“Lurus sebelah kanan.” Eve memberi petunjuk. Mereka memasuki ruangan tersebut dengan bibir saling bertautan mesra. Eve memeluk erat leher Max dan membiarkan Max berada di atas tubuhnya. Rudal keras Max kembali tenggelam penuh di dalam liangnya yang hangat. Kali ini Max lebih bisa menguasai dirinya dan menyetubuhinya dengan ritme pelan.
Sisa-sisa cairan cinta mereka membuatnya jauh lebih mudah. Awalnya Eve merasa lapar, kini dia bertambah lapar. Tetapi sulit baginya berhenti karena Max terlihat sangat menikmati moment itu. Dirinya bagai kelaparan akan tubuhnya. Eve melihat jam yang menunjukkan pukul setengah 9. Max masih menungganginya dengan semangat. Max meleguh panjang dan mengosongkan benihnya untuk ke empat kalinya di dalam tubuh Eve.
Napasnya berburu dan tubuhnya jatuh di samping Eve. Hanya hening tanpa suara. Eve merasakan kini miliknya sedikit memar. Paha dalamnya lengket. Eve bangkit dan membersihkan dirinya. Ketika kembali, Max sedang membersihkan juniornya dengan handuk basah. “Aku lapar.” Rengek Eve.
“Aku membawa makanan di mobil.” Max menjawab cepat. Eve meraih pajama robe-nya dan menuju halaman parkir. Eve membuka mobil sport BMW Max dan meraih bungkusan itu. Eve menyiapkannya di ruang makan ketika Max keluar bertelanjang tubuh.
“A… apa yang kamu lakukan?” tanya Eve syok.
“Makan?” Max segera duduk.
“Aku tahu… maksud aku, di mana pakaianmu?”
“Di ruang tamu.” Jawab Max cuek dan mengambil piring. Eve berdecak dan menuju ruang tamu.
“Pakailah.” Pinta Eve.
“Toh, kamu tinggal sendirian. Aku telanjang pun tak masalah.” Max mulai menikmati suapan pertamanya.
“Aku tidak tahu jika kamu orang yang ‘sangat’ berpikiran terbuka." Eve menghela napas dan ikut duduk menyantap makanannya. Mereka duduk dalam diam hingga Eve membersihkannya. Max kembali kedalam kamar dan berbaring. Dirinya mengecek email dan beberapa berkas penting melalui handphone.
“Kamu akan menginap di sini?”
“Ya.” jawab Max.
“Istrimu?”
“Sedang di luar kota untuk 1 minggu.”
“Aku akan membersihkan diri dulu.” Eve memasuki kamar mandi dan membasuh area miliknya. Sisa-sisa benih dari Max masih tertinggal di sana. Eve berpikir harus mengecek kembali tentang kontrasepsi yang digunakannya. Setelah selesai, Eve berbaring manja di d**a Max.
“Rumahmu sangat kecil.”
“Ya.” jawab Eve dan bermain di area perut sixpack Max dengan jemarinya.
“Aku bisa memberimu rumah yang lebih besar, apalagi aku akan sering kemari.”
Eve mengangkat wajahnya dan menatap Max terkejut. “Kamu serius akan sering kemari?”
“Ya.”
“Istrimu?”
“Aku bisa menghandlenya.” Jawab Max dan meletakkan handphonenya.
“Aku sudah nyaman di rumah ini. Aku tidak membutuhkan sesuatu yang besar.” Terang Eve. Max mengangguk paham dan memeluk tubuh Eve erat.
“Aku ingin lagi.”
“Uh?”
Belum sempat terjawab, Max sudah menghempaskan tubuh Eve di atas tempat tidur cepat. Kedua pahanya direntangkan dan Max sudah menyantap menikmati miliknya buas. Eve mengerang nikmat dan meremas rambut Max gemas. Kedua jari gemuknya memasuki liang Eve dan menyetubuhinya tanpa ampun.
Desahan demi desahan memenuhi ruangannya yang dingin. “Please…” pintanya menatap sendu Max. Melihat ekspresi itu, Max menjadi gelap mata. Senjatanya yang siap sempurna di posisikan dengan pas hingga hujaman pertama. Keduanya mengerang erotis. Bantal dan guling mulai berserakan di mana – mana.
Max melampiaskan seluruh penat yang dipendamnya selama Eve tidak ada. Entah mengapa, hanya Eve yang bisa melepaskan ganjalan di hatinya. Beberapa hari itu bagai duri dalam daging. Ditambah hubungannya dengan Agatha tidak menunjukkan progress yang semestinya.
Tangannya yang besar menampar b****g Eve gemas meninggalkan bekas merah. Eve hanya pasrah menerima perlakuan brutal itu. Eve benar-benar sadar apa yang dihadapinya. Tubuhnya remuk menerima setiap dorongan bertenaga dari Max, seakan Max tidak mengenal kata lelah. Setelah klimaks demi klimaks terlalui, Eve memilih pasrah. Apapun yang dilakukan Max, tubuhnya hanya terkulai dengan terbuka.
“Oh… f*ck!” maki Max nikmat saat klimaksnya yang kedua datang melanda dengan dahsyat. Waktu menunjukkan tengah malam dan Max masih enggan berhenti.
“Aku lelah, Babe.” Bisik Eve. Max menatapnya dengan wajah memerah, napasnya masih memburu.
“Aku belum puas.” Max meraih tisu dan membersihkan milik Eve cepat. Juniornya menjulang dengan gagah enggan beristirahat. Eve menelan ludah keras. Birahinya masih tinggi tetapi tubuhnya lemas. Max tidak peduli dan kembali membalikkan tubuh Eve dalam posisi menungging. Tangannya berusaha menopang tubuh tak bertenaga Eve.
Max kembali menghujam kejantanannya keras dan cepat mencari sisa-sisa kenikmatan yang tertinggal. Dirinya baru memilih beristirahat ketika jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Tubuhnya yang penuh peluh terbaring di sebelah Eve yang sudah terlelap.
Pagi harinya Eve bangkit dan membersihkan dirinya. Benar saja. Miliknya memar. Baru kali ini dia mengalaminya. Setelah selesai, dirinya menuju dapur menyiapkan sarapan. Max sudah tidak berada di tempat tidurnya sejak dirinya bangun. Tidak ada surat atau notifikasi yang lain. Pergi begitu saja. Eve tersenyum sedih, memang sudah seperti itu seharusnya. Max hanya mengambil apa yang ditawarkannya yaitu menikmati tubuhnya tanpa terikat perasaan apapun.
Eve duduk termenung. Apa sebenarnya yang dia inginkan? Pikirannya teralihkan oleh karena nyeri di selangkangannya. Hanya kepada Max dia tak menuntut banyak. Pria-pria yang tidur dengannya harus membayar mahal sebelumnya namun bersama Max, dia merasa bodoh. Eve tersenyum sedih dan melanjutkan sarapannya.
Sore harinya, Amelia menemaninya menuju seorang dokter kandungan. “Kamu hamil?” tanya Amelia spontan sambil mengendarai mobilnya.
Eve tertawa, “menurutmu?” tantang Eve.
“Aku serius, Eve.”
“Aku juga serius.” Goda Eve.
“Kakekmu akan menggila jika mengetahuinya.”
“F*ck off! Kamu memesankanku tiket dan kakekku tahu aku di Taiwan?”
“Mereka mematai-mataiku.”
“Hah… kamu terlalu lemah.” Balas Eve malas.
“Lalu kenapa kamu ingin ke dokter kandungan?”
“Aku hanya mengecek rutin kewanitaanku dan memasang kembali kontrasepsi.”
“Syukurlah.”
Eve tersenyum kecil, “aku dekat dengan seseorang.” Kata Eve seketika.
“Wow! Siapa dia?”
“Seorang pengusaha aku rasa.”
“Kamu dapat jackpot.”
Eve memukul lengan Amelia gemas, “jackpot apanya.”
“Kamu selalu menutup hatimu untuk pria lain, aku rasa kali ini kamu benar-benar memiliki rasa.”
“Ya. Sepertinya.”
“Kamu terlihat sedih.”
“Pria ini sudah beristri.”
“Sh*t!” Amelia tak sengaja memaki.
“Aku tak meminta status darinya.”
“Eve… kamu akan terluka nantinya.”
“Aku tahu. Aku hanya tidak mengerti apa yang diinginkan hatiku sekarang ini.”
Amelia menghela napas panjang, “lepaskan sebelum menjadi runyam. Kamu bisa memiliki pria single yang lain dengan mudah.” Gantian Eve menghela napas panjang, tapi hatinya terlanjur jatuh hati kepada Max terlepas dari perlakuan buruknya. Pengalamannya bersama banyak lelaki selama ini tidak cukup kuat untuk memilih akal sehatnya. Eve tahu benar dia akan terluka tetapi kehangatan dan sikap liar yang diberikan Max justru membuat hatinya semakin sulit berpaling. Apa pikirannya hanya berpatokan dengan hubungan tubuh semata?