FLASHBACK ON
Sudah 3 bulan Regina tidak menstruasi. Awalnya ia pikir tubuhnya mungkin kelelahan dan banyak pikiran, biasalah drama karena stres kerja dan patah hati berat karena ditinggal nikah kekasihnya, hingga membuatnya kurang tidur dan tak jaga pola makan. Dalam 3 bulan ini ia lebih banyak makan yang instan, tak jaga pola makan sama sekali, jauh dari kebiasaan lamanya yang selalu memperhatikan setiap jenis makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Tapi begitu sadar kalender makin penuh coretan diperhitungan jadwal menstruasinya, ia pun mulai panik.
"Jangan-jangan... gue... hamil?" Ia pun melototi perutnya. Merabanya dan merasakan perut rampingnya hilang dan menjadi sedikit berisi.
"Astaga Regina... lo nggak mungkin benaran hamil, kan?" tanyanya pada diri sendiri. Meragukan.
Tak banyak berpikir, Regina cepat ke minimarket yang tak jauh dari apartemennya. Setelah membeli alat tes kehamilan ia cepat kembali dan langsung mencobanya. Tak tanggung-tanggung, lima kali coba testpack—dengan lima merek berbeda—sialnya hasilnya tetap sama: dua garis merah yang artinya dia positif hamil!
“Gue... hamil?” Regina berbisik pelan masih tak pecaya dengan semua ini. “HAMIL?!" Sekali lagi ia mengatakannya lebih jelas.
Ia terduduk lemas di lantai kamar mandi. Matanya mulai basah. “Gue nggak mungkin hamil, kan? Nggak mungkin! Masa iya, gue hamil sama cowok brondong itu? Yang bener aja.” Regina menepuk jidatnya. Ia menggigit bibir, mulai menangis sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Lalu berteriak tak jelas sambil sesekali memandangi perutnya yang mulai buncit.
"Oh s**t!”
“Ya ampun Regina… kenapa sih malam itu lo berlagak ke klubing segala? Udah tau lo norak kalo berurusan sama alkohol! Dan bisa-bisanya malam itu lo tidur sama brondong!”
"Reginaaa! Kenapa sih suka banget bikin hidup lo susah? Udah ditinggal nikah eh sekarang dihamilin sama brondong pula!”
“Sialannn…!”
***
Kejadian malam itu. 3 bulan lalu.
Dentuman musik dan lampu warna-warni di ruang besar dengan cahaya remang, seorang wanita bergoyang, menari dengan gelas di tangannya yang sudah kosong. Sesekali ia tertawa hambar, sesekali juga ia menangis rapuh. Pikirannya sudah kacau balau dengan tarian yang tak seirama dengan musik yang dimainkan. Di balik wajah cantiknya itu, ada kesedihan yang tak seorang pun di sini mengerti perasaannya.
Hari ini kekasihnya menikah... dan bukan dengannya. Mirisnya lagi ternyata selama ini ia hanya jadi pasangan cadangan yang ditendang begitu saja setelah pria itu mendapatkan wanita yang diincarnya. Padahal hubungan mereka sudah berjalan 4 tahun, bodohnya ia mempercayai seratus persen omongan buaya darat itu, katanya akan menikahinya kalau jabatannya naik. Eh tahunya setelah ia mendapatkan promosi jabatan itu, justru ia dicampakkan dan b******n itu menikahi anak atasannya.
Saat ini ia ingin melupakan segala ucapan-ucapan manis kekasihnya. Melupakan semua kenangan bodoh mereka.
Sementara di sisi lain, malam itu juga ada seseorang yang tak kalah patah hatinya. Ia diselingkuhi di depan matanya dan dengan tega kekasihnya lebih memilih cowok itu daripada dirinya. Tak hanya itu saja, ia juga sedang bertengkar dengan orang tuanya, ayahnya selalu membanding-bandingkannya dengan saudara-saudaranya sehingga ia muak dan melarikan diri. Niat hati ingin mendapatkan tempat tenang dengan menemui kekasihnya. Sialnya ia justru memergoki pacarnya sedang enak-enakan di atas ranjang. Sakit hatinya. Tidak hanya tercubit-cubit tapi seperti dipalu sampai mau mati.
Pokoknya saat ini ia butuh hiburan. Sesuatu harus bisa membuatnya lupa meski hanya sesaat. Malam ini untuk pertama kalinya, kakinya menginjak ke tempat haram ini. Masa bodoh dengan aturan ibunya yang memintanya untuk tidak menjadi anak nakal. Buktinya selama ini ia selalu di jalur yang lurus justru ketimpa kesialan.
Baskara tertegun melihat wanita cantik nan seksi yang tiba-tiba lewat di depan matanya. Ia segera meneguk minumannya hingga tandas. Mungkin inilah yang akan jadi pelampiasannya malam ini. Mungkin semesta iseng. Seperti sedang mencabut undian takdir hingga nama mereka berdua terpilih untuk dipertemukan. Saat Regina dan Baskara mulai asik menari dalam jarak setengah meter, mata mereka tak sengaja bertemu.
Baskara melemparkan senyum, sebagai sapaan. Senyuman itu pun mendapat balasan dari Regina. Baskara menelan salivanya melihat wanita yang lebih matang darinya itu sudah berdiri dengan jarak yang sangat dekat, perempuan itu terlalu seksi, belahan dadanya terpampang jelas di depan matanya dan bentuknya yang sangat menonjol itu membuatnya semakin gelap mata. Belum lagi wajah cantik dan senyuman manisnya.
Baskara merasa kesulitan bernapas, terasa sesak ketika wanita itu menempelkan diri di tubuhnya. Dalam setengah mabuk ia pun lebih berani memandangi wanita itu. Bahkan tangannya sudah mendarat di lekukan pinggangnya. Entah dirinya dapat keberanian darimana sampai senakal itu.
Setelah lama bermain-main, dengan tarian dan tatapan saling menggoda. Baskara akhirnya ditarik oleh Regina, dibawa pergi dari kelab dan masuk bersama ke dalam taksi. Baskara yang masih memiliki kesadaran, masih mencerna tapi bingung untuk menolak wanita itu. Tetapi saat pikirannya jernih dan ingin pergi, wanita itu malah melumat bibirnya.
Mata Baskara membulat. Terkesiap. Tak bisa apa-apa, terdiam seperti patung dan hanya menerima permainan bibir wanita itu. Tangannya mengepal kuat dan akhirnya ia menyerah.
“Hemm, Sayang… jangan pergi lagi.” Bisikan wanita itu membuat Baskara semakin tergoda. Kapan lagi ia mendapatkan kesempatan langka seperti ini, pikirnya yang sudah tenggelam dalam rayuan setan.
Sepanjang perjalanan menuju apartemen, mereka berciuman. Seperti sepasang kekasih yang lama tak bertemu dan akhirnya dapat melepas rindu. Hingga... tahu-tahu pagi harinya Regina sudah terbangun di kamar apartemennya, dengan tubuh tanpa sehelai benang pun, seperti bayi yang baru lahir dan mendapati pria asing terbaring di ranjang empuknya, dengan rupa yang terlihat sangat muda dan tampak sangat polos seperti tubuhnya yang tak memakai apa-apa.
"Arrhhhhh!"
***