Taksi berhenti di kediaman keluarga Radyaksa. Baskara keluar dari mobil dengan wajah pucat dan tatapan kosong. Ia sempat berdiri cukup lama, mematung di depan pagar sampai Security menegurnya.
"Tuan muda, ngapain ngelamun di situ? Nanti ditabrak Tuan tua, bentar lagi bapak pulang soalnya."
"Ah! Berisik amat sih! Nggak tau apa, orang lagi setres!" balas Baskara kesal.
"Ya mana tau. Orang Tuan muda nggak cerita apa-apa. Lain kali, kalau ada masalah itu sharing jangan dipendem sendiri. Nanti auto imun," jawab Security itu membuat Baskara semakin naik darah.
"Diem! Jawab mulu kalo orang ngomong! Gue lakban juga mulut lo!" balasnya ketus membuat Pak Security ngelus-ngelus d**a.
"Astagfirullah Tuan muda, nggak boleh ngomong kasar begitu sama orang tua."
"Biarin!" jawab cowok itu tanpa peduli perasaan Pak tua yang sudah lama mengabdi di keluarganya yang beracun ini.
Baskara memulai langkahnya dengan gontai. Sampai di dalam rumah besar itu ia mengendap-endap masuk seperti maling. Jangan sampai seorang pun melihatnya.
Sampai di kamar ia cepat menutup pintu.
"Huff, selamat," katanya lega.
Di depan cermin ia menatap bayangan dirinya. Penampilannya kacau, namun perhatiannya terpusat pada selangkanya yang basah. Momen memalukan itu terbayang lagi di kepalanya. Dengan kesal ia melepas jens skenanya, sempat menciumnya sebentar dan membuatnya ingin muntah. Celana bau pesing itu ia lempar ke tempat pakaian kotor.
"Sialan, bau banget air kencing gue!"
Selanjutnya ia melepas boxer hitamnya dan melempar ke keranjang kotor. Membebaskan belalai kecilnya lalu duduk di pinggir ranjang tanpa celana. Kepalanya tertunduk menatap benda yang sedang tertidur itu.
"Sial, giliran panik aja lo pakek ngompol segala. Giliran bercinta kuat ya lo, sampe hamil tuh tante-tante cantik."
"Aduh, gimana ini?" Paniknya lagi sambil menjambak rambutnya sendiri.
Seketika pintu kamarnya terbuka. Sungguh apes, Baskara lupa mengunci pintunya. Sekarang bunda tengah menatapnya di abang pintu. Mereka sama-sama terpaku sebelum Baskara cepat menutup bagian selangkangnya dengan tangan.
"Bunda ngapain sih pakek masuk segala?" protes Baskara sambil cepat menarik selimut menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Baskara!" teriak Tamara. Suaranya melengking sampai ke penjuru rumah.
Brak!
Pintu ditutup paksa dan wanita itu melangkah cepat menjewer kuping Baskara.
"Ya maaf, nggak tau kalau Bunda mau ke kamar," ucap Baskara sambil menahan rasa sakit.
"Mau jadi apa kamu, hah?! Pulang-pulang malah berbuat m***m! Udah nggak pulang seminggu dan pulang malah kayak begini kelakukan kamu!"
"Bunda jangan salah paham dulu. Ini gak seperti apa yang Bunda pikiran. Aku...."
"Apa, hah? Apa?"
Baskara mengigit bibir bawahnya. Mana mungkin ia bilang menghamili seorang wanita yang umurnya jauh di atasnya. Pokoknya masalahnya tidak boleh sampai bocor ke siapapun.
"Aku cuma nggak sengaja ngompol Bun, tadi di jalan dikejar anjing jadi panik."
"Banyak alasan kamu!" Bunda menjitak kepala anak bungsunya itu.
"Auh, sakit, Bun."
Tamara melepas jeweran, ia bergegas ke lemari, mengambil sempak lalu melemparnya ke anak bungsunya yang belum berguna itu.
"Pakek celana kamu sekarang!"
"Entar. Bunda aja dulu yang keluar."
"Eh, eh, dikasih tau malah kayak gitu jawabnya. Nggak bisa kamu bodohin Bunda, paling kalo Bunda keluar kamu lanjutin kegiatan m***m kamu lagi, kan?"
"Enggak, Bun. Sumpah demi langit dan bumi."
"Dengar ya, Baskara. Bunda udah capek ngedidik kamu yang bener. Tapi, kamu selalu aja nggak bisa sedikit pun banggain Bunda. Lihat diri kamu sekarang?" Tamara menunjuk-nunjuk anak itu seolah tak ada sama sekali hal yang membuatnya bersyukur melahirkannya ke dunia.
Baskara tertunduk. Untuk kesekian kalinya wanita itu pasti akan merendahkannya.
"Kamu masih belum jadi apa-apa! Dikritik sedikit lalu kabur dari rumah! Pulang-pulang cuma karena uang bulanan kamu sudah habiskan? Mau sampai kapan kamu hidup kayak gini, Baskara? Bunda capek tahu nggak!”
"Lihat dong kakak-kakak kamu. Di umur kamu ini, mereka sudah bisa mandiri, menghasilkan uang sendiri, membanggakan Bunda. Kamu? Kamu cuma buat Bunda selalu direndahkan di hadapan papa kamu!"
"Dari sebelum kamu lahir dan sampai sekarang, kamu masih aja jadi anak yang gagal. Andai kamu nggak ada waktu itu Bunda nggak akan ngerasain dimadu!"
Tangan Baskara mengepal, ia berdiri. Deruan napasnya memburu. Ia tak sanggup lagi menahan kesabarannya. Titik pertahanannya sudah kalah. Ia tak mau terus-terusan disalahkan. "Terus aja salahin aku! Yang mau hidup di dunia ini juga siapa? Aku juga nggak mau jadi bagian dari keluarga ini! Salah Bunda sendiri, bukan aku! Siapa suruh Bunda bercinta sama papa, sampe Bunda bisa hamil aku di saat papa punya selingkuhan!"
"Anak kurang ajar!" Bunda mendekat.
PLAK!
Tamparan yang sangat keras menyentuh wajah Baskara.
"Memang anak kurang ajar kamu, Baskara! Kamu pantas mendapatkannya! Seharusnya kamu nggak usah hidup! Nggak usah ada! Menyesal Bunda melahirkanmu!"
Seketika hening. Baskara hanya menganggukan kepala. “Ya, memang seharusnya aku nggak pernah ada,” katanya lirih. "Maaf udah hidup dan jadi anak Bunda," sambungnya. Air matanya jatuh, ia usap dengan keras.
Bunda beranjak pergi tanpa kata maaf untuk menyesali ucapannya. Di ambang pintu ia meneteskan air matanya. Lagi, ia mengingat hal paling menyakitkan itu. Diselingkuhi di saat sedang mengandung putra bungsunya.
Sepeninggalan Tamara, Baskara mengunci pintu kamarnya. Tak akan lagi memberi kesempatan siapapun masuk. Cukup permasalahannya dengan wanita yang mengaku hamil itu kini ditambah lagi drama keluarganya yang tak ada habisnya.
“Kenapa gue selalu hidup dengan kesialan?!”
Baskara meninju-ninju dinding kamarnya hingga punggung tangannya terluka. Di keluarga ini ia tak pernah dapat kehangatan. Melukai diri sendiri sudah sering jadi pelarian untuknya.
Di tengah kacaunya cowok itu, ponsel Baskara bergetar. Satu pesan masuk dari nomor baru ‘Tante Regina’.
Isi pesan : Besok jam 10 datang ke apartemen saya. Ada yang harus saya bicarakan. Kalau kamu nggak datang, saya akan menuntut kamu ke kantor polisi. Jangan coba-coba melarikan diri. Saya bisa menarapidakan kamu jika saya mau.
Nyali Baskara secetika menciut membaca pesan horor itu. Ia melempar ponselnya ke kasur. Kemudian menangis sejadi-jadinya, meratapi takdirnya yang terasa seperti lelucon paling kejam di dunia. Ia dikepung dari dua sisi: orang tua yang menganggapnya sampah dan seorang wanita dewasa yang mengandung anaknya.
"Tamat hidup lo, Baskara.”
***