Seusai mengunjungi ruang inap Bu Marni, masih ada satu pasien lagi yang harus Allan kunjungi.
Tanpa membuang waktu, Allan pun bergegas mengujugi gadis pujaannya.
Sesampainya di depan kamar inap Hafiza, Allan menghentikan langkahnya.
Terlihat, seorang suster yang menjadi rekan kerja Allan mulai membuka pintu. Namun, dengan cepat, Allan mencegahnya.
“Emmm ... Suter bisa langsung kembali. Khusus pasien ini, biar saya saja yang mengurus. Dia spesial,” terang Allan.
Suster mengangguk paham. Sesekali, perempuan itu melempar gurauan. “Pakai telor apa keju, Dok? Biar makin spesial.”
Allan terkekeh, “Doain aja, pakai mahar secepatnya.”
Suster lajang yang sudah bertahun-tahun menjadi rekan kerja Allan sedikit tersipu. “Duh! Ikutan meleleh, Dok. Ya sudah, kalau gitu saya duluan.”
Allan mengagguk, “Silakan,”
Saat suster mulai beranjak, Allan memanggilnya. “Tunggu!”
Mendengar suara Allan, suster pun menghentikan langkahnya. Ia berbalik arah, lalu berjalan kembali menghampiri Allan. “Iya, Dok?” tanyannya sopan.
Allan tersenyum. Andai saja, Allan belum punya seseorang yang dibilang spesial itu, mungkin, perempuan yang ada dihadapannya ini akan berusaha keras untuk memperjuangkan cintanya Allan. “Saya lupa, minta laporan harian pasien. Boleh tahu laporannya?”
Suster pun mengangguk. Ia lalu membuka catatan kertas yang ada di tangannya. “Nama pasien, Hafiza Putri. Gula darah Acak 135, tensi darah 120/80, suhu badan 36,9 derajat celcius.”
Allan tersenyum mengetahui laporan medis Hafiza hari ini. Hasilnya sangat bagus. “Oke, Terima kasih banyak atas laporannya. Suster Anna bisa kembali sekarang.”
Suster mengangguk, ‘Baik, Dok. Saya permisi dulu.”
Allan membalas anggukannya. “Silakan.”
Setelah punggung Anna menghilang di balik tikungan, Allan pun masuk ke dalam.
Di dalam ruangan sunyi itu, tampak seorang gadis tengah membaca sebuah novel. Perhatiannya masih terfokus pada novel yang ada di tangannya, sehingga ia belum menyadari kedatanngan Allan di ruang inapnya.
Allan tersenyum melihat gadisya yang terlihat lebih ceria dari hari kemarin.
“Selamat pagi,” sapa Allan hangat.
. Hafiza terusik dengan suara yang familiar. Ia tersenyum ramah setelah mendapati sang pemilik suara itu. “Pagi juga, Mas Dokter.”
Hafiza memperhatikan langkah Allan yang berjalan mendekat.
Allan menghentikan langkahnnya tepat di hadapan gadis itu. Allan menatap intens kondisi Hafiza yang tampak berbeda. Terlihat jauh lebih segar.
“Gimana kondisi kamu?” tanya Allan layaknya seorang dokter pada pasiennya.
Hafiza tersenyum kecut. “Alhamdulillah, masih kedip, masih napas, masih hidup,” gurau Hafiza membuat Allan menatapnya tajam.
Bukan Hafiza namanya, kalau sehari saja tidak membuat orang kesal. Keusilannnya mampu membuat orang naik darah.
“Bisa nggak, kalau ditanya serius, jawabnya jangan selengekan?!” geram Allan.
Hafiza memamerkan deretan giginya. “Cieee, maunya diseriusin nih?”
Allan memutar bola matanya. “Aku serius, Hafiza! Coba aja kamu jadi istriku. Aku jamin, kamu nggak akan bisa jalan sampai seminggu. Jadi orang kok ngeselin banget!”
Hafiza terkekeh, “Nggak boleh gitu Mas Dokter. Jangan jahat-jahat dong jadi suami. Itu namanya KDRT!”
Allan menghela pelan. Stok sabarnya harus ditambah lebih banyak lagi. “Bukan KDRT namanya. Cuman kasih pelajaran dikit, biar kapok!”
Hafiza mendengus. “Ishhh! Kalau nggak bisa jalan, terus yang nyiapin kebutuhan Pak Dokter siapa? Siapin baju, sarapan, ini dan itu? Sanggup kerjain sendiri?”
Allan terdiam. Detik setelahnya, mulutnya asal ceplos. “Ya kamu!”
Hafiza memicingkan bola matanya. “Hah? Kok aku? ‘kan aku bukan istri Pak Dokter.”
Kalimat yang keluar dari bibir Hafiza, seperti belati yang menghunus dadanya Allan. Ia pu tersadar, jika Hafiza memang bukan miliknya. Entah bagaimana cara menjelaskannya. Hafiza masih terlalu polos. Ia tidak akan paham dengan candaan Allan yang setengah serius. “Udah dibilang, jangan panggil Bapak!”
Hafiza tersenyum kecut. Ia merajuk dengan rasa bersalahnya. “Iya ... maaf.”
Allan memfokuskan perhatiannya pada Hafiza. Dilihatnya tingkah gadis itu dengan seksama. “Emang kamu mau jadi istriku?” tanya Allan terang-terangan.
“Hah? Mas Allan ngomong apa tadi? Maaf, nggak jelas dengernnnya. Aku fokus betulin selang infus.”
Hafiza menatap Allan lekat. Ia merasa tak enak hati karena tidak menyimak obrolan Allan.
Allan tersenyum dan mencoba untuk maklum. Mendekati gadis ingusan memang harus ekstra sabar. Tidak hanya emosinya yang terkuras, tapi mentalnya juga ikut tertindas.
Perlahan, Allan mulai menunjukkan rasa empatinya. Ia meraih tangan Hafiza dan mengusapnya lembut. “Za, nikah, yuk!”
Untuk sesaat, mata Hafiza mbelalak. Namun detik kemudian ia kembali menetralkan pikirannya. Malahan, Hafiza ikut membalas celotehan Allan, karena ia pikir, itu hanya lelucon. “Ayok!” jawabnya santai.
“Kapan?” ujar Allan antusias. Ia tahu, jika Hafiza hanya bergurau. Tapi tak menampik kenyataan, jika dirinya senang dengan apa yang Hafiza katakan. Siapa tahu, suatu saat bisa diwujudkan.
“Sekarang juga boleh.” Entah siapa yang edan, tapi keduanya sama-sama menikmati candaan ini.
“Berangkat KUA sekarang!” tandas Allan.
Bintang terkekeh, “Hari Minggu, Mas. KUA tutup.”
“Kantor nikah apa sekolah?” protes Allan.
Hafiza menatap Allan sengit. Sorot matanya terlihat cukup dingin. “Coba cek, kalau nggak percaya.”
Allan berkacak pinggang. “Ckck! Bobol aja pintunya!” kegilaan di antara keduanya semakin parah. Sementara salah satu dari mereka, belum ada yang mau waras.
“Nggak mau. Entar masuk penjara. Merusak sarana prasarana itu, bisa dituntut,” balas Hafiza.
“Terus gimana?” Allan bertanya-tanya. Ia mulai kehabisan ide.
“Culik penghulunya gimana?” usul Hafiza membuat Allan gemas. Sebenarnya, apa yang mereka bahas?
Saking gemasnya, Allan sampai memberi hadiah cubitan pelan di hidung Hafiza. “Idenya lumayan ngawur!”
“Terus gimana?” Kini, Hafiza yang kehabisan ide.
“Culik aja bininya,” celetuk Allan membuat Hafiza tersentak. Hafiza heran, kenapa Allan bisa menjadi dokter dengan lulusan terbaik?
“Lha, ngapain culik bininya? Kurang kerjaan!” Hafiza memutar bola matanya.
Allan menatap HAfiza dengan ekspresi yang datar. Ini susahnya ngomong sama gadis bau kencur. “Ya kalau bininya diculik, Pak penghulu kesepian. Pasti ngebet kawin lagi. Otomatis, KUA buka.”
Hafiza melongo. “Emang Pak Pengulu bisa nikahin dirinya sendiri?”
Allan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.“Oh iya. Nggak bisa ya?”
Hafiza meringis menatap Allan. “Ini yang gila siapa sih? Parah banget! Nggak ada yang bener.”
“Ya kamu gila!” tukas Allan membuat Hafiza manyun. Hafiza menganggap Allan mengintimidasi dirinya.
“Mas Dokter lebih gila?!” sewot Hafiza. Gadis itu terlihat sedang marah.
Allan menunjuk dirinya dengan kerutan samar di dahi. Matanya memicinng melihat Hafiza ngegas. “Lha, kok aku?”
Hafiza memutar bola matanya. “Dih, nggak sadar diri.”.
Allan semakin tidak paham dengan kebingungan ini. “Salahku di mana toh, Za? Perasaan, dari tadi yang ngelatur itu kamu.”
Hafiza mengelus dadanya. Berusaha memasok stok sabar yang semakin menipis. “Ya Mas Allan yanng gila. Masa anak SMA diajak kawin? Kalau di DO gimana?”
Allan memegangi keningnya. “Astaghfirullah. Nggak boleh, Za. Nikah dulu baru kawin.”
“Subhanallah. Maaf, khilaf!” Hafiza menggigit bibir bawahnya. Ada rasa malu yang tersembunyi di balik wajahnya yang merona.
“Alhamdulillah. Tobat Nasuha dulu,” ujar Allan sembari mengusap rambut Hafiza.
Hafiza melirik Allan sinis. “Leh! Ini tadi kenapa jadi bahas nikah sih?”
Allan menggidikkan bahu. “Etah!”
Hafiza mengacak rambutnya kesal. Sudah tidak paham lagi, mau diawa ke mana arah obrolan ini. beginilah, kalau orang gila ketemu yang lebih gila. “Entah, entah! Orang tadi kamu yang mulai lho! Aku cuman ngikut aja. Mas buka lapak, aku beli.”
“Siapa yang buka lapak?” tanya Allan dingin.
“Ya kamu!” tukas Hafiza,
Allan memutar bola matanya. “Sok tahu bannget! Orang aku s****e!”
“Maaasss!” geram Hafiza.
“Mangkanya, nggak usah sok tahu!”
Allan menarik kursi penunggu di sebelah Hafiza. Setelahnya, ia pun mendaratkan diri di sana.
Aku nggak sok tahu, aku ngikutin alurmu,” Hafiza berusaha membela diri.
Allan berdecak, “Cih! Nggak puya pendirian banget!”
Hafiza acuh! “Ngapain berdiri. Enakan juga duduk, nggak capek.”
“Nggak tahu, Za. Capek ngomong sama kamu,” pungkas Allan.
“Cieee, nngambek! Ganti aja pakai rok!” ledek Hafiza membuat Allan semakin jengkel.
“Pengen nampol pakai golok!” seru Allan galak.
“Goloknya mana?” Hafiza bertanya dengan kepolosan tingkat lima.
“Ketinggalan di rumah Pak RT!” ketus Allan.
“Pak RT sunat?”
“Hafizaaaa!!!” geram Allan.
Hafiza pun hanya bisa menggigit bibir bawahnya dalam-dalam untuk menahan tawanya agar tidak pecah.
Hai, hai, hai ...
Update selow dulu ya, Sayang.
Sampai bertemu di lain kesempatan.
Dadah ...
Muah!