DELAPAN - Cerita Masa Lalu

1126 Words
“Hey… Eve…” Max berusaha membangunkannya dengan menepuk-nepuk pipi Eve lembut. Eve mulai membuka matanya perlahan, Max menghela napas lega dan meraih air mineral. “Minumlah.” Eve mengangguk dan menghabiskannya. “Kamu harus kembali ke rumah sakit jika seperti ini.” Eve menggeleng dan meletakkan air mneral itu di meja sebelahnya. “Aku sudah mengalami ini sejak remaja.” Eve merasa aneh kenapa dengan pria ini dia dengan mudah menceritakan kisahnya. “Remaja? Separah itu?” “Awalnya tidak terlalu parah. Hanya saja semakin hari semakin bertambah parah. Aku harus memiliki obat itu lagi.” “Eve…” warning Max, “itu obat keras.” Eve menatap wajah kuatir Max dan tersenyum kecil, “aku heran, kenapa kamu peduli sekali?” “Aku hanya tak ingin seseorang bertindak diluar akal tanpa alasan.” “Aku memiliki alasan.” “Apa itu?” “Aku ingin mati. Aku lelah.” Jawab Eve tak melepaskan tatapan intensnya kepada Max. “Eve…” “Tidak akan ada yang sedih jika hidupku berakhir dihari ini. Tidak ada yang berubah.” Max menghela napas panjang dan duduk memunggungi Eve. “Aku tidak akan bisa melihatmu lagi.” Eve terkejut mendengar jawaban Max. Dirinya tahu benar jika Max sangat setia kepada istrinya dan mengatakan hal ini kepada wanita lain seperti mengakui jika hatinya bisa menerima sosok lain selain istrinya. “Max…” “Aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku.” Max mengusap wajahnya lelah. Kedua lengan Eve memeluk Max dari belakang hangat. “I love you.” Eve mengecupi punggung Max mesra. Bukannya menghalau, Max justru menikmatinya, yaitu kehangatan dari pelukan wanita lain yang bukanlah istrinya. Eve terus mengecupi punggung Max dengan puluhan kecupan basah. Max tanpa sadar tersenyum. Tubuhnya berbalik dan meraih wajah Eve, bibir mereka bertautan dengan lapar. Seperti magnet yang berlawanan arah, keduanya seakan tidak ingin terpisahkan. Bunyi cecap erotis membuat keduanya larut dalam gelora. Max mengeksplore rongga mulut Eve dengan intens. Eve memainkan lidahnya dan menggoda Max. Keduanya tertawa kecil. Max menatap lama wajah Eve dan mengecup keningnya lembut. “Tidurlah. Kamu pasti masih lemah.” Max tersenyum dan sekali lagi mengecup bibir Eve cepat. “Uh? Kamu ingin tertidur?” “Tentu saja.” “Lalu bagaimana dengan itu?” Eve menunjuk genit kepada milik Max yang kini menekan keras perut bawahnya meski terbungkus celana dalam. Eve tertawa kecil dan memeluk leher Max erat. “Aku milikmu seutuhnya. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau.” Desahnya. Max tertegun dan menatap tubuh menggiurkan Eve. Dibandingkan Agatha, tubuh Eve jauh lebih berisi dan berbentuk bagai gitar Spanyol. Kedua dadanya besar dan ranum. Tangan kirinya sudah meremas d**a Eve gemas. Eve mulai melepaskan satu persatu lingerienya dengan gerakan gemulai. Kedua mata Max mengikuti seperti elang yang ingin memburu. Eve tersenyum dan mulai mengelus wajah Max pelan. Max menjilati leher jenjang Eve sembari mengelus perut dan paha Eve bergantian. Eve mengerang pelan menikmati sentuhan itu. Max terus mencumbu leher jenjangnya dan berlanjut kepada kedua d**a montoknya. Max meremas gemas tanpa sengaja, bukannya makian yang diperolehnya melainkan erangan nikmat. Max terdiam dan tertawa kecil kemudian. Eve menatapnya bingung. “Why?” “Kamu tidak mengimplan d**a milikmu?” tanya Max. “Tidak. Kenapa? Kurang besar untukmu? Aku bisa mengimplannya jika itu yang kamu inginkan.” “No… no… no… please.” Max menggeleng sambil tersenyum penuh kemenangan. “Aku menyukai ukuran ini. Besar dan pas di dalam genggamanku.” “Aku merasa kamu mungkin tak puas. Semua anggota tubuhku alami. Tetapi jika kedepannya kamu ingin aku merubahnya, aku bisa me…” “Ssssttttt…” Max mengulum bibir Eve menghentikan ucapannya. “Ini sudah lebih dari cukup.” Max mengulum salah puncaknya gemas membuat Eve kembali mengerang keras. Max begitu bersemangat mengingat dia tak akan bisa melakukan hal seperti ini kepada Agatha. Max menghisapnya agresif, Eve menikmati setiap jilatannya. Jemari kanan Max sudah bermain lincah di kewanitaannya. Dua jari gemuk Max berusaha memasuki liangnya namun Eve mengerang nyeri. Mungkin karena dia tidak melakukan hubungan badan sudah berbulan-bulan lamanya sehingga miliknya kembali merapat. Max terhenti dan menatap Eve bingung. “Kenapa?” Eve menghela napas dan memegang tangan Max. Kedua jari itu masih di dalam kewanitaannya. Eve menariknya pelan keluar. “Nyeri.” Bisiknya. “Uh? Kamu masih perawan?” tanya Max bingung. Eve tertawa kecil, “tidak lagi. Hanya saja aku masih belum terbiasa. Sudah lama aku tidak melakukan hubungan badan. Milikku juga masih dalam keadaan kering.” Max terkejut dan memilih terpaku tidak tahu harus apa. Max mengutuki dirinya. Saat ini dia seperti perjaka yang tidak tahu apa-apa. Padahal melakukan hubungan badan sudah dilakukannya beratus-ratus kali. “Berbaringlah kembali.” Eve menuruti dan mulai merentangkan kedua kakinya memperlihatkan area privatnya yang tercukur bersih. Max memposisikan kepalanya di sana dan mulai menjilati dengan intens. Eve meleguh nikmat dan mencengkram rambut Max gemas. Max bisa merasakan bagaimana Eve sudah mulai menikmatinya. Cairan cintanya memenuhi miliknya penuh dan mengalir keluar. Eve terus mengerang dan mengerang. Kejantanan Max mulai terasa sakit di balik celana dalamnya. Tangannya menurunkan pelindung tersebut. Miliknya bebas dengan keras dan panas. Eve menatapnya terkejut. Rudal itu terlampau besar untuk miliknya yang kecil. Selama ini Eve berusaha menghindari pria yang memiliki alat reproduksi besar karena dia kesulitan mengimbanginya. Namun ini kasus berbeda. Pria ini adalah Max. Seseorang yang tanpa sengaja melewati jalan takdirnya dan berakhir seperti ini. Max mulai mengocok pelan miliknya dan mengerang oleh karena itu. Eve menelan ludah keras dan berusaha merentangkan lebih lagi paha dalamnya. Max memposisikan kepala miliknya tepat didepan lembah lembab itu, sekali hentakan seluruhnya masuk sempurna. Eve menjerit kesakitan. Air matanya bahkan tak sengaja mengalir. “Sh*t!” maki Eve berusaha mengatur napasnya. Tubuhnya seakan terbelah dua meskipun dia bukanlah seorang perawan. Max mengeram nikmat, milik Eve begitu hangat dan memijat miliknya manja. Max mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur. Gesekan demi gesekan mulai dinikmati oleh keduanya. Cairan pelumas milik Eve membuatnya lebih mudah dan licin. Max meningkatkan temponya cepat. Mencengkram d**a kanan Eve gemas. Eve mengerang antara sakit dan nikmat. Dari semua pria yang pernah menidurinya, Max adalah yang paling kasar dan dominan. Tetapi Eve mulai menikmatinya. Eve berusaha keras menggendalikan otot kewanitaannya untuk memberikan stimulasi pada milik Max. 10 menit kemudian, Max sudah tidak tahan lagi dan ingin mencapai klimaksnya. “Keluarkan saja di dalam. Aku memakai birth control.” Terang Eve dan memeluk leher Max, mengulum bibirnya lapar. “Ugh!” erang Max dan menyemburkan benihnya di dalam milik Eve diiringi leguhan panjang. Tubuh Max jatuh seketika di sebelah Eve, napasnya memburu dengan cepat. Eve masih menatap langit-langit pasrah. Dirinya bisa merasakan benih Max mulai keluar dan mengaliri paha dalamnya. Eva bangkit duduk dan menyentuh cairan putih kental itu. Jemarinya memasuki liangnya dan mengeluarkannya lalu menjilati jarinya satu persatu dengan genit. Mata Max mengikuti penuh birahi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD