Ceritakan Padaku

1044 Words
Dengan nakal, Sen menggigit bibir Vailea. Sontak saja perbuatannya itu membuat Vailea membuka kedua mata. Sepersekian detik setelahnya, manik gadis itu hampir menggelinding dari tempatnya. Vailea terkejut mendapati Sen Corazon yang begitu dekat dengan dirinya. Bahkan dalam jarak sedekat ini, dia bisa merasakan embusan napas Sen dan juga kehangatan bibirnya. “S-sen? Sejak kapan dia?” Pelayan cantik itu sungguh tidak menyadari kalau tadi, dia yang menabrakkan bibirnya pada Sen. Makanya sekarang, dia bingung sendiri dengan kedekatan mereka yang tidak wajar. Pada saat bersamaan, Sen membuka kedua mata. Maniknya menangkap kebingungan di wajah Vailea. Ekspresi yang membuat gadis itu terlihat tambah imut. Memejamkan matanya dengan kesal sembari merutuk di dalam hati, “Sialan!” Dengan penuh pertimbangan, Sen memundurkan wajahnya untuk melepas tautan bibir mereka. Gerakan yang tiba-tiba itu sukses membuat Vailea terkejut. Vailea refleks mengenggam erat kemeja Sen karena takut terjatuh. “Tadi kau terlihat kaget, padahal kau yang memulainya. Sekarang, kau ingin melanjutkan permainan kita? Huh! Dasar plin-plan!” omel Sen. “Me-memulai apa? Jangan sembarangan! Aku tidak memulai apapun!” teriak Vailea sambil memukulkan tangannya di bahu Sen. Gadis itu kemudian melanjutkan, “Lagipula barusan, aku menggenggam bajumu untuk aku jadikan pegangan! Kenapa kau selalu salah paham dengan semua yang kulakukan?” “Dasar pria menyebalkan!” seru Vailea sembari bangkit. Gadis itu duduk tepat di samping Sen dengan wajah cemberutnya. Dia begitu kesal karena setiap saat, Sen menyalahkan dirinya. Seakan dia orang yang paling salah di sini. Melihat ekspresi sebal Vailea, Sen rasanya ingin tertawa. Akan tetapi, lelaki itu gengsi untuk tertawa saat ada Hendrick. Sen lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Mencoba menemukan sesuatu yang menarik di sana. “Mereka lucu,” komentar Hendrick di dalam hati sambil terus melajukan mobilnya. “Eh, tunggu dulu! Apa dia sudah lupa akan ancamannya tadi? Kupikir, dia akan benar-benar melaporkan aku dan Tuan Sen ke polisi. Ternyata itu cuma gertakan,” lanjut lelaki itu. Tanpa hambatan, Hendrick melajukan mobilnya di tengah kegelapan malam. *** Beberapa saat kemudian, Vailea merotasikan bola matanya. Gadis itu langsung membulatkan mata saat menyadari mobilnya bergerak. Segera Vailea berseru, “Kalian sedang membawaku kemana? Berani sekali! Tuntutanku pada kalian akan bertambah dengan dugaan penculikan!” “Ck, mulai lagi!” kesal Sen sambil mencebikkan bibir. Lelaki tampan itu kemudian menyambung, “Padahal, rasanya seperti surga saat kau diam tanpa suara. Tidak ada suara mengerikan yang masuk ke telingaku.” Vailea yang mendengarnya mendengus kesal dan berujar, “Wajar saja! Aku ini sedang melindungi hakku. Kau tidak perlu mendebatnya!” “Hendrick, bisa kau matikan tape rusak itu?” sindir Sen sambil melipat kedua tangan di d**a. “Tape rusak? Berani sekali!” geram Vailea sambil memukulkan tangannya di bahu Sen. Sen merotasikan bola matanya malas. Lelaki itu membiarkan Vailea melakukan apa yang dia suka. Sampai akhirnya, gadis itu lelah sendiri dan menghentikan aksinya. Menyadari frekuensi pukulan Vailea yang menurun, Sen mengembangkan senyum sinis sembari bertanya, “Sudah puas?” “Diamlah!” Vailea menyahut dengan suara lemahnya, seperti tidak bertenaga. Adapun kepalanya terasa pening, seperti orang yang mabuk kendaraan. Suhu di sekitar yang semula dingin berkat keberadaan AC, perlahan berubah panas. Seperti berada di neraka. Mendengar jawaban yang lemah tersebut, Sen tersentak. Langsung saja lelaki itu memusatkan pandangannya pada Vailea. Melihat pipinya yang mulai merona merah. “Apa rasanya enak? Ini yang akan terjadi kalau aku dan Hendrick meminumnya tadi,” ujar Sen. Mendengar ucapan Sen tersebut, Vailea menoleh dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Gadis itu memperlihatkan tatapannya yang sayu pada Sen. Mengembangkan senyum sinis, Sen kemudian merangkum pipi Vailea. Jemarinya itu bermain-main sebentar di sana. Mengukir gambaran abstrak yang tidak dapat dibaca. “Asal kau tahu, wine yang kau antarkan tadi itu sudah dibubuhi dengan obat yang mampu meningkatkan gairah. Aku dan Hendrick bisa mengenalinya dengan baik karena kami sudah dilatih untuk menghindari segala macam racun dan obat sialan itu. Jadi jangan heran kalau kami mampu mengenalinya dan langsung menginterogasimu,” cerita Sen, tidak peduli kalau Vailea tidak terlalu mendengarkan dirinya. “Jadi sekarang, apa kau akan mengaku kalau kau yang membubuhkan obat itu dalam minuman kami, Nona Pelayan?” Sen bertanya dengan penuh kelembutan. Sebisa mungkin, lelaki itu ingin mencuri perhatian Vailea. Dengan begitu, dia akan mendapatkan informasi dengan mudah. Vailea menggenggamkan tangannya di bahu Sen. Lalu dengan mata terpejam, gadis itu berkata, “Aku tidak tahu apa-apa.” “Benarkah?” interogasi Sen lagi sambil menarik punggung Vailea. Tubuh Vailea pun merapat pada Sen. Bahkan kening mereka bersentuhan satu sama lain. “Kalau begitu, bisa kau ceritakan padaku tentang apa yang kau lakukan sebelum mengantarkan wine padaku? Aku penasaran,” tanyanya lagi. Sen benar-benar berniat mengorek informasi. Vailea menggeleng-gelengkan kepala sambil berkata, “Pusing.” Mendengarnya, Sen merotasikan bola matanya ke atas. Sebal karena Vailea tidak mudah membuka mulut. Agaknya, perlu usaha ekstra untuk membuat gadid itu angkat bicara. “Mau kubantu meredakan rasa pusingnya?” tawar Sen dengan seringainya. “Mana bisa kau membantuku. Yang bisa kau lakukan hanya memberiku obat pusing,” ujar Vailea, meremehkan Sen Corazon. “Yakin?” Sen bertanya sambil mengusapkan jemarinya di bibir Vailea. Dalam sekejap, rasa panas yang dirasakan Vailea berkurang. Hal itu pun membuat Vailea mengernyitkan dahi. Sebab rasa pusingnya juga mulai menghilang. Melihat Vailea memandangnya penuh keheranan, bibir Sen Corazon menampilkan senyum penuh kemenangan. Lelaki itu lalu berkata, “Bagaimana? Rasa pusingnya berkurang, ‘kan?” “Sial!” umpat Vailea di dalam hatinya. “Jadi, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan? Kau memberitahuku mengenai apa saja yang kau lakukan di restoran dan aku akan membantumu lepas dari rasa pusing dan panas yang kau rasakan ini.” Vailea mengepalkan kedua tangan begitu mendengar penawaran Sen. Sebab sebagai seorang perempuan, harga dirinya seperti diinjak-injak. Menyadari Vailea tak akan menyetujui penawarannya hanya berbekal kata-kata, Sen Corazon berinisiatif untuk memajukan bibirnya. Dia memberikan belaian di leher Vailea. Membuat gadis itu berusaha keras mendorongnya untuk menjauh. “Jangan sok menolak kalau kau membutuhkannya.” Tangan Sen mulai membuka kancing seragam kerja Vailea yang paling atas guna menurunkan kerahnya. Sen ingin menjelajah leher Vailea dengan leluasa, tidak ingin terhambat seperti tadi. Vailea sama sekali tidak bisa melawan. Yang bisa dia lakukan hanya membiarkan Sen bermain-main di sana. Menimbulkan bekas merah yang sialnya membuat hawa panas yang dirasakan Vailea berkurang. “Jadi bagaimana? Apa kau masih menolak penawaranku tadi?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD