SEBELAS - Sedang Manis-manisnya

1209 Words
Max sedang mengerjakan beberapa berkasnya ketika Noval memasuki ruangan. “Berkas ini harus diserahkan sebelum jam makan siang.” Perintah Max. “Kamu terlihat baik. Sesuatu terjadi?” Max mengerutkan keningnya bingung, “maksudmu?” “Beberapa hari lalu kamu sangat labil.” Komen Noval menggoda. “Tidak ada yang spesial.” Balas Max cepat. “Alright… Alright…” Noval mengambil dokumen tersebut dan meninggalkan Max kembali bekerja. Max melirik handphonenya yang bergetar. Nama Agatha tercetak di sana. “Hallo, Babe.” “Kamu sibuk?” Agatha menjawab. “Ya. Lumayan.” “Aku akan pulang malam ini.” “Uh? Secepat itu?” “Ya. Urusanku sudah selesai dalam tiga hari ini. I missed you, Baby.” Max tersenyum mendengar suara manis Agatha, “I missed you more.” “Tunggu aku malam ini.” “I will.” “Love you.” Max kembali tersenyum, “I love you too.” Max memutuskan line dan menatap handphonenya lagi. Tidak ada berita dari Eve. Sepertinya Eve benar-benar mengerti posisinya. Ditambah Max tak meninggalkan memo atau pesan satupun. Max kembali mengerjakan berkasnya. Malam harinya, Max tiba di mansionnya mendekati jam makan malam. Agatha akan tiba beberapa jam lagi. Max memilih menikmatinya sendirian. Tubuhnya yang penat menjadi rileks dibawah guyuran hangat air yang mengalir. Max mengenakan sweat pants-nya dan membuka tablet miliknya sembari menunggu kedatangan Agatha. Tak lama pintu terbuka dengan Agatha yang tersenyum lebar. Agatha berlari memeluknya dengan erat. Max mengecup puncak kepala Agatha mesra. “Kangen banget.” Bisik Agatha manja. Max meraih wajah Agatha dan mengulum bibirnya penuh cinta. “Bagaimana perjalananmu?” “Semuanya baik tanpa halangan.” “Syukurlah. Kamu lapar?” “Aku sudah makan.” Agatha mulai mengelus d**a telanjang Max mesra. Max balas mengelus lembut rambut panjang Agatha. Tangannya dengan nakal menyusup kedalam baju dan membuka bra yang dikenakan Agatha cepat. Agatha bangkit dan mulai melepaskan pakaian yang dikenakannya dalam hitungan menit. Max ikut membuka celana yang dikenakannya. Miliknya yang mulai bangkit terbebas lepas. Max mengecupi kedua d**a Agatha mesra. Erangan lembut mulai terlontar dari bibir Agatha. “Aku sudah tidak tahan, Babe.” Desah Agatha dan merentangkan kedua pahanya lebar. Max mengulum bibir Agatha lapar sembari memposisikan senjatanya di depan milik Agatha yang lembab. Sekali hentakan seluruhnya masuk tanpa hambatan. “Oh… damn!” erang Agatha dan mulai menggoyangkan pinggulnya menyeimbangkan dorongan demi dorongan bertenaga Max. Peluh menyelimuti keduanya, Max memegang erat pinggul Agatha agar miliknya bisa melesak masuk dengan sempurna. Tak membutuhkan waktu lama, Agatha sudah mencapai klimaksnya diikuti Max kemudian. Max memeluk tubuh Agatha erat sembari mengecup keningnya. “I love you.” Bisik Max. “I love you too, Babe.” Agatha menguap lelah. “Tidurlah. Kamu pasti lelah.” “Hmm…” Agatha memeluk tubuh Max erat dan mereka tertidur lelap setelahnya. Esok paginya, Max terbangun dengan Agatha yang masih terlelap dalam tidurnya. Max mengecup kening Agatha dan berlalu menuju ruang gymnya untuk berolahraga. 1 jam kemudian, kakinya melangkah menuju dapur dan mendapati Agatha di sana sedang menuangkan jus apel yang baru selesai dibuatnya. Max menghampirinya dan memeluk tubuhnya dari belakang. Bibirnya mengecup leher jenjang Agatha basah. “Morning.” Bisik Agatha. “Morning, Baby. Bagaimana tubuhmu?” “Jauh lebih baik.” Agatha berbalik dan memberikan segelas jus itu kepada Max. “Kamu berkeringat sekali.” “Ya. Ingin mandi bersamaku?” ajak Max. “Sure.” Agatha mengecup bibirnya cepat. Max kembali menyetubuhi Agatha di dalam kamar mandi merasakan betapa manisnya pagi ini. Keromantisan itu bahkan berlanjut hingga hari-hari berikutnya. Max melupakan Eve. Baginya, Eve hanya selingan saat dirinya butuh pelarian disaat Agatha bersikap dingin terhadapnya. Namun sudah beberapa waktu berlalu, sikap Agatha berubah. Mereka bahkan seperti dalam suasana berbulan madu. Menikmati kehangatan satu sama lagi tanpa mengenal tempat. Sementara disatu sisi, Eve pun tak ingin menghubungi Max terlebih dahulu. Dirinya paham benar Max memiliki keluarga dan itulah prioritasnya. Hatinya boleh memiliki perasaan tetapi tidak seperti itu dengan Max. Bagi Eve, jika hati Max tergerak untuk menghubunginya kembali sebagai tempat pelarian, dia akan menerimanya dengan tangan terbuka. Satu minggu berlalu dengan cepat. Malam itu Max sedang berada pada salah satu restoran steak mewah dalam rangka meeting penting. Max sedang berada di balkon menjawab telepon Agatha. “Ya. Aku akan segera pulang.” Senyumnya. Max mulai betah berlama-lama di rumahnya sendiri. Perlakuan Agatha membuat hatinya berbunga-bunga. “Ya… Ya… Ya… I love you too.” Balas Max. Percakapan itu terhenti ketika Noval memanggilnya untuk kembali kedalam. Klien mereka sudah hadir dan bersiap memulai meeting. Max memasuki ruangan dan perlahan mengambil duduk. Matanya terkejut ketika melihat Eve memasuki restoran dengan mengenakan dress ketat berwarna hitam. Rambutnya yang indah dibiarkan dalam posisi messy bun. Kedua mata mereka saling bertemu tetapi Eve tidak mengubah ekspresi datarnya. Seorang pelayan menunjukkannya meja yang sudah direservasi tak jauh dari Max, hanya berbeda dua meja. Eve mengucapkan terima kasih dengan senyum kecil dan duduk dengan anggun. Max mencuri pandang kepadanya dengan kening berkerut. Noval memperhatikannya dan mengikuti arah mata Max. “D…dia…” bisik Noval. “Ehem!” Max berdehem agar Noval berhenti melanjutkan kata-katanya. “Haruskah kita mulai?” kata Max kepada rekan bisnisnya. Mereka menawarkan beberapa jalinan kerjasama namun pikiran Max tak berhenti terarah kepada Eve yang kini memesan makanan. Eve sama sekali tidak melirik kepadanya. Sudah satu minggu mereka tak bertemu bahkan tidak berkomunikasi. 15 menit kemudian, seorang pria menghampiri meja Eve diantarkan oleh seorang pelayan. Eve bangkit dan memeluk pria tersebut. Mata Max nyaris melotot terkejut. Eve bersama dengan seorang pria? Batinnya bergejolak. Mereka terlihat akrab. Pria tersebut tinggi dan tampan. Dari penampilannya, dia terlihat seperti pengusaha yang berhasil. Eve tertawa dan tak berhenti senyum saat berbicara dengan pria itu. Mereka terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka. Hingga waktu itu, Eve sama sekali tidak memperhatikannya. Eve seakan berpikir dia tidak berada di sana. Max mengepalkan tangannya gusar. Tapi kenapa dia harus gusar? Apa ini perasaan cemburu? Max tertawa di dalam hati. Kenapa dia harus cemburu? Toh mereka tak memiliki status apapun. Dirinya memiliki Agatha, tentu saja bebas bagi Eve memiliki pria yang menawan. Eve masih muda dan cantik. Tetapi dirinya yang lain kembali diliputi kecewa. Eve berjanji kepadanya dan bahkan mengatakan mencintainya. Apa itu hanya dusta? Max tak bisa fokus. Pikirannya melayang-layang entah kemana. Eve bangkit menuju toilet. Max secara refleks mengikuti dan mengabaikan rekan bisnisnya dengan alasan ingin buang air kecil. Noval meliriknya jengkel namun Max menatapnya dingin. Max mengikuti Eve dengan langkah cepat tetapi Eve terlanjur memasuki toilet. Max menunggu diluar dengan tak sabar. Ketika Eve selesai, Max segera menghampirinya. Eve sedikit terkejut namun segera mengubah air mukanya. “Siapa pria itu?” tanyanya berusaha menahan amarah. “Anda adalah?” Eve berbalik bertanya. Max terkejut dan meraih lengan Eve, menggenggamnya kasar. “Stop berpura-pura, Eve.” Eve melirik lengannya yang perlahan perih dan tertawa kecil. “Oh come on, kamu membuatku malu.” “What?” “Berlaku seperti ini ditempat umum.” “Jawab pertanyaanku, siapa pria itu?” “Apa urusannya denganmu?” “Tentu saja aku tidak suka kamu bermain-main dengan pria lain.” “Kenapa kamu tak suka?” tanya Eve menyelidik. “Aku tak ingin terkena resiko karena kamu suka mengonta-ganti pria!” desis Max cepat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD