DELAPAN BELAS -Kamu milikku!

1146 Words
Eve menghabiskan waktu di taman melakukan hal ringan lainnya seperti memberi makan ikan di kolam dan lain-lain. Dalu memberinya tugas ringan agar dirinya tidak terlalu bergaul dengan pelayan yang lain. Bagaimanapun, di sini dia hanya bertugas memuaskan napsu Max bukan bekerja sebagai pelayan sungguhan. Mendekati makan malam, Agatha memasuki mansion dengan wajah kusut. Terlihat dirinya kelelahan dan tidak ingin di ganggu. Eve dari kejauhan melihat beberapa pelayan melayaninya. “Bawakan wine ke kamar saya!” perintahnya galak. Eve mengerutkan kening bingung, padahal dari wajahnya Agatha terlihat seperti pribadi yang lembut. Mungkin saja dia kelelahan, pikir Eve. Agatha baru selesai menyelesaikan makan malamnya ketika Max tiba. Eve segera menyiapkan beberapa peralatan makan untuk Max. Langkah Max menghampiri Agatha dan mengecup bibirnya. Wajah Agatha berubah ceria dan memeluk leher Max erat. “I missed you.” Katanya manja. “I missed you too.” Balas Max menatap Agatha lembut. Eve tertegun, adegan romantis itu terus berlangsung di depan matanya. Padahal mereka baru saja bertengkar pagi tadi. Kini Max dan Agatha terlihat seperti pasangan pengantin baru yang bergelora. Max bahkan menyadarinya ada dirinya sana dan terlihat semakin memanasi Eve. Tanpa menunggu waktu lama, Eve meraih teko yang kosong dan memilih menghindar menuju dapur. Sejujurnya hatinya kecewa dan sedih. Tangan kanannya mengelus dadanya pelan. “It is okay, Eve… it is okay.” Bisiknya pelan dan mencoba tersenyum. Dirinya bisa saja pergi tetapi perasaannya belum tuntas dan selesai dengan benar. Max memanggilnya ketika waktu menunjukkan pukul 10 malam. Eve sedang terbaring di atas tempat tidurnya enggan bergerak. Telepon itu dimatikannya dan memilih menutup mata lelah. Tak menunggu beberapa lama, Eve merasakan pintu kamarnya dibuka menggunakan kunci serep. Eve membuka matanya malas dan mendapati Max di sana dengan wajah tidak menyenangkan. Max menutup pintu kamar pelayan yang kini ditempati Eve agar lebih private. “Aku membutuhkanmu di kantor dan kamu mematikan handphonemu?!” Eve menatapnya tajam, “Aku lelah. Kamu bilang aku boleh beristirahat.” Balas Eve sengit. Entah mengapa melihat wajah gusar Max membuatnya ingin muntah. Apalagi adegan romantis yang disaksikannya selama jamuan makan malam. Max meraih lengan Eve dan mencengkramnya keras. Eve mengeryit nyeri. “Aku sudah membayarmu! Setidaknya patuhi aku.” Eve menghempaskan tangan Max sekuat tenaga agar cengkraman itu terurai. “Aku ingin berhenti.” “A… apa?” tanya Max syok. “Aku ulangi lagi. Aku ingin berhenti.” “Ma… maksudmu?” “Tentang pekerjaan ini. Aku merasa dipermainkan. Kamu menggunakan kehampaan yang ada di dalam diriku untuk keuntunganmu sendiri. Kamu tahu aku kesepian dan kamu menggunakannya untuk kepentinganmu. Kamu merasa bisa menggunakanku karena aku pernah ingin bunuh diri.” Max terdiam, matanya masih menatap Eve syok. “Kamu yang mengatakan mencintaiku.” “Aku memang mencintaimu tetapi kamu mempermainkanku. Aku tidak bisa. Aku akan pergi malam ini juga.” Eve bangkit namun Max mendorong tubuhnya lagi keatas tempat tidur. “Hah! Jangan bilang kamu cemburu dengan istriku?” tantang Max. “Kamu tahu kamu hanya pelayan? Dan berani sekali kamu mencemburui istriku.” Eve menatap tajam pandangan merendahkan Max. “Awalnya iya… aku tertipu. Aku berpikir kamu pria yang baik dan aku penasaran bagaimana sosok istri yang kamu cintai itu. Aku berpikir kamu begitu terluka dan tidak pantas menerima perlakuan buruk. Aku jatuh cinta karena aku berpikir kita berdua adalah orang yang sama-sama penuh kepedihan sehingga kita bisa saling melengkapi dan menguatkan. Namun akhirnya mataku terbuka, kalian sangat cocok satu sama lain…” Eve bangkit sekali lagi. “Kalian sama-sama menjijikkan.” Wajah Max memerah seketika. PLAAAAK! Tangan Max terangkat dan menampar Eve. Tubuh Eve kembali terhempas. Pipinya panas dan perih. Disentuhnya pipinya pelan. Bahkan kakeknya belum pernah menamparnya. Berani sekali Max melukainya. “Pffft…” Eve mulai menahan tawanya. “HAHAHA.” Eve kemudian tertawa begitu keras. Hatinya terluka oleh perlakuan buruk Max tetapi lebih menggelikan lagi jika dia mengakui sudah cemburu terhadap Agatha. Eve terus tertawa geli, dia tak mengerti kenapa dia harus tertawa. Mungkin dirinya baru mengetahui betapa bodohnya dirinya. Air matanya mengalir seiring tawanya yang membesar. “Kamu tak boleh kemana-mana lagi.” Kata Max dingin. Dirinya meraih handphone Eve dan meninggalkan kamarnya. Eve segera bangkit namun kunci kamarnya terlanjur direbut dan dirinya tertinggal sendirian. Eve menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur kembali. Matanya tertutup lelah. Ini kesalahannya, tawaran ini atas kemauannya. Hanya karena dia cemburu seperti ini, akal sehatnya kembali terbuka. Eve menyelimuti dirinya dan mencoba tertidur. Dirinya masih percaya Max tidak akan tega melukainya. Setidaknya pikirannya masih harus jernih. Meski Max sudah melanggar apa yang dimintanya yaitu tidak memukul, dia tak bisa berhenti sekarang. Max melangkahkan kakinya kembali ke kantornya. Handphone milik Eve segera diletakkan di dalam salah satu kotak brankasnya. Max terduduk di bangkunya merenung. Baru kali itu dia melihat wajah terluka dari seorang wanita. Kata-kata Eve tentang sosok yang penuh kepedihan perlahan menggelitik hatinya. Max memang bukanlah sosok yang bahagia sekali meski memiliki harta berlimpah. Mimpinya menjadi harmonis dilandaskan saat dirinya pertama kali menikahi Agatha. Namun ternyata pernikahan tidak semanis itu. Tahun pertama terasa manis, tahun kedua mulai hambar dan tahun selanjutnya bisa ditebak bagaimana rasanya. Max mencoba bangkit dan tertidur di semi sofa yang sering digunakannya untuk menyetubuhi Eve. Aroma tubuh Eve melekat di sana, semakin membuatnya merindukan wanita itu. Max menutup mata namun bayangan adegan intim mereka membuatnya gusar. Max bangkit dengan cepat dan melangkah menuju kamar Eve dengan langkah besar. Max membuka kamar Eve dengan kunci dan mendapati Eve tidur membelakangi pintu. Ruangan itu terlihat remang-remang karena Eve hanya memakai lampu tidur yang setengah redup. Tubuhnya yang mengenakan lingerie berbentuk gaun berwarna hitam semakin membuatnya terlihat seksi. Max menutup pintu pelan dan mulai menaiki tempat tidur Eve. Tangannya memeluk tubuh Eve dari belakang dan mengecupi belakang lehernya buas. Tangan kanannya meremas d**a kanan Eve gemas. Eve diam tak bergerak, dirinya belum tidur namun memilih mengabaikan Max. Senjata Max menekan-nekan bokongnya keras. Napas Max memburu cepat. Max menurunkan celana dalam Eve cepat dan menyentuh area pribadinya. Max tahu Eve tak ingin meresponnya sehingga miliknya masih terasa kering. Max merentangkan kedua paha Eve dan mulai menjilati milik Eve berharap membasahinya agar Eve tidak terlalu kesakitan. Max mengarahkan senjatanya yang begitu keras tepat didepan liang hangat Eve, sekali hentakan seluruh panjangnya masuk sempurna. “Ough!” Max mengerang puas. Eve mengeryit nyeri. Eve memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat wajah Max sama sekali. Kesedihannya bisa bertambah. Eve menahan kepedihannya sementara Max begitu bersemangat menyetubuhinya dengan buas. 10 menit kemudian, Max sudah mengosongkan benihnya dengan leguhan panjang. Tubuhnya yang berpeluh jatuh di atas tubuh mematung Eve. Senjatanya masih berkedut menghabiskan sisa-sisa semprotannya. Satu bulir air mata Eve jatuh membasahi pipinya. Eve menutup matanya pelan, kini pikirannya terbuka lebar. Dirinya bukanlah siapa-siapa karena Max hanya membutuhkan tubuhnya. Dari awal Max menegaskan itu tetapi hatinya berharap Max bisa berubah. Ternyata tidak semudah itu. Pertemuan mereka juga masih terhitung baru. Yang perlu dilakukannya sekarang adalah menunggu hingga Max tidak membutuhkannya lagi dan dirinya bisa kembali ke kehidupannya yang lama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD