ENAM BELAS -Tidak Memiliki Pilihan Lain

1193 Words
“Bleh!” lidahnya terjulur pahit. “Good boy.” Eve mengusap-usap kepala Max penuh cinta dan tersenyum lembut. Wajah Max memerah seketika mendapat perlakuan manis seperti itu. “Ehem! Sudah bukan? Aku hanya menghabiskan setengah.” Max berusaha mengubah air wajahnya. “Yep. Tidurlah.” Eve mengantar Max menuju pintu keluar. Max berlalu menghilang. Eve menutup pintu ruang baca tersebut dan menghela napas. Akhirnya dia sendirian lagi di ruangan besar ini. Sendirian dan kesepian. Eve menatap wajah Max di foto pernikahannya. Ada rasa perih yang perlahan semakin besar terasa. Mengapa dia harus melakukan ini semua? Pagi harinya, Eve sudah bersiap dan berpura-pura menyiapkan makan pagi meski sebenarnya dia hanya bertugas menyusun di meja makan. Agatha duduk dengan anggun. Wajahnya keras dan terkesan angkuh. Eve baru kali ini berhadapan secara langsung. Tak lama Max bergabung dengan wajah datar. Eve menuangkan air mineral dengan tampang datar. Mereka bersandiwara dengan baik. Eve mundur beberapa langkah membiarkan mereka menyantap dalam diam. “Kamu tahu harus hadir pukul 9 bukan?” “Agatha…” panggil Max terdengar getir. Eve menelan ludah keras. Agatha? Ah… nama istrinya adalah Agatha. Apa mereka belum memiliki keturunan? Eve tidak melihat satu orang anakpun sejak dirinya di sini? Atau memang anak-anak mereka tidak tinggal di sini? “Aku tidak mau tahu. Kamu harus meluangkan waktu.” Agatha memerintah mendominasi. “Aku tak bisa, meetingku le…” TING! Agatha membanting sendok kasar ke atas piringnya menimbulkan bunyi keras. Eve menatap syok. Max merasakan kemarahan Agatha. “Dalu.” Panggil Max pelan menandakan seluruh pelayan harus kembali kedapur agar tidak mendengar pertengkaran mereka termasuk Eve. Dalu melirik ke empat pelayan termasuk Eve agar kembali kebelakang. Eve masih menatap Max dengan tatapan terkejut namun memilih patuh. Sesampainya di dapur seluruh pelayan kembali bekerja. “Kamu terkejut?” tanya seorang pelayan yang mendapati Eve termenung. “Uh? Oh?” “Hai. Namaku Zari.” “Ev…” Eve terhenti sejenak. “Evara.” “Nama yang unik.” Senyum Zari. “Aku anggap pujian ya.” Eve balas tersenyum. “Hal yang seperti tadi sudah biasa terjadi.” Zari meraih beberapa bahan makanan dan mulai mengupasnya. “Uh? Aku tak mengerti.” “Nyonya dan Tuan besar bertengkar. Kita hanya bersikap biasa saja. Pura-pura tak tahu.” “Padahal mereka terlihat romantis.” Pancing Eve. Zari tersenyum kecil, “siapa yang bisa menebaknya? Orang kaya itu bergelimang harta sudah cukup. Mau bertengkar setiap hari biasa buat mereka.” “Aku tidak melihat putera atau puteri mereka. Apa mereka tidak tinggal di sini? Diluar negeri misalnya?” Zari menatapku terkejut, “Oh… kamu belum tahu? Tuan dan Nyonya belum memiliki anak. Mereka sudah menikah selama kurang lebih 4 tahun tetapi belum memiliki keturunan.” Jelas Zari. Eve sudah ingin bertanya lagi tetapi mengurunkan niatnya. Toh tugasnya cukup memuaskan birahi Max dan bukannya mencampuri kehidupan pribadinya. Eve membantu Zari kemudian dan tak lama interkom berbunyi memintanya mengantar kopi ke kantor. Eve menelan ludah keras. Ini hari pertamanya bekerja dan dia harus bersikap professional. Dengan membawa kopi di tangannya, Eve mengetuk pelan pintu dan melangkah masuk. Max sedang berbicara ditelepon dengan suara keras. “UNDUR MEETINGNYA SIANG! HARUS!” Max membanting handphonenya diatas meja mahoganinya keras. Max menghampiri Eve yang baru saja meletakkan kopinya di meja. Diraihnya lengan kanan Eve kasar. Eve terseret syok. Max membawanya di balik rak buku dan melumat bibirnya tanpa peringatan keras. Awalnya Eve meronta namun kekuatan Max jauh lebih besar, Max mengangkat rok yang dikenakannya dan berusaha menurunkan celana dalamnya. “Buka cepat! Aku tidak punya banyak waktu.” Desis Max terus melumat leher jenjangnya sembari membuka celananya. Juniornya yang menjulang keras terlepas marah. Dengan tangan gemetar Eve menurunkan celana dalamnya. “Menungging!” napas Max berburu cepat menahan gejolak sensualnya. Diremasnya b****g Eve gemas dan mulai melesakkan miliknya tanpa aba-aba. Eve mengeryit nyeri. Miliknya masih dalam keadaan kering. Semakin Max menyetubuhinya, rasa perih itu semakin bertambah. Eve menahan air matanya dan berpegangan erat pada rak buku. Max terus menghujam miliknya tanpa ampun. Lagi–lagi Eve merasakan rasa kecewa itu, kesedihan yang begitu mendalam. 5 menit kemudian Max sudah mengosongkan benihnya di dalam tubuh Eve dengan leguhan panjang. Eve menghela napas lega, beruntung Max tidak bertahan lama. Dengan satu kali langkah mundur, Max menarik juniornya dan kembali memasukkan kedalam celananya tanpa berpikir untuk membersihkannya. Eve jatuh luruh di atas lantai dengan napas terengah-engah. Mata mereka bertemu sesaat dan Max meninggalkannya tanpa sepatah katapun. Eve menutup matanya sedih, disentuhnya dadanya sejenak. Inilah tugas sebenarnya yang dia harus kerjakan. Max hanya membutuhkannya sebagai pelampiasan atas kekecewaannya kepada Agatha. Eve mendengar Max meninggalkan kantornya cepat dengan langkah berat. Eve membersihkan pakaian yang dikenakannya. Benih Max perlahan keluar mengaliri paha dalamnya. Eve meraih tisu dan mengusapnya pelan. Tanpa diduganya, air matanya akhirnya jatuh juga. Eve kembali terduduk dan menangis dalam diam. Saat ini dia merasa sangat tidak berharga. Namun bukankah dia menerima penawaran itu dari awal? Kenapa dia harus menyesalinya sekarang? Sudah terlambat bukan? Eve menghapus air matanya, diliriknya jam yang menunjukkan pukul 8. Eve melangkah menuju kamarnya dan berganti pakaian. Diraihnya sebuah tas dan melangkah keluar melalui pintu belakang yang rahasia. Max mengizinkannya pergi jika dirinya tidak sedang berada di rumah. Lorong ini pun jarang dilewati oleh pelayan-pelayan yang lain bahkan hampir tidak pernah. Dalu yang memberitahunya. Eve menghirup udara bebas sejenak dan mengusap sisa air matanya. Dirinya melangkah menuju tempat olahraganya. Muay thai satu-satunya yang bisa menjawab kegalauannya. Tiap pukulan dan pukulan yang dilancarkannya, lukanya menguap seketika. Entah berapa lama waktu berlalu, Eve berhenti dan terbaring di atas ring dengan napas memburu. Keringat bercucuran diseluruh tubuhnya. “Puas?” tanya sebuah suara. Eve menoleh dan mendapati Amelia menyodorkannya sebotol air mineral. “Thanks.” Eve meneguk hingga habis. “Sejak kapan kamu datang?” “1 jam yang lalu. Biar aku tebak, kamu sedang sangat marah. Ini mengenai pekerjaan?” tanya Amelia menyelidik sambil tersenyum lebar. Eve balas tersenyum, “Ya. F*ck!” umpatnya. Amelia tertawa terbahak-bahak. “Pakai perasaan sih. Baper jadinya.” “Damn! Damn! Damn! F********ck!” maki Eve meluapkan sisa emosinya lalu ikut tertawa. “Gila! Sakit banget. V*ginaku sampai sekarang masih nyeri.” Amelia ikut terduduk disebelah Eve. “Nikmati aja. Jangan bawa perasaan. Lagipula bayarannya bagus bukan? I mean… ini seperti menyelam sambil minum air. Kamu bisa mencari jawaban tentang rasa penasaranmu dan kamu juga bisa memakai uang itu untuk menyenangkan hatimu.” “Well… sejujurnya aku menikmati persetubuhan yang kami lakukan. Secara tidak langsung, aku juga mendapat kepuasan. Aku tidak lagi mengincar nominal uang yang diberikannya.” Eve menerawang dan kembali berbaring terlentang. “Sampai di mana batasnya, aku ingin tahu.” “Aku harus kembali ke Singapura.” Kata Amelia kemudian. “Why?” “Beberapa pekerjaan menanti di sana.” “Untuk berapa lama?” “Setengah tahun. Project skala besar.” “So, kita akan jarang bertemu. Apalagi aku tak bisa meninggalkan Max terlalu lama.” “Tak masalah. Aku akan berkunjung dua minggu sekali atau mungkin bisa lebih lama. Kabari aku jika kamu ke Singapura.” “Tentu saja.” Eve kembali bangkit. “Aku lapar.” “Mandilah, kita mencari makan diluar.” “Alright.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD