“Astaghfirullah!” jerit Lela saat akan masuk ke kamar mandi untuk membersihkannya, dia malah melihat pemandangan tak senonoh. Seorang pelayan wanita tengah b******u dengan pekerja lelaki di dalam toilet. Kaki Lela rasanya lemas karena terlalu kaget, dan itu hampir Lela jumpai selama seminggu dia bekerja di sana.
Tubuh Lela bergetar saat melewati keduanya yang seperti tak terganggu olehnya, tetap meneruskan apa yang tadi mereka lakukan. Bulu kuduk Lela sudah berdiri—merinding ngeri, apa lagi saat suara aneh terus mengganggu indra pendengarannya.
“Thank ya, Beb!” ujar si wanita bernada manja.
“Off course. Aku juga puas.”
Keduanya kembali berpelukan sebelum akhirnya si pria melangkah pergi dari sana. Sementara Lela tetap bekerja membersihkan salah satu toilet di sana, dia sempat bernapas lega saat mendengar derap langkah menjauh dari sana—bahkan embusan napasnya begitu terdengar panjang dan sedikit nyaring, tak menyadari jika si wanita tadi membuka pintu yang ditempatinya.
“Kenapa mengembuskan napas panjang begitu?”
“Astagh ....” Lela terperanjat kaget, membuat wanita mes*m tadi itu tertawa, merasa lucu dengan tingkah Lela yang menurutnya seperti makhluk lain di rumah itu.
“M—Mbak Susi,” panggil Lela gugup.
Susi—wanita yang baru saja kepergok itu- tertawa kecil. “Kenapa? Kaget ya, lihat orang b******u seperti barusan?”
Lela tak menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya, membuat Susi lagi-lagi tertawa. “Aduh, kamu emang masih polos dan lugu, ya, La. Gak cocok sih kamu di sini.”
Susi meneliti Lela dari atas hingga ujung kaki. Gadis itu masih memakai seragam yang selalu dipakai Asih—bahkan seragam itu ada jahitan dari bekas sobekan, dan tetap memakai kerudung panjang khas orang yang mau pengajian. Merasa takjub juga dengan keteguhan hati Lela, padahal dulu, saat Marni ke sini, wanita itu hanya menangis selama 4 hari karena terpaksa memakai seragam seksinya, setelahnya, Marni malah terlihat asik, apa lagi saat banyak pekerja pria yang memuja kecantikan wanita itu.
Sebenarnya, sama seperti pekerja lainnya, Susi merasa penasaran akan sampai kapan Lela memiliki iman yang teguh dan tidak tergoyahkan dengan kesenangan dunia yang selalu mereka rasakan selama bekerja di sana. “Ya sudah! Kerja yang rajin, ya!” Susi menggantungkan tangannya saat akan menyentuh Lela, karena gadis itu dengan refleks mundur seolah menghindar. Susi tersenyum sambil menurunkan kembali tangannya. “Kamu harus kebal dengan pemandangan barusan. Ini bukan pertama kalinya kamu memergoki kami, ‘kan?”
Lela tetap menunduk sampai akhirnya Susi keluar meninggalkannya. Setelah Susi tak ada, buru-buru Lela mengunci kamar itu, lututnya langsung melemas hingga dia tak bisa menopang berat badannya, Lela ambruk di atas kloset duduk. Napasnya ngos-ngosan seperti orang yang telah lari ketakutan. Tak lama, suara isakan keluar dari bibirnya, dan disusul oleh tangisan. Apa yang dikatakan Susi memanglah benar, selama dia bekerja tujuh hari ini, Lela pasti melihat pemandangan tak senonoh itu, membuat dia semakin didera rasa takut yang besar.
“Hiks, Ambu ... Ambu ...! Neng hoyong uih, teu betah di diyeu mah, jalmi na tukang maksiat hungkul. Neng sieun, Ambu ..., hiks!” (Hiks, Ambu ... Ambu ...! Neng mau pulang, gak betah di sini, orang-orangnya pendosa—pezina- semua. Neng takut, Ambu ..., hiks!)
Lela kebingungan, bagaimana caranya agar dia keluar dari rumah besar itu dan melunasi hutangnya yang ... bahkan mendengar jumlahnya saja, Lela rasanya ingin pingsan. 20 juta, dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu untuk membayar, dan lagi berapa lama dia harus bekerja di sana sampai hutangnya terlunasi?
Andai uang pemberian tuannya semuanya diberikan pada ibunya, Lela tak perlu terlalu bingung, dia bisa saja mengembalikannya pada sang tuan, karena Lela yakin ibunya tak akan menghabiskan uang sebanyak itu dalam waktu satu minggu ini.
Namun, masalahnya, Marni hanya mengirimkan uang ke kampung sebesar satu juta, dan sisanya digenggam wanita itu. Jika sudah begini, Lela rasanya tidak percaya jika Marni adalah tantenya sendiri yang dengan tega menjerumuskannya ke jurang hitam seperti ini.
Asik meratapi nasibnya, sampai-sampai tak sadar jika ada dua orang yang masuk ke toilet dan mendengar tangisan Lela.
Marni dan Parto sengaja mencuri waktu untuk berbuat ... dan menyelinap masuk ke toilet khusus pelayan wanita. Namun, saat mereka sudah di sana, malah mendengar tangisan seseorang dari balik salah satu pintu toilet yang ada di sana.
“Beb? Siapa yang nangis siang bolong begini?” tanya Parto melongokkan kepalanya mencari asal suara.
Marni berdecak. “Pasti itu si Lela. Dasar cengeng! Setiap hari dia pasti nangis entah itu di kamar ganti, atau di kamar tidur, bahkan sekarang di sini. Merepotkan banget sih.”
Marni menghampiri satu-satunya pintu toilet yang tertutup, dan menggebraknya, membuat Lela terlonjak bahkan tangisannya langsung berhenti saking kagetnya.
“Si—siapa?” tanya Lela dengan suara serak khas orang menangis.
Marni menatap Parto dan menyuruh pria itu kembali bekerja saja. Acara menyenangkan--menurut mereka- terpaksa ditunda dulu, karena dia ingin memberi perhitungan pada keponakannya, dengan wajah tertekuk Parto pergi meninggalkan toilet. Setelah dirasa tidak ada orang, Marni kembali menggedor pintu dan menyuruh Lela keluar.
Mendengar suara Marni, Lela semakin ketakutan, apa lagi dari nada dan volume-nya, wanita itu seperti marah besar. Pintu terus digedor karena Lela belum juga membukanya.
Marni langsung menyeret Lela saat kepala gadis itu muncul dari balik pintu. Lela memohon dengan nada bergetar ketakutan, yang tentu saja tidak didengar oleh Marni—apa lagi saat ini kemarahan wanita itu sudah di ubun-ubun.
Marni sedikit mendorong tubuh Lela sampai gadis itu menjerit tertahan, beruntung tangannya sigap menahan tubuh agar tidak jatuh ke lantai. Marni memegang erat pergelangan tangan Lela--tak peduli yang dipegangnya tengah meringis kesakitan, matanya melotot, menatap Lela tajam dan membunuh. “Heh, lu kenapa lagi, hah? Mau orang-orang tahu jika gua jahatin lu, hah?”
Lela menggeleng cepat. “Ti—tidak, Tante. Neng ... hiks!”
“Apa? Tak puas lu bikin gua diejek semua temen gua di sini, hah?”
Lela terus menggeleng, dan akhirnya kembali menumpahkan tangisannya. Tubuh Lela ambruk di depan badan sang tante, dan tangannya memegang kaki Marni sambil terus memohon. “Neng mah teu betah di diyeu teh. Neng mah hoyong uih, hoyong ka ambu. Huhuhu.” (Neng gak betah tinggal di sini. Neng mau pulang, mau sama ambu. Huhuhu.)
Lela menatap Marni dengan air mata yang tak hentinya mengalir. “Bi Marni, Neng hoyong uih. Mana beu artos nu si tuan! Ku Neng bade dipasihkeun deui ka anjeuna. Bibi sing karunya ka Neng! Huhuhu.” (Tante Marni, Neng mau pulang. Berikan uang pemberian si tuan itu sama Neng! Neng mau kembalikan lagi sama dia. Tante, Neng mohon, kasihanilah Neng! Huhuhu.)
Marni tertawa keras sambil menyingkirkan tangan Lela dari kakinya. “Mimpi aja! Selama lu belum gua bisa percaya, lu gak akan gua biarkan keluar dari rumah ini. Paham, lu? Mending ya daripada terus-terusan meratapi nasib lu ini, lu belajar menerima semua yang ada di sini.”
“Gua yakin, lu hanya belum mencoba aja, setelah lu mencoba dan tahu rasanya begitu menyenangkan, gua jamin lu pasti lupa daratan. Apa lagi Tuan Max sepertinya sangat tertarik sama lu. Kenapa gak lu jadikan kesempatan buat bikin beliau menyukai lu?”
Bukan tanpa alasan Marni mengatakan itu, dia akan sangat beruntung jika Lela masuk dalam pesona tuannya. Sehari sesudah pesta malam itu, Max memanggilnya dan memberikan dia bonus karena sudah mengajak Lela ke rumah ini. Majikannya merasa terhibur saat melihat Lela yang tengah menangis apa lagi ketakutan padanya.
Meski Marni sangat merasa ganjil dan beranggapan bahwa Max mempunyai kelainan jiwa—karena merasa bahagia saat seseorang sedang sedih atau takut, Marni tetap merasa senang dan akan semakin senang jika Lela berhasil ditaklukkan (hilang kesucian) oleh tuannya. Sudah pasti berapa banyak keuntungan yang akan Marni dapat dari semua itu.
Lela langsung melotot mendengar perkataan Marni. Tidak 'kah tantenya tahu jika ketakutan terbesar Lela di sini ada di diri lelaki yang disebut tuan itu? “Bibi ngaco! Puguhan Neng teh sieun ku Tuan Max. Neng lewih sieun ku si tuan, Bi, daripada ku sasaha.” (Tante keliru! Justru itu Neng takut sama Tuan Max. Neng malah lebih takut sama dia daripada yang lainnya).
Lela bergerak lagi, dan kembali memegang kaki Mirna. “Bi, Neng tulungan! Neng hoyong uih, hoyong kaluar ti diyeu, hiks. Pami Bibi sieun Neng wawartos masalah Bibi di diyeu. Neng jangji ka Bibi, sing demina oge! Neng maol wawartos ka sasaha. Tulungan Neng, Bi! Hiks ... hiks!” (Tante, tolongin Neng! Neng mau pulang, ingin keluar dari sini. Neng janji sama Tante, sumpah! Neng gak bakal bicara apapun pada siapapun tentang kehidupan Tante di sini. Tolongin Neng, Tante! Hiks ... hiks!)
Bukannya merasa iba, Marni malah semakin geram dan marah, dipukulnya kepala Lela sambil dimarahi—tak peduli jika gadis itu sudah menjerit kesakitan.
Di saat perdebatan itu berlangsung, mereka tak menyadari jika sudah sejak tadi, Max mencuri dengar semua yang dikatakan Lela pada tantenya. Senyuman Max semakin miring, otaknya sudah penuh dengan beberapa rencana untuk memberi pelajaran pada Lela, gadis yang bahkan tidak merasa terpesona padanya. Namun, tak apa! Justru itu membuat Max semakin penasaran akan seberapa kuatnya iman yang dimiliki gadis desa itu.
Max meninggalkan tempat itu tepat saat Lela melolong kesakitan.