“F*ck!” makinya dan berlari menghampiri Eve yang kini sudah nyaris menjatuhkan dirinya. Max segera meraih pinggang Eve, memeluknya erat.
“LEPASKAN!” Teriak Eve brutal. Max tidak bergeming, “AKU BILANG LEPASKAN!” Eve meronta namun tenaga Max lebih besar. Max menarik tubuh Eve hingga mereka berdua terjatuh menghantam lantai.
“F*CK!” maki Max ketika punggungnya terkena kerasnya lantai keramik itu. Eve terjatuh di atas tubuhnya tak bergerak. Max terkejut. “Hey… hey… hey…” panggil Max mengguncang tubuh Eve berulang kali. Namun Eve tak kunjung membuka kedua matanya. Tubuhnya mengalami demam tinggi. Bibirnya begitu pucat. Max segera meraih handphone miliknya sembari memeluk tubuh tak berdaya Eve. “Bawa pengawal kemari. Lantai 10.” Pinta Max.
“Baik, Bos.”
Max mematikan line dan kembali kepada tubuh Eve yang kini bergetar kedinginan. Max memperhatikan dress mini yang dikenakan Eve. Kulitnya terpampang jelas, Max bisa merasakan betapa lembutnya kulit itu. “Sh*t! kenapa dia harus mengenakan dress mini seperti ini.” Maki Max. Namun dia tak bisa melakukan hal banyak selain memeluk tubuh Eve, berusaha menghangatkannya. 10 menit kemudian, pengawalnya datang dengan napas terengah-engah.
“Bos.” Panggil mereka dan ingin menggendong Eve namun Max tiba-tiba menahan tangan mereka.
“Biar aku saja. Tunjukkan jalan ke rumah sakit.”
“Baik.”
Perjalanan itu tak memakan waktu lama, Eve sudah terbaring di salah satu ruang dengan infus melekat pada pundak tangannya. Max masih berdiri di sana menatap intens wajah pucat Eve. Hatinya semakin tergelitik. Belum pernah dia merasakan hal yang seperti ini.
Hanya satu wanita tetapi membuatnya seperti dihantui. Apalagi mereka bertemu dalam waktu sangat singkat. Max menghela napas dan melirik jam tangannya yang menunjukkan tengah malam. “Bagaimana dia?” tanya Max kepada dokter yang sedang mengecek tubuh Eve.
“Kelelahan dan stress.”
Max mengerutkan keningnya, “Really?”
“Tubuhnya sangat lemah dan…”
“Dan?”
“Dia harus berhenti mengkonsumsi obat ini.” Dokter mengeluarkan sesuatu dari poketnya.
“Apa itu?”
“Obat penenang.”
Max semakin tak mengerti, “Lalu? Bukannya itu legal?”
Dokter tersebut menggeleng pelan, “obat ini illegal. Efek sampingnya bisa sangat berbahaya, pasien bisa terkena serangan jantung tiba-tiba.”
“Separah itu?”
“Ya. Kami terpaksa membongkar tasnya karena keadaan ini.”
“Tak masalah.” Max terlihat berpikir dan menatap Eve kembali.
“Kapan dia akan sadar?”
“Pagi ini. Tergantung ketahanannya tubuhnya.”
“Oke. Thanks.” Jawab Max dan dokter tersebut meninggalkan mereka berdua. Max berdiri mematung menatap Eve ketika Noval memasuki ruangan.
“Bagaimana?” tanya Noval penasaran. Max mengangkat bahu cuek. Noval menatapnya bingung, “tapi kamu menolongnya? Seorang Max Giovanni Cooper yang dingin menolong wanita asing?” goda Noval.
“Shut up!” Max memilih duduk di sebuah kursi dan menghela napas panjang.
Noval mendekati tempat tidur Eve, “Cantik bener. Kamu pasti mengenalnya.”
“Aku bilang tidak.” jawab Max malas dan mulai menutup matanya.
“Kamu ingin kembali ke hotel?” Max membuka matanya dan menatap Noval, tubuhnya memang lelah. Tetapi dia enggan beranjak. “Pengawal bisa menjaganya. Kamu bisa kembali menjenguknya besok.” Mendengar saran Noval, Max bangkit dan meninggalkan ruangan rumah sakit. Dirinya harus beristirahat terlebih karena dirinya akan kembali ke Indonesia setelahnya.
Esok paginya, Max memilih menjenguk Eve sebelum jadwal keberangkatannya. Max memasuki ruangan tersebut dan membeku kaget ketika dilihatnya Eve telah bangun dengan lengan kiri berdarah-darah. Max melihat infus yang tercabut paksa. Tatapan Eve terlihat kosong. Tubuhnya dalam posisi duduk dan melihat kearah luar jendela. Darah tersebut bahkan mengaliri selimut yang dikenakannya. Max mendekatinya cepat. “APA YANG KAMU LAKUKAN!”
Eve menoleh dengan senyum sinis dan menampar tangan Max yang menyentuh tubuhnya. Max tertegun. “Pergi.” Desis Eve dalam dan memeluk tubuhnya gemetar. Tangannya yang masih mengeluarkan darah kini membasahi gaun yang dikenakannya.
Max menatap seksama luka Eve, ternyata kulitnya robek sehingga darah mengalir deras. Mungkin Eve mencabutnya sangat kasar. Max segera memencet tombol darurat. Tak lama dua perawat memasuki ruangan dan terkejut melihat darah Eve. Mereka berusaha membujuk Eve untuk merawat lukanya. “Di mana obat milikku?” tatap Eve menakutkan.
“Uh?” salah satu perawat itu menatap bingung.
“Kalian mengambilnya. Aku sudah memeriksanya.”
“Anda tak bisa mengkonsumsinya.”
“Why! Ini hidupku! Aku matipun tak akan ada yang mempermasalahkannya!” Eve mulai mengamuk. “BERIKAN!” Tangannya mencengkram lengan perawat tersebut keras. Max harus bertindak. Tangannya berusaha memisahkan mereka. Namun tenaga Eve begitu kuat, apa benar dia diagnosisnya kelelahan dengan tenaga sebesar ini?
Max terpaksa memeluk tubuh Eve erat dan dua perawat itu memberinya obat penenang. Eve terlihat mengantuk dan lemas. Max menghela napas panjang, kenapa dia harus berurusan dengan ini. Noval memasuki ruangan beberapa saat kemudian dan terkejut melihat baju Max berlumuran darah.
“What the ****.” maki Noval tanpa sengaja. “Ada apa dengan baju milikmu?” Noval melirik Eve yang sudah tertidur. “Kita akan berangkat dalam 1 jam ini.”
“Aku tahu.” Max menggulung lengan kemejanya.
“Lalu kamu akan meninggalkannya?”
Max menatap Noval bingung, “Hah?”
“Kita tak bisa membawanya. Kita tak mengenalnya, bukankah nantinya akan terkesan seperti penculikan?”
“Ah!” Max terlihat berpikir, dia baru sadar jika dia tidak mengenal wanita ini secara detail.
“Sudah cukup kita membantunya sampai di sini, sebisa mungkin kita tak usah terlibat apalagi dia ingin bunuh diri untuk kesekian kalinya.” Mendengar kata-kata itu wajah Max memerah marah. Noval terkejut. “What? Aku hanya memberimu saran terbaik. Lebih baik kamu mendengarkanku. Kamu aneh. Kamu mengatakan tidak mengenalnya tetapi kamu peduli.”
“Aku tak bisa meninggalkannya.”
“Look, Max. Ini Taiwan… mungkin dia memang ada urusan di Negara ini. Jika kita membawanya paksa, bagaimana dengan identitasnya? Bagaimana kita melewati bagian imigrasi? Kamu gila?”
Max menghela napas, “aku ingin memperpanjang kunjunganku di sini.” Noval terdiam tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Noval tahu Max memiliki alasan kuat untuk ini. “Dan mengenai Agatha…”
“Kamu tak perlu kuatir, aku bisa memberikan alasan untukmu.” sambung Noval paham.
“Thanks.” Max menatap kembali Eve yang masih tak sadarkan diri. Wajahnya pucat dan mengingau di dalam tidurnya.
Menjelang sore hari, Eve terbangun dengan tubuh yang remuk. Kedua tangannya berusaha membantu tubuhnya untuk bangkit. Tenggorokannya kering. Tangannya sudah terperban kembali. Eve menghela napas panjang, dirinya lelah.
Eve berpikir dia bisa mengakhiri hidupnya dengan damai dari lantai hotel tersebut. Tetapi ternyata dirinya masih hidup seperti ini. Air matanya ingin mengalir tetapi dia tak memiliki air mata lagi. Walhasil hanya hatinya yang meraung-raung perih.
“Hey.” Sebuah suara mengangetkannya. Eve menoleh dan mendapatkan Max berdiri tak jauh darinya. Max menghampirinya dan memberikannya air mineral. “Minumlah.” Kata Max lembut. Eve menatapnya lama dan memilih mengabaikan Max. “Tenggorokanmu pasti kering. Minumlah.”
“Kenapa kamu peduli?” Eve tertawa sedih, wajahnya tak ingin menghadap Max.
“Entahlah. Sebenarnya aku tak peduli. Hanya saja aku merasa penasaran.” Max mengambil kursi dan duduk di sebelah kanan Eve. “Minumlah. Kamu benar-benar membutuhkannya.” Eve melirik pelan dan meraih air mineral itu. “Aku rasa kita juga tidak terlalu dekat untuk mengetahui hidup masing-masing. Tapi bunuh diri hal yang salah.” Eve meletakkan air mineral itu dan kemudian perutnya berbunyi lapar. Max tersenyum dan meraih handphonenya menghubungi pengawalnya. “Pengawalku akan membawakan kita makanan. Aku juga lapar.” tambahnya.