Bab 14, pasangan baru 2...

1700 Words
Hari sudah menjelang malam namun Marshal belum juga kembali. Lea berjalan mondar mandir dengan hp ditangannya. Lea tampak berfikir keras untuk menelfon Marshal karena takut mengganggu dan membuat Marshal marah padanya tapi jika tidak ditelfon Lea tidak tahu harus melakukan apa. Haruskah Lea tidur disitu saja mengingat rumah tersebut sudah siap huni kecuali dengan bahan makanan yang memang tidak ada. Lea bisa menahan lapar atau memesan makanan lewat aplikasi. Sebenarnya Lea bisa juga memesan taksi untuk pulang tapi yang ia fikirkan adalah jawaban yang harus ia berikan saat bertemu dengan penghuni rumah yang lain tentang keberadaan Marshal dan alasan kenapa mereka tidak pulang bersama. Lea tidak mau terlihat semakin menyedihkan saat mengatakan yang sebenarnya terjadi pada yang lain. Lea masih menimbang apa yang akan ia lakukan. Menelfon Marshalkah dengan kemungkinan kena marah atau memesan taksi untuk pulang atau menginap saja sekalian. Setelah Lea fikir-fikir sepertinya ia berani tidur sendiri karena saat datang tadi ia melihat rumah dikiri kanannya sudah ada penghuninya. Mungkin sebaiknya ia memutuskan untuk menginap saja. Rasanya pilihan yang cukup baik juga mengingat ia jadi punya banyak waktu untuk merenung. Lea menuju salah satu kamar yang sudah dilengkapi dengan furniture untuk merebahkan tubuhnya disana. Sebelum memesan makanan ia ingin tidur saja. Jiwa dan raganya merasa kelelahan. Baru saja membaringkan tubuhnya, Lea harus bangkit lagi untuk meraih hp nya yang berbunyi. Lea mengeluarkan hpnya dari dalam tas selempang yang tadi dibawanya dari rumah. Meski sedikit namun Lea sempat berharap kalau Marshal yang menelfonnya tapi ternyata bukan. Nama Antonio yang terpampang dilayar ponsel androidnya. " halo..." " kamu dimana?" " di rumah, kenapa memangnya?" tanya Lea heran. Tidak biasanya Antonio menelfonnya dengan nada khawatir. " rumah yang mana? aku dirumah tante sekarang dan kamu tidak ada disini." " aku sedang di rumah Marshal... hm maksudku rumah Marshal yang baru." " kamu sendirian disana ?" " iya..." jawab Lea meski semakin heran dengan arah pertanyaan Antonio. " kamu tunggu saja, aku akan segera kesana." ucap Antonio sebelum mematikan telfonnya membuat Lea tidak sempat melarangnya. Tidak butuh waktu terlalu lama sampai Lea mendengar bel dari pintu depan. Jaraknya memang tidak terlalu jauh menurut Papa Marshal saat membicarakan rumah tersebut. Tidak jauh bukan berarti Lea bisa dengan mudah untuk menghapal nama jalan dan mencari jalan untuk pulang. Lea masih butuh banyak waktu untuk tahu nama- nama jalan dan rute tempat tinggalnya. " Kamu sudah datang?" tanya Lea menyambut kedatangan Antonio. Antonio cuma tersenyum tipis tanpa menjawab," Mau pulang sekarang?" tanyanya diluar dugaan. Lea menatap Antonio lekat. " Kalau kamu masih merasa sungkan padanya kamu bisa meminta tolong padaku. Kamu tidak sendirian disini, ada aku dan yang lainnya yang bisa bantuin kamu." Lea tidak bisa mengalihkan tatapannya dari Antonio, tentu saja ia jadi tersentuh mendengar ucapan penuh perhatian dari saudara sepupu suaminya itu. Baginya, Antonio bukanlah saudara iparnya tapi lebih kepada sahabat yang mengerti perasaannya. " Terima kasih..." ucap Lea tulus. Antonio mengangguk sambil tersenyum," Ayo kita pulang." ajaknya yang diangguki oleh Lea. Setelah mengunci pintu, Lea pun menyusul Antonio ke mobil yang sedang terparkir di halaman. " Mau makan dulu sebelum pulang?" tanya Antonio sambil mengemudi. " Boleh." jawab Lea segan tapi lebih segan lagi jika nanti harus langsung makan setiba dirumah. Perutnya sudah kembali ke mode normal alias tahu jam makan seperti biasanya. Antonio membawa Lea makan di sebuah warung pecel lele. " Bagaimana rumahnya, kamu suka?" tanya Antonio membuka pembicaraan sambil menyantap makanannya. " Rumahnya bagus." kata Lea tidak menjawab rasa penasaran Antonio. Lea juga tidak merasa harus menyukai rumah tersebut. Pasti lebih mudah baginya untuk tidak memiliki keterikatan pada seseorang atau barang yang baru ditemuinya agar tidak sulit disaat harus melepaskannya. Rasa suka bahkan cinta sepihak saja tidak akan cukup menjadi pondasi rumah tangga mereka. Perlu kesepakatan dua orang untuk membuat hubungan mereka bisa berlangsung lama. Sampai saat ini belum ada pembicaraan serius kearah sana. Masih butuh waktu dan ruang untuk memahami maunya mereka. " Rumahnya memang bagus, Om Bryan tidak mungkin memberikan rumah yang biasa saja pada anaknya." kata Antonio geli. Lea mengangguk sambil tersenyum. Setiap orangtua pasti akan memberikan yang terbaik pada anaknya. " Maksudku kira - kira buat kamu betah nggak rumahnya?" " Nggak tahu, mungkin lihat nanti saja. Bukan masalah rumahnya juga, kamu sendiri tahukan seperti apa rumah orangtuaku di kampung, hanya rumah sederhana tapi sangat nyaman buatku." ucap Lea dengan pandangan menerawang membuat Antonio merasa sudah salah memilih topik pembicaraan. Pertanyaannya pasti membuat Lea kembali teringat kepada orangtuanya yang telah tiada. Antonio yang awalnya ingin menghibur Lea yang ia tahu pasti sedang sendirian karena Marshal sedang sibuk dengan Naomi, malah turut membuat Lea bertambah sedih dengan cara yang berbeda. Terkutuklah mulutnya yang cenderung ceplas ceplos saat bicara. Kebiasaan berbicara dalam keluarga besarnya memang begitu. Mereka dibiasakan sejak kecil untuk bicara dan mengemukakan pendapat dengan berani. Dalam hatinya, Antonio juga semakin menyalahkan Marshal yang masih saja lebih memprioritaskan Naomi ketimbang Lea. Jika terus begini, jangan salahkan Antonio yang akan mencap Marshal sebagai pecundang dan pengecut! Laki- laki macam apa yang mundur dari janjinya sendiri. Harusnya Marshal tahu bahwa akibat dari sikap sok pahlawannya kala itu akan berbuntut panjang dan harus ia pertanggungjawabkan seumur hidupnya. Antonio menatap Lea dengan prihatin. Sejak malam naas itu tidak pernah seharipun Antonio lewati tanpa memikirkan nasib Lea. Hatinya selalu menghiba setiap melihat wajah muram wanita yang ada didepannya ini. Harusnya Lea bisa sedikit berbahagia dengan status barunya, menjadi isteri dari pria pujaannya namun lihatlah yang terjadi, bukannya kebahagiaan dan jaminan masa depan cerah yang dia dapatkan malah pengkhianatan dari suaminya sendiri. Memang tidak bisa dipungkiri kalau Marshal tidak memiliki perasaan cinta pada Lea tapi tetap saja tidak bisa menghilangkan fakta kalau keduanya sudah menikah. Ada ikatan sakral yang harus mereka jaga. " Jangan mengasihaniku." celetuk Lea tiba - tiba," tatapanmu yang seperti itu membuatku merasa semakin tak berdaya." Antonio membuang wajahnya gusar. Bagaimana mungkin ia tidak mengasihani Lea sedangkan ia tahu apa yang telah terjadi. " Aku tidak selemah yang kamu fikirkan." kata Lea berusaha tersenyum," aku hanya butuh waktu lebih lama dari yang lainnya." yakinnya pada diri sendiri. Antonio berusaha ikut tersenyum melihat tekad yang coba dibangun oleh Lea. " Kamu memang seharusnya kuat,Lea...Lihatlah makanmu sekarang sudah banyak." kelakar Antonio menunjuk piring Lea yang sudah kosong. Lea jadi tergelak mendengar sindiran Antonio. Tanpa ia sadari makannya jadi lahap karena ditemani oleh seseorang yang menyenangkan seperti Antonio. " Makanannya enak, lain kali traktir lagi ya?" ucap Lea tak punya malu. Lea memang senyaman itu saat bersama Antonio. Antonio mengangguk," kalau cuma makan dipinggir jalan aku sanggup bayarin kamu tiap hari." ujarnya. " Dih, mentang - mentang punya uang banyak," cibir Lea," hasil merampok uang orang tua apa hebatnya?" Antonio menatap Lea pura - pura marah," Sembarangan! aku tuh kerja sama mereka bukan minta doang." elaknya serius. Tanpa dijelaskanpun Lea sudah tahu kalau Antonio memang bekerja pada orangtuanya. Hanya karena lagi berniat untuk menjahili Antonio saja makanya ia berkata seperti itu. Setelahnya Lea dan Marshal menghabiskan waktu dengan obrolan ringan saja. Selepas isya barulah Antonio mengantar Lea pulang. " Baru pulang?" tanya Marshal saat Lea baru masuk kamar. Lea hanya mengangguk sekilas sebelum berlalu ke kamar mandi. Marshal yang merasa dicuekin oleh Lea hanya bisa menatap tubuh Lea yang menghilang dibalik pintu dengan mencoba bersabar. Marshal tidak mau emosinya jadi terpancing mengingat sebelumnya ia tidak menemukan keberadaan Lea saat ia datang menjemputnya. Hp Lea tidak bisa dihubungi makanya Marshal memutuskan untuk menelfon mamanya. Mamanya sendiri tidak tahu Lea kemana. Lewat Omanya barulah Marshal tahu kalau Antonio yang pergi menjemput Lea. Jika Lea bisa menelfon, kenapa bukan dirinya yang dia telfon. Kenapa harus Antonio yang dia mintai tolong. Jangan salahkan Marshal yang berfikir jika Lea sedang berusaha membalas dendam padanya lewat Antonio. Wanita itu tidak sepolos yang Marshal fikirkan. Bisa - bisanya dia memanfaatkan saudaranya sendiri. Jangan sampai hubungan mereka rusak karena kehadirannya. Lea keluar dari kamar mandi dengan penampilan lebih segar karena sudah selesai mandi dan bertukar pakaian. Seolah tidak terganggu dengan keberadaan Marshal ditempat yang sama dengannya, Lea pun berbaring ditempat tidur. Perutnya memang sudah kenyang tapi tubuhnya jadi lebih lelah karena tadi urung tidur karena kedatangan Antonio. " Kenapa kamu matikan hp?" tanya Marshal menuduh," Aku jadi terlanjur jemput kamu." " Aku nggak matikan hp." jawab Lea tanpa menoleh. " Cckk..." decak Marshal kesal mendengar kebohongan Lea," Kenapa harus berbohong, kalau memang kamu ingin pulang bareng Antonio kamu tinggal bilang saja, aku nggak akan larang kok." " Aku nggak bohong!" sangkal Lea. Kembali Marshal berdecak menghadapi Lea yang keras kepala. Lea tidak bisa menahan diri untuk tetap tidur dengan tenang mendengar suara decakan Marshal. Lea duduk dan menatap Marshal marah. " Apa buktinya aku berbohong,ha?!" " Hp kamu mati saat aku telfon, itu buktinya." jawab Marshal tak kalah kesalnya. " Mungkin hpnya memang mati karena habis daya tapi bukan karena aku yang sengaja matikan." tolak Lea emosi. Marshal tersenyum miring," Benarkah? buktinya kamu masih bisa menelfon Antoniokan?" cemoohnya tak berperasaan karena merasa dibohongi mentah - mentah. Lea tertawa sumbang, kentara sekali membalas cemoohan Marshal membuat kening Marshal berkerut keheranan. " Bodoh..." desis Lea pelan. " Apa katamu?" tanya Marshal keras. Ia jelas tersinggung mendengar umpatan Lea padanya. " Apa namanya kalau bukan bodoh saat kamu menyimpulkan sendiri tanpa tahu kebenarannya?" sarkas Lea memantik rasa ingin tahu Marshal. Tapi seolah malas untuk terus meladeni Marshal, Lea kembali merebahkan tubuhnya untuk tidur. Emosinya sedang naik makanya ia perlu istirahat supaya tidak bergejolak lebih lama. " Jangan tidur dulu sebelum kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi." hardik Marshal," Jangan seenaknya mengataiku bodoh!" Lea memandang Marshal malas. Kenapa pria didepannya ini begitu menyebalkan tapi disaat yang sama masih saja terlihat mempesona? " Aku nggak pernah nelfon Antonio, dia yang menelfon ingin datang,"tekannya," Aku bahkan nggak tahu kenapa dia bisa tahu kalau aku ditinggalkan sendirian disana. Sepertinya dia hanya bermaksud menggantikan peran seseorang yang sedang sibuk dengan kegiatan pribadinya." sindir Lea lepas. Mulutnya berubah jadi lemes dengan sendirinya. Sejak saat bersama Antonio tadi Lea berubah menjadi lebih ceriwis. Seperti slang mampet yang baru lepas dari sumbatannya. Marshal terdiam mendengar perkataan penuh sindiran dari Lea. Ia sudah salah menduga. Lea sepertinya tahu apa yang terjadi diantara dirinya dan Naomi. Setitik perasaan bersalah ia rasakan. Mulutnya terbuka ingin menyangkal kemungkinan yang sedang Lea fikirkan tapi urung ia lakukan melihat Lea yang sudah mengurung tubuhnya dibalik selimut. bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD