BAB 4

1097 Words
Regina tertawa sinis lalu dengan suara yang lantang dan mantap, ia mengatakan, “Saya bukan tentenya!" “Terus siapanya Baskara?” “Saya pacarnya!” tekan Regina. "Pa—pacar?" Cewek di sebelah Baskara melongo. Baskara sendiri tak kalah syok. Matanya membesar, seakan bola matanya akan melompat keluar, mulutnya semakin terbuka, dan badannya mematung seperti tersambar petir. Plak! Cewek itu menampar Baskara. "Dasar cowok b******k! Semua cowok sama aja!" Cewek itu pergi sambil menangis. "Sa—sayang!" Baskara mau mengejarnya tapi Regina menahannya. "Jangan kabur, urusan kita belum beres," ucap wanita itu. “Tante, lepasin! Saya harus kejar gebetan saya.” “Itu nggak penting! Urusan kamu dan saya jauh lebih penting!” “Ayo ikut saya!” *** Di dalam taksi yang melaju, suasana terasa kaku dan sunyi. Bahkan suara klakson di luar jendela pun seolah tak terdengar. Regina duduk dengan wajah gelisah, menatap keluar seolah mencoba menenangkan pikirannya sendiri yang campur aduk tak karuan. Di sisi lain, Baskara cuma bisa duduk diam seperti anak kecil yang baru saja diculik. Matanya sesekali mencuri pandang ke arah wajah Regina yang tampak serius dan dingin. “Perempuan gila. Gue mau dibawa kemana nih?” batin Baskara yang merasa takut. Tadi ia baru saja sampai kelab, belum sempat pesan minuman, eh, tahu-tahu sudah ditampar di depan umum dan diseret masuk taksi oleh perempuan yang pernah... ya, melepas keperjakaannya malam itu. Dan yang lebih gila lagi, tadi wanita itu ngomong ‘Saya pacarnya’ dengan suara lantang dan emosi. Pacar? Seriusan? Muka Baskara refleks senyum-senyum kecil. Dalam otaknya mulai mutar imajinasi liar—apa jangan-jangan tante Regina jatuh cinta setelah malam panas itu padanya? Apa jangan-jangan wajah imut, ganteng, dan badannya yang masih fresh ini bikin wanita itu klepek-klepek padanya? Makin dibayangkan, senyum Baskara makin lebar. Tadi yang panikan dan bingung kini berubah jadi kegeeran. Tapi sial, senyum itu ketahuan. “Kamu cengengesan apaan hah? Mikir hal m***m kamu?” Suara Regina memotong lamunan Baskara seperti pisau. Baskara langsung gelagapan. “Nggak, nggak ada apa-apa, Tante. Sumpah,” jawabnya cepat-cepat sambil menggelengkan kepala. Masih duduk di dalam taksi, bayangan malam itu mulai melintas di pikiran Baskara. Malam di mana semuanya berawal. Saat ia dan wanita itu yang sama-sama mabuk karena masalah pribadi—berakhir tidur bareng. Saat itu Baskara merasa dirinya kayak raja yang dilayani seorang ratu cantik dan super seksi. Uwah, mengingat tubuh wanita itu tanpa sehelai pun membuatnya menelan ludah dan adik kecilnya yang terkurung dalam celananya pun menegang. Saat menyadari hal itu, ia cepat menutupinya dengan tangan, sebelum ketahuan ngeceng sama wanita galak itu. Ia takut disunat 2 kali. Namun, pagi harinya berujung miris waktu itu. “Pergi jauh-jauh kalau bisa ke planet lain! Pokoknya jangan munculin muka kamu di hadapan saya lagi!” Itu yang ia dapat. Diusir, dilemparin baju, dan keluar apatemen hanya dengan celana boxernya. Sungguh nasib sial. Namun sekarang, setelah hampir 3 bulan lebih, wanita itu tiba-tiba muncul kembali dan bilang bahwa dia adalah pacarnya? Apa jangan-jangan... wanita itu merindukan dirinya? Baskara pun menggeleng cepat dan menyikirkan jauh-jauh khayalannya yang tak masuk akal, kalau memang wanita itu kepincut wajah tampan dan keperkasaannya tak mungkin wanita itu terlihat seperti nenek sihir saat ini. Perlu ditegaskan lagi, terakhir ketemu saja waktu mereka melewati malam yang membuatnya melepas keperjakaannya, berakhir diusir dan dicaci maki padahal ia merasa tidak melakukan kesalahan. Wanita itu duluan yang menggodanya dan ia hanya memanfaatkan kesempatan saja. Seingatnya malam itu mereka sama-sama senang kok. Tapi apes paginya ia dilempar ke pintu apartemen dengan koloran doang lalu dilempari pakaian sambil diminta untuk tak muncul dihadapanya lagi. "Noted Baskara, mungkin wanita gila ini nggak naksir lo tapi dia cuma mau makek jasa tubuh lo lagi," batinnya. *** Taksi berhenti. Regina turun lebih dulu, lalu menyeret tangan Baskara layaknya anak nakal yang kabur-kaburan dan dipaksa pulang oleh orang tuanya. Mereka masuk ke dalam sebuah apartemen di lantai 12. Baskara menurut saja, masih bingung. Setelah masuk ke kamar 207 dan pintu terkunci, Regina langsung menghempaskan tangannya dan jalan menuju kulkas. Baskara berdiri di tengah ruang tamu, canggung dan kebingungan. Namun, ia tiba-tiba ingat kejadian malam itu, tempat di tempatnya berdiri sekarang. Ia pun menahan senyumnya, membayangkan malam itu dirinya yang... ah, sulit ditafsirkan dengan kata-kata. Pokoknya membuatnya seakan terbang ke surga. Ia bahkan tak pernah membayangkan akan dapat servis sepremium itu diusianya yang sekarang. Ia yakin saudara-saudaranya pasti belum merasakan apa yang ia rasakan. Untuk hal ini ia yang paling mengungguli. Regina membuka kulkas, mengambil air dinging, lalu meneguknya sampai habis setengah botol. Seolah dehidrasi parah. Baskara masih diam. Tiba-tiba sesuatu dilempar ke arahnya. Sebuah benda tipis, ringan, tapi bikin bulu kuduk meremang. Baskara ambil, dan mendekatkannya ke wajah. Bau aneh. Sedikit pesing. Dua garis merah samar di atasnya, benda ini membuatnya mual. “Tante, ini apaan? Bau banget.” Regina menatapnya tajam. “Itu anak kamu!" jawabnya penuh kesal. "Anak saya?" Baskara tambah tak mengerti. Melihat reaksi Baskara yang terlihat jelas masih tak memahami situasi, Regina pun menjelaskan sambil berkacak pinggang. “Itu testpack. Dua garis. Hasilnya positif!" "Positif?" Baskara berbicara pelan lalu menatap wanita itu bingung. “Tante sakit? Positif covid maksudnya?” tanyanya polos. “Ohh, saya paham sekarang. Tante minta ditemenin ke rumah sakit, ya? Karena Tante jomblo jadi males pergi sendirian. Oke deh, saya temenin. Hal gini doang kok direpotin sih, Tante. Kan, bisa dibicarakan dengan tenang tanpa perlu ngaku-ngaku pacar saya segala. Jadi... mau saya telfonin taksi sekarang juga?” “Dasar bodoh! Dikasih paham malah tidak mengerti!” Regina semakin naik darah dibuat cowok brondong itu. Ia maju selangkah. “Malam itu... kamu tahu kan, kita ngelakuin apa?” Baskara mengangguk mantap. Nah, kalau yang itu baru deh dia paham. Banget malah. “Ingat dong, Tan. Malam itu nikmat banget, nggak munggkin dilupain. Tante, mau lagi ya makanya bawa saya ke sini?" Plak! Tamparan keras mendarat di bibir Baskara. “Duh, sakit banget,” ringis Baskara. “Salah lagi, salah lagi,” ucapnya pelan. “Saya serius, ya. Malam itu kita udah buat sesuatu yang sangat fatal dan sekarang saya dalam masalah besar!” “Dan saya bawa kamu ke sini karena kamu harus tanggung jawab!” “Tanggung jawab?" Alis Baskara terangkat satu. "Tanggung jawab apa?" tanyanya ulang. Regina menghela napas kasar. Ia menunjuk ke perutnya. "Saya hamil dan kamu wajib tanggung jawab!” “Kamu ayah dari anak yang saya kandung!” tegas Regina sekali lagi. Baskara melotot. Menelan ludah keras-keras. Kepalanya seketika terasa berat. Dunia terasa goyang. Ia baru paham apa yang dimaksud wanita itu. Perempuan seksi dan cantik itu ternyata hamil dari hasil malam penuh nikmat itu dan ia akan jadi ayah. APA? JADI AYAH? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD