Sepulangnya dari jalan - jalan bersama Antonio, Lea terus memikirkan tentang rencana masa depannya. Lebih tepatnya Lea memikirkan kegiatan yang selalu ingin ia lakukan nantinya, yang akan tetap ia lakukan meski sempat berhenti karena lelah ataupun bosan, yang akan menjadi penyemangat saat dirinya bangun dipagi hari. Karena dengan dasar itu Lea bisa mulai membuat rencana tentang pekerjaan yang akan ia lakukan. Entah akan melamar pekerjaan di sebuah perusahaan atau memulai usaha sendiri semuanya tentu harus diawali dengan passion terlebih dahulu. Sayangnya Lea belum menemukan kegiatan tersebut. Menjadi murid pintar disekolah tidak banyak membantunya dalam membuat pilihan sekarang. Jurusan yang ia pilih saat kuliah juga tidak terlalu diminatinya. Beginikah jadinya karena dulu tidak terlalu spesifik dalam menentukan tujuan masa depannya? Dalam benaknya dulu hanyalah sekolah yang baik dan benar saja agar bisa mendapatkan nilai yang bagus tanpa merasa perlu untuk menggali bakat dan minatnya dalam bidang lainnya.
Tanpa sadar Lea menghabiskan sisa harinya dengan melamun hingga haripun beranjak malam.
Marshal pulang dengan wajah lelah dan lesu. Badannya lelah karena aktifitasnya yang lumayan padat seharian ditambah lagi fikirannya yang sedang tak menentu karena merasa diabaikan oleh Lea. Sebelumnya, Marshal tidak pernah diabaikan oleh orang disekitarnya. Selain karena posisinya yang berpengaruh dilingkungan kerja juga karena terbatasnya jumlah orang yang beriteraksi dengannya diluar jam kerja.
Pandangan Marshal terhenti pada sosok yang telah mengabaikan dirinya seharian. Marshal dibuat tambah emosi demi melihat ponsel butut Lea berada tidak jauh dari sipemiliknya. Sumpah serapah sudah akan ia keluarkan sebelum ia menyadari ada yang berbeda dengan sosok asing tersebut. Marshal akui Lea memang wanita aneh baginya namun lebih aneh lagi karena Lea tampak termenung. Entah dimana fikirannya berada sekarang. Bisa - bisanya Lea tetap duduk ditaman saat hari sudah mulai gelap. Sepertinya tidak ada yang berani menyapanya, bahkan nyamuk yang biasanya berkeliaran juga enggan mendekatinya.
Marshal berdecak kesal jadinya. Sejak mengenal Lea, Marshal jadi sering berdecak melihat tingkah ajaib wanita tersebut.
Marshal membiarkan saja Lea larut dengan kegiatan absurdnya. Tubuhnya butuh istirahat sekarang. Mandi air hangat adalah solusi terbaik. Hingga Marshal selesai mandi dan berniat untuk makan malam sosok Lea belum juga muncul di kamar tidur mereka. Jangan bilang wanita itu masih betah bersemedi ditaman belakang.
Ternyata benar adanya, Lea masih berada ditempat yang sama. Tapi kali ini tidak sendirian lagi, ada Antonio yang menemaninya. Lampu taman juga sudah menyala.
Marshal berlalu menuju meja makan dalam diam. Ada Oma Rita dan mamanya sedang memberi arahan pada asisten rumah mereka dalam menyiapkan makan malam.
" Sudah pulang? " tanya Oma Rita menyambut Marshal dengan senyum mengembang. Marshal mengangguk sambil berjalan menuju kursi tempatnya biasa duduk.
" Papa belum pulang, ma?" tanya Marshal merujuk pada Papanya yang sedang keluar kota.
" Belum, mungkin sore besok baru berangkat." jawab mamanya tanpa menoleh. Rima tampak fokus pada hidangan capcay yang sedang ditata oleh art. Matanya awas meneliti hidangan tersebut. Takutnya ada benda asing yang ikut bersama campuran sayuran dan daging olahan tersebut. Anak - anaknya sangat worry dengan hal begituan. Jangan sampai terlihat benda yang menyerupai rambut atau semut kecil disana, mereka tidak akan mau memakannya lagi. Berbeda dengan suaminya yang menganggap tak masalah jika sekali - kali ada seekor semut kecil yang nyempil dalam hidangan yang akan dia santap.
" Brigitta mana?" tanya Marshal karena tidak melihat adik semata wayangnya.
" Dikamar, lagi diet katanya." kali ini barulah Rima memberikan perhatian pada Marshal setelah memastikan semua menu makan malam terhidang sesuai standarnya.
" Tumben diet, masih kurus gitu." balas Marshal.
" Namanya wanita harus pandai mengurus badan." jawab Oma Rita membela cucu gadisnya.
Marshal mengangkat bahu acuh. Tubuh Brigitta sudah ideal kalau masih diet takutnya terlalu kurus seperti wanita diluar sana. Marshal buru - buru menghapus judgingnya pada Lea. Lea juga tidak bisa disebut terlalu kurus juga. Harus diakui kalau tubuh Lea juga proporsional. Meski tidak setinggi Brigitta namun penampilannya secara keseluruhan juga seimbang. Marshal mengusir lamunannya sendiri. Tidak seharusnya ia memikirkan Lea. Kenapa hatinya kian hari kian melemah saja.
" Kamu tidak mau memanggil Lea untuk makan bersama?" tanya Oma Rita.
" Tidak," jawab Marshal cepat," seharusnya dia yang melakukannya."
Oma Rita tersenyum tipis mendengar penuturan cucunya.
" Biar mama yang memanggil mereka." putus Rima melihat keengganan dari Marshal. Marshal tidak bisa melarang mamanya walaupun ia jengkel sendiri dengan sikap tidak tahu diri dari Lea dan Antonio.
" Lea masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri jadi jangan memandangnya buruk karena dia terlihat tidak seperti isteri lainnya. Pernikahan yang dilandasi cinta saja tidak luput dari yang namanya adaptasi apalagi pernikahan tak biasa seperti kalian." kata Oma Rita berusaha menyelami perasaan Marshal dan Lea sekaligus," Jangan juga berfikiran jelek pada Antonio karena kedekatan mereka, Oma yakin Antonio tidak akan macam - macam pada Lea, dia hanya bermaksud menghiburnya saja. Lea butuh teman yang bisa membuatnya melupakan masalahnya dan Antonio bisa menjadi sosok tersebut. Jika kamu belum bisa mengisi kekosongan dalam diri Lea setidaknya jangan larang Antonio untuk melakukannya. Lea butuh teman untuk membuatnya tetap waras." jelas Oma Rita panjang lebar," Oma tidak bermaksud menyalahkanmu dengan keadaan Lea, setidaknya untuk sekarang... tapi jika kamu jeli, kamu pasti bisa melihat kalau untuk bernafas saja dia nyaris tercekik. Bebannya terlalu berat dan siapapun yang ada diposisinya pasti tidak akan langsung siap menghadapinya. Hanya waktu yang bisa menyembuhkan lukanya dan kita hanya perlu menunggunya saja untuk dia bangkit kembali."
Marshal memandangi wajah Oma Rita lama sebelum berbalik kearah taman untuk melihat keberadaan Lea dan Antonio. Tidak ada lagi sosok Lea disana. Mamanya dan Antonio tampak berjalan kearah meja makan tanpa kehadiran Lea.
" Lea ke kamar, katanya belum lapar." kata Rima tanpa ditanya.
Oma Rita tampak membuang nafasnya perlahan. Ia tidak ingin Lea nantinya jadi sakit karena sering melewatkan jam makannya," ayo kita makan sekarang." komandonya melihat keterdiaman anak dan cucunya.
Dalam keheningan keempat orang dewasa itupun makan. Mereka larut dengan fikirannya masing - masing sehingga makanan yang mereka makan terasa hambar dilidah.
Marshal menjadi orang pertama yang menyelesaikan makan malamnya. Tak menunggu lama, iapun segera menuju kamar untuk melihat keberadaan Lea.
Lampu kamarnya sudah berganti temaram. Lea sudah bergelung dalam selimut. Secepat itukah dia terlelap?
Marshal berjalan menuju sofa yang ada disudut kamar untuk merebahkan tubuhnya disana. Ia ingin beristirahat sambil menonton televisi.
Setelah menyetel suara televisi dengan cukup pelan Marshal kembali bangkit menuju kamar mandi. Saat melintasi tempat tidur ia tersenyum melihat Lea yang ternyata hanya pura - pura tidur. Tidak mungkin Lea bisa langsung tidur dalam jangka waktu sebentar saja.
" Kalau lapar makan dulu sana." ucapnya sambil berlalu.
Lea yang mendengar ucapan Marshal padanya hanya bisa bengong saja. Apa sejelas itu tanda kalau dirinya masih terjaga?
Perutnya memang sedikit lapar karena tadi siang dirinya hanya makan kue saja. Lea menolak saat Antonio menawarinya makanan berat. Lea merasa lapar setelah beberapa hari belakangan sempat lupa dengan perasaan tersebut. Perasaannya memang sedikit membaik hari demi harinya. Perasaan kehilangan yang kadang menyapanya masih bisa ia tepis dengan mencoba berbaik sangka pada sang pencipta. Lea percaya orang tuanya sudah tenang disana karena mereka adalah orang baik. Tidak pernah sekalipun Lea melihat orangtuanya berselisih faham apalagi sampai bertengkar dengan orang lain. Mereka justru seringkali bersikap sabar dan banyak mengalah pada orang lain yang bermasalah dengannya. Lagipula hidup dikampung tidak sekompleks di kota besar. Dikampung masyarakat cenderung lebih guyup dan akur. Saling bantu membantu kala tetangga terkena musibah dan lain sebagainya.
" Kenapa masih disini? mau nunggu sampai pagi?" kembali suara Marshal memecah keheningan Lea.
Lea memandang ragu pada Marshal. Ia segan jika sampai bertemu dengan anggota keluarga yang lain, terutama dengan mamanya Marshal. Apa katanya nanti?
" Mau aku temani?" tanya Marshal seperti godaan ditelinga Lea.
" Nggak usah." tolak Lea mengira Marshal hanya bercanda saja.
" Ya sudah," jawab Marshal acuh," jangan sampai besok pagi kamu pingsan karena kelaparan. Aku lagi banyak kerjaan nggak akan sempat ngurusin kamu."
Lea merasa apa yang dikatakan Marshal padanya bentuk sindiran pada ia yang dirawat sebelumnya. Lea sadar diri dengan kekesalan Marshal padanya.
Lea sendiri merasa tidak enak hati mengingat kejadian tersebut. Bukan hanya kejadian itu saja, semua yang terjadi belakangan ini yang melibatkan Marshal dan keluarganya menjadi beban tersendiri baginya. Bagi Lea, mereka sudah berkorban banyak untuknya.
bersambung....