“Tidak mau!” tolak Vailea dengan segenap kekuatannya.
Pelayan berwajah cantik itu memandang penuh kemarahan pada Sen Corazon dan melanjutkan perkataannya, “Bagaimana aku bisa tahu kalau aku tidak mencampurkan sesuatu dalam wine yang kau pegang?!”
Mendengar pertanyaan yang menggelikan tersebut, Sen Corazon tertawa kecil. Setelahnya dia berujar, “Kau bisa memeriksa CCTV untuk membuktikan bahwa aku tidak menambahkan apa-apa pada wine yang kau letakkan di meja.”
“Aku tidak bisa minum minuman seperti itu!” dalih Vailea lagi.
“Minuman yang seperti apa?” Sen bertanya dengan sebelah alis mata yang dinaikkan. Mulai curiga kalau Vailea adalah pelakunya.
“Minuman setan yang sedang kau bawa, bodoh!” umpat gadis itu.
Vailea sudah tidak peduli kalau dia akan mencoreng nama Hoshizora Restaurant, tempatnya menggantungkan kehidupan sejak dia lulus dari SMP. Bahkan berbekal gaji bulanan dan bonus yang didapat, dia dapat membiayai kuliahnya hingga S1. Vailea baru lulus beberapa bulan lalu dan sedang menunggu hasil dari lamaran pekerjaannya di sebuah perusahaan.
Sementara itu, tawa Sen semakin kencang. Vailea jadi sebal sendiri. Sebab sosok lelaki sinting di hadapannya seakan tidak menghargai dirinya sama sekali.
“Aku tidak peduli kau menyukainya atau tidak, pernah meminumnya atau tidak! Yang jelas sekarang, aku harus memastikan kalau wine ini memang sudah dicampur dengan sesuatu. Untuk memastikannya, aku harus meminumkannya pada orang yang sudah mengantarkan wine ini! Itu risiko yang harus kau hadapi, b*****h kecil!” sentak Sen kemudian.
Nyali Vailea menciut dengan segera. Gadis itu terlihat sangat ketakutan mendengar ucapan Sen. Bahkan, sebutir keringat dingin mulai meluncur turun. Membasahi pipi putihnya.
Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Sen untuk mencengkeram leher Vailea. Gadis itu langsung memukul-mukulkan tangannya dengan kencang di bahu Sen. Adapun mulutnya terbuka lebar. Sudah mirip dengan seekor ikan yang hampir kehabisan napas di daratan.
“Le-lepas,” pintanya lirih.
Sen tentunya tidak mau mendengarkan permintaan Vailea. Malah lelaki itu mendekatkan botol wine. Perbuatannya itu membuat Vailea membelalakkan kedua mata dan menyadari sesuatu.
Membatin curiga, “Jangan-jangan, dia mencekikku seperti ini untuk … ”
“Ugh!”
Minuman hasil fermentasi anggur itu menyapa indra perasa Vailea. Membuatnya refleks memejamkan kedua mata dan berusaha memuntahkannya.
Sen yang melihat upaya terakhir Vailea pun mendengus kesal sembari memperingatkan, “Jangan buat aku melakukan hal yang lebih dari ini, sialan!”
Vailea tidak mau mendengarkan ucapan Sen. Gadis itu berusaha keras menyemburkan wine yang masuk ke mulutnya. Takut kalau dia akan meregang nyawa dalam segera.
“Aku sudah memperingatkanmu!”
Usai mengatakan itu, Sen menampung sedikit wine di mulutnya. Lalu tanpa menelannya, lelaki tampan berambut pirang tersebut memajukan wajahnya. Mendaratkan bibir merahnya pada bibir Vailea.
Tengkuk Vailea meremang dengan segera. Sebagai akibatnya, gadis itu tidak sengaja membuka mulutnya. Memberikan akses bagi Sen untuk meminumkan wine tersebut.
“Ti-tidak enak!” komentar Vailea di dalam hati ketika rasa itu kembali menyapa.
Namun kali ini, Vailea tidak bisa menyemburkan wine-nya lag karena bibir Sen menghalangi. Lelaki itu benar-benar niat untuk menunjukkan pada Vailea kalau wine yang dia bawa itu sudah tercemar oleh sesuatu.
“Kenapa aku juga jadi panas begini, sialan?!” umpat Sen Corazon ketika mati-matian bertahan menghadapi Vailea yang bergerak seperti cacing kepanasan.
Sen mengepalkan tangannya dengan kencang. Lalu dengan penuh pertimbangan, lelaki itu memundurkan wajahnya. Membuat Vailea menoleh ke kanan dan memuntahkan sisa wine yang belum tertelan. Adapun hidungnya kembang kempis, menghirup oksigen yang sedari tadi tidak bisa masuk karena tertahan cekikan Sen.
Vailea berkata di dalam hati, “Dia benar-benar pria yang kurang waras!”
“Baiklah. Karena sekarang kau sudah meminumnya, kau tidak boleh pergi dari sisiku selama duapuluh empat jam ke depan. Aku harus mengawasimu untuk mengetahui apakah benar ada sesuatu yang dicampurkan dalam wine ini,” ujar Sen, bertingkah dia tidak terpengaruh dengan rasa panas yang sempat dia rasakan ketika mengunci bibir Vailea.
Kali ini, Vailea tidak membalas apa-apa. Gadis itu hanya menitillan air mata. Sebab dia tahu, meneriaki Sen merupakan perbuatan yang sia-sia. Lelaki sialan itu tidak akan mendengarkan dirinya. Jadi, Vailea memilih untuk menyimpan tenaganya.
“Ternyata kau bisa diam juga,” komentar Sen kemudian.
Lelaki itu kemudian mencondongkan tubuhnya. Tangannya mengelus lembut rambut lebat nan lembut milik Vailea. Lantas, dia mengurainya sejumput untuk dikecup.
Melihat kejadian mencengangkan tersebut, Vailea membelalakkan mata untuk kesekian kali. Dia sama sekali tidak terima diperlakukan seperti ini.
“Dasar rendahan!” umpat Vailea lantang.
Tidak hanya Sen Corazon yang tertegun mendengar teriakan tersebut, tetapi juga Hendrick yang baru saja membuka pintu depan. Lelaki itu sudah menyelesaikan pertarungannya dengan rekan kerja Vailea. Sekarang, dia menghampiri Tuannya untuk memastikan dia baik-baik saja.
“Diam!” seru Sen, tak kalah lantangnya. Bahkan telinga Hendrick nyaris pekak karenanya.
Mendengar suara Sen yang menggegelegar bagaikan guntur, lagi-lagi Vailea kehilangan keberaniannya. Yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah diam di tempat sambil memandangi Sen yang bernapas terengah-engah dengan pandangan sayu. Lelaki itu seperti mengantuk setelah mengikuti lomba lari.
Hendrick yang menyadari keanehan perilaku Tuannya itu langsung bertanya dengan mata membola, “Tuan meminum wine-nya juga? Astaga!”
“Eh?”
Sen baru sadar. Meski dia memberikan semua wine di mulutnya pada Vailea, ada sisa yang tertinggal. Dan sepertinya, dia tidak sengaja menelannya!
Mendengar ucapan Sen tersebut, Hendrick mendengus kesal dan mengomel, “Tuan bodoh!”
“Heh! Berani sekali kau mengatakan itu padaku! Aku tidak bodoh, aku terpaksa melakukannya karena dia tidak mau buka mulut!” sebal Sen.
“Me-melakukan apa?”
Kali ini, Hendrick bertanya dengan suara yang lebih lunak dari sebelumnya.
Sen keceplosan menjawab, “Memberikan wine menggunakan bi—”
Belum sempat Sen menyelesaikan ucapannya, lelaki itu dibuat terkejut dengan tangan Vailea yang tiba-tiba melingkar di lehernya. Sehingga sekarang, wajah mereka berdekatan satu sama lain. Bahkan bisa diblilang, nyaris tidak berjarak.
“A-apa yang kau lakukan?” tanya Sen sambil mencengkeram jasnya dengan erat.
“Kalau kau sampai melanjutkan ucapanmu, aku akan menamparmu!” ancam Vailea lirih.
Mendapat jawaban yang sama sekali tidak dia sangka sebelumnya, Sen merasa terhina. Gadis rendahan seperti dia berani mengancamnya.
“Memangnya kau siapa, hah? Berani sekali kau mengancamku seperti ini!” geramnya.
Vailea menjawab tegas, “Pelayan Hoshizora Restaurant yang akan melaporkan kalian ke polisi atas dugaan penyerangan, pelecehan, dan percobaan pembunuhan!”
Mendengarnya, Hendrick langsung panik. Lelaki itu segera menginjak pedal gas, membuat mobil yang dikendarainya ini melompat ke depan.
“Auw!” teriak Vailea yang kehilangan kesimbangannya.
Tanpa sengaja, Vailea menautkan bibirnya dengan milik Sen. Sosok lelaki di hadapannya pun membulatkan mata dengan segera. Sebab sentuhan kecil dari Vailea itu sukses membuat akal sehatnya menghilang dalam sekejap mata.
“Kau … tunggu saja! Aku akan memberimu pelajaran,” bisiknya di dalam hati dengan sorot mata setajam elang.