9. Kemarahan Max

2094 Words
Marni merapikan seragamnya sebelum dia menemui tuannya. Bahkan menyempatkan diri untuk mengoles bedak—yang selalu dia bawa dalam saku seragamnya- pada wajahnya sambil bercermin di kaca besar yang ada di ruangan luas itu. Setelah dirasa cukup, Marni mengetuk pintu besar berwarna coklat tua yang terlihat gagah seperti pemiliknya. “Masuk!” Marni berdehem beberapa kali sebelum akhirnya masuk. Jantungnya sudah berdetak kencang menunggu dengan was-was apa yang akan disampaikan sang tuan padanya. “Tuan memanggil saya?” tanya Marni setelah membungkukkan badannya. “Hm.” Max melemparkan satu kotak ukuran besar ke hadapan Marni. “Berikan itu pada keponakanmu! Mulai besok, semua keperluan saya dia yang urus, termasuk kamar tempat saya bersenang-senang.” Marni segera membungkuk, bibirnya sudah berkedut senang, dalam hati dia bersorak, sebentar lagi ... ya, Marni yakin sebentar lagi sang tuan akan merubah Lela menjadi seperti dirinya—berani mencopot keimanannya demi kesenangan dunia. “Baik, Tuan.” “Satu lagi!” Marni kembali mendongak saat Max tidak lekas bicara. Bulu kuduknya merinding ketika sadar jika tatapan sang tuan sudah berubah dingin. “Jangan biarkan seorang pun menyakitinya, baik secara fisik maupun verbal. Kalau sampai ada yang berani, dia akan tahu akibatnya.” Tubuh Marni tiba-tiba bergetar, entah kenapa semua yang diucapkan Max seperti tengah mengancamnya. Apa lagi saat ingat jika tadi dia sudah memukul dan menampar gadis itu. “Dari mana tuan tahu aku menyakitinya? Siapa yang berani mengadukanku? Breng*ek!” “Paham, ‘kan?” Marni sedikit terperanjat, tetapi langsung bisa menguasai dirinya. “B—baik, T—Tuan.” “Berikan kotak itu padanya untuk dia pakai saat bekerja. Setelah itu antarkan dia ke kamar Asih. Dia akan tinggal di sana mulai dari sekarang.” Marni kembali mengangguk, sedang kedua tangannya sudah mengepal kuat di belakang tubuhnya. Jelas sekali, jika Lela sudah menjadi pelayan spesial untuk tuannya. Kamar yang ditempati Asih jauh lebih layak dan luas dibanding kamar pelayan lainnya. “Aku sudah mengirimkan uang padamu—lagi- sebagai hadiah karena memberikanku mainan baru. Namun, kamu harus selalu ingat, bahkan beritahu dan tekankan pada semua pelayan, tidak boleh ada yang berani menyakitinya seujung kuku pun. Hanya saya yang berhak menyakiti, juga membuatnya menangis bahkan jika gadis itu sendiri meminta mati pun tidak berhak tanpa seizin saya.” “Baik, Tuan. Akan saya ingat dan jelaskan pada semua teman saya.” Marni kembali membungkukkan badannya sebelum akhirnya menutup pintu ruang kerja Max, berbalik dan mulai melangkah meninggalkan tempat itu. Di sepanjang jalan, otak Marni terus menerka akan sikap sang tuan saat memperlakukan Lela yang baru pertama kali ini dilihatnya—sikap yang tak pernah lelaki itu lakukan pada semua pekerjanya. “Sebenarnya sikap apa yang akan dilakukan tuan pada si Lela ini? Apakah ingin menyiksanya, atau malah memanjakannya?” batin Marni terus menerka. “Tapi, Tuan Max bilang karena dia sangat senang saat melihat si Lela menangis, ‘kan? Itu tandanya si Lela akan terus disiksa, ‘kan?” monolog Marni sambil tersenyum miring. “Haha, lebih baik mati aja di sini sekalian daripada pulang dan mulutnya menjadi ember,” sumpah Marni penuh do'a. “Jika begitu rahasia gua aman sampai kapan pun. Mas Jaka gak akan pernah tahu jika gua punya pacar di sini.” Memiliki pemikiran akan sebuah neraka untuk sang ponakan, Marni melanjutkan langkahnya sambil bersenandung. “Selamat datang di neraka, anak sok suci! Hahaha.” .... “Ini!” “Astaghfirullah.” Lela yang tengah berdo’a selepas shalat magrib langsung berjingkat saat sebuah kotak besar menimpa tangannya yang tengah menengadah. “Udahan do’anya, itu udah diijabah.” “Astaghfirullah, Bibi! ....” “Stop!” Marni mengacungkan telunjuknya, dia tahu pasti apa yang akan dikatakan Lela padanya, dan pastinya akan membuat dia semakin marah dan geram pada gadis di depannya ini. Bukan karena apa, sekarang tidak lagi sama, dia tidak bisa melampiaskan kemarahannya pada Lela sesuka hati seperti sebelumnya. Dia harus menguasai emosinya agar tidak meledak dan mengakibatkan lost control sehingga berakhir dia yang dihukum tuannya. Ingat, Marni, untuk saat ini yang boleh menyiksa si Lela hanya tuan Max seorang. Nanti juga ada waktunya giliran kamu saat tuan sudah bosan padanya. Marni mencoba mengatur napasnya beberapa kali, menghirup lalu mengembuskan—begitu terus sampai deru napasnya sedikit normal. Entahlah! Setiap melihat Lela, amarahnya pasti langsung naik. Marni mendelik ke arah Lela yang tengah merapikan isi kotak yang berceceran karena ulahnya. Namun, beberapa detik kemudian matanya melotot saat melihat sesuatu yang tengah dipegang Lela. Seperti kilat, Marni melesat ke depan dan merebutnya dari gadis itu. Siapa saja tentu akan syok—seperti dirinya- saat melihat jika seragam yang diberikan Max untuk Lela adalah hasil rancangan seorang designer khusus untuk kalangan artis dan pejabat. Bahkan ketika telapak tangannya menyentuh serat kain tersebut, sangat terasa kelembutannya. Meski seragam Lela panjang mirip seperti gamis syar’i, tetapi bahannya begitu ringan dan pasti sangat nyaman dipakai. Dan Marni yakin saat nanti dipakai, bukannya terlihat mirip pelayan, Lela pasti akan terlihat seperti Cinderella. Samar-samar, Marni meremas seragam itu dengan tangan gemetar menahan gejolak panas dalam dadanya. Giginya saling bergeletuk dan rahang mengatup kuat. “Sia*an! Benar-benar si si*lan yang beruntung! Awas saja, Lela. Baju mahal ini hanya untuk pelipur di saat lu terkoyak kesakitan karena permainan tuan nanti. Lihat saja!” Setelah puas meremas seragam Lela, Marni melemparkannya. “Ini, kemasi semuanya termasuk barang-barang butut-mu. Gua udah gerah lihat lu di kamar ini.” “Me—memangnya kenapa harus dike—kemas, Tante?” Marni menyundul kepala Lela. “Dasar idi*t! Memang apa lagi? Pindahlah.” “Me—memang Neng akan pindah k—ke mana?” Mirna mendengus dan mendelik penuh benci. “Mulai besok, kerjaan lu hanya mengurusi semua urusan tuan, termasuk ....” Marni mendekatkan dirinya pada tubuh Lela—tepat dekat telinganya. “Melayani beliau di atas ranjang.” “Astaghfirullah!” jerit Lela sambil menutup telinga. Ya Tuhan, sampai kapan dia akan menjalani hidup seperti ini? Setiap hari—bahkan setiap detiknya, tak pernah dia rasakan sebuah kedamaian dalam jiwanya. Selalu dihantui perasaan takut hingga tak berani untuk memejamkan mata. Ucapan terakhir Marni adalah hal yang paling dia takutkan. Lela terus menggeleng sambil meracau, “Neng mah kajeun maot tibatan kudu masrahkeun diri kanu sanes halalna.” (Neng lebih baik mati daripada menyerahkan diri sama orang yang bukan halalnya.) Seakan tersindir pedas dengan perkataan Lela, Marni menjadi kalap. Dia menampar pipi Lela sampai kepala gadis itu berpaling. Tubuh Lela semakin bergetar, apa lagi saat melihat noda darah yang menempel di ujung jarinya, bahkan ujung pipinya begitu terasa panas sekaligus perih. Mata Lela lagi-lagi tanpa bisa dicegah sudah berderai dengan air yang terasa asin, sesekali dia meringis saat air matanya tak sengaja meluruh pada ujung bibirnya. “Ya Allah, teu kabayang kahirupan abdi tiasa dugika kiyeu,” ratap Lela membatin. (Ya Allah, hamba tak pernah menduga sebuah kehidupan seperti ini.) “Kiatkeun abdi, Gusti. Kiatkeun manah sareng kaimanan abdi!” (Kuatkan hamba, Rabbi. Kuatkan hati dan keimanan hamba!) Melihat air mata Lela, keinginan untuk memukul dalam diri Marni semakin besar, dia kembali melayangkan tangannya ke udara dan bersiap mengayun pada pipi sebelahnya lagi. Namun, tangannya tak kunjung mendarat, karena seseorang sudah memegangnya. Awalnya Marni murka tetapi saat melihat siapa orangnya, nyalinya langsung menciut—meski tetap dia sembunyikan dan tidak diperlihatkan. Dengan dagu terangkat, sambil mengempaskan tangannya dari orang yang mencekalnya. “Kenapa kamu di sini?” Asih tak bergeming dengan pertanyaan sarkas Marni, matanya masih lurus menatap Lela yang tengah terisak sambil memegang pipi kirinya, lalu tatapannya beralih pada Marni. Jangan kira karena dia sudah tua, Asih akan takut pada Marni yang selalu bersikap kasar! “Tuan Max memanggil dan menyuruhmu untuk menemuinya di ruang bawah.” Jantung Marni dalam beberapa detik terhenti, tentu dia tahu arti ruang bawah milik tuannya. Itu artinya dia akan mendapatkan hukuman. Beberapa detik lamanya tubuh Marni menegang kaku, tetapi kembali wanita itu bisa menyembunyikan rasa takutnya dengan sikap arogannya. “Aku sedang menjalankan perintah tuan,” elak Marni sedikit bernada gugup. “Saya yang akan menggantikan tugasmu,” jawab Asih, ujung matanya kembali menatap Lela, lalu kembali menatap Marni. “Tuan tidak suka menunggu. Kamu tahu itu.” Tubuh Marni kini terlihat bergetar, padahal wanita itu sudah sekuat tenaga menyembunyikannya. Dengan angkuh dia berjalan melewati Asih dan Lela yang masih menangis. “Awas saja jika itu hanya akal-akalanmu,” ucap Marni sambil berlalu. Asih menatap kepergian Marni sampai wanita itu menghilang di balik pintu, lalu kembali memperhatikan Lela dan menghampirinya. “Hei, Neng.” Lela menubruk tubuh Asih dan menumpahkan semua ketakutannya lewat tangisannya. Tangannya memegang erat tubuh ringkih itu dengan sedikit gemetar, bahkan baju Asih sudah basah oleh air matanya dalam sekejap. “Kenapa nasib Neng seperti ini, Bi? Apa kesalahan yang pernah Neng lakukan di masa lalu hingga kehidupan Neng yang sekarang sangatlah kejam. Huhuhu.” Asih terus mengusap kepala Lela yang berbalut mukena itu. Hatinya ikut terisis menyaksikan Lela tak berdaya seperti itu. “Sudahlah! Sekarang kamu aman dari tantemu. Sekarang cepat kemasi semua barang-barangmu dan ... hei kenapa malah semakin keras nangisnya?” “Neng gak takut sama tante Marni, Bi. Neng lebih baik tinggal di sini dan mendapat perlakuan kasar darinya, daripada ... daripada ... Neng harus pindah kamar dan menyerahkan kehormatan Neng pada tuan. Neng lebih baik bersihkan semua toilet yang ada di rumah ini, daripada ... harus melayani tu--tuan!” Tepat Lela mengakhiri ucapannya, di saat itu juga kesadaran gadis itu menghilang. Asih menepuk pelan pipi Lela yang sudah tidak berdaya, bahkan suhunya mendadak panas secara drastis. “Tolong!” teriak Asih. Beberapa lelaki bertubuh besar datang menghampiri. Asih langsung meminta salah satu dari mereka untuk membopong tubuh Lela dari sana menuju kamarnya. ..... “Sepertinya dia syok berat,” ucap dokter yang baru saja memeriksa Lela. Matanya menatap Lela sedikit lama lalu beralih pada lelaki di sebelahnya yang entah dari kapan mau repot-repot meneleponnya karena salah satu pelayannya ada yang pingsan. “Heh! Kejam, lu!” tuduh si dokter pada lelaki itu. “Gadis ini masih lugu dan polos. Setidaknya lakukan secara halus, jangan tergesa-gesa apa lagi sampai main tangan segala. Benar-benar parah, lu, Max!” Lelaki yang tak lain adalah Max, langsung mendelik ke arah sang dokter yang tak lain adalah temannya sendiri. Max hanya berdecak, seolah tak terpengaruhi oleh sindiran pria berstatus dokter itu. “Tugas lu itu periksa, bukan sok analisis begitu. Cepat periksa!” Tama—teman sekaligus dokter kepercayaan Max- berdecak sambil berkacak pinggang. “Sudah, Demon. Apa lu gak lihat dari tadi gua periksa dia?” “Tapi kenapa dia gak sadar-sadar?” “Mungkin gak sudi lihat muka lu. Hahaha ... canda muka gak sudi.” Tama menggeleng tak percaya melihat bagaimana sikap Max sekarang. “Lu naksir sama dia, Max?” Max langsung berdiri dan bersiap meraih kerah kemeja Tama, sebelum dengan sigap dokter ganteng—tapi playboy- itu mundur. “Yaelah, gua sengaja biar lu gak usah tegang begitu. Tenang aja, dia hanya perlu istirahat ... mental dan badan.” Tangan Tama dengan lihai menuliskan beberapa resep. “Ini obatnya, berikan saat dia terjaga nanti.” Max langsung menyambar kertas resep itu dan tanpa kasihan, meminta ajudannya untuk menyeret Tama dari kamar Asih. Tentu saja membuat dokter itu mengamuk dalam rengkuhan para bodyguard Max. “Berikan kompresannya!” Asih segera mengulurkan kain lap yang sudah dibasahi oleh air hangat pada tuannya, setelahnya kembali ke belakang sambil tak membiarkan sedetik pun melewatkan momen langka ini dalam kepalanya. Bibirnya berkedut pelan melihat bagaimana cara Max menempelkan kain itu dengan sangat hati-hati seolah takut melukai Lela. Ini kali pertama—setelah kejadian itu, Asih kembali melihat sosok Max yang begitu lembut dan perhatian. Sosok yang selalu Asih rindukan dan berharap akan kembali pada kepribadian tuan mudanya ini. Semoga saja, Tuhan. Lela adalah sosok yang dikirim Tuhan untuk mengembalikan Max--tuan kecilnya yang dulu. Sementara Asih sibuk berdo’a, Max sibuk memperhatikan wajah Lela yang masih terlelap dalam diam. Benar apa yang dikatakan Marni, gadis ini sangat menarik juga cantik, mempunyai bulu mata panjang dan lebat seperti hasil tanam bulu mata, kulit terang kekuningan khas orang Indonesia, hidung mungil meski tidak terlalu mancung, bibir tipis sedikit terbelah, dan dagu yang lancip. Dengan seringan bulu tangan Max menyusuri bagian wajah Lela, dimulai dari kening, hidung, dan terhenti saat tangannya menyentuh pipi kiri Lela yang sedikit besar dari pipi kanannya. Mata Max juga terpaku pada ujung bibir Lela yang sobek. Max menggeram marah, giginya sudah menggeletuk saling bergesekan. “Marni sial*n!” geramnya sambil beranjak dan berlalu pergi dari sana. Max berjalan dengan langkah tenang, tetapi siapa pun yang mengenalnya pasti tahu, jika itu tandanya sebuah bencana akan datang. Max dan ketenangannya adalah signal untuk badai yang besar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD