Bintang terlihat panik saat seseorang tengah bersimpuh di depan mobilnya. Entah sudah tertabrak atau belum, tapi yang jelas, sosok itu terlihat sangat tak berdaya.
Adryan melirik Bintang sebentar, lalu mengajaknya untuk turun dan melihat kondisi korban. "Ayo turun, Sayang."
Bintang mengangguk pasrah. "Iya, Mas."
Keduanya pun turun.
Di hadapan Adryan dan Bintang, seorang gadis dengan wajah kucel dan rambut yang acak-acakan sedang menatapnya nyalang. Sorot matanya yang tajam, menunjukkan kemarahan. Ia terlihat seperti orang frustasi. Diduga, gadis itu tengah mengalami depresiasi berat hingga membuatnya tak memiliki semangat hidup.
Takut-takut, Bintang mulai mendekat. Rasa simpatinya tertarik untuk membantu gadis itu berdiri. Bintang mengulurkan tangannya. "Kamu nggak papa?"
Bintang terkejut dengan reaksi gadis itu. Tangan Bintang ditampik dengan kasar.
"Arghhhh!!! Kenapa kalian nggak tabrak aku aja sih?! Aku ingin mati! Aku nggak mau jadi beban keluarga!" makinya pada Bintang dan Adryan.
Bintang tercengang mendengarnya. Sungguh, ia tidak percaya, jika gadis itu memang sengaja menabrakkan dirinya.
Bintang terlihat mulai emosi. Ia sangat membenci orang-orang yang ingin mempermainkan nyawa. Di luar sana, banyak orang sakit yang menginginkan hidup lebih lama. Mereka berjuang mati-matian untuk bertahan hidup. Sementara orang-orang beruntung yang diberi nikmat sehat, malah ingin mati lebih cepat. Sungguh! Bintang benci.
"Kenapa kalian diam aja? Tabrak aku sekarang!" pinta gadis itu dengan Isak semakin kencang.
Rasa simpati Bintang mulai luntur dan gadis itu menjadi murka. Ia tidak bermaksud memaki, tapi rasa kesalnya yang cukup tinggi membuatnya emosi.
"Kamu gila ya?! Kalau mau mati langsung aja berdiri di rel kereta. Jangan nabrakin diri di mobil kita. Nanti kita yang kena masalah!"
Gadis itu tersenyum getir. "Iya. Aku memang gila! Aku nggak guna! Aku cuman dianggap beban keluarga. Rasanya, tidak ada gunanya lagi aku hidup. Aku mau mati! Aku mau pergi!" raungnya dengan tangis yang menjadi.
Orang-orang yang berjalan di sekitarnya menjadi simpati. Tapi mereka tidak berani mendekat, hanya mau melihat dari kejauhan saja.
Mata Bintang mulai berkaca-kaca. Ia bisa merasakan seberapa depresinya gadis itu. Dianggap sebagai beban keluarga, itu memang menyakitkan. Apalagi, tidak ada yang memperdulikan.
"Kamu kenapa sampai ingin mati? Bukan begini caranya menyelesaikan masalah. Bunuh diri bukanlah jalan pintas. Justru itu akan membuat langkahmu semakin berat," ujar Bintang menasihati.
Gadis itu menggeleng lemah, "Mungkin, kematianku akan menjadi kebaikan untuk semuanya. Aku itu sampah! Aku udah berusaha memberikan yang terbaik. Tapi orang-orang selalu terganggu dengan keberadaanku. Mereka nggak pernah anggap aku. Dengan mati, aku nggak akan jadi beban dan nggak harus menahan luka lagi."
Bintang mendekatkan diri lalu berjongkok di hadapannya. Naluri Bintang sebagai sesama perempuan, ia bisa merasakan kepiluan yang dialami gadis itu. Tanpa banyak bertanya, ia pun langsung memeluk gadis itu erat. Bintang membiarkan gadis yang belum diketahui namanya itu terisak di bahunya.
Setelah tangisnya mereda, Bintang mengurangi pelukannya. Ia tersenyum manis dan terlihat begitu tulus. "Nama kamu siapa?"
Bintang berusaha mengambil hari gadis itu. Semoga saja, ia bisa mengubah pola pikir gadis itu agar bisa menjadi lebih jernih.
"Jihan, Kak," jawabnya dengan singkat.
"Jihan? Nama yang bagus. Kamu masih sekolah apa sudah kerja?" tanya Bintang lagi.
"Masih sekolah," balasannya masih dengan sikap yang sama. Irit bicara.
Senyum Bintang kembali merekah, sudut bibirnya tertarik ke atas hingga membentuk lengkungan sabit. Bintang mengusap rambut gadis itu penuh rasa sayang. "Masa depan kamu masih panjang, Dek. Jangan berpikiran untuk mati lagi, ya? Aku bisa rasain apa yang kamu alami. Dianggap sebagai beban keluarga memang menyakitkan. Apalagi, tidak ada yang peduli dengan perasaan kita. Kamu boleh marah. Kamu boleh dendam. Tapi, dendam terbaik bukan dengan memusuhi orang-orang yang membencimu. Jalan pintas terbaik juga bukan dengan percobaan bunuh diri seperti tadi. Kamu mau tahu, gimana cara membalaskan dendammu?"
Mata gadis yang diketahui bernama Jihan itu menjadi berbinar. Mendengar penuturan Bintang, ia seperti mendapat seberkas harapan yang bisa menjadi semangatnya untuk bangkit. "Apa, Kak? Apa yang harus aku lakuin? Semua cara udah aku coba, tapi tetap saja aku nggak pernah dihargai."
Adryan di sana hanya memperhatikan interaksi Bintang dan Jihan. Adryan mengakui kehebatan Bintang yang bisa menaklukkan hati gadis depresi itu.
Bintang meraih tangan Jihan. "Dengerin aku, ya? Balas dendam terbaik adalah dengan membuat dirimu menjadi sukses. Buktikan jika kamu bukanlah sampah. Kamu adalah berlian yang masih bercampur dengan lumpur. Tapi percayalah, saat kamu diguncang di Sungai masalah, berlian yang sesungguhnya akan menpakkan sinarnya. Tetap semangat, ya? Kamu nggak perlu mencari penghargaan dari orang lain. Karena yang paling penting, kamu harus bisa menghargai dirimu sendiri. Kamu masih muda, Dek. Masa depanmu masih panjang. Sekolah yang rajin, biar bisa menentukan arah masa depan yang lebih cerah. Ayo bangkit! Kamu harus bisa berdiri di atas kaki sendiri. Teruslah berjalan. Terobos apa pun yang menjadi halangan, hingga tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan langkahmu."
Mata Jihan berkaca-kaca. "Tapi, aku nggak akan bisa bangkit kalau masih di lingkungan itu, Kak. Tiap hari aku dicaci maki. Aku diperintah layaknya babu. Semuanya kejam, Kak. Nggak ada yang punya perasaan. Aku disiksa habis-habisan."
Jihat menarik lengan bajunya ke atas. Ia menunjukkan pada Bintang, bekas-bekas siksaan yang ia alami.
"Ini kenapa?" tanya Bintang sedikit ngilu setelah melihat lengan Jihan yang membiru. Banyak bekas cubitan dan cambukan di sana. Bahkan, beberapa kulitnya ada yang sampai lecet dan sedikit mengelupas.
Jihan tersenyum getir. Ia tidak bisa menahan tangisnya lagi setelah melihat luka itu. "Ini salah satu hasil karya yang orang-orang beri. Setiap hari, aku selalu disiksa, Kak. Aku nggak kuat kalau seperti ini terus-menerus. Aku capek, aku lelah. Makanya aku ingin mengakhiri hidupku. Dengan aku mati, setidaknya aku bisa merasa tenang. Aku nggak akan mendapat perlakuan buruk lagi. Aku nggak harus menahan luka setiap hari."
Bintang pun ikut menangis. Sungguh sadis apa yang menimpa Jihan sekarang. Tidak salah, jika gadis itu menjadi depresi saat tekanan batin ia dapatkan setiap hari.
Jihan meraih pipi Bintang, dan mengusap air matanya dengan lembut. "Kakak jangan ikutan nangis. Kakak harus selalu bahagia."
Bintang mengangguk baru. Tangisnya kembali pecah. "Nggak. Aku nggak nangis kok. Tapi kamu juga harus bahagia, ya? Kamu harus janji sama aku, kalau kamu mau bangkit lagi. Pergilah. Pergi yang jauh dari lingkungan hitam itu, Dek. Kamu nggak pantas disiksa. Kamu harus membebaskan dirimu dari orang-orang seperti itu."
Jihan menggeleng. "Nggak bisa, Kak. Aku nggak punya tempat tinggal. Aku juga nggak punya uang buat sewa kontrakan. Aku harus sabar nunggu sekolahku lulus, biar aku bisa segera pergi dari rumah neraka itu."
Sungguh, hati Bintang teriris mendengarnya. Ia tidak bisa membayangkan betapa terlukanya hati Jihan.
"Kamu kelas berapa sekarang?" tanya Bintang.
"Kelas 3 SMA, Kak. Setahun lagi aku lulus. Meski dengan mengandalkan beasiswa, aku yakin bisa sukses!" ujar Jihan penuh semangat.
Bintang meraih sejumlah uang di dompetnya. "Dek, kamu ambil uang ini ya? Kamu pergi dari rumah itu. Cari tempat yang layak. Ini juga alamat rumah aku. Kalau kamu lagi ada masalah, kamu bisa cerita sama aku."
Bintang menggeleng lemah. Ia menolak bantuan dari Bintang.
"Maaf, Kak. Aku nggak mau terima ini. Aku nggak mau repotin Kakak."
Bintang terkekeh, "Siapa yang bilang kamu ngerepotin aku? Ini aku anggap sebagai hutang ya?! Kamu hutang sama aku, dan aku mau kamu membayarnya dengan kesuksesan. Deal!"
"Tapi -- "
Bintang langsung menjabat tangan Jihan. "Harus deal!"
Jihan tersenyum manis. Ia pun menerima uang pemberian Bintang.
"Aku pinjam dulu ya, Kak. Suatu saat, pasti akan aku balikin."
Tiba-tiba, mata Jihan menjadi buram. "Kak, pusing," adunya pada Bintang.
Selang beberapa detik, tubuh Jihan limbung dan ia pingsan di pelukan Bintang.
"Jihan." ujar Bintan panik.
"Mas Iyan, langsung bawa ke rumah sakit!"
Hai, hai, hai ...
Bersambung dulu ya, Sayang.
Sampai bertemu di lain waktu.
Dadah ...
Muah!