendak menemui anda.." sang Ajudan melapor.
"Suruh ia masuk.." perintah sang Jenderal.
"Siap, laksanakan perintah!" Sang ajudan pamit.tak lama berselang,ia mempersilakan seseorang untuk masuk ke dalam ruangan Jenderal Sudiro.Langkah kakinya begitu tegas,sosok yang begitu gagah memasuki ruangan seorang panglima besar yang sudah lama tak ditemui.
"Selamat siang Jenderal,lama tidak bersua.." Suara berat itu memecah keheningan disaat sang empunya tempat terdiam,matanya terbelalak lebar,begitu luar biasa terkejut dengan kedatangannya.
"Pratama..K-kau.." Jenderal Sudiro tak menyangka sosok yang selama ini memusuhinya datang untuk bertemu dengannya.Jauh dari dalam lubuk hatinya,ada rasa bahagia yang teramat sangat karna telah lama ia tak bertemu dengan orang yang dulu pernah menjadi sahabat terdekatnya.
"Iya,ini aku.Begitu terkejutnya kau.."
"S-silahkan duduk.." Jenderal Sudiro mempersilakan Letjen Pratama untuk duduk,namun ia menolaknya.
"Mohon maaf,saya datang kesini bukan untuk bersilaturahmi apalagi mengobrol santai.Petang kemarin, Presiden menelepon saya,lalu memerintahkan saya untuk menemuimu.." Jenderal Sudiro diam dan tidak berusaha memaksanya.
"Iyaa,beberapa hari lalu,kami.." Tak sempat Jenderal Sudiro menyelesaikan kalimatnya,Letjen Pratama langsung memotong.
"Aku tahu,aku tahu semuanya.Aku tahu kasus apa yang kita hadapi,Aku tahu rapat besar kemarin beserta hasilnya,aku tahu semua.Kau tidak perlu repot menjelaskan semuanya lagi padaku,Pak Jenderal.." Pria itu lantas berjalan menuju dekat Jendela, disitulah ia menyandarkan tubuhnya.
"Justru karna aku tahu semuanya,maka dari itu aku ada disini.Presiden yang memerintah ku untuk datang kesini dan membantumu.."
"Jadi,apakah kau bisa membantu?" Harap Jenderal Sudiro.
"Huffttt,terpaksa aku membantumu.Tapi semua ini aku lakukan demi Negara dan atas perintah Presiden,bukan untukmu.."
"Baiklah,tidak apa-apa.Untuk sementara kita turunkan ego masing-masing, kesampingkan urusan pribadi kita dan bersatu untuk Indonesia.."
"Tapi bukan berarti permasalahan kita selesai begitu saja.Aku anggap hal ini hanya sebuah profesionalisme pekerjaan.maaf Jenderal,Karna sejujurnya saya masih membenci anda.." Sang Jenderal mengangguk pelan, sementara Letjen Pratama lalu keluar ruangan meninggalkan nya.
***
"Sudah siap?" Tanya Rai memastikan kesiapan kedua sahabatnya.Sekarang Randy,Miki dan Rai akan menghadap Kolonel Sanders.
"Aku siap! Tak sabar mendapatkan tugas!" Ujar Miki begitu antusias.dirapikannya seragam tentara berwarna army,kontras dengan kulit putihnya.Randy tidak menjawab,ia penasaran mengapa Kolonel Sanders memanggil mereka,apakah ada hubungannya dengan hal yang ia bicarakan tempo hari di taman?
"Kau,Randy?" Lanjut Rai bertanya.
"Eh? Ehmm.. Sebenernya aku penasaran ada apa.Kenapa Kolonel Sanders memanggil kita.." Tukas Randy.
"Aku juga demikian.tapi apapun tugas yang diberikan pada kita,sebisa mungkin harus kita jalani dan laksanakan.." Rai menopang dagunya seraya berpikir.
"Dengan perasaan ikhlas dan sungguh-sungguh tentunya.Agar hasilnya lebih maksimal dan tidak terasa berat.." Miki menimpali.
"Tumben omonganmu benar.." ejek Rai.
"Kau selalu berprasangka buruk kepadaku.." protes Miki.
Ketiganya lalu pergi ke tempat yang dituju,ruangan kantor kolonel Sanders.Cukup jauh dari asrama mengingat barak ketentaraan dibuat begitu luas.Dikelilingi pohon rindang serta wangi bunga-bungaan yang tertanam di tiap penjuru barak,serta letak danau buatan tepat di tengah kawasan.Tempat yang biasa dijadikan pelepas penat para prajurit saat beristirahat ataupun olahraga pagi.Berjalan dengan ritme sedikit lebih cepat,perasaan campur aduk menyelimuti ketiga pria tampan yang sudah bersahabat sejak 5 tahun lamanya itu.
Sampai tempat yang dituju.Letak Ruangan Kolonel Sanders sedikit lebih ujung daripada ruangan lainnya,namun lebih luas daripada staff kantor lain.Semerbak wangi pengharum ruangan tercium kala mereka memasuki sang Kolonel setelah dipersilakan oleh stafnya.
"Selamat siang,Kolonel!" Ketiganya kompak memberikan penghormatan dengan sikap sempurna.Sanders menjawabnya dengan sikap yang sama.
"Silakan duduk.." Randy,Miki dan Rai kemudian duduk tepat dihadapan Kolonel Sanders.
"Terima kasih sudah datang,bagaimana tugas kalian hari ini? lancar?" tanya Sanders memulai pembicaraan.
"Alhamdulilah lancar.." jawab mereka kompak.Sejenak keempatnya hening terdiam.Ada rasa kikuk dalam hati Randy,Miki dan Rai saat ini.
"Kalian terlihat begitu tegang sekali,santai saja.." Ujar Kolonel Sanders seraya tersenyum melihat sikap ketiganya.Seolah mereka mengerti,untuk apa ia memanggil.
"Kalian pasti bertanya-tanya,kenapa saya memanggil kalian.Tapi aku rasa kalian sudah paham maksudku memanggil kalian kesini.."
"Sebenarnya ada apa Kolonel?" Tanya Randy penasaran.Raut Wajah kedua sahabatnya menunjukkan ekspresi yang sama persis.
"Akan ada tugas khusus bagi kalian,tugas yang begitu rahasia.." ketiganya terlihat terkejut mendengar ucapan seniornya tersebut.
"Tugas rahasia? tugas seperti apa maksudnya?" Randy semakin penasaran.Sementara Miki terlihat begitu antusias,Rai justru merasa khawatir.
"Pagi tadi,LetJen Pratama menelpon saya.Atas dasar perintah presiden serta permintaan dari Jenderal Sudiro.Beliau meminta saya menyiapkan satgas khusus dimana hanya anggota terpilih yang akan terlibat.Anggota yang hanya dipilih langsung oleh Jenderal Sudiro.Sejak tadi,sudah beberapa anggota yang saya panggil,merekalah yang terpilih menjadi bagian dari satgas khusus ini,yang beliau namakan sebagai laskar Arunika.Kalian yang berada dihadapan saya sekarang,selamat.kalian terpilih sebagai bagian dari laskar khusus ini.." Randy,Miki dan Rai tercengang,tak menduga bahwa mereka bisa terpilih dalam misi rahasia ini.
"Jadi kita terpilih,Kolonel?" Miki begitu antusias.
"Ya,Jenderal Sudiro memilih kalian langsung sebagai bagian dari laskar ini.Tapi.." Sanders menghentikan ucapannya.
"Ini misi rahasia,tidak semua anggota disini yang mengetahui adanya laskar ini.." Ketiganya langsung mengernyitkan dahi.Tidak mengerti dengan apa yang diucapkan sosok dihadapan mereka ini.
"Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui adanya satgas laskar Arunika.Presiden, Jenderal Sudiro,Letjen Pratama,beberapa penanggung jawab salahsatunya saya,dan para anggota sendiri.Tidak ada yang boleh tahu selain orang yang saya sebutkan tadi,termasuk prajurit lain dan anggota keluarga sekalipun.." Randy,Miki dan Rai saling berpandangan satu sama lain.Rasa heran menyelimuti pikiran mereka.
"Kenapa tidak ada yang boleh tahu,Kolonel?" Rai kebingungan dengan statement Kolonel Sanders.
"Sangat membahayakan,Rai.Selain membahayakan kesatuan,bisa membahayakan keluarga juga.Tidak menutup kemungkinan para mafia gembong n*****a itu akan mengincar keluarga dari prajurit yang terlibat langsung dalam kasus ini.Jadi Saya harap,kalian tolong jaga rahasia ini baik-baik.Tolong jangan sampai berita ini menyebar apalagi diketahui media.." ketiganya mengangguk tanda mengerti.
"Kalau boleh tahu,tugas kita apa nantinya?" Randy kembali memberikan pertanyaan.
"Belum ada keputusan secara spesifik,tugas apa yang akan diberi dan dimana kalian akan bertugas.Jenderal Sudiro sendiri yang akan memberi tahu kalian secara langsung.."
"Ada pertanyaan lain?"
"Untuk saat ini cukup Kolonel.." ucap Randy.
"Baik, sementara hanya itu yang bisa saya sampaikan buat kalian.Dengarkan aku, waktunya sudah tiba,sudah saatnya kalian berjibaku dengan kejamnya dunia tentara diluar sana.Negeri ini butuh pemuda hebat seperti kalian.Persiapkan diri kalian semaksimal mungkin,bekali diri dengan ilmu yang sudah kalian dapat, pelajari lagi apa yang pernah dipelajari,lalu berdoa meminta perlindungan pada Tuhan.Jangan lupa minta restu keluarga kalian.itu penting.Sekarang kalian boleh kembali ke tugas.." Kolonel Sanders memberi nasihat.
"Siap kolonel!" Hormat ketiganya seraya meninggalkan ruangan.