Jika memang sudah seperti itu, hatinya justru tergerak oleh perasaan lain. I love you. Kata-kata itu terus terngiang. Max mengepalkan kedua tangannya kesal. Semenjak menikah dengan Agatha, dia sangat membenci kalimat ‘I love you’. Baginya kalimat itu bagai penjara yang menjerumuskannya kepada ikatan yang salah. Max menutup matanya lagi berusaha menenangkan diri, dia mencintai Agatha dan itu tidak akan berubah hingga nanti.
Setelah selesai membersihkan diri, Max berjalan menuju kamar ganti dan mengenakan sweat pantsnya. Agatha menunggunya di atas king bed mereka sudah dalam keadaan telanjang. Max tertegun tetapi tersenyum kemudian. Agatha memijat payudaranya lembut menggoda Max. “Come.” Pinta Agatha manja.
Max menghampirinya dan ikut menyentuh p******a ranumnya pelan. Max masih ingat jelas jika Agatha tidak suka diremas, d**a implan ini tidak seperti yang asli. Sekali diremas, sakitnya menjadi luar biasa. Max mulai mengulum puncaknya dengan lapar, Agatha mengerang. Senyum lebar tercetak di bibirnya.
Tangannya mengelus rambut Max pelan. Max tidak ingin membuat bagian yang lain menjadi iri dan mulai mengecupi leher terbuka Agatha, meninggalkan bekas ciuman di sana. Bibir mereka saling bertautan lapar, lidah Agatha berusaha memasuki mulutnya. Di saat itulah Max kembali teringat apa yang dialaminya bersama Eve. Tubuhnya membeku, Agatha bisa merasakannya dan menguraikan bibirnya.
“Why?” tanyanya dengan kening berkerut.
“Ah… tidak…”
“Kamu tak ingin bercinta sekarang?” tanya Agatha lagi.
“No… Aku hanya… lelah.” Max menutup wajahnya berusaha mengembalikan pikirannya yang sedikit terganggu.
Agatha masih menatap suaminya itu dengan kening berkerut. “Jam berapa keberangkatanmu besok?”
“Subuh. Jam 4.”
“Sepagi itu?”
“Seharusnya malam ini.”
“Oh, oke.” Agatha menyentuh wajah Max. “Tapi aku sedang h***y sekali.” Agatha menjilat bibirnya seksi.
“Oral?” Tawar Max. Agatha tersenyum dan mengangguk. Kedua paha dalamnya terbuka lebar memberikan akses. Max mulai menciumi paha dalam Agatha dengan mesra. Tangannya mengelus perut istrinya penuh cinta. Ya, dia tak boleh melupakan hal ini. Agatha adalah cinta pertamanya.
Max mulai menjilati bibir area sensitif Agatha lapar membuat Agatha mengerang keras. Cairan pelumasnya mengalir dari liangnya yang hangat. Max membersihkannya dengan lihai. Jilatan demi jilatan membuat Agatha menutup mata puas, hisapan Max sudah membawanya menuju langit ketujuh.
Dua jari gemuk Max kini menyetubuhi miliknya tanpa ampun. Tubuhnya bergetar hebat saat mencapai puncaknya. Max tersenyum dan terus menghabiskan cairan yang mengalir deras. Tubuh Agatha terlentang tak berdaya. Max bangkit dan mengecupi bibir Agatha, membiarkan sang pemilik cairan merasakan miliknya sendiri.
“Hmmm…” Agatha meliuk erotis. “Thanks, Baby.”
“Anytime.” Max mengecup kening Agatha dan bangkit menuju kamar mandi. Max mencuci mulutnya dan kembali menuju king bed setelahnya. Agatha sudah menutup mata kelelahan. Max meraih tubuh Agatha dalam pelukannya dan tak lama kegelapan menyelimutinya.
Pagi harinya, Agatha masih tertidur lelap. Max bangkit dan bersiap untuk keberangkatannya menuju Taiwan. Dirinya sudah bersiap mengenakan kemeja putih dan celana kain abu. Dihampirinya Agatha yang masih tertidur. Max mengecup keningnya. “I love you.” Bisiknya.
“Hmm…” hanya itu jawaban Agatha dan kembali terlelap. Max bangkit meraih tas kerjanya dan menuju mobil yang sudah terparkir. Di dalam jet pribadinya Max menyantap makan paginya bersama dengan tangan kanannya, Noval. Max meneguk habis air mineralnya.
“Anda terlihat kurang baik.” Kata Noval kemudian.
“Tidak terlalu.” Jawab Max dan meminta pramugari membersihkan meja di hadapannya.
“Ada yang menganggu pikiran anda?”
Max membersihkan bibirnya dengan sapu tangan, ditatapnya Noval dengan kening berkerut. Noval dan dirinya sudah berteman nyaris 15 tahun lamanya. Usia mereka sebaya. Noval memiliki kehidupan yang sama dengannya yang terlahir tanpa orangtua.
Max merasa iba dan membantu Noval meraih pendidikan tingginya. Hingga Noval lulus dengan nilai sempurna, dia ingin bekerja di bawah kepemimpinannya. Hingga saat ini mereka menjadi sahabat yang baik. “Kenapa kamu berpikir seperti itu?”
“Max…” Noval mulai memanggil namanya. Jika sudah dalam mode itu, Noval akan menasehatinya seperti seorang sahabat. “Aku tahu apa yang terjadi denganmu dan Agatha.”
“How?” tantang Max, sebelah alisnya naik. Tatapan matanya menguji. “Kamu memasang kamera di dalam rumah kami?”
Noval tertawa kecil, “Aku mengenalmu nyaris 15 tahun. Apa yang tidak kuketahui tentangmu?”
“Well… kamu benar.”
“Mungkin kamu harus berbicara terbuka terhadap Agatha.”
Kini gantian Max yang tertawa, “Menurutmu Agatha adalah tipikal orang yang bisa diajak bicara?”
Noval ikut tertawa, “Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya sebelum menikahi dia.”
“Aku tahu.” Max menghela napas panjang, “Tapi aku mencintainya.”
“Then… enjoy.”
“I will.” Max kembali meneguk air mineralnya. “Agatha wanita yang baik.” Noval tidak menjawab namun mengangguk.
Setibanya di Taiwan, Max segera menuju salah satu kantor terbesar yang bergerak di bidang IT. Mereka menawarkan kerja sama bisnis. Max dan Noval mengikuti meeting mereka yang berlangsung selama dua jam. Dirinya harus mengikuti meeting yang sama selama dua hari.
Di hari ketiga, Max memutuskan untuk berkeliling di kota merilekskan pikirannya. Noval bersamanya dengan dua pengawal yang lain. Max terlihat tampan mengenakan kaos v-neck berwarna putih. Pikirannya sedikit tenang saat duduk disebuah restoran rooftop.
Pemandangan malam hari dengan dihiasi gedung tinggi dan kerlap kerlip lampu dari berbagai gedung dan bangunan membuat hatinya tenang. Musik klasik mengalun pelan. Alangkah bagusnya jika Agatha bisa di sini bersamanya. White wine yang dinikmatinya menambah suasana romantis. Angin semilir yang menerpa tubuhnya membuat dirinya seperti berada di atas awan.
Max mengedarkan pandangan disekelilingnya. Beberapa pasangan sedang menikmati makan malam. Dari yang muda hingga lanjut usia. Lalu tubuhnya tertegun menemukan Eve duduk sendirian di sudut ruangan mengenakan dress putih satin. Dirinya terlihat cantik seperti boneka dengan rambut terurai. Matanya melihat kearah luar, wajahnya terlihat sangat sedih.
Bagaimana mungkin dia berada di sini? Apa wanita itu mengikutinya? Itu tidak mungkin. Mereka tidak saling mengenal. Max terus menatap intens Eve yang sama sekali tidak tertarik dengan pemandangan di dalam restoran itu. Dirinya seperti melamun menatap lampu-lampu kota.
Tangannya terkepal keras tanpa disadarinya. Wanita itu bukanlah siapa-siapa mengapa dia harus peduli. Max kembali mengalihkan pikirannya dan mengabaikan Eve. Jarak mereka cukup jauh, dipisahkan oleh 4 meja. Terlebih empat meja tersebut penuh.
Waktu berjalan lambat, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Akhirnya Eve bangkit dan meraih tasnya. Tatapan mata mereka tak sengaja bertemu. Jantung Max seakan terhenti. Eve memasang wajah dingin tanpa ekspresi, dia bukanlah Eve yang ditemuinya di pesta itu. Eve mengalihkan wajahnya dan berlalu pergi.
Max tertegun sekali lagi, hatinya justru kecewa. Kenapa dia harus kecewa? Bukankah ini yang diinginkannya, dia ingin agar Eve mengabaikannya dan meninggalkan hidupnya yang bahagia bersama Agatha. Toh mereka baru bertemu satu kali itupun tidak dalam waktu yang lama.
Dirinya tak boleh goyah. Namun ternyata pikirannya berkata lain. Max bangkit mengikuti langkah Eve dan melihat angka lift yang ditujunya. Eve berhenti disebuah balkon, mereka sedang berada di lantai 10. Eve berdiri dipinggirnya menikmati angin yang bertiup semilir. Eve menjatuhkan tasnya dan seketika menaiki terali besi pelindung. Max terkejut. Apa yang ingin dia lakukan? Apa dia ingin bunuh diri?