“Kamu terlihat sibuk. Seharusnya kamu mengabaikanku.” Eve memilih berbaring dan menghela napas panjang.
“Andai saja.” Tawa Max kecil. “Sekretarisku juga mengatakan hal itu, aku seharusnya tidak mencampuri urusanmu.”
“Kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu. Aku seperti penghalang.”
“Tidak masalah. Aku sudah selesai dengan urusan bisnis di sini. Seharusnya aku pulang pagi tadi.”
Eve menoleh kaget, “lalu kenapa kamu masih di sini?”
“Aku sudah mengatakannya di awal. Aku penasaran.” Eve menatap Max bingung. Eve menyentuh kulit tubuhnya dan merasa gerah. Tatapan Max mengikuti setiap gerak tangannya. “Nama?”
“Uh?”
“Namamu?”
“Why? Kalau kamu mengetahui namaku, aku akan mengejarmu nantinya.” Tantang Eve tersenyum kecil.
Max ikut tersenyum, “Silahkan.”
“Really?” Eve tak percaya. “Padahal kamu menolakku.”
“Aku tidak mengatakan apapun. Kamu langsung pergi begitu saja.”
Eve menatap Max tak percaya. Pria tampan di hadapannya ini terkesan misterius namun tatapannya begitu lembut. “Eve…” Eve menatap Max intens. “Eve Caroline.”
“Max Giovanni.” Balas Max. “So? Kamu berada di tempat ini karena?”
Eve berdehem pelan, “aku lapar… aku butuh tenaga untuk bercerita.” Eve membasahi bibirnya genit.
“Alright.”
Eve mencoba menuruni tempat tidurnya dan melangkah menuju kamar mandi. Setidaknya dia ingin terlihat bersih. Dress-nya masih sama, dia butuh berganti tetapi semua pakaiannya berada di hotel. Eve ingin mencuci wajahnya agar terlihat segar.
Eve merapikan rambutnya yang acak-acakan, wajahnya terlihat lebih baik. Saat dirinya keluar kamar mandi, Max sedang menata makanan untuk mereka. “Duduklah.” Max membantunya. Mereka makan dalam diam. Setelah selesai, Eve merasa jauh lebih sehat. “Aku ingin kembali ke hotel.” Katanya.
“Kamu masih lemah.”
“Aku sudah merasa lebih baik. Berada di rumah sakit membuat kepalaku sakit.” Eve bangkit dan meraih tasnya. “Mereka mengambil obat itu.” keluhnya pelan.
“Kamu tahu itu berbahaya.” Max menatapnya tajam.
Eve tersenyum dan mulai mendekati Max yang sedang terduduk di sofa. “Lalu adakah alasan mengapa aku harus berhenti meminumnya?” bisik Eve sensual. Max menatap tubuh Eve dan mengangguk kecil.
“Alright, kamu terlihat dekil. Aku akan mengantarmu menuju hotel di mana kamu menginap.” Max mengalihkan pembicaraan membuat Eve tertawa kecil.
1 jam kemudian, Eve sudah berada di kamarnya bersama Max. “Duduklah. Aku hanya akan mandi sebentar.” Eve meletakkan satu botol wine merah di hadapan Max dan berlalu menuju kamar mandi. Max meraih botol itu dan mulai membukanya, menuangkan wine tersebut dan mencecapnya.
Tak butuh waktu lama Eve sudah selesai membersihkan diri dan duduk di sebelah Max hanya dengan mengenakan lingerie merahnya. Eve juga menuangkan wine tersebut dan mencecapnya. Mereka terdiam menikmati suasana malam yang tenang. “Terima kasih sudah merawatku beberapa hari ini.” Ungkap Eve.
“Tak masalah.” Jawab Max pendek dan memutar-mutar wine yang berada di tangannya.
“Kamu bukan tipikal orang yang suka membantu.” Max tertawa mendengar celotehan Eve. “Lalu alasan kamu membantuku?”
“Aku bertanya duluan… kenapa kamu berada di Taiwan?”
Eve menyandarkan tubuhnya semakin dekat kearah Max yang masih duduk tak bergerak. “Kalau aku menjelaskannya, apa kamu mau bertanggung jawab?” bisik Eve.
Max mengangkat bahu cuek, “maybe.” Eve tertawa kecil dan memeluk lengan Max erat. Eve menghirup aroma tubuh Max manja. Max terlihat santai dan tak ingin menyingkirkan Eve dari sisinya. Eve mulai mengelus lengan Max dengan pipinya. “Kamu berlaku seperti kucing.”
“Aku mau menjadi kucingmu.” Tantang Eve dan mengelus paha Max manja.
“Eve…” Max memperingatkan pelan tetapi tidak menyingkirkan tangan Eve.
“Well… aku ke Taiwan karena menghindari Kakekku. Sahabatku memesankan tiket dan berakhirlah aku di Negara ini.”
“Kakek?”
“Ya. Beliau menuntutku ini itu dan itu semakin menjengkelkan. Aku tertekan karenanya. Malam itu di rooftop, aku baru selesai berbicara dengannya. Beliau menyusulku dan kami berdebat hebat.”
Max mendengarkan dengan seksama. “Aku rasa keputusanmu untuk mengakhiri hidupmu terlalu gegabah. Bagaimana jika aku tidak menyusulmu?”
“Aku sudah tak berada di dunia ini pastinya.” Eve mempererat pelukannya. “Aku hanya lelah.”
Max menatap Eve yang bergelayut manja di lengannya dan kembali menyecap wine miliknya. “Kamu bahkan tidak mengenalku.”
“Aku mengenalmu.” Kilah Eve.
“Di mana?”
“Pesta Logan.”
Max tertawa kecil, “Lalu?”
“I love you.” Bisik Eve jahil. Max tertegun lama dan meletakkan gelas winenya. Dirinya bangkit berdiri membuat Eve terkejut. Apa karena kata-kata itu?
“Beristirahatlah. Kapan kamu akan kembali ke Indonesia?” Max meraih handphonenya dan mengecek sesuatu.
“Uh? Kamu sudah akan pulang?”
“Ya. Kamu butuh beristirahat.”
“Kenapa kamu tak menginap di sini?”
Max menatap Eve dengan kening berkerut dan mengalihkan pandangannya dari handphonenya. “Eve… aku tak…”
“Aku tahu.” Lagi-lagi pernyataan Eve terulang seperti saat di pesta itu.
“Apa?”
“Kamu sudah menikah bukan? Aku tahu.” jelas Eve.
“Dari mana? Kamu menyelidikiku?” gerutu Max.
“Ngapain aku harus menyelidikimu. Cincin pernikahanmu sudah cukup jelas menjawab statusmu.” Eve tertawa kecil dan bangkit. “Kamu menginap di sini ya, oke?” bujuk Eve memeluk lengan Max. Eve mulai membenamkan wajahnya di lengan berotot Max.
“Kamu benar-benar seperti kucing.”
Eve terkekeh, “aku sudah bilang bukan. Aku bersedia menjadi kucingmu.”
Max menghela napas panjang, “mengenai istriku…”
“Aku tidak akan merebutmu darinya. Kita jalani apapun bentuk hubungan ini. Sampai salah satu dari kita lelah dan memilih pergi. Deal?” tawar Eve tegas. Sejujurnya penawaran itu begitu menggiurkan.
“Kenapa kamu melakukan ini? I mean… kamu cantik dan menawan. Banyak laki-laki yang akan mengejarmu. Aku sudah berkeluarga dan aku tak akan bisa memberimu apapun terutama rasa yang kamu ucapkan sebelumnya.”
“Kamu menganggapku cantik?” Eve berbinar.
“Ehem!” Max mencoba mengalihkan topik dengan berdehem, Eve tertawa kecil.
“Aku menyukaimu. Hanya itu. Aku tak ingin berpikir aneh-aneh kedepannya. Aku juga tak berharap apapun.” Eve menerawang sedih. “Saat melihatmu pertama kali di pesta, hatiku tergelitik. Pertemuan kedua kita justru kamu menyelamatkan nyawaku. Aku berpikir mungkin sesuatu kejutan menanti mengenai takdir pertemuan kita. Aku tahu kamu mencintai istrimu dengan sangat, aku tak akan melakukan apapun mengenai perasaan itu.” Eve tersenyum manis.
Max tertegun, ditatapnya Eve dalam. Dirinya tahu jika wanita ini tak berbohong. Mungkin karena dia sudah mengalami banyak hal dulu sehingga dia bisa menilai seseorang secara langsung. Hanya dengan Agatha, dia gagal. “Oke? Tidurlah di sini.” Permintaan Eve membuyarkan lamunannya lagi.
Max akhirnya mengangguk setelahnya dan mulai membuka pakaiannya. Max hanya mengenakan celana dalam saat dirinya memasuki selimut. Eve sedang berada di kamar mandi membersihkan wajahnya. Setelah selesai, Eve melihat Max sudah menutup mata lelah. Eve mengerti jika Max merawatnya dan kelelahan karena itu.
Eve memasuki selimut dan memeluk tubuh hangat Max. Tak lama kantuk menyelimutinya. Eve bermimpi buruk, tubuhnya bergetar hebat. Bibir merahnya mengingau dengan keras. Max terkejut dan membuka matanya. Diliriknya jam yang menunjukkan pukul 4 subuh. Kening Eve tak berhenti berkeringat.