Bismillah Calon Imam

1778 Words
   Tari kembali menemui Hafiza dengan perasaan berbunga. Ia berjalan masuk ke dalam, sambil bersenandung kecil.    “Masha Allah, Dek. Dokternya ganteng banget,” ucap Tari heboh saat dirinya sudah berada di hadapan Hafiza.    Hafiza memutar bola matanya. “Mbak Tari kenapa sih? Sejak kapan jadi kecentilan gitu?”    “Hehe ... Mbak mau satu dong, yang kayak gitu? Gak dapet Dokter Allan, dapet temennya juga nggak papa.”    Hafiza menjentikkan jarinya di kening Tari.    Tes!    “Dih, ngarep banget! Jangan Halu!”    Tari mencebikkan bibirnya. “Halu itu candu!” bantahnya.    “Halu itu gila!” ejek Hafiza.    Tak terima dibilang gila, Tari membalas ledekan Hafiza. “Kamu yang gila!”    “Ya Mbak, lah. ‘kan Mbak yang halu, berarti Mbak Tari gila.”    Keduanya pun saling ledek.    “Serah kamu lah!” ujar Tari mengalah. Berdebat pun, tidak akan ada ujungnya.    “Ya udah, serah!” balas Hafiza acuh tak acuh membuat Tari berdecak sebal.    “Ckck, iiihhhh, dasar!”    “Enak, digulung-gulung pakai lidi,” timpal Hafiza.    “Itu dadar!” Tari mengelus da da. Stok sabarnya mulai menipis.    “Ututu ... tau aja sih, kalau Hafiza cantik? Udah cantik, baik hati, rajin menabung, unyu, lugu dan tidak sombong. Idaman semua lelaki.” Hafiza terlihat cekikikan saat mendapati ekspresi Tari yang ingin muntah.    “Ya Allah, Dek. Obatmu habis ya?” Tari memegang kening Hafiza, lalu kembali melanjutkan ucapannya. “Pantes aja, jadi sableng. Jidatmu panas!” ketus Tari.    “Sewot amat sih?” sinis Hafiza.    Tari menyeret kursi tunggu yang ada di samping Hafiza. Ia pun mendudukkan diri di sana.    “Jangan kepedean. Entar jatuh, nanges! Jatuh dari mimpi tak seenak makan cilok.” Tari melirik adiknya.    “Nggak papa, jatuh. Kalau yang nangkap Pak Dokter mah, oke-oke aja.”    Tari memukul pelan tangan Hafiza yang bebas dari infus. “Otak kamu cogan mulu ih! Sekolah dulu yang bener!”    Hafiza memperhatikan Tari yang tengah meracau. Tanpa sadar, sebaris pujian lolos keluar dari bibir Tari. “Dokter Allan ganteng juga.”    “Dih, muji-muji Dokter Allan. Gitu ngatain aku! padahal sendirinya juga lagi ngarep cogan. Ada kaca nggak sih?” sindir Hafiza.    “Noh, kaca besar. Depan kamar mayat!” ceplos Tari.    “Bercandanya nggak lucu, coy! Ngapain kamar mayat ada kacanya?”    Tari menggidikkan bahu. “Nggak tau. Tanya aja penghuninya. Pengen skincare an kali.”    Tes!    Satu jitakan mendarat tepat di kening Tari.    “Punya Mbak gini amat sih? Kurang kerjaan banget kunti skincare an?”    Tari mencubit pipi Hafiza gemas. “Ya udah sih, ngapain di pikir? Rebahan enak!”    Hafiza memegangi pipinya yang sedikit memanas. Ia pun menggeser tubuhnya agar Tari bisa ikut rebahan di ranjangnya.    “Sini,” tepuknya di samping space kosong.    Tari mulai naik ke atas. Menyusul Hafiza yang sudah nyaman dengan posisinya. Mereka pun rebahan bersama di ranjang rumah sakit. Terlihat sangat sweet meski tempatnya sempit.    Hafiza memejamkan mata, tapi tidak sepenuhnya tertidur. Ia hanya ingin mengistirahatkan matanya yang lelah. Sementara di samping Hafiza, Tari asyik menatap langit-langit.    “Dek,” panggil Tari.    Hafiza membuka matanya. Ia pun menghadap arah Tari.    Tari menoleh sebentar, lalu kembali lagi menatap langit-langit.    “Kamu tidur?” tanyanya tanpa melihat lawan bicaranya.    “Enggak,” jawab Hafiza singkat. “Kenapa?” imbuhnya lagi.    Tari mengubah posisinya. Tubuhnya menyamping menghadap Hafiza.    “Mbak laper,” terangnya.    Hafiza mengernyit. “lha, orang laper kok curhat. Laper ya makan lah.”    “Hemmm ....” Tari tampak berpikir. “Makan yang enak apa ya?” tanyanya pada Hafiza. Ia lupa jika Hafiza sangat membenci pertanyaan itu.    Wajah Hafiza berubah murung. Ia menghela napas panjang, berusaha menahan sabar. “Jangan nanya itu sama aku. Aku udah lama nggak makan yang enak-enak. Jadi ya, aku nggak tahu.”    Tari menggigit bibir bawahnya. Ia baru sadar jika sudah melukai perasaan Hafiza. “Eh, maaf, Za. Mbak lupa.”    Tari yakin, perasaan Hafiza kali ini pasti terluka. ‘Ah, bodoh sekali kamu, Tari!” maki diri sendiri dalam hati.    Hafiza tersenyum untuk menyamarkan sesak di hatinya. “Iya. Nggak papa, kok. Santai aja,” ujarnya dibuat setenang mungkin, meski di dalam sana, hatinya tersayat ribuan sembilu.    Tari tampak murung. Untuk menebus rasa bersalahnya, ia tidak akan makan kali ini. Ia akan menemani Hafiza merasakan kepahitan hidupnya. Tari tidak akan makan enak lagi sekarang.    “Ya udah, deh. Mbak nggak jadi pesan makan.” Tari kembali menatap langit-langit dengan memposisikan tubuhnya menjadi terlentang.    Hafiza menatap Tari. “Lha, kenapa?” tanyanya lembut.    Tari menoleh sesaat. Hanya beberapa detik. Setelahnya, ia kembali menatap langit-langit. “Mbak mau temenin kamu. Mbak mau rasain apa yang kamu rasain. Mulai hari ini, Mbak nggak akan makan enak lagi. Impas, ‘kan? Biar adil.”    Hafiza tertawa getir. “Jangan gitu, ah! Mbak tahu ‘kan, kalau aku paling nggak suka dikasihani? Buruan pesen makan, gih! Aku nggak papa, kok. Kalau Mbak nggak makan, aku marah sama Mbak!” ujar Hafiza setengah mengancam. Dirinya sudah banyak merepotkan orang-orang tersayangnya. Hafiza tidak ingin membuat mereka jadi sengsara. Hafiza paling tidak suka yang namanya belas kasihan.    “Jangan marah. Mbak sayang kamu.” Tari kembali mengubah posisinya menjadi berhadapan dengan Hafiza. Diraihnya tangan gadis itu, lalu diciumnya dengan lembut.    Hafiza tersenyum, meski dalam hatinya begitu miris. “Ya sudah, kalau Mbak Tari sayang sama Hafiza, Mbak pesan makan sekarang. Hafiza nggak mau dengar alasan apa pun!”    Tari tak kuasa menahan harunya. Matanya sudah mulai berkaca-kaca. Hafiza memang gadis yang kuat. “Andai Mbak bisa gantiin posisi kamu, Dek. Mbak siap lakuin itu.”    Hafiza menggeleng lemah. “Husstt! Nggak boleh ngomong gitu. Mbak harus sehat. Mbak Tari nggak boleh sakit. Kalau Mbak ikutan lemah, terus siapa yang nguatin Hafiza?”    Hafiza menitihkan air matanya, membuat Tari yang sedari tadi menahan mati-matian tangisnya, jadi ikutan menangis.    Tari mengusap air mata Hafiza. Ia tidak sanggup melihat adiknya menangis. “Udah, Adek Mbak yang paling cantik nggak boleh sedih lagi.”    Hafiza tersenyum membuat Tari ikut tersenyum. Hafiza membawa tangan Tari ke dalam dekapannya. “Hafiza nggak akan nangis. Udah, Mbak pesen makan gih. Cacingmu dah disko tuh,” celetuk Tari untuk mengaihkan rasa sedihnya.    “Siap, laksanakan.”    Setelahnya, Tari memesan makanan di aplikasi shopoo. Ia menambahkan seporsi ayam geprek dan es teh di dalam bilnya.    Sambil menunggu, Tari menghabiskan waktunya untuk mengobrol dengan Hafiza. Membahas rencana Hafiza kedepannya setelah lulus SMA.    “Dek, lulu sekolah mau ke mana?” tanya Tari.    Hafiza menggidikkan bahu. “belum tahu, Mbak. Tapi Hafiza sudah dapat jalur undangan buat ambil sastra di universitas yang cukup ternama. Cuman, Hafiza masih belum sreg, mengingat jaraknya yang lumayan jauh.”    “Di mana, emang?” tanya Tari penuh minat.    “Papua,” jawab Hafiza membuat Tari membelalak tak percaya.    “Nggak! Kali ini Mbak nggak akan izinin kamu. Papua itu jauh banget, Dek. Kita juga nggak punya keluarga di sana. Mbak nggak mau kamu merantau sendirian di tempat sejauh itu. Kalau ada apa-apa, nggak ada yang bisa bantu kamu,” larang Tari tegas membuat Hafiza terkekeh. Ia sudah bisa menduga ini sebelumnya. Padahal, lumayan kalau diambil. Mana dibayarin lagi. Hafiza sadar diri, jika dirinya tidak terlahir dari keluarga sultan. Jadi, kalau ada yang gratis, mengapa tidak. Namun sayangnya, tempatnya terlalu jauh.    “Sudah kuduga. Mbak nggak akan mungkin biarin Fiza ambil beasiswa itu.”    Tari mencubit pipi Hafiza gemas. “Masih banyak universitas yang lebih bagus. Pokoknya Mbak nggak mau kamu kuliah sejauh itu. Kuliah di mana pun sama saja. Mau kampusnya ternama atau biasa-biasa aja, nggak akan mengubah apa pun. Kalau niatnya untuk cari ilmu, di mana saja hasilnya sama. Cukup lakukan yang terbaik dan jadi yang berperestasi. Pengalaman dan keahlian yang menjadi penentu nasib seseorang, oke?” nasihat Tari.    Hafiza mengangguk. “Siap.”    Suara bunyi notifikasi membuat Tari harus mengakhiri perbincangannya.    “Dek, makanannya udah dateng, nih. Mbak ambil ke luar dulu ya? Kamu nggak papa sendirian?”    Hafiza tersenyum, “Iya, ambil aja. Hafiza udah gede, nggak perlu dijagain. Nggak bakal ada yang culik juga.”    Tari terkekeh. Dielusnya puncak kepala Hafiza penuh kelembutan, lalu ia beranjak dari ranjang rumah sakit. “Ya sudah, kalau gitu Mbak keluar dulu. Mbak makan di pujasera ya? Sekalian nanti mau langsung salat maghrib di masjid.”    Hafiza mengacungkan kedua jempolnya. “Siap, Mbak. Sekalian modus dikit sama Pak Dokter,” goda Hafiza.    Tari menjentikkan tangannya pelan pada kening Hafiza. “Dasar! Ya sudah, Mbak keluar dulu. Assalamualaikum.”    Hafiza mengangguk, “Wa’alaikumussalam.”    ***    Setelah kepergian Tari, Hafiza merasa jenuh. Ia pun menyalakan ponselnya dan mengaktifkan sambungan internet.    Ada pesan chat dari nomor yang tak dikenal membuat perhatian Hafiza tertarik untuk membukanya.    08526583xxxx : Assalamu’alaikum, Hafiza. Aku Dokter Allan. Save, ya?”    Seutas senyum terbit dari bibir Hafiza.    Hafiza: Wa’alaikumussalam. Siap, Pak Dokter.    Hafiza menambahkan kontak Allan pada ponselnya. Ia memberi nama yang cukup unik. ‘Bismillah Calon Imam.’    Entah hanya untuk lelucon, atau memang Hafiza sudah mulai menaruh hati pada Allan, tapi yang jelas, hanya Allah dan Hafiza saja yang tahu.    Balasan dari Allan masuk ke dalam notifikasi Hafiza. Hafiza pun membacanya dengan perasaan berbunga. Hafiza terkikik membaca nama kontaknya.    Bismillah Calon Imam : Gimana kondisi kamu? Apa ada keluhan?    Dengan semangat yang membara, Hafiza membalas pesan Allan.    Hafiza: Nggak, kok. Masih aman terkendali. Cuman ...    Hafiza sengaja tidak melanjutkan  lagi.    Bismillah Calon Imam : Cuman apa???    Hafiza tersenyum simpul. Hafiza bisa melihat ada kekhawatiran dari teks yang Allan ketik.    Hafiza kembali membuat jarinya menari-nari di atas keyboard.    Hafiza: Pengen pulang. Udah rindu banget sama sekolah. Hampir seminggu lho, Mas, aku bolos sekolah. Aku sebentar lagi mau ujian juga. Nggak kasihan apa, kalau aku ketinggalan banyak pelajaran? Ngejarnya ngos-ngosan.    Tulisan mengetik di layar membuat Hafiza tidak sabar.    Bismillah Calon Imam:  Hemmm ... rindu sekolah apa rindu Doi?    Hafiza cekikikan. ‘orang jomblo mana ada doi,’ batinnya.    Hafiza: Ish, Bapak mah! Aku tuh nggak punya doi. Aku beneran loh, rindu banget sama temen-temen. Bapak kayak nggak pernah Sekolah aja.    Bismillah Calon Imam:  Dih, saya bukan bapak kamu! Perlu digaris bawahi, saya masih muda. (dengan emote muka sinis.)    Hafiza: Iya, iya. Suka-suka kamu aja lah. Gimana? Aku boleh pulang kapan? Besok ya?”    Hafiza merayu Allan agar segera diizinkan pulang.    Bismillah Calon Imam: Nggak bisa!    Hafiza menatap layar ponselnya dengan perasaan kecewa. Allan tidak memberinya izin pulang.    Hafiza: Terus, kapan?    Chat balasan, Hafiza kirim dengan perasaan dongkol di hatinya.    Bismillah Calon Imam: Lusa. Nggak ada penawaran. Kalau nggak mau ya sudah.    Hafiza tersenyum.    Hafiza: Oke, deal. Lusa harus pulang.    Bismillah Calon Imam: Iya. Ya sudah, kamu istirahat gih. Jangan main HP terus.    Hafiza hanya membacanya. Dalam hatinya ia membatin. ‘bawel.’       Hai, hai, hai ... sayang-sayangnya Othor.    Masih pada semangat nggak, nih?    Ketemu lagi di lain kesempatan ya?    Da dah ...    Muah!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD