BAB 3

839 Words
"Arrhhhhh!" Teriakan maut itu membangunkan Baskara. Sialnya ketika matanya baru terbuka tendangan datang menyentuh bokongnya. Bruk! Baskara jatuh ke lantai. Regina cepat menarik selimut. “Siapa kamu dan kenapa kamu ada di kamar saya?!” tanyangnya dengan panik. “Kamu sudah ngapain saya? Akan saya laporkan kejadian ini ke kantor polisi!” Regina meraih ponselnya di atas meja. “Ehh jangan!” Tanpa berpikir, Baskara bangkit, berlari cepat untuk merampas ponsel wanita itu. Namun, saat ia berdiri tempat di hadapan wanita itu, ia baru menyadari satu hal. Ia tak memakai apa-apa dan pusaka miliknya sedang mengarah pada wanita itu. Regina tak sengaja menatap benda yang berdiri tegak milik cowok itu. Matanya melototinya dan spontan berteriak membuat Baskara cepat menutupi bagian selangkangannya dengan kedua tangannya. “Cowok mesummm!!!” teriak Regina. Kejadian buruk dan memalukan itu membuat mereka memutuskan untuk tidak akan pernah mengingatnya lagi. Setelah sadar dan mengingat semuanya Regina putuskan untuk melupakannya seumur hidupnya dan mereka tak akan pernah bertemu lagi. Menganggap semuanya tak pernah terjadi. Sampai hari ini. *** 3 Bulan setelah kejadian. Regina sudah berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sejak pagi. Rambutnya awut-awutan, matanya sayu, dan tangan kirinya masih memegang testpack bekas yang belum juga ia buang. Bahkan ia sudah mengirimkan surat izinya ke kantor, beralasan sakit anemia. Karena tidak mungkin ia masuk dalam kondisi yang setres seperti ini. “Digugurin aja kali ya?” gumamnya sendiri lalu termenung seperkian detik. “Tapi... dosanya gedek, kan? Gue nggak mau jadi pembunuh. Gue takut. Tapi... masa gue punya anak di luar nikah sih? Mana bapaknya masih brondong. Aduh Reginaaa...." Ia memegang kepalanya yang rasanya berat dan mau pecah. Pusingnya bukan main. "Apa yang bisa lo harepin dari brondong kayak gitu? Jangan-jangan masih pengangguran dan beban orang tua lagi." Ia mendaratkan bokongnya ke sofa setelah lelah mondar-mandir seperti setrikaan. Tangannya masih di kepala. "Astaga... gue harus gimana? Apa minta aja pertanggung jawaban sama tuh cowok? Tapi yang ada dia yang jadi tanggungan gue. Anjir lah, kenapa sih hidup gue gini amat?" Ia mendesah panjang. “Oke. Langkah pertama, gue harus cari cowok itu dulu. Harus!" Tapi masalahnya Regina bahkan tidak punya kontaknya. Mereka tidak tukaran IG, tidak ada jejak digital sedikitpun dan gongnya ia tak tahu nama cowok itu. Satu-satunya petunjuk yang ia miliki hanya pertemuan mereka di kelab Heavenly Night. *** Regina berdiri di sudut ruangan dengan hoodie besar dan sebotol mineral di tangan. Ini sudah malam ketujuh ia kembali ke tempat yang sama, dengan harapan brondong yang menghamilinya itu muncul. Tapi hasilnya selalu sama: NIHIL. Bahkan bartendernya sampai hafal wajahnya. “Mbak, cari cowok yang kemarin lagi? Yang kata Mbak orangnya masih muda, tingginya 180an, badannya gagah, rambutnya bergelombang tapi acak-acakan sedikit, genteng tapi jogetnya kayak anak tantrum itu, ya?” “Mas udah liat?” “Belum sih, Mbak. Di sini banyakan bapak-bapak, Mbak. Yang bau tanah juga banyak. Tapi duitnya segepok. Mending cari yang kayak gitu Mbak, dari pada nyari cowok yang masih bau pandan, peangguran lagi biasanya. Cuma ngabisin duit Mbak, aja.” Regina menghela napas malas. "Emang kenapa sih Mbak, kok dicariin terus? Ada utang ya sama, Mbak?" Regina hanya menggeleng. "Bukan ya, atau jangan-jangan itu adeknya, Mbak?" Regina menggeleng lagi. "Atau itu pacarnya adek, Mbak?" Lelah dengan pertanyaan, Regina pun menoleh, menatap sinis pria yang mulutnya tak bisa diam itu. "Aduh, Mas. Jangan buat saya tambah pusing deh. Pokoknya saya ada urusan sama tuh cowok. Dia bakal saya cari sampe lubang semut juga saya masukin.” “Waduh, serem banget.” Regina hampir menyerah. Hampir. Tapi akhirnya malam itu... ia bertemu juga dengan brondong itu. Tapi, Baskara dengan seorang gadis. Masih muda, imut, cantik, dan tampak lugu. Regina berdiri. Darahnya naik ke ubun-ubun. "Oh, jadi brondong ini setelah nidurin gue, buat gue hamil, dan sekarang bawa cewek ke sini kayak nggak ada beban?" "Sialan!" Regina berjalan dengan cepat. Tanpa basa-basi... Plak! Tamparan menyentuh wajah Baskara. Satu tamparan mendarat di pipi Baskara yang bahkan belum sempat memesan minuman. Kepala Baskara sampai tertoleh ke samping saking kerasnya pukulan itu. Ketika ia menghadap seseorang yang menamparnya, matanya pun membulat dengan mulut yang terbuka tanpa berkata-kata. Hening dalam kebingungan. Bukannya wanita itu bilang mereka tidak boleh bertemu lagi? Tapi kenapa malah datang menemuinya di sini? Regina menatap tajam. Gadis di samping Baskara menatap Regina dengan bingung. Lalu, dengan polos dan penuh ketulusan, ia menarik tangan Regina pelan. “Tante, tolong jangan marahin Baskara, ya. Kita belum ngapa-ngapain kok. Beneran deh, suer. Baskara cuma ajak aku lihat-lihat aja, bentar lagi kita juga mau ke cafe shop, bukan yang macem-macem seperti yang Tante bayangin. Tolong jangan marahin Baskara, Tante,” mohon gadis itu. Regina terdiam dua detik. Matanya bergerak lambat ke arah Baskara. Lalu ke tangan Baskara yang menggenggam tangan si gadis. Lalu balik lagi ke wajah gadis itu. "Tante?" Ia berdesisi sinis. "Maafin kita, Tante. Baskara baik kok ke aku, suer nggak akan macem-macem," lanjut gadis itu lagi. Regina tertawa sinis lalu dengan suara yang lantang dan mantap, ia mengatakan, “Saya bukan tentenya!" “Terus siapanya Baskara?” “Saya pacarnya!” tekan Regina. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD