Perjanjian
Di sebuah ruangan di rumah sakit,Shela yang harusnya melanjutkan pendidikannya di sebuah universitas terpaksa harus menghentikan mimpinya menjadi sarjana kedokteran.
Hal itu karena ibunya merasa berhutang budi dengan keluarga majikan ibunya itu, hingga akhirnya Shela pun harus menuruti permintaan terakhir ibunya agar menggantikan ibunya bekerja di rumah majikan ibunya tersebut.
Pagi hari sebelum berangkat, Shela yang tadinya menumpang di rumah budenya berpamitan karena dia akan tinggal di rumah majikan ibunya.
"Bude, Shela pamit ya. Terima kasih sudah bolehin Shela tinggal di sini," ucap Shela kepada budenya.
"Iya, kamu pinter-pinter jaga diri di kota ya," jawab budenya kepada Shela.
Shela menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan budenya.Setelah itu Shela pun berjalan kaki menuju ke simpang jalan karena dia akan menaiki bus yang sudah menunggu di simpang jalan yang tak jauh dari rumah budenya tersebut.
Tak berapa lama dia pun sampai di simpang dan langsung naik bus yang akan membawanya ke kota.Gadis yang terpaksa cuti kuliah itu pun menuju ke kota yang akan mengubah dirinya juga nasibnya.
Sejak lulus sekolah menengah atas dan berkuliah, gadis yang bernama lengkap Shela itu hanya membantu budenya di rumah berjualan nasi uduk.
Shela sangat mahir dalam masalah mengerjakan pekerjaan rumah, sehingga budenya sangat suka jika Shela tinggal dengannya karena dia tak perlu lagi mencari pembantu.
Sepanjang perjalanan menuju ke kota,Shela yang tak pernah tahu bagaimana wajah majikannya merasa deg-degan karena takut jika nanti majikan nya tua dan galak.
Karena perjalanan menuju ke kota cukup jauh,Shela pun tertidur karena tak kuasa menahan kantuk.
Tak berapa lama kemudian, terasa pundaknya di sentuh oleh seseorang.
"Dek. Bangun, ini sudah sampai di terminal," jawab supir bus tersebut membangunkan Shela.
"Eh, udah sampai ya," jawab Shela sambil mengusap air liurnya.
"Ih. Cantik-cantik, tapi jorok," ucap supir tersebut merasa geli saat melihat Shela mengusap air liurnya yang mengalir ke pipinya.
"Namanya juga tertidur, Pak. Pasti ileran lah," jawab Shela malah sewot.
"Yaudah lah, gak usah banyak omong bayar ongkosnya terus turun," ucap supir bus tersebut.
Shela menyodorkan sejumlah uang untuk membayar ongkos, setelah itu dia langsung membawa barang-barangnya turun.
Setelah turun dari bus, seorang laki-laki menghampiri Shela karena terlihat Shela baru pertama kali ke kota.
"Naik taksi, dek?" tanya laki-laki tersebut.
"Ya, Mas. Kalau ke alamat ini berapa ya?"ucap Shela menyodorkan alamat kepada laki-laki yang mengaku supir taksi tersebut.
"Ini agak mahal karena jauh," jawab supir taksi tersebut.
"Enggak jadi deh, Mas. Aku naik angkot aja," ucap Shela kemudian sambil melangkahkan kakinya meninggalkan laki-laki tersebut.
"Yasudah, bayar separuh dari harga tadi saja." jawab laki-laki tersebut kepada Shela sambil melihat Shela dari atas kebawah.
"Oke deh," ucap Shela kepada supir tersebut.
Shela tak tahu jika supir taksi tersebut mempunyai niat jahat kepada dirinya.Shela yang polos langsung masuk ke dalam mobil yang ada tulisan taksi di atasnya.
Di perjalanan menuju ke alamat, tiba-tiba supir tersebut membelokkan mobilnya ke tempat yang sepi.
Shela mulai merasakan firasat tak enak, Shela pun mengambil ancang-ancang untuk lari saat supir tersebut menghentikan mobilnya.
Tak berapa lama kemudian, taksi tersebut berhenti di depan sebuah rumah kosong.
"Aku bisa kasih kamu ongkos gratis asal kamu mau melayaniku," ucap supir taksi tersebut sambil menatap genit ke arah Shela.
"Jangan macam-macam, aku telepon polisi nanti," jawab Shela mencoba mengancam.
"Sebelum kamu menelpon polisi, kamu sudah aku kirim ke surga jika berani melakukannya," ancam supir taksi tersebut.
Shela menelan air liurnya karena takut dengan ancaman supir tersebut. Kemudian Supir taksi tersebut mendekat ke arah Shela membuat Shela takut.
"Mas. Aku boleh ke toilet dulu gak?" ucap Shela tiba-tiba.
"Mau kabur ya. Jangan harap bisa!” jawab Supir taksi tersebut kepada Shela sambil tersenyum menyeringai.
Saat sedang panik, tiba-tiba Shela ingat dengan alat semprot yang sering dibawa dulu setiap pergi sekolah.
Shela merogoh tasnya,dia mencari dengan panik alat semprot tersebut, tapi dia belum berhasil menemukannya.
Saat supir taksi tersebut sudah berada tepat di depan Shela dan hendak memeluk Shela, Shela langsung mendapatkan yang dia cari dan menyemprotkan ke mata supir taksi tersebut.
Supir taksi tersebut merasa kesakitan, ternyata isinya adalah air cabe rawit yang di buat sendiri oleh Shela.
"Rasain Loh, emang enak!" ucap Shela langsung keluar dari taksi tersebut.
Setelah keluar dari taksi, Shela bingung harus dengan apa dia pergi ke rumah majikannya.
Shela pun hanya bisa berjalan kaki mencari tumpangan.Saat dia sudah mulai lelah berjalan, Shela melihat cahaya lampu mobil menuju ke arah nya.
Tanpa pikir panjang, Shela langsung menghentikan mobil tersebut dengan berhenti di depan mobil tersebut.
"Eh, kamu gila ya. Mau cari mati!" ucap seorang wanita yang mengendarai mobil tersebut.
"Maaf, apa saya bisa numpang sampai mendapatkan kendaraan?" tanya Shela kepada wanita dalam mobil yang dia stop tersebut.
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya wanita itu Balik karena kasihan dengan Shela.
"Mau ke alamat ini," ucap Shela menunjukkan alamat yang dia ambil dari tasnya.
"Oh kalau begitu ikut saya saja, ini rumah majikan saya," jawab wanita itu kepada Shela.
"Oh. Mbak kerja di sana juga?" tanya Shela.
"Iya, memangnya kamu kerja juga di sana," ucap wanita tersebut kepada Shela.
"Iya, Mbak. Gantiin ibuku yang meninggal," jawab Shela sambil menahan air matanya.
"Oh, kamu anaknya Bu Siti ya," ucap wanita tersebut kepada Shela.
"Benar, Mbak. Saya Shela anak Bu Siti," jawab Shela kepada wanita tersebut.
"Oh, aku Dila. Aku kepala Art di rumah Tuan Gavin," ucap Dila kepada Shela.
Setelah itu Dila pun menyuruh Shela masuk ke dalam mobilnya.Kemudian, setelah itu Dila pun melajukan mobilnya menuju ke rumah Gavin,majikan baru Shela.
Di perjalanan menuju ke rumah Gavin, mereka saling bercerita banyak hal, Shela yang tak punya banyak pengalaman sedikit minder karena Dila menceritakan semua pengalaman kerjanya dan apa saja yang dia dapat dari hasil kerjanya termasuk mobilnya yang saat ini di kendarai.
Shela tak tahu jika dulunya Dila adalah simpanan dari Papanya Gavin yang kini sudah meninggal.
Karena Gavin sekarang tahu rahasia yang bertahun-tahun disembunyikan oleh Dila dan Papa Gavin, membuat Dila merasa terancam di rumah Gavin saat ini.
Dila pun berpikir untuk memanfaatkan Shela untuk mengamankan posisinya sebagai kepala Art di rumah Gavin.
Karena Shela adalah anak dari asisten rumah tangga kepercayaan Gavin, Dila berpikir jika dia berteman baik dengan Shela, Shela bisa menolongnya Jika suatu saat Gavin benar-benar mengusir Dila dari rumahnya.
Karena Dila ingin menguasai semua harta yang dimiliki oleh Gavin,Dia pun tidak ingin dengan mudahnya di usir keluar dari rumah Gavin yang sebagian nya dulu pernah ingin di balik nama dengan namanya.
Tak berapa lama kemudian mereka pun sampai di depan rumah majikan mereka. Dila pun mengajak Shela turun dari mobilnya.
Apakah Dila berhasil melakukan rencananya atau malah sebaliknya?