Max mendapat tamu siang itu, teman baiknya Logan mendatanginya. Mereka sedang menikmati kopi panas di dalam kantornya. “Semenjak menikah, kamu jarang ngumpul nih. Lupa teman ya.” Logan tertawa sembari mencecap kopinya.
Max tertawa kecil, “Aku hanya sibuk.”
“Bagaimana Agatha? Kalian kelihatan baik.”
“Ya. Seperti yang terlihat.”
“Pertemuan ini kamu benar-benar harus datang. Teman-teman yang lain menyuruhku mempengaruhimu.” Logan tertawa renyah.
“Entahlah. Kita lihat nanti.”
“Kamu selalu seperti itu. Ayolah. Aku akan mengirimkan alamatnya setelah ini.” Bujuk Logan.
“Fine.” Max akhirnya menyetujui sembari menyecap kopinya.
“Rileks… Jaxon menyiapkan wanita-wanita hot. Aku pastikan semua akan menikmati acara itu.” Logan menepuk-nepuk pundah Max gemas. Max hanya mengangguk kecil. Dari sejak mereka kuliah, Logan dan Jaxon sangat menyukai pesta. Mereka akan mengundang banyak wanita untuk hadir di dalamnya dan menikmati pesta itu hingga pagi. Kalau dulu dia masih berhasrat mengikuti ajakan-ajakan mereka. Namun setelah menikahi Agatha, dirinya seperti memiliki tanggung jawab lebih besar daripada bersenang-senang belakang. Kadang dia merindukan juga. Mungkin inilah saatnya mencoba lagi. Logan tersenyum di sebelahnya. “Jika kamu tak suka, kamu bisa pulang cepat. Tak ada paksaan.”
“Aku tahu.” Max melirik jamnya. “Agatha akan kemari beberapa menit lagi. Aku harus menyiapkan meeting.”
“Why? Bukannya dia memiliki kantor sendiri?”
“Memang. Hanya saja beberapa projectnya aku handle.”
“Kamu terlalu terkekang oleh bisnis. Agatha terlalu mengikatmu.” Protes Logan. Max bangkit berdiri dan mengabaikan ketidaksetujuan Logan, dialah yang memilih Agatha dan harus menjalaninya dengan tabah.
Eve Caroline Miller.
Siapa yang tidak kenal wanita liar ini. Kekayaan yang dimiliki keluarganya turun temurun membuatnya bosan dan mencoba banyak hal yang diluar nalar. Sejak kecil, kehilangan orangtua membuatnya kekurangan kasih sayang. Kakeknya yang merupakan pengganti orangtuanya sangat menyayanginya. Eve bisa melakukan apapun yang dia inginkan tanpa harus merasa terbebani dan takut. Namun ternyata itu treatment yang salah. Eve tumbuh menjadi anak yang terlampau bebas.
“Eve!” Amelia berteriak keras. Sahabat baiknya itu sedang berlatih muay thai dan tak bergeming sama sekali atas panggilannya. “EVE!” Kali ini Amelia berteriak keras. Eve berhenti dan membuka earphonenya.
“Ha?” wajahnya berkeringat dan wajahnya memerah karena lelah.
“Aku punya berita! Kamu pasti suka.” Amelia mendekatinya dengan wajah berbinar.
“Tidak sekarang. Aku masih berlatih.” Eve kembali mengenakan earphonenya.
“Wait… wait…” Amelia menahan Eve namun Eve kembali menendang keras dan melanjutkan latihannya. Amelia menghela napas, Eve tak akan bisa dihentikan apabila sudah sefokus ini. Amelia menunggu di samping ring sambil memainkan handphonenya. Satu jam kemudian, Eve mendekati Amelia dan mulai mengurai kain yang dikenakan di kedua tangannya.
“What?” Eve meneguk air mineral hingga habis.
“Look!” Amelia memperlihatkan handphonenya.
Eve melihat dengan kening berkerut. “Apa itu?”
“Undangan party!”
Eve tertawa kecil dan berjalan menuju lokernya. “Untuk?”
“Kamu gak mau join? Biasa kamu semangat banget.”
“Tergantung tamunya.” Eve mulai mengambil handuk dan melangkah menuju kamar mandi.
“Kamu tahu duo Logan dan Jaxon? Pria-pria tampan dan kaya raya akan hadir di sana. Aku tidak sabar!” Amelia nyaris berteriak girang ditelingaku. Eve tertawa kecil dan mulai menyalakan shower. Amelia masih mengoceh tiada henti dari luar.
Eve menikmati air dingin yang mengaliri tubuhnya segar. Kenangannya kembali pada saat dirinya masih memiliki orangtua lengkap. Ibunya sering membuatkannya pasta kesukaannya sementara ayahnya akan membacakan cerita lengkap dongeng puteri-puteri kerajaan yang selalu memiliki happy ending. Air mata Eve mengalir tanpa bisa ditahannya. Jika mengingat wajah kedua orangtuanya, dia pasti akan menangis. Entah mengapa hari ini dia sangat merindukan mereka.
Eve berencana akan mengunjungi makan ibu dan ayahnya. Apa karena hari ini juga ulang tahunnya? Peringatan ulang tahun ke 23 yang tragis dan menyedihkan. Dihari yang sama saat dia harus kehilangan orangtuanya 15 tahun lalu. Mobil yang dikendarai orangtuanya terjatuh kedalam jurang. Setelah di selidiki, itu semua karena perbuatan rekan bisnis kakeknya yang berkuasa. Sejak saat itu Eve sangat membenci kakeknya, namun apa daya. Hanya beliaulah satu-satunya anggota keluarganya yang terakhir.
Air matanya enggan berhenti mengalir. Eve tak ingin terlihat lemah dihadapan Amelia atau… si mulut ember itu akan membeberkan semuanya kepada kakeknya. Amelia memang sahabat baiknya yang selama ini menemani dan tahu seluruh rahasia nakalnya. Hanya saja mulutnya kadang tidak bisa dijaga.
Eve memeluk tubuhnya perih. Pagi ini kakeknya sudah menghubunginya berulang kali agar pulang malam ini. Kakeknya ingin merayakan ulang tahunnya secara besar-besaran. Eve tidak mood merayakan hari dukanya semeriah itu. Seharusnya kakeknya menemaninya mendatangi makam kedua orangtuanya dan berdoa bersama. Itulah mengapa Eve tidak ingin tinggal di mansion kakeknya dan memilih hidup mandiri di tengah kota tanpa fasilitas mewah.
Eve hanya tinggal di sebuah rumah kecil dengan ukuran 10m x 13m. Rumah itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri selama bekerja dan berkuliah. Lulus dari universitas bergengsi National University of Singapore (NUS), Eve tidak lantas ingin bekerja di bawah kakeknya. Justru dia merasa kekayaan kakeknya adalah kutukan maut baginya yang merebut kedua orangtuanya beringas. Bentuk ketidaksukaannya terpancar dari kelakuan sehari-harinya. S
ejak usia 20 tahun, Eve sudah kehilangan kesuciannya. Eve memberikannya kepada p****************g yang membelinya dengan harga mahal. Sedikit darah asing yang mengalir ditubuhnya memang membuat perawakan wajah dan tinggi tubuhnya diatas rata-rata.
Ayahnya yang adalah keturunan Indonesia-Belanda benar-benar mengambil andil dalam bentuk wajahnya. Sejak saat itu, tanpa sepengetahuan kakeknya, Eve mulai menikmati dunia malam. Hanya alkohol yang membuatnya tenang jika sedang merindukan suasana rumah dengan orangtuanya di dalamnya. Namun satu tahun lalu, Eve menjalani terapi dan mulai menyalurkan emosinya kepada olahraga fisik seperti muay thai.
Siapapun yang tidak mengenal dirinya secara langsung akan mengira dirinya adalah seorang p*****r kelas kakap. Eve memang suka mengenakan pakaian terbuka. Itulah bentuk kepercayaan dirinya. Seks? Eve hanya akan melakukannya demi uang dan tentu saja pria yang tampan. Eve kembali membasuh tubuhnya. Air matanya luruh terbawa dan menghilang. Eve menarik napas panjang. Memalsukan senyumnya. Dirinya mulai mengenakan handuk dan keluar menemui Amelia yang masih menunggunya diluar.
“Ya? Ya? Ya?” bujuk Amelia.
“Aku harus pergi kesuatu tempat. Aku tidak janji.” Eve memakai bajunya.
“Uh? Kamu ingin ke makam papi mami?”
Gerakan Eve terhenti sejenak, dia menarik napas panjang dan kembali memakai bajunya. “Ya.”
“Kamu ingin aku…”
“Aku ingin pergi sendirian. Please.” Eve berbalik menatap serius. “Rahasiakan ini juga dari Grandpa. Aku mohon padamu.” Amelia terbungkam.
“Baiklah.”
Eve berjalan menuju lapangan parkir dan memasuki mobilnya. Eve singgah disalah satu toko bunga dan membeli tiga buket bunga daisy ungu. Bunga ini kesukaan ibunya. Eve berjalan menyusuri jalan setapak. Makam kedua orangtuanya terletak agak jauh kedalam kebun keluarganya. Kebun itu memiliki sebuah dataran yang agak tinggi. Disitulah kakeknya menguburkan kedua orangtuanya beserta istrinya.
Eve menaruh satu persatu buket bunga itu di depan nisan orangtua dan neneknya. Eve tersenyum sedih dan berjongkok membersihkan rumput-rumput liar yang mulai tumbuh. Tanpa bisa ditahannya, air matanya jatuh seketika. Dirinya merasa sangat kesepian di dunia yang kejam ini.
Kakeknya memang baik, namun itu bukanlah tanpa maksud. Eve merupakan pion terakhirnya untuk memperluas bisnisnya. Angin senja menerpa wajahnya dingin. Matahari mulai terbenam. Eve selesai membersihkan semua rumputnya dan bangkit.
Eve melihat makam tiga orang yang disayanginya untuk terakhir kali. Entah kapan dia sanggup lagi datang seperti ini. Eve mengendarai mobilnya dengan kecepatan gila-gilaan. Handphonenya terus berdering dengan nama kakeknya tercantum di sana. Eve meraihnya dan mematikannya total.