Asih terus mondar-mandir di depan pintu kamar Max, samar-samar Asih menangkap suara Lela yang terus memohon pada tuannya. Asih yakin, jika Lela saat ini sedang menjerit, karena kondisi kamar sang tuan itu kedap suara. Jadi saking kerasnya Lela menjerit, hingga suaranya tembus ke luar—meski hanya samar-samar.
Benar saja, di dalam Lela terus menjerit meminta Max untuk melepaskan bajunya sambil berusaha melepaskan sendiri dengan sekuat tenaga. Namun, kekuatan Max tentu jauh lebih kuat darinya. Lela sudah terisak hebat bahkan suaranya sudah bergetar seperti tak jauh dengan kondisi tubuhnya.
“Hiks ...! Sa—saya mohon T—Tuan, lepaskan saya, hiks!” Lela akhirnya menangis keras bahkan sampai tersedu-sedan. Dia sangat ketakutan, terlebih matanya menangkap kemeja Max sudah teronggok di lantai. Lela sampai tak sadar, kapan Max membuang bajunya.
Lela terus meracau sambil menangis, tetapi tak ada respon dari belakang tubuhnya. Cuma ada tangisannya, selebihnya terisi keheningan. Lela menangis tak hanya di mata saja, dalam hati dia terus meminta perlindungan kepada Allah dengan uraian tangisan penuh permohonan.
Di tengah asiknya menangis, Lela dikejutkan oleh sura tawa yang begitu nyaring tepat di sampingnya, mata Lela yang semula tertutup langsung terbuka lebar. Benar saja, Max tengah terpingkal-pingkal bahkan tangannya sampai memegang perut berbentuk kotak itu.
Tangis Lela seketika terhenti—meski masih tersisa isakannya, tangannya terus menarik bajunya yang sampai sekarang belum bisa ditarik juga.
Eh, tunggu! Kalau pria itu ada di depannya, lalu siapa yang ... Lela seketika berbalik. “Astaghfirullah ...!” Ternyata bajunya terkait dan masuk pada kaki kursi yang ada di sana.
“Hahaha.” Max terus tertawa—sangat puas. Entah sejak kapan dia tidak bisa tertawa sekencang seperti sekarang. Hidupnya yang semula membosankan, langsung menarik penuh warna seperti dia menemukan dunianya yang baru.
Sementara Lela menunduk malu, wajahnya sudah terasa panas saking malunya. Tangannya terus berusaha mengangkat kaki kursi yang bahkan tak berubah sama sekali, padahal Lela sudah mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mengangkat salah satu kaki kursi itu. Lela tak habis pikir, bagaimana bisa bajunya tersangkut di sana?
Saking fokusnya berusaha melepaskan bajunya yang tersangkut, Lela tak menyadari jika dari beberapa menit yang lalu Max sudah menghentikan tawanya. Pria itu duduk di salah satu sofa—tepat di depan Lela, memperhatikan gadis desa itu sambil bertumpang kaki. Terkadang, bibir Max menyunggingkan senyuman tipis, sangat menikmati ekspresi Lela yang terus berubah-ubah.
Gadis desa itu kadang mengernyit, menghasilkan beberapa kerutan di keningnya, kedang bibirnya mengerucut sampai maju beberapa sentimeter, kadang juga wajahnya sangat jelek seperti orang yang buang air besar tapi puff-nya susah keluar karena terlalu keras dan besar.
Max kembali terkekeh saat wajah jelek Lela semakin kental disertai dengan suara ‘eee ...’ persis seperti orang yang susah BAB. Puas memperhatikan Lela, Mas akhirnya beranjak dan melangkah ke arah salah satu laci di kamar itu. Lalu kembali menghampiri sambil membawa gunting.
Lela lagi-lagi menjerit saat tiba-tiba Max muncul di depannya sambil jongkok. “Ja—jangan mendekat!”
Max mendengus sinis dan menatap tajam. “Diamlah, kupingku sudah pengang mendengar suara jelekmu itu!”
Lela seketika kicep dan mengunci mulutnya tanpa menunggu diperintah lagi. Matanya memperhatikan Max yang sedang melakukan sesuatu. Tak lama suara kain sobek terdengar, Lela menjerit (lagi) melihat baju yang dikenakannya sudah robek hingga hampir ke perutnya. Beruntung, dia memakai rok dalaman karena baju Asih yang pendek hingga terlihat ngatung di tubuhnya, dan memperlihatkan betisnya jika tidak disambung oleh roknya.
Namun, tetap saja, ini bukan baju miliknya. Bagaimana caranya dia mengganti baju itu—sedangkan dirinya juga masih perlu baju seragam itu.
Max melemparkan guntingnya ke salah satu kursi, dan kembali duduk di tempat semula. Dia mendengus, menyayangkannya yang tidak berhasil melihat sebagian tubuh Lela—minimal kakinya- saat tahu jika gadis itu memakai rok sebagai sambungan sekaligus daleman pakaiannya.
“Heh, pakaian juga tahu, jika baju itu memang tidak cocok untukmu!” seru Max menyadarkan Lela dari lamunannya.
Lela sedikit terperanjat, lalu buru-buru menunduk saat sadar. Dengan gerakan yang amat pelan, Lela mundur sedikit-sedikit, berusaha membuat jarak sedikit jauh dari sang tuan. “T—terima kasih, T—Tuan, tetapi saya sangat suka dan nyaman dengan seragam i—ini.”
“Kamu yang nyaman, tapi tidak dengan bajunya. Tubuhmu itu lebih pantas diekspos daripada dibungkus seperti terasi seperti ini.”
“Huh, dasar tukang doraka! Nyaho naon kana pangancam Gusti?” (Huh, dasar manusia pendosa! Tahu apa dia soal ancaman Tuhan?) Lela memilih tak menjawab ucapan Max. Dia lebih memilih tetap diam berdiri sambil tertunduk di depan majikannya yang sekarang tengah duduk santai sambil memainkan ponselnya.
Sudah tiga puluh menit Lela berdiri tanpa bergerak—benar-benar seperti patung- di depan Max, menunggu waktu sampai lelaki itu mengeluarkan suaranya, setidaknya mengizinkan dia keluar dari kamar itu. Bahkan Lela sudah merasakan kesemutan pada kakinya, betisnya pegal, juga matanya sudah mengantuk. Ini pukul berapa? Sampai kapan dia harus berdiri seperti ini? Kenapa lelaki di depannya tidak bergerak sama sekali?
Ingin rasanya Lela mendongak dan memeriksa langsung sedang apa sebenarnya tuannya itu, tetapi mana ada dia punya keberanian? Membayangkan jika saat dia mendongak dan matanya langsung bertemu dengan netra hitam lelaki itu saja, nyali Lela sudah menciut lebih dulu.
Sementara Max? Memainkan ponsel tentu hanya alasan saja, karena sejak tadi dia tak pernah berhenti memperhatikan tubuh mungil yang sedikit menggigil itu. Max sendiri takjub, di balik tubuhnya yang sejak tadi terus bergetar—mungkin karena takut- sudah lebih dari dua puluh menit posisinya tepat sama.
Sampai akhirnya, tubuh mungil itu akhirnya bergerak, kaki itu beberapa kali menghentak samar. Max meneliti reaksi wajah Lela yang masih menunduk. Apa gadis desa ini tidak merasa pegal? Selang beberapa detik, Max melihat bibir Lela yang mengerucut dengan ekspresi wajah seperti menahan tangis, hal yang selalu membuat jantungnya berdebar setiap melihat ekspresi wajah itu—di mata Max itu sangat menarik dan menghibur.
Lela kembali bergerak, kakinya sudah benar-benar pegal dan kesemutan, dalam hati terus berdo’a agar tuannya diberikan kemurahan hati dan mengizinkannya pergi. Matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, tetapi tak berani menatap ke depan, bibirnya terus berkomat-kamit melafalkan do’a sebanyak dia bisa.
“Jangan lakukan itu di depan siapapun!”
Tubuh Lela sempat berkinjat karena kaget, sang tuan tiba-tiba bersuara dan langsung memberinya perintah. “Y—ya, T—Tuan?” tanya Lela tak mengerti.
“Jangan menampilkan ekspresi wajah itu di depan siapapun, kecuali di depan saya. Ngerti?”
Karena belum mengerti, Lela menggeleng tanpa pikir panjang, tetapi sepertinya jawabannya salah karena tuannya malah menggeram marah.
“Kamu ngerti?” tanya Max kembali—lebih seperti ancaman.
“Ti—tidak, Tuan.”
Max melempar remot televisi ke atas meja sehingga menimbulkan suara nyaring. “Ka—mu fa—ham?”
Lela memejamkan matanya, tak tahu harus menjawab seperti apa. “Geus apal titadi nyebut teu ngarti, kunaon maksa kudu kaharti? Manya kudu ngabohong jeng ungklek wae?” (Sudah tahu dari tadi bilang gak faham, kenapa maksa harus faham? Apakah harus berbohong dan mengangguk saja?)
Max berdiri dan menghampiri Lela secara tiba-tiba, membuat gadis itu sontak mundur sambil berbicara sedikit berteriak, “Nya! Nya atuh kahartos! Abdi kahartos!” (Baik! Baiklah saya mengerti! Saya mengerti!)
Mata Max memicing. “Kamu sedang mengutuk saya dengan bahasa alienmu?”
Lela menggeleng cepat, mana berani dia mengutuk seseorang—terlebih orang itu menyeramkan seperti tuannya ini. “Sa—saya tidak berani, T—Tuan.”
“Kamu faham?”
Lela mengangguk cepat. “T—tentu, T—Tuan. Sa—saya faham.”
“Faham apa?”
Lela mendongak seketika. Faham apa? Naah, itu dia juga bingung. Sadar akan kelakuannya yang malah menatap Max, Lela kembali menunduk—bahkan semakin dalam. “Sa—saya akan coba renungkan, T—Tuan. Se—sebenarnya saya tidak me—mengerti apa yang T—Tuan tanyakan, te—tetapi karena T—Tuan terus memaksa sa—saya untuk berkata faham, sa—saya akan merenungkannya sebelum tidur.”
“Kau!” desis Max dengan gigi menggeletuk, seakan tengah menahan kemarahannya. “Keluar!”
Lela seketika berdiri tegak, menatap Max penuh ekspresi. Sedetik kemudian dia mengusap d**a sambil mengembuskan napas lega. “Alhamdulillaah, ya Allah. Akhirnya bisa keluar juga dari kandang singa.”
Mata Max melotot mendengar gumaman Lela. “Keluar! Atau saya akan benar-benar menerkammu.”
Lela berkinjat dan langsung berlari ke arah pintu. Beruntung dia masih ingat untuk berpamitan seraya membungkukkan badan. “Saya keluar, Tuan. Assalamu’alaikum!” Setelah itu terdengar suara pintu tertutup keras.
Untuk beberapa saat Max tetap diam di tempatnya sambil menatap lurus pintu yang tertutup rapat. Tak lama bibirnya tersungging miring, bahkan sampai terkekeh. “Gadis yang sangat menarik. Aku gak akan membiarkan dia kabur dari genggamanku sebelum aku bosan dan membuangnya sendiri.”
Max menutup mata seraya menyandarkan tubuhnya. “Sepertinya aku harus memberi bonus pada Marni karena sudah membawakanku mainan baru. Hahaha.”