Biar Kuredakan Panasnya (18+)

1015 Words
Vailea menggelengkan kepala dengan cepat. Gadis itu masih berusaha menolak tawaran Sen Corazon yang membahayakan keselamatannya sendiri. Karena penolakan itu, Sen tidak bisa bersabar lagi. Segera dia membuka pintu mobil. Tak lupa dia menggendong Vailea keluar bersamanya. “Tu-turunkan aku!” teriak gadis itu dengan kencangnya. Berharap akan ada orang yang peduli dan menyelamatkan dirinya. Namun sayang, perhitungan Vailea salah. Sebab Hendrick tidak memarkir mobilnya di tempat parkir biasa yang penuh dengan kendaraan. Hendrick sengaja menggunakan tempat parkir privat yang diperuntukkan bagi anggota keluarga Corazon. Tempat parkir privat itu tersebar di seluruh mall, perusahaan, hotel, dan tempat publik lain di bawah naungan Corazon Group. Menyadari kenyataan tersebut, Vailea salivanya kasar. Lalu dengan pandangan gusar, gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencoba mencari seseorang yang bisa dimintai bantuan. “Kau mau teriak pun percuma. Tidak ada orang selain kita bertiga,” ujar Sen, merujuk pada dirinya sendiri, Vailea, dan Hendrick. Hendrick berdehem sebentar mendengar ucapan Tuannya. Setelahnya dia berkata, “Mari, Tuan Sen. Saya akan membukakan akses untuk Anda.” Sen mengangguk setuju. Lelaki itu kemudian berjalan tepat di belakang Hendrick. Persis bagai seekor anak ayam yang mengekor induknya. “Ti-tidak mau! Aku tidak mau ikut!” seru Vailea sambil memukul-mukul punggung Sen. Sen membiarkan ulah Vailea tanpa menegurnya sama sekali. Lelaki itu benar-benar tidak peduli kalaupun Vailea membuatnya terluka atau pun merasakan sakit. Yang dia pedulikan hanya keterangan dari gadis itu, tidak ada yang lain. Setelah menyusuri lorong, sampailah mereka bertiga di sebuah kamar. Akan tetapi, Hendrick tidak ikut masuk. Dia yang bertugas menutup pintu dan berjaga di depannya. “Keluarkan aku! Aku tidak mau berdua dengan lelaki menyebalkan sepertimu!” rengek Vailea sambil mencoba melepaskan diri dari gendongan Sen. Sen melirik sebentar ke arah Vailea. Kemudian lelaki itu berkata lirih, “Kau sudah tidak sabar untuk kulepaskan, rupanya.” Perasaan Vailea langsung tidak enak begitu mendengar ucapan Sen Corazon. Dan ternyata, firasatnya benar. Sebab tak lama setelah mengucapkan hal itu, Sen melemparkan dirinya dengan kasar ke peraduan. “Auw!” ringisnya sambil memejamkan kedua mata. Sen mengembangkan senyum manis melihatnya. Lelaki itu lantas ikut naik ke peraduan dengan posisi mengunci Vailea. Dia tentunya tidak membiarkan Vailea lepas begitu saja meski mereka sudah berada di kamar tertutup yang notabene-nya mustahil bagi Vailea untuk kabur. Dari jarak yang dekat dan penerangan yang lebih baik, Sen terpaku di tempatnya untuk sesaat ketika melihat kecantikan Vailea. Suatu tempat di hatinya bergejolak. Mengatakan kalau dia ingin memiliki gadis itu …. walau untuk satu malam. “Sadar, Sen!” pekiknya kemudian di dalam hati. Sen berhasil menyadarkan dirinya sendiri sebelum terlarut lebih dalam pemikirannya. Lelaki itu lantas menggeleng-gelengkan kepala dan bertanya, “Mau bercerita padaku, atau kau akan aku serang sekarang?” Vailea langsung berteriak, “Aku tidak tahu apa-apa, sungguh!” “Kau cukup mengatakan padaku, apa saja yang kau lakukan sebelum mengantarkan wine itu padaku. Kenapa kau sangat bandel? Jangan buat aku berpikir kalau kau memang pelakunya!” Sen sudah kehilangan kesabarannya menghadapi Vailea. Lelaki itu menyorot tajam pada gadis dalam kungkungannya seraya berujar kesal, “Kau harusnya bersyukur karena aku tidak memperlakukanmu layaknya tawanan! Biasanya, aku mengikat mereka dan sesekali menyakiti mereka dengan rokok atau cambuk!” Mendengarnya saja, Vailea jadi ngeri sendiri. Gadis itu kembali mereguk salivanya. Gusar dan takut kalau dia akan diperlakukan sama dengan para tawanan. “Jadi selagi aku berbaik hati, ceritakan padaku!” paksa Sen. Kali ini, Vailea mengangguk setuju. Sen yang mendapat persetujannya pun berangsur tenang. Segera dia pergi dari hadapan Vailea. Beralih duduk santai di sampingnya untuk menyimak pengakuan gadis itu. Vailea tidak langsung bercerita. Yang pertama gadis itu lakukan adalah bangkit. Dia tidak nyaman bila berbaring di dekat seorang lelaki. Terlebih, mereka tidak mengenal satu sama lain. Setelah menemukan posisi yang nyaman, barulah Vailea memulai ceritanya, “Saya bekerja seperti biasa, Tuan. Mondar mandir mengantarkan pesanan tamu VIP hingga akhirnya saya diminta mengantarkan wine Zorachia premium ke kamar Tuan.” “Kalau Tuan meragukan kesaksian saya, Tuan bisa mengecek CCTV. Dengan situasi ini, saya yakin Mrs. Izora akan mengabulkan permintaan Anda untuk melihat CCTV,” pungkas Vailea dengan napas terengah-engah. Vailea kemudian merunduk sambil menjambak rambutnya sendiri. Dia berusaha meredakan rasa pusing yang ditimbulkan obat sialan itu. Untuk rasa panas, sudah lumayan berkurang akan keberadaan AC. Menyadari keaadan Vailea yang memburuk, Sen bergerak cepat. Lelaki itu menarik tangan Vailea hingga jatuh dalam pelukannya. “Tu-tuan … jangan. Tolong pergi, lepaskan saya,” pinta gadis itu. Vailea mulai memahami, obat apa yang dicampurkan dalam wine. Jadi sebisa mungkin, dia menghindari kontak dengan lelaki. Sebab sentuhan mereka akan terasa sangat memabukkan. Vailea takut dia akan melewati batasnya. Mendengar permintaan Vailea tersebut, Sen bertanya, “Lupa pada kesepakatan kita? Kalau kau menceritakan segalanya padaku, aku akan membantumu lepas dari rasa panas dan pusing yang membuatmu tersiksa.” Vailea mengangkat pandangannya. Menemukan keseriusan di mata Sen. Melihat pandangan Vailea yang dirasanya begitu menggoda, Sen tidak tahan lagi. Lelaki itu pun bertanya,"Bagaimana pun, aku yang sudah memaksamu meminum wine itu. Aku harus bertanggung jawab, ‘kan?” Pelahan, lelaki tampan itu mendorong tubuh Vailea. Namun kali ini, Sen tidak melepaskannya atau melemparkannya dengan kasar. Kedua tangannya bahkan masih berada di punggung dan pinggang Vailea setelah dia berbaring sempurna di atas peraduan. “Kenapa aku tidak bisa menolaknya? Apa dia menyelipkan mantra di ucapannya barusan?” bingung Vailea di dalam hatinya. Sementara itu di hadapannya, Sen sibuk mengagumi kecantikan Vailea. Dia terkesan dengan cara Vailea mempertahankan kesegaran wajahnya meski pekerjaannya menguras tenaga. Sen berkata lirih, “Daripada menjadi pelayan di restoran, lebih baik kau menjadi pelayan di sini. Aku bisa memberimu gaji yang lebih tinggi dan … kau tidak perlu melayani banyak orang. Cukup layani aku.” “Hah? Apa? Dia mengatakan kalau dia akan merekrutku? Yang benar saja!” heran Vailea. Melihat pandangan keterkejutan Vailea, Sen merasa sangat kesal. Lelaki itu pun memajukan wajahnya. Nekat memberikan kecupan di bibir Vailea untuk merebut perhatiannya. Sen juga membatin sebal, “Kenapa tidak menjawab? Apa bekerja denganku adalah ide yang buruk menurutmu? Sial sekali!” Sambil menggerutu, Sen menuntun permainan mereka menjadi lebih panas dari sebelumnya. Hingga akhirnya, mereka berdua memasuki pintu menuju surga sementara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD