LIMA BELAS - Mimpi

1157 Words
“Kamu pantas bahagia Max. Aku dan Logan juga bukan pria bodoh, kami pintar menilai wanita. Melihatmu hari ini terlihat berbeda, aku turut senang. Yang pasti, kegembiraan yang kamu rasakan bukan karena wanita itu. Aku yakin 100%.” “Aku bahagia bersama Agatha.” Jaxon menaikkan satu alisnya dan tertawa lucu. “Entah apa yang dimasukkan Agatha dalam makananmu. Kamu menjadi buta begini.” Jaxon berdecak menyerah. “Aku bisa menyediakan wanita-wanita lain sebagai pelampiasanmu.” Max menyecap whiskinya pelan. “Aku tidak butuh.” “Why? Apa Agatha begitu baik selalu memberimu jatah setiap hari?” “Tidak juga.” “Ah! Kamu memiliki wanita lain. Siapa dia?” tanya Jaxon semangat. Max sedikit terkejut Jaxon bisa menebaknya. “Tidak penting.” “Tidak penting? Kamu mulai main rahasia-rahasiaan kepada kami?” Max bangkit dan merapikan jasnya. “Aku harus pulang.” “Uh Oh… kamu melarikan diri. Siapa wanita itu?” kejar Jaxon semangat. Baru kali ini Max kembali membuka hatinya, tentu saja bagi Jaxon langkah yang baik. “Max!” panggilnya. “Aku baru tiba dan kamu sudah mau pergi.” “Kamu yang datang tanpa pemberitahuan. Ada apa?” “Aku hanya mengunjungimu karena aku bosan. Anyway, siapa wanita itu?” Jaxon kembali bertanya penasaran. Max memasuki lift diikuti Jaxon cepat. “Tidak sekarang, Jax. Aku hanya sedang iseng. Kami bertemu dan aku tertarik. Hanya sejauh itu.” Jaxon masih menatap serius Max, “Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Tapi jika kamu terlanjur serius, kamu harus memilih antaranya dan Agatha bukan?” Max tertawa sinis, “Memilihnya? Tidak akan. Aku masih memilih akal sehat. Aku tidak bisa melepas Agatha, sekarang ataupun nanti.” “Oke.” Jaxon mengangkat bahunya menyerah, dia tahu sahabatnya itu kadang keras kepala. Malam harinya Max menunggu kedatangan Eve. Agatha sedang berada di kamar utama entah melakukan apa. Max tidak terlalu ingin tahu ketika Agatha asik dengan dunianya sendiri. Kepala pelayannya mengetuk pintu kantornya dan membawa masuk seorang wanita berambut pendek. Max mengerutkan kening dan pelayannya pergi begitu saja. Max bangkit dan menatap wanita itu. “Eve?” tanyanya syok. “Rambutmu?” “Ah!” Eve membuka wignya. “Cuma penyamaran.” “Kenapa kamu harus menyamar?” “Demi diriku sendiri tentunya. Istrimu di atas sana dan kamu di sini bersamaku?” tantang Eve. “Aku bisa menghandle istriku. Kamu tak perlu takut.” “Percaya diri sekali.” Wajah Eve menjadi masam. Max memang bisa menyelamatkan dirinya jika permainan panas mereka diketahui istrinya, tetapi bagaimana dengan dirinya? Pasti akan dipermalukan di depan umum. “Lalu apa jawabanmu?” Max menuangkan whiskinya. Dirinya hanya ingin memastikan dengan bertanya ulang. “Aku terima tawaran ini.” “Good girl.” Max tak bisa menyembunyikan senyumnya. Setelah meneguk whiskinya, Max memeluk tubuh Eve gemas. “Kamu tak perlu bekerja, yang hanya harus kamu lakukan adalah memuaskanku di ranjang.” Max mulai mengecupi leher jenjangnya. Eve menutup mata menahan erangannya. Pada akhirnya statusnya hanya seperti selir kesayangan. Eve memeluk leher Max dan melumat bibir Max lapar. Lidah mereka saling melumat erotis. Max sudah menggenggam d**a kirinya dan mulai meremas lembut. Bibir mereka terpisah dengan napas terengah-engah. “Eve…” “Ya?” wajahnya memerah. “Aku tidak tahu apa yang merasukiku. Aku sangat tergila-gila kepadamu.” Max mengakui dan kembali melumat bibir Eve keras meluapkan segala gejolak di dalam dirinya yang sudah menghilangkan akal sehatnya. Malam harinya… Eve bangkit dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Max di sebelahnya masih tertidur lelap. Jam menunjukkan pukul 12 malam. Mereka melakukan persetubuhan panas itu selama 2 jam lamanya. Max memiliki sofa yang bisa berubah fungsi menjadi tempat tidur di belakang beberapa rak bukunya. Eve mulai berjalan pelan menyusuri kantor Max, berharap dia bisa mengerti kepribadian Max secara perlahan. Eve melirik foto pernikahan Max yang terpajang besar di salah satu dinding kantornya. Eve berdiri tepat didepannya dan tertegun. Wajah Max terlihat sangat bahagia begitupula wajah dari istrinya. “Cantik.” Gumam Eve memuji wajah Agatha dan tersenyum kecil. Mereka seperti pasangan dongeng yang bahagia selamanya dan akan dikarunia putera puteri berbakti. Eve melangkah mendekat dan menatap intens wajah berseri Max. Mengapa Max kehilangan kebahagiaan itu? Mengapa Max tidak pernah menunjukkan senyum sejenis ini lagi. Apa karena dirinya hanya wanita bayaran sehingga tidak pantas melihat senyum itu lagi secara nyata? Dan senyum itu hanya untuk istri tercintanya. Eve masih mematung berdiri menatap dengan wajah sendu. Pikirannya teralihkan mendengar suara pelan Max mengerang memanggil namanya. Eve berlari mendekati Max yang masih terlelap. Keringat dingin memenuhi dahinya, wajahnya pucat. “Ssshhhhh… Iya… Aku di sini.” Eve meraih wajah Max dan menghapus keringatnya dengan selimut yang dikenakannya. “Aku di sini.” Ulang Eve berbisik ditelinga Max. Dengan spontan Max memeluk pinggang Eve dan menghirup dalam aroma tubuh Eve dalam. Wajahnya kembali tenang. Tak lama Max kembali mendengkur lembut. Eve mengelus pelan rambut Max menina bobokan lelap. Eve enggan tidur kembali dan hanya menina bobokan Max seperti seorang anak kecil. Tubuhnya bangkit dan mengenakan wignya. Eve memakai pakaiannya kembali dan menuju dapur. “Nona.” Panggil sebuah suara. Eve berbalik kaget. “Uh?” pucatnya. “Ah… Pak.” Eve mengelus dadanya syok. Untung itu bukanlah istri Max. “Nona membutuhkan sesuatu?” kepala pelayan Max bernama Dalu muncul dengan sopan. “Bapak mengagetkanku.” Dalu tersenyum kecil. “Maafkan saya. Ada yang anda butuhkan?” “Aku membutuhkan teh hijau. Max… I mean… Tuan membutuhkannya.” “Tuan tidak menyukai teh hijau.” “Uh? Benarkah? Padahal teh hijau bagus untuk mimpi buruk.” Gumam Eve. “Tuan bermimpi buruk lagi?” Dalu terkejut dan segera beranjak, Eve menahannya segera. “I… iya. Tapi dia sudah kembali terlelap. Jangan mengganggunya” Dalu menatap Eve syok. “Sudah tidur kembali? Sesimpel itu?” tanyanya bingung. Kini Eve yang menatap Dalu bingung, “I… ya.” gagapnya. Eve merasa ada yang aneh. Dalu terdiam berpikir lalu menatap Eve lama sembari menyelidik. Eve merasa tidak nyaman dan mulai membuka lemari penyimpanan random. Dirinya akan tetap membuat teh hijau. Dalu membantunya kemudian. Eve membawa teh tersebut kedalam kamar. Eve menghampiri Max yang masih terlelap. Jam menunjukkan pukul 3 subuh. Bagaimana jika istrinya menemukannya tidak berada di kamar? Pasti akan menjadi tanda tanya. “Max?” Eve membangunkan Max pelan sembari menggoyangkan tubuhnya. Max membuka matanya segera. “Jam berapa ini?” “3 subuh. Kamu harus kembali ke kamar.” Eve menyerahkan piyama Max dan membantunya mengenakan kembali. Max bangkit setelah berpakaian lengkap. “Oh… wait!” Eve menahan tangannya. Max berbalik cepat. “Minumlah ini.” Max mengendusnya dan menutup hidungnya cepat. “Tidak.” tolaknya. “Sedikit saja.” Pinta Eve. “No.” Max berusaha pergi namun Eve menahannya keras. “Sedikitttttt aja, pleaseeeee.” Mohon Eve manja dan bergelayut. “No.” “Please… ya? ya? ya?” pinta Eve tak menyerah. Max menatap wajah sendu Eve dan akhirnya menghembuskan napas panjang. Diraihnya gelas tersebut dan meneguk isinya setengah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD