TUJUH BELAS - Posesif

1103 Words
Eve dan Amelia menikmati makan siang mereka di salah satu restoran pasta. Tak lama handphonenya berbunyi, nama Max tercetak di sana. Eve dan Amelia saling bertatapan tegang lalu tertawa bersama. “Si bos nyariin tuh.” “Hallo.” Eve menjawab. “Datang ke kantor sekarang!” “What?! Bagaimana jika pegawaimu me…” protes Eve. Tut… tut… tut… Max mematikan line cepat. “Pahit bener.” cibir Amelia. “Iya, telepon cuma karena butuh sesuatu dan mintanya juga gak pakai etika.” Amelia bangkit dan meraih tasnya, “Bos selalu seperti itu. Ayo! Aku akan mengantarmu.” Amelia tersenyum memberi semangat. “Right!” Eve bangkit mengikuti Amelia. Setibanya di halaman parkir Eve mengenakan wignya dan mengaplikasikan beberapa make up. Amelia menungguinya dengan sabar. “Thank you.” Eve memeluk Amelia. “Kabari aku apapun yang terjadi. Oke?” Amelia menatap Eve kuatir. “Will do.” Eve tersenyum menguatkan. Eve memasuki lift mengenakan pakaian sportnya. Beberapa pasang mata menatapnya penasaran, Noval menunggunya di depan lift. Noval menatapnya menyelidik. Apa Noval tak mengenalinya? Noval berjalan duluan dan Eve mengikuti dengan percaya diri. Meski Max memperlakukannya seperti itu, baginya dirinya tetaplah berharga. Tak ada satu orangpun yang boleh memperlakukannya rendah tanpa seijinnya. Max sedang berada di balik meja mahoganinya mengerjakan beberapa berkas, melihat Eve memasuki ruangannya, Max bangkit. “Kamu bisa pergi, Noval.” “Baik.” Noval menutup pintu dan Max menguncinya kemudian. “Kamu dari mana?” “Olahraga.” “Di?” Eve meletakkan tas dan menatap Max bingung, “Why?” tanyanya balik dengan sikap menantang. “Di?” tanya Max lagi. “Di salah satu tempat langganan aku. Kenapa? Kamu takut ternyata aku bermain di belakangmu?” tantang Eve dan mendekati Max dengan tangan terlipat di d**a. “Aku benar-benar habis berolahraga.” “Aku memiliki ruang gym di mansion. Dalu pasti memberitahumu.” “Aku hanya butuh suasana diluar mansion. Kamu mengatakan aku bisa keluar jika kamu tak di sana.” “Ya.” Max meraih tubuh Eve dan menyisipkan wajahnya di leher Eve menghirup aromanya dalam. Eve mengelus pundak Max. “Kamu sudah makan?” Amarahnya di ring muay thai menguap sudah saat Max menyentuhnya. “Aku tak lapar.” Jawab Max singkat dan mulai menyisipkan tangannya meremas p******a Eve. “Nanti kamu sakit.” Eve membalas cepat berusaha menguraikan pelukan Max. Namun Max lebih dulu meraih wajahnya dan mengulum bibirnya dalam. Eve bisa merasakan milik Max yang mulai menekan perut bawahnya keras. Eve mengimbangi kuluman bibir Max sama intensnya. Max meraih tubuh Eve dan membawanya menuju kamar istirahatnya. Tubuh Eve terbaring terlentang hanya mengenakan celana dalam. Max membuka pakaiannya satu persatu tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Eve. Ini lebih penting dari makan siangnya. Senjatanya terlepas menakutkan. Eve menelan ludah keras. Max sudah menurunkan celana dalam Eve dan bersiap memposisikan miliknya ketika Eve menutup miliknya dengan tangan kirinya. “Tunggu!” Eve menahan kejantanan Max. “Milikku masih memar, bisakah kamu menunggunya hingga basah?” Max terkejut dan menatap wajah kuatir Eve. Tangannya meraih tangan Eve yang menutupi liang itu. Max berjongkok dan mulai menempatkan wajahnya diantara paha dalam Eve. Max mulai menjilati bibir liangnya pelan. Eve mengerang seketika. Max terus menjilati dengan lapar membuat milik Eve basah seketika. Cairan pelumasnya mengalir dengan cepat. Max tersenyum di sela aktivitasnya sembari mengelus pelan miliknya yang sudah sangat siap. Max bangkit dan mulai memposisikan miliknya. Sekali hentakan, seluruh panjang senjatanya tertelan habis kedalam liang hangat itu. Max berhenti sejenak menikmati pijatan erat otot didalam lembah birahi Eve. “Damn!” erang Max dan mulai memaju mundurkan miliknya cepat. Seluruh sel di dalam tubuhnya seakan bekerja sama untuk memberikannya tenaga. Kepenatannya sejak pagi perlahan tergantikan dengan rasa puas. Eve dibawahnya mengerang menerima setiap hujaman bertenaga darinya. Eve memeluk lehernya erat dan bibir mereka kembali bertautan erotis. Lidah Eve mengeksplore dengan lapar. Bunyi erotis dari pertemuan dua alat kelamin itu memenuhi ruangan seketika. Tak ada kata hanya desahan demi desahan terdengar. Eve berganti posisi dalam sikap menungging dan mulai menerima kembali junior Max di dalam liangnya penuh. Dicengkramnya bed cover erat sebagai tumpuan. Tak menunggu lama, Max sudah mengosongkan benihnya di dalam tubuh Eve. Benih hangatnya terasa penuh di dalam perut bawah Eve. Max jatuh kelelahan disebelahnya. “Aku belum mencapai klimaks.” Protes Eve. “Later.” Jawab Max lelah. Napasnya masih terengah-engah. Eve bangkit meraih tisu dan membersihkan benih Max yang mulai keluar mengalir. “Kenapa benihmu masih saja banyak. Lihat! Aku sudah membersihkan dengan tisu dan masih saja keluar mengalir.” protes Eve bangkit dan menuju kamar mandi. Dirinya kembali dengan sebotol air mineral, diteguknya dan diberikannya kepada Max sisanya. “Aku akan ke Canberra besok dan kamu ikut.” lanjutnya. Eve menatap terkejut. “Ha? Aku juga?” “Iya. Kamu pelayan pribadiku bukan?” cengir Max. “Kenapa kamu tak mengajak istrimu?” tanya Eve penasaran dan kemudian menutup bibirnya cepat. Kadang memang dirinya tak sabar untuk selalu membalas perkataan Max. Max menatapnya dengan kening berkerut. “Agatha? Dia memiliki pekerjaan sendiri. Aku tak bisa membawanya.” Eve memilih diam setelahnya, Max mulai menutup matanya lelah. “Kamu yakin tidak lapar?” “Hm.” Jawabnya singkat. Eve melirik tubuh telanjang Max dengan senjatanya yang setengah tertidur. Eve mulai meraihnya dan mengocoknya pelan. Max membuka matanya dan menatap Eve yang kini menduduki pahanya. “Aku belum mencapai klimaks tadi.” Rajuk Eve dan mulai menggesekkan senjata Max diarea bibir kewanitaannya. “Hmmm…” desah Max memilih pasrah. Eve mengarahkan milik Max memasuki liang hangatnya secara perlahan. Keduanya mengerang pelan namun Eve lebih menikmatinya. Eve mulai menaik turunkan pinggulnya cepat. Max memegang erat kedua sisi pinggulnya dan membantu menyeimbangi gerakan sensual Eve. Tak membutuhkan waktu lama Eve mencapai klimaksnya diikuti Max kemudian. Tubuhnya luruh kelelahan di atas d**a bidang Max. Kedua napas mereka masih memburu satu sama lain. Eve mengangkat wajahnya dan menatap Max intens. “Why?” tanya Max merasa aneh ditatap seperti itu. Eve mengecup bibir Max cepat sambil tersenyum centil. “I love you.” Max tertegun tanpa menyadari jika Eve mulai bangkit dan mengenakan pakaiannya kembali. “Kamu terlihat sibuk. Aku lebih baik segera pergi.” Suara Eve menyadarkan Max. “Kamu harus kembali ke mansion.” Perintah Max dan ikut mengenakan pakaiannya kembali. Eve menatapnya bingung. “Aku masih ingin di…” “Kita berangkat besok. Lebih baik kamu tidak terlalu kelelahan.” Lagi-lagi Max mengeluarkan suara mendominasinya. Eve hanya mengangguk pelan dan meraih tasnya. Eve menatap Max yang kembali membuka laptopnya, sepertinya Max tak berniat mengatakan ‘sampai jumpa’ atau basa basi lainnya. Eve menghela napas dan beranjak keluar. I love you? F*ck off!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD