Eve mengetuk pintu apartemen Amelia. “Hei.” Amelia menyambut senang. Eve segera memasuki ruang tamu Amelia.
“Aku tak memiliki baju.”
“Tenaaaaaang!” Amelia berujar girang. “Aku punya sesuatu yang bagus untukmu!”
“Alright. Kamu menjadikanku uji coba busana yang kamu rancang bukan?” Eve mengikuti tangan Amelia yang menariknya erat menuju kamar. Amelia sedang menempuh kuliah di bidang designer. Dirinya sering menjadi model uji coba. Amelia memberikannya sebuah dress pendek backless berwarna merah. Panjang dress tersebut hanya mampu menutupi bagian bawahnya sedikit. Eve tersenyum. Dress ini favoritenya.
“Kamu memang modelku yang hebat!” Amelia memuji sambil mengangguk-angguk puas.
“Aku tidak tahu kamu juga membuat dress mini.”
“Hanya iseng. Dosenku memintaku keluar dari zona nyaman. Aku mencoba berkreasi dengan ini.”
“Warna ini begitu menyala.” Eve menaikkan rambutnya menampilkan lehernya yang jenjang.
“Look baby girl… Dipesta ini akan banyak pengusaha-pengusaha kaya raya. Dapatkan satu dan bawa pulang.” Cengir Amelia.
Eve tertawa, “Kamu ya.”
“As always.” Eve meraih make up di dalam tasnya dan mulai mengaplikasinya kewajahnya. Amelia sudah siap mengenakan dress mini berwarna pink. Rambut Eve sengaja di ikat messy bun, demi memperlihatkan lehernya yang jenjang. Heels berwarna hitamnya mempercantik kaki mulusnya yang memanggil menggoda.
Eve mengenakan make up tipis membuatnya justru terlihat cantik natural. Amelia meraih heels toscanya dan bercermin di sebelah Eve. “Kita akan mendapat mangsa malam ini.”
Eve tersenyum lebar. Amelia berlalu mengambil dompetnya. Senyum Eve sirna seketika saat Amelia tidak disebelahnya. Eve tak ingin mengikuti party itu tetapi dia tahu Amelia sudah banyak membantunya selama ini. Wajahnya boleh tersenyum lebar tetapi hatinya menangis. Meraung-raung bahkan.
Eve bercermin lama dan menelusuri tiap sisi wajahnya. Untuk apa pahatan sempurna ini jika hatinya terus tercabik-cabik dari dalam. Eve menutup matanya menenangkan hatinya, dia tak boleh mengecewakan Amelia. Eve meraih tasnya dan berjalan menuju mobil sport Amelia.
“Papi kamu beneran gak tahu kamu ke party malam ini?”
“Sudah. Tenang aja! Papi mami lagi di luar negeri.” Amelia mulai menyalakan mobilnya dan melaju kencang. Mereka tiba di sebuah mansion mewah. Music DJ terdengar dari luar. Beberapa penjaga berjaga ketat. Amelia mengecek wajahnya sekali lagi di spion mobilnya. Eve hanya berdiri mematung. Malam ini sepertinya akan menjadi malam yang panjang.
Mereka melangkah menuju pintu masuk. Amelia mengeluarkan undangannya. Bermacam-macam bau parfum memenuhi ruangan. Amelia tersenyum lebar melihat banyak pria-pria tampan berlalu lalang di depannya. Beberapa bahkan sudah mengedipkan mata kearah mereka. Eve melihat sekeliling, matanya mengeker dari kejauhan. Pria-pria yang berlalu lalang mencari perhatian adalah selera Amelia, bukan seleranya.
“Jam 12 harus pulang.” Eve berbisik ketelinga Amelia.
“Oke.” Amelia mulai berjalan kearah kiri dan Eve berjalan kearah kanan. Moodnya hilang seketika, party ini memang besar dengan DJ tenar tetapi tamu-tamunya bukanlah incarannya. Eve menuju bar dan memesan pina colada.
“Thanks.” Kata Eve setelahnya dan mulai menyecapnya. Sepertinya malam panjang ini hanya akan dihiasi oleh alkohol, tanpa sentuhan pria. Ini gelas ke duanya. Waktu berlalu begitu saja, beberapa pria mendatanginya dengan dandanan dandy. Eve membalasnya dengan senyum kecil dan kembali mengabaikan mereka.
Satu persatu pria itu pergi karena merasa diabaikan. Beberapa wanita mulai meliriknya dengan tatapan sinis. “B*tch!” maki Eve pelan. Bartender di depannya tertawa kecil. “What?!” tanya Eve kesal.
“Slow down, Baby girl. Malam masih panjang.” Kata bartender itu lagi. Kedua tangannya dipenuhi tato. Tapi wajahnya tampan, Eve melihatnya seperti Devan, adik kelasnya yang selalu membututinya dulu. Eve kembali meminum pina coladanya. “Ingin lagi?” tawarnya.
“Vodka.” Jawab Eve singkat. Pina colada tidak membuatnya mabuk.
“Malam masih panjang. Yang punya acara bahkan masih pemanasan di atas.” Kata bartender itu lagi. “Aldari.” Tangannya terulur ingin berjabat. Eve menyambutnya sambil mengangguk.
“Eve.”
“Kamu ingin akses ke VVIP room?” tawarnya dan memberi kode agar melihat kebelakang. Eve tertawa kecil dan mengikuti lirikan Aldari. Matanya lalu melihat keatas. Logan menatapnya lurus sambil tersenyum. Champagne ditangan diangkat tinggi menandakan ‘cheers’. Eve menatapnya blank dan kembali menikmati vodkanya.
“Jika dia ingin menggodaku, dialah yang harus turun.” Tantang Eve.
Aldari tertawa kecil. “Smart girl.” Aldari memberi kode kearah Logan. Eve bisa mendengar histeris wanita-wanita itu di belakangnya. Sepertinya malamnya tidak hanya akan ditemani alkohol saja. Dirinya harus siap.
“Hey.” Logan duduk disebelahnya dan mengetuk meja memesan vodka, minuman yang sama dengan Eve. “Logan.” Tangannya terulur ramah. Eve meliriknya sebentar dan menyambutnya.
“Eve.” Katanya sambil tersenyum kecil dan menyecap vodkanya. Logan menelusuri dari ujung kaki hingga ujung rambut, senyum nakalnya tercipta.
“Kamu datang sendirian?” Logan memperlihatkan senyum mautnya.
“Aku bersama teman.”
“Oh… Pria? Wanita?”
“There…” tunjuk Eve dengan lirikan matanya kepada Amelia yang sedang berdansa dengan beberapa pria.
“Dress pink?”
“Ya.” Eve kembali menatap Aldari bingung. Eve meminta penjelasan. Aldari tertawa kecil.
“Bos, yang satu ini gak suka basa basi.” Ujar Aldari.
“Oh… wow… aku juga.” Senyum Logan semakin lebar. “Eve, kamu ingin ke atas?”
Eve melirik Logan dari atas ke bawah kembali membuat Logan tertawa kecil, “Why? Kamu tahu pasti apa yang kukenakan lebih dari ribuan dollar.”
Eve bangkit berdiri percaya diri, “You better not fool me, Boy.” Bisik Eve dan berjalan lebih dulu. Beberapa pasang mata menatapnya iri. Siapa yang tidak ingin bersama dengan seorang Logan yang popular dan bergelimang harta? Sesampainya di lantai dua, Eve melihat sekeliling. Terdapat lima pria dan dua wanita yang lain saling duduk berdekatan.
Dari jarak itu Eve tahu jika dua wanita itu adalah penyuka sesame jenis. Mereka memandanginya lapar. Hanya satu pria yang terlihat tidak tertarik dengan kehadirannya. Dirinya mengenakan kemeja hitam, rambutnya klimis tersisir rapi kebelakang. Tangannya menggenggam gelas whiski. Terlihat sangat misterius dan dingin. Matanya menatap kearah luar.
“Guysssss… Perkenalkan ini, Eve.” Logan memeluk pinggangku dengan erat. Mataku tak berhenti lekat menatap pria misterius itu. Entah mengapa dia begitu menarik perhatianku. Empat pria dan dua wanita itu bersiul dengan riuh menyambut kedatangan Eve. “Jaxon, berikan vodka.” Pinta Logan. Pria misterius itu bangkit membuat suasana hening seketika. Logan menghampirinya.
“Aku harus pulang.” Katanya dengan suara baritone-nya yang seksi. Eve tersenyum seketika.
“What? Why? Acara bahkan belum dimulai.” Protes Jaxon dan ikut bangkit. Max menatap kedua sahabatnya itu dingin. Terang dia tidak terlalu ingin berada dipesta ini. Tatapan Eve tidak lepas mengikuti setiap gerak tubuh Max yang semakin membuatnya terpikat.
“Aku benar-benar harus pulang.” Max kembali menekankan. Kali ini suaranya terdengar lebih tegas.