Bab 13, Pasangan baru...

1422 Words
Marshal dan Lea memasuki rumah baru yang akan mereka tempati nantinya. Setelah mendapatkan desakan dari orangtuanya, terlebih lagi dari Papanya, Marshal tidak dapat mengelak dan menunda - nunda lagi. Bukannya ingin mengalah pada takdir tapi sepertinya Marshal harus menjalani resiko dari perbuatannya sendiri. Marshal juga tidak ingin menyesalinya. Berulangkali berfikir dan berandaipun membuatnya kembali pada keputusan yang sama, kalau memang jalan yang sudah ia pilih adalah jalan terbaik yang bisa dipilihnya demi kebahagiaan Naomi dan juga dirinya sendiri. Jalan yang membentang didepannya mungkin memang sudah menjadi takdirnya namun kenapa masih ada juga perasaan yang mengganjal. Kenapa sesulit ini untuk ikhlas? Selalu saja hal yang sama terjadi. Merasa yakin untuk melangkah ke depan bersama wanita yang telah ia nikahi tanpa paksaan dari orang lain namun kembali dirinya jadi meragu. Marshal sadar kalau menikahi Lea adalah murni keputusannya tanpa paksaan dari siapapun namun bukan juga karena keinginan yang tulus dari lubuk hatinya. Keadaan yang memaksanya! Marshal tidak punya pilihan lain. Semakin Marshal berfikir semakin ia merasa kalau hidupnya kembali berputar pada sumbu yang sama. Yang bertumpu pada perasaan bimbang dan ragu - ragu. Lea sendiri tentu tidak bodoh - bodoh amat untuk menyelami perasaan bimbang yang sedang dirasakan oleh Marshal, begitupun dengan yang Lea rasakan. Rasanya melelahkan untuk terus bergulat dengan fikirannya sendiri. Kebimbangan yang ia rasakan benar - benar menyiksanya. Hatinya bahkan tidak bisa bertahan untuk hanya merasakan perasaan senang saja karena telah menjadi isteri dari lelaki pujaannya selama ini. Betapapun kuatnya keinginan Lea untuk mengabaikan fikiran - fikiran negatif yang berkelabat dibenaknya dan menggantinya dengan fikiran positif dan narsistik tetap saja tidak mempan. Hatinya tidak bisa dibohongi begitu saja. Sikap Marshal memang tidak lagi seperti yang dulu namun gesture tubuhnya saat berada didekatnya tidak bisa menutupi perasaannya yang sebenarnya pada Lea. Lea merasa ditolak dengan cara yang berbeda dari biasanya. Pergulatan perasaan tersebut mereka bawa sampai kerumah baru mereka. Bukannya berbahagia dengan penampakan rumah tersebut yang begitu indah dan asri, yang ada keduanya tampak lebih banyak bengong dan tidak menunjukkan minat sedikitpun. Lea memilih duduk disofa ruang keluarga kemudian terpaku. Disisi paling ujung Marshal juga melakukan hal yang sama. Lama keduanya melakukan hal tak berguna tersebut sampai suara dari hp Marshal menjadi pemecah kebisuan mereka. Marshal buru - buru mengeluarkan hpnya dari kantong celananya. " Ya Naomi, ada apa?" tanya Marshal dengan nada khawatir," iya...ya... aku segera kesana." jawabnya masih dengan nada yang sama. Lea yang mendengarnya hanya menatap dengan ekspresi datar. Hubungan keduanya tetap menjadi misteri baginya. Entah hubungan seperti apa yang sebenarnya mereka jalani. Status mereka yang cukup rumit membuat Lea tidak bisa menebak dengan pasti seperti apa kenyataan yang ada dibelakangnya. Jika sebelumnya Lea sempat mengira kalau hubungan mereka hanyalah cinta sepihak saja rasanya tidak mungkin juga karena nyatanya Naomi sangat bergantung pada Marshal dibandingkan pada yang lainnya, bahkan pada tunangannya sendiri. Tunangan Naomi juga menjadi tanda tanya tersendiri bagi Lea, bagaimana mungkin dia tidak lebih berperan dalam hidup Naomi dibandingkan dengan Marshal sendiri. Hubungan pertunangan bukanlah hubungan main - main dimatanya. Lebih dekat dari sekedar berpacaran saja karena sudah melibatkan dua keluarga dan juga orang lain sebagai saksinya. Disaat membutuhkan seseorang ada disisinya harusnya Wisnu menjadi orang pertama yang akan dihubungi oleh Naomi bukan Marshal yang sudah beristeri. Hati Lea tentu saja merasa tercubit saat melihat Marshal yang begitu perhatian pada Naomi melebihi dirinya. Selain Marshal, Naomi juga punya saudara lain yang masih lajang. Kenapa tidak meminta tolong pada mereka saja. Ataukah Lea yang terlalu mudah berburuk sangka? Dan, lagi - lagi semua menjadi tanda tanya dan menambah kadar kebingungannya lagi. Bagai benang kusut yang entah dimana ujung pangkalnya. Kabar yang diterima oleh Marshal dari Naomi jelas bukan berita baik karena bisa membuat Marshal langsung pergi begitu saja. Bagai makhluk tak kasat mata, keberadaan Lea diabaikan tanpa peduli ia harus pulang dengan cara apa nantinya karena niat awal mereka bukan untuk pindah cuma untuk melihat-lihat saja, sekalian untuk mengecek kekurangan perabotan disana sini. Lea menarik nafas panjang dan menghembuskannya berulang kali untuk mengurangi perasaan tak enak yang kian menghimpitnya. Dengan gontai ia berjalan lebih kedalam. Tidak ada yang bisa ia lakukan selagi menunggu Marshal kecuali melanjutkan niat mereka sebelumnya untuk melihat - lihat keadaan rumah. Lea memperhatikan desain dapur dengan seksama. Tatanannya terlihat apik dan pas dengan seleranya. Rasanya Lea akan betah untuk memasak dan mencoba resep baru nantinya. Memasak didapur bersih dan cantik seperti ini pasti sangat menyenangkan. Dirumah orangtua Marshal juga ada dapur yang bersih dan modern tapi Lea belum pernah sekalipun memasak disana. Belum ada kesempatan untuknya mencoba dan jujur Lea juga tidak berani untuk melakukannya karena segan dengan yang punya rumah. Jadi nanti setelah mereka pindah Lea tidak akan membuang waktu untuk mencoba resep baru yang ia lihat diinternet. Tapi... apakah Marshal mau mencicipi masakannya? Lea menggelengkan kepalanya. Dadanya kembali terasa sesak. Lagi, Lea hanya mampu menghela nafasnya. Setelah merasa dadanya lebih lapang, Lea meneruskan langkahnya melihat keseluruhan bagian rumah tersebut. Rumah dengan konsep american style yang didominasi warna putih itu terlihat indah dan mewah namun terasa asing dan tidak menjanjikan kehangatan. Satu bulir air mata mengalir disudut matanya kala terbayang rumah sederhananya di kampung. Kilasan rumah dan orangtuanya melintas tiba - tiba. Rumahnya sudah tiada. Dengan menahan perasaan sesak, Lea berjalan gontai menuju ruangan tempatnya duduk tadi. Menangis tanpa suara disana. # Marshal tercekat melihat penampilan Naomi didepannya. Bukan kali pertama ia melihat Naomi dalam kondisi berantakan seperti ini. Tapi tetap saja, setiap melihat wanita pujaannya sedang kacau begini mampu membuat hatinya ikut kacau juga. Hatinya ngilu jadinya. Tanpa perlu bertanyapun Marshal tahu siapa penyebabnya. Hanya lelaki b******k itu yang mampu melakukannya. Mengaku sangat mencintai Naomi tapi tega menyakitinya dengan alasan yang sama. " Mau sampai kapan kamu akan terus seperti ini?" tanya Marshal dengan nafas memburu karena emosi. Naomi menatap Marshal sayu. Sudah sering ia mendengar nada yang sama dari Marshal. Nada emosi yang bercampur dengan rasa frustrasi. Setiap kali ia mengadu setelah bertengkar atau dikasari oleh Wisnu.Kalau sebelumnya Naomi tidak pernah terlalu peduli dengan apa yang dirasakan oleh Marshal saat membahas Wisnu kenapa sekarang ekspresi Marshal mengusiknya. Marshal yang selalu berdiri dipihaknya membuat hatinya terasa menghangat. Meski sudah menikah Marshal masih seperti yang dulu. Naomi tersenyum menyadari betapa dirinya begitu berarti bagi lelaki didepannya. Naomi merasa beruntung memiliki Marshal disisinya. Kali ini, Naomi akan mengikuti perkataan Marshal dengan meninggalkan Wisnu demi kebaikan dirinya sendiri. Marshal mengerutkan keningnya melihat senyum yang tersungging dibibir Naomi. Terlihat begitu aneh dan menimbulkan tanya didirinya. Naomi jelas sedang terguncang tapi tidak mungkin sampai membuatnya menjadi gilakan? " Kamu..." Belum sampai ucapan Marshal, tubuhnya sudah didekap dengan erat oleh Naomi. Tubuh Marshal jadi menegang menerima perlakuan tak biasa dari wanita cantik didepannya tersebut. Beginikah rasanya dipeluk dengan sepenuh hati oleh wanita yang ia dicintai? " Aku udah nggak sanggup lagi." isak Naomi dalam pelukan Marshal. Marshal sempat ragu mendengarnya, setelah sekian lama mendapatkan perlakuan buruk dari tunangannya benarkah kali ini Naomi sudah bisa bertindak tegas pada Wisnu. " Aku akan mengakhirinya, sudah cukup kesabaranku selama ini. Jika dia tidak mau menghargai pengorbananku aku pun tidak mau membuang waktuku lagi. Sekarang aku sudah siap kehilangan dirinya." kata Naomi yakin. Meluncurlah cerita Naomi pada Marshal tentang apa yang membuatnya akhirnya bisa membuat keputusan yang sudah lama dinanti oleh keluarga besar mereka. Hubungan Naomi dengan Wisnu memang toksic dan lebih banyak merugikan pihak Naomi. Wisnu tidak bisa memperlakukan Naomi dengan baik ditambah lagi dengan Wisnu yang tempramental dan pengecut. Perasaan rendah dirinya pada keluarga besar Naomi dia lampiaskan dengan menekan Naomi secara psikis. Pernah juga Naomi sampai ditampar oleh Wisnu saat keduanya sedang bertengkar. Emosi Wisnu yang gampang meledak menjadi pemicunya. Tapi tetap saja yang membuat Naomi akhirnya menyerah dengan hubungannya dengan Wisnu adalah sikap Wisnu yang tak pernah positif padanya dan juga keluarga besarnya. Wisnu dan prasangka buruknya pada orang lain benar- benar merusak segalanya. Semua tindakan Naomi selalu salah dimatanya. Jika dulu yang menyatukan mereka adalah cinta sekarang entah apa yang membuatnya terus bertahan karena tidak ada lagi perbuatan Wisnu yang menunjukkan kalau dia masih mencintai Naomi seperti dulu. " Bantu aku untuk melupakannya. Hanya kamu yang bisa membuatku melupakannya." ucap Naomi dengan binar harapan dimatanya yang mampu membuat Marshal terhanyut dan melupakan hal penting dalam hidupnya. Marshal mengangguk sambil menggenggam tangan Naomi erat. Akhirnya Marshal bisa merasa tenang setelah sekian lama menjadi saksi betapa selama ini hubungan Naomi dan Wisnu bukanlah hubungan yang sehat dan patut untuk dipertahankan. Melihat Naomi bisa memutuskan hal yang benar dan sesuai dengan apa yang ia inginkan membuat Marshal tersenyum bahagia. Naominya harus bahagia. Jika bukan Wisnu yang melakukannya maka Marshal yang akan memastikan senyum kebahagiaan akan selalu menghiasi wajah ayunya. bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD