“Oh come on, Max. Kami menyiapkan party ini untukmu.” Keluh Logan.
“Penerbanganku esok pagi-pagi buta.”
Logan tertawa, “Kamu yang punya jet, penerbangan sesuka kamulah! Undur beberapa jam.”
Mendengar kata jet, Eve tersenyum di dalam hati. Pria misterius yang menggelitik hatinya ternyata sekaya itu. Eve memilih mundur beberapa langkah menuju pintu saat Max mulai berjalan pergi meski Logan dan Jaxon berusaha menghentikannya.
“MAX! Oh come on!” protes Jaxon dan menahan tangan Max. “Ini pesta buat kamu.”
Max berhenti dan berbalik, sosoknya tepat di hadapan Eve. Postur tubuh Max yang tinggi, besar dan berotot terlihat lezat dari balik kemejanya. Eve memiliki tinggi tubuh di atas rata-rata namun pria ini jauh lebih menjulang. Dari jarak dekat itu Eve bahkan bisa menghirup parfum yang dikenakan Max. Sungguh maskulin dan menyegarkan, sangat cocok dengan sosoknya.
“Kirimkan billnya ke emailku. Kalian nikmatilah pestanya.” Pria yang bernama Max itu berlalu begitu saja bahkan tanpa melirik Eve sama sekali. Logan dan Jaxon terduduk malas. Mereka memulai pesta kembali tanpa memperdulikan Max yang sudah melangkah menuju lahan parkir.
Eve segera menyusulnya dengan cepat. Meski dirinya mengenakan heels yang menyakitkan, Eve tak ingin melepaskan kesempatan itu. Bahu kokoh Max semakin terlihat menggiurkan saat melangkah cepat. Eve hanya beberapa langkah dibelakangnya. Max berjalan menuju empat pengawalnya yang menunggu dengan pintu mobil terbuka.
Namun tangan Eve lebih cepat meraih pergelangan tangannya. Max berbalik dingin, matanya menatap tajam Eve yang berusaha menata napasnya. Tangannya masih menggenggam pergelangan itu erat. Eve bahkan terduduk karena kelelahan. Max berusaha melepaskan tangan Eve tetapi wanita itu jauh lebih kukuh.
“Who?” tanya Max mulai terdengar kesal. “Aku sedang terburu-buru.”
Eve bangkit, napasnya sudah lebih teratur. Matanya menatap sama tajamnya kearah kedua bola mata Max. Entah apa yang membuat Eve berani, diraihnya wajah Max cepat dan mengulum bibirnya lapar. Max tertegun tanpa bisa melawan.
Eve berusaha membuat lidahnya memasuki akses mulut Max namun Max bertahan menolaknya. Tangannya kini memegang kedua pundak Eve dan berusaha mendorong tubuhnya. Bibir mereka terurai dengan cepat. “What the ***.” maki Max menghusap bibirnya. Pengawalnya terlihat berjalan mendekati mereka. Eve menyadari itu sigap.
“I love you.” Kata Eve cepat membuat Max menatapnya syok. Keempat pengawalnya juga terhenti terkejut. Eve menatap Max lembut. Max tertegun, hati kecilnya tergelitik. Baginya, dia sudah bertemu ratusan jenis wanita dengan berbagai karakter namun wanita di hadapannya adalah kasus yang lain.
Max melihat sosok Eve secara jelas dari ujung kakinya hingga ujung rambutnya. Dimata Max, Eve seperti wanita penjajak diri. Tetapi tatapan mata Eve mengatakan hal yang berbeda. Itulah yang membuat Max penasaran.
Max menghela napas panjang, berusaha menguasai dirinya. Mungkin dia hanya sedang kesepian karena perlakuan Agatha dan wanita cantik ini berusaha menggodanya, dia tak boleh terjebak.
“You know… aku…” balas Max dingin.
“Aku tahu.” Eve tersenyum kecil dan berbalik pergi meninggalkan Max yang berdiri mematung. What? Max masih tidak mengerti apa yang terjadi. Wanita itu yang menciumnya tiba-tiba dan mengatakan mencintainya tetapi pergi begitu saja?
“Tuan, anda tidak apa-apa?” tanya salah satu pengawalnya.
“Ya.” Jawab Max dan berjalan pergi, dirinya kembali melihat untuk terakhir kalinya. Punggung Eve berjalan semakin menjauh darinya dengan tertatih. Heels yang dikenakannya terlihat menyakitinya.
“Nyonya menghubungi anda.” Lapor pengawalnya yang lain.
“Ya, aku akan menjawabnya nanti.” Max memasuki mobilnya dan menyandarkan bahunya lelah. Sekali lagi matanya melirik Eve yang sudah kembali memasuki gedung dan hilang dibaliknya. Setelah bertahun-tahun lamanya, baru kali ini dia kembali merasa penasaran kepada seorang wanita. Karena memilih menikah dengan Agatha, Max menutup akses bagi wanita lain memasuki hatinya.
“Ada yang menganggu pikiran anda, Tuan?”
“Tidak.”
“Anda ingin saya mencari tahu identitas wanita yang tadi?”
Mata Max terbuka lebar. “What?!” tanyanya gusar.
“Maaf. Saya hanya berpikir anda terlihat penasaran.”
“Aku hanya lelah. Jangan pernah menyinggung ini di depan istriku.” Desis Max.
“Baik.”
Eve kembali memasuki ruangan namun moodnya menjadi tidak enak. Kakinya melangkah mencari Amelia. Begitu ditemukannya, dia meminta ijin untuk pulang duluan. Amelia menatapnya bingung. “Tumben.”
“Tidak terlalu menyenangkan. Duluan ya.”
“Kamu naik apa?”
“Taksi.” Jawab Eve pendek dan memeluk Amelia.
“Oke. Hati-hati.” Amelia membalas rengkuhan Eve.
Sesampainya di kediamannya, Eve segera melepas pakaiannya dan menyegarkan ototnya di bawah guyuran hangat air hangat. Pikirannya tidak lepas dari sosok Max yang baru ditemuinya. Apa takdir menyetujuinya untuk bertemu kembali? I love you? Jika mengingat itu, Eve kembali tertawa. Hingga saat ini dia tak pernah mempercayai cinta. Baginya, cinta sejati hanya berlaku diantara hubungan orangtua dan anak. Max… oh Max… Siapakah dia yang sebenarnya? Ada sesuatu yang membuatnya tertarik lebih dari kekayaannya.
Setibanya di mansionnya, Max segera berlalu menuju dapurnya dan menuangkan segelas air mineral. Agatha muncul dari balik pintu sudah mengenakan pakaian tidurnya. “Dari mana?” tanyanya melipat tangan di d**a.
“Logan dan Jaxon mengadakan pesta.” Max menoleh kearah Agatha. Dirinya sudah siap jika Agatha akan mengomentarinya ini itu.
“Dua pria tidak jelas itu.” keluh Agatha. Mendengar itu Max tanpa sadar menggenggam gelasnya kesal. Agatha memang tidak pernah menyukai teman-temannya, entah mengapa. Tetapi bagi Max, dia tak pernah memprotes apapun yang dilakukan Agatha di belakangnya. “Kamu harus berhenti berteman dengan mereka.” lanjut Agatha dengan wajah tidak nyaman. Max menahan diri dan menghela napas. Dirinya berharap ada satu hari nyaman tanpa pertentangan. Tetapi Logan dan Jaxon adalah orang-orang berjasa di dalam hidupnya, hatinya kembali panas.
“Why?” Max berusaha menenangkan hatinya dengan meneguk satu gelas lagi air mineral.
“Mereka terlihat dekil dan tidak memiliki etika.” Agatha mendekati bar dan menuangkan wine merah.
“Bagaimanapun mereka tetap sahabat baikku.” Kata Max membela. Agatha menatapnya merendahkan. “Dan jika aku bisa mengatakannya, mereka merupakan orang terpandang juga.”
“Ya. Aku bisa lihat itu.” jawab Agatha malas, dia masih berpikir Logan dan Jaxon tidaklah sederajat dengan dirinya.
Max tidak ingin meladeni celotehan menyakitkan Agatha lagi dan memilih menuju kamar utama untuk membersihkan diri. Air dingin yang membasahi tubuhnya membuat pikirannya rileks seketika. Jika dia harus menemukan ketenangannya sendiri, maka kamar mandi adalah tempat terbaik untuknya. Air yang mengalir ini menjadi teman curhatnya yang sempurna. Segala keluh kesahnya larut bersamaan dan menghilang.
Lalu bayangan Eve terlintas dalam pikirannya. Max tertegun, mengapa dia harus memikirkan wanita itu saat ini? Eve hanya terlihat seperti wanita penghibur yang mengincar uang. Max masih bisa mengingat jelas bagaimana sosoknya, glamour, menawan dan memikat.