Bab 12, Lea & Marsh

1132 Words
Akhirnya Lea tidak bisa menahan rasa laparnya lagi. Marshal juga sudah terlelap dalam damai. Dengan membulatkan tekad, Leapun keluar kamar menuju dapur. Berharap masih ada sisa makanan yang bisa dimakannya untuk mengganjal perutnya yang sedang keroncongan. Rasa lapar yang ia rasakan tidak bisa hilang meski Lea sudah melakukan afirmasi pada dirinya sendiri. Mencoba meyakinkan diri kalau malam akan segera berganti menjadi pagi. Tapi bukannya bunyi kokok ayam jago yang Lea dengar, karena memang selama ia tinggal dirumah keluarga Marshal belum pernah sekalipun mendengar ayam berkokok, yang terdengar adalah bunyi perutnya yang minta diisi. Tujuan Lea adalah kulkas besar yang ada disudut dapur. Dengan perlahan dibukanya lemari es yang ukurannya sama besar dengan lemari bajunya dikampung. Beruntung ada sisa makanan yang disimpan dalam kontainer bening. Lea mengeluarkan dan menaruhnya diatas meja marmer yang ada di tengah dapur. Selanjutnya Lea berjalan menuju meja rice cooker berada. Saat tutup rice cooker dibuka ternyata kosong. Bahu Lea langsung merosot setelah sebelumnya begitu bersemangat mencium aroma capcay dan balado telur yang sudah dingin tadi. " Kak Lea.." Lea sontak menoleh mendengar namanya disebut. Brigitta muncul dengan muka lesu seperti dirinya. " Kakak mau makan juga?" Lea mengangguk," tapi sepertinya nasi sudah habis." Brigitta tersenyum sambil berjalan menuju kulkas dan membuka pintu yang berbeda dengan yang tadi dibuka oleh Lea. Brigitta mengeluarkan satu buah kontainer berukuran sedang dari sana," Nasinya disini, mama selalu menyimpannya di kulkas. Sebentar aku panasin dulu." ucapnya sembari menyalakan microwave dan segera memasukkan kontainer berisi nasi kedalamnya. " Kamu belum tidur?" tanya Lea. Brigitta menggeleng," habis nonton drakor jadi lapar." ucapnya sambil tersenyum. Lea ikut tersenyum mendengar ucapan adik iparnya yang ternyata suka nonton drama korea juga. Lea sendiri sudah jarang menonton karena sedang bosan. Lea dan Brigitta asyik ngobrol sambil makan malam yang sudah kelewat malam sampai tidak menyadari kalau sejak tadi sudah menjadi objek tontonan sepasang mata dibalik pintu. Marshal memutuskan kembali ke kamar setelah melihat apa yang terjadi. Jika biasanya ia akan menggoda adiknya habis - habisan atas sikapnya yang plin plan namun kali ini ia memilih mengalah saja karena takut bukan hanya Brigitta yang akan kena ledekan darinya tapi juga Lea. Jangan sampai wanita itu jadi tersinggung olehnya. # Dengan perut begah Lea kembali ke kamar. Akibat terlalu asyik ngobrol ngalor ngidul dengan Brigitta, Lea jadi makan kebanyakan, pun begitu dengan Brigitta yang tadi mengeluh kekenyangan. Brigitta juga mengeluhkan rencana dietnya yang gagal total. Lea tidak bisa langsung tidur dengan kondisi perutnya yang seperti itu, jadilah ia yang menggantikan posisi Marshal yang sebelumnya tidur disofa untuk menonton televisi. Tidak ada acara khusus yang ingin ditontonnya. Lea menyalahkan televisi untuk mengusir rasa bosan saja. Lea bahkan tidak menyalakan volume pada benda pipih yang berukuran sekitar enam puluh inchi tersebut. Anggap saja Lea sedang menonton Johnny depp dan Keira knightley sedang berpantomim. Sebisa mungkin Lea tidak mau mengusik Marshal yang sedang tidur. Sebaliknya, Marshal yang sebenarnya masih terjaga hanya bisa melongo melihat tingkah laku ajaib Lea yang masih terasa asing baginya. Apa enaknya menonton film petualangan fantasy tanpa suara? " Kalau mau menonton nyalakan suaranya." sebut Marshal membuat Lea terkejut. " Ka..mu terbangun?" " Sudah dari tadi." jawab Marshal menekankan kata tadi pada kalimatnya yang tentu saja membuat Lea jadi malu. " Apa aku membangunkanmu? " Marshal tidak segera menjawab. Memang bukan Lea yang membangunkannya secara langsung namun Marshal tidak bisa tidur dengan nyenyak saat memorinya masih menyimpan kekhawatiran tentang seorang manusia yang kelaparan ada dikamar yang sama dengannya. Marshal sendiri bingung dengan dirinya yang tidak bisa menjadi pemegang kendali atas dirinya sendiri. Perasaannya yang tak menentu pada Lea membuatnya terlihat buruk dimata semua orang. Suatu ketika ia yakin kalau tidak akan tersentuh dengan kehadiran Lea disisinya dan Naomi tetap menjadi wanita spesial dihatinya namun diwaktu yang berbeda ia tiba - tiba merasa khawatir dengan keadaan mental Lea yang sedang labil. Belum lagi kesehatan tubuh Lea yang sempat menurun karena stress yang berkepanjangan dan kurang makan. Marshal tidak bisa abai seperti sebelumnya. Sekarang Marshal tahu apa hal yang paling menyulitkan bagi dirinya. Hal tersebut adalah ketika tidak bisa mengontrol perasaannya pada Lea secara konstan. Marshal yakin kalau perasaannya masih sama pada Naomi namun tidak pada Lea. Jika selama ini ia bisa abai kenapa sekarang tidak? Kebimbangan Marshal juga semakin menyiksa ketika mengingat pembicaraannya dengan sang Papa sebelum berangkat keluar kota. " Kapan kalian akan pindah?" " Belum aku putuskan." jawabnya pada sang Papa di ruangan kerja Bryan adams sendiri. " Harus kamu putuskan secepatnya. Kalian harus mandiri dengan hidup terpisah dari kami." ucapnya tegas. Bryan adams tetaplah orang barat yang sangat mendorong anaknya untuk hidup mandiri. Walaupun sudah tinggal lama di Indonesia dan mengalami banyak akultrasi dengan budaya timur namun dia tidak mau berkompromi untuk hal yang satu ini. Baginya saat anaknya sudah menikah harus keluar dari rumah utama agar bisa hidup mandiri dan punya privaci. Bryan adams bahkan sudah menyiapkan hunian untuk kedua anaknya sejak jauh - jauh hari. " Papa mau kamu mulai membuka diri pada isterimu. Jangan jadi pengecut dengan menghindari tanggung jawabmu sendiri."tegasnya tidak mau dibantah. Bryan adams bukanlah tipikal Ayah yang otoriter dan suka memaksakan kehendak tapi dia adalah Ayah yang membentuk anaknya menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan penuh komitmen. " Apa yang bukan milikmu tidak perlu kamu pertahankan lagi. Melepaskan adalah cara terbaik karena nyatanya dalam hidup tidak semua hal bisa kita miliki tapi apa yang Tuhan kasih bisa jadi yang terbaik buat diri kita nantinya." " Tapi kenapa rasanya sulit sekali?" " Karena datangnya dari hati,son." " Aku butuh waktu..." Bryan adams menggeleng," Lepaskan sekarang atau kau akan semakin terjerat dalam fatamorgana yang kau ciptakan sendiri." Marshal memandang Papanya nanar. " Sebelum menyayangi orang lain jangan lupa untuk menyayangi dirimu sendiri terlebih dahulu. Ada saatnya untuk bertahan dan saat untuk melepaskan." Bryan adams sudah lama menjadi pengamat hubungan Marshal dan Naomi. Dirinya dan hampir semua anggota keluarga isterinya pasti tahu apa yang terjadi. Menjaga privasi anaknya bukan berarti membuatnya bisa membiarkan semua terjadi sesuai kemauan Marshal semata. Ada koridor tertentu yang mereka bangun untuk memastikan anaknya tetap berada disana. Anak - anaknya boleh menangis dan terluka untuk menjadi dewasa tapi tidak untuk dikhianati dan dimanfaatkan oleh orang lain. Sebagai orang tua ia pasti akan menolak menjadi penonton saat anaknya diperlakukan tidak adil. Disatu sisi Bryan juga tidak bisa memungkiri kalau soal perasaan tidak ada kata tidak adil. Perasaan seringkali lahir dengan sendirinya. " Papa yakin kamu sudah dewasa, setidaknya secara umur." kelakarnya penuh makna. Pipi Marshal memanas menahan malu. Terlahir di keluarga campuran bukan berarti membuatnya bisa mengadopsi gaya pergaulan dari negara asal Papanya. Khusus untuk masalah pergaulan kedua orang tuanya sepakat untuk mengikuti gaya pergaulan timur. Selain karena keduanya termasuk orang yang taat beragama, mereka juga sangat faham dampak buruk dari pergaulan bebas yang semakin marak akhir - akhir ini. Maka wajar sampai sekarang Marshal belum pernah melakukan hubungan seks sama sekali. bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD