DUA BELAS - Jual Beli Jasa

1154 Words
Mendengar kata-kata itu, bagai ribuan jarum menghujam dadanya, Eve berusaha untuk tidak menunjukkan ekspresi sedihnya. Tuduhan Max seperti memberinya label wanita yang kotor dan hina. Dirinya boleh hina karena profesi ini tetapi dia tidak kotor. Eve selalu menjaga baik kesehatan tubuhnya. “Kamu tidak tahu dia dan menghakimiku seenaknya. Seingatku kita tidak memiliki hubungan apapun sehingga kamu bisa berlaku diluar batas seperti ini. Jika kamu takut seperti alasanmu, jangan pernah menemuiku lagi.” Eve menghempaskan tangan Max keras. Tatapan menghujam Eve membuat Max terkejut. “Brengsek.” Dengus Eve dan berlalu pergi. Max sudah ingin mengejar Eve tetapi langkahnya terhenti ketika pria itu mendatangi Eve dan membawanya keluar pergi. Max menatap kepergian mereka dengan hati bergemuruh. Max kembali duduk di kursinya. Noval menatapnya bingung. Sepanjang rapat, Max hanya terlarut dalam pikirannya sendiri. Setelah selesai, Noval dan Max sudah berada di dalam mobil menuju kantor kembali. “Ada apa denganmu?” tanya Noval penasaran. “Klien ini sangat penting, kamu harus fokus.” Noval mulai melupakan batasan atasan - bawahan ini karena emosinya terluap begitu saja. Max menghela napas dan tidak menjawab. Matanya menatap keluar jendela melihat mobil yang lalu lalang. Entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Dirinya tak menyukai perasaan menyedihkan ini. Wajah kecewa Eve tak bisa dilupakannya. Kenapa dia harus peduli? Toh mereka memang tidak memiliki hubungan spesial yang spesifik. Kenapa dia menjadi suka mengatur seperti ini? Max tertawa kecil menyadari kebodohannya, Noval di sebelahnya kembali menatap bingung. Setibanya dikantor, Max disibukkan beberapa berkas. Pintunya terketuk dan Agatha berada di sana berdiri mengenakan dress merah ketatnya sebatas lutut. “Hai.” Sapanya semangat dan menghampiri Max. “Hey.” Max menutup berkasnya dan membalas senyum Agatha. “Kamu sibuk?” “Seperti biasa.” “Aku ingin mengajakmu makan malam.” Agatha duduk dihadapannya. “Tidak masalah. Aku akan menyelesaikan pekerjaan ini cepat.” “Ehm… sebenarnya…” Agatha berkata pelan. “Hm?” “Aku butuh bantuanmu.” “Mengenai?” Max melipat tangannya di d**a. Jika sudah seperti ini Agatha akan berlaku manis kepadanya. “Aku sedang mencoba membuka cabang yang baru. Salah satu klienku akan makan malam bersama kita malam ini.” “Jadi agenda ini bukan untuk kita berdua? Kenapa? Kita sudah lama sekali tidak makan malam bersama diluar.” Max mulai terdengar jengkel. “Aku sangat butuh bantuannya. Kamu harus membantuku.” Agatha terdengar memerintah. “Cabang yang lain masih dalam tahap berkembang, Babe. Apa kamu tidak terlalu gegabah?” “Kita berdua memiliki kepemilikan saham besar. Tidak akan ada masalah. Oke?” Agatha bangkit dan membujuk Max dengan duduk di meja mahoganinya berhadapan dengan Max. “Babe…” “Please…” Agatha berusaha memasang wajah sedihnya. Max menghela napas panjang, “Akan aku pikirkan.” Wajah Agatha memerah kesal mendengar jawaban Max, “WHY!” Agatha tiba-tiba gusar. Max menatapnya terkejut, napas Agatha naik turun cepat. “Kamu suamiku! Harusnya kamu menurutiku!” Max berdiri menjulang dihadapan Agatha, “kalau aku suamimu memangnya kenapa? Tidak semua apa yang kamu inginkan itu benar, Agatha.” Max berusaha meredam amarahnya. “Kamu sudah beberapa kali hampir jatuh karena keputusanmu gegabah. Hanya karena kita memiliki saham atau harta yang lebih, tidak semudah itu.” terang Max. “Kamu mengguruiku sekarang?! Aku lebih dahulu terjun di bidang ini karena orangtuaku yang kaya. Sedangkan dirimu tidak memiliki orangtua!” Max tertegun, Agatha membahas apa yang tidak seharusnya dia singgung. “Aku memang yatim piatu, kamu malu sekarang?” Agatha masih menatap tajam Max. Mata mereka beradu marah. “Aku tidak mau tahu! Kamu harus hadir dalam makan malam itu hari ini.” Agatha pergi dan membanting pintu kantor Max kasar. Max berdiri mematung, hatinya diliputi amarah dan kecewa. Max meraih air mineral dan meneguknya, namun hatinya masih juga marah. Dituangkannya whiski kedalam gelasnya penuh dan meneguknya dengan brutal. Panasnya memenuhi tenggorokannya cepat. Max mengeryit nyeri akan tenggorokannya yang panas. Tubuhnya terhempas dikursi berusaha meredakan gejolak hatinya. Waktu berlanjut, dirinya masih juga gusar. Max bangkit dan meraih kunci mobilnya. Dengan langkah cepat dirinya menuju lapangan parkir. “Tuan.” Tahan supirnya. “Saya akan menyetir sendiri, jangan ikuti saya.” Desis Max cepat dan memasuki mobilnya. Mobilnya segera melaju cepat meninggalkan kantornya. Pintu Eve tergedor dengan keras, Eve yang sedang berbicara dengan Amelia terkejut dan memutuskan line. Eve mengintip dari balik lubang pintu dan terkejut melihat Max berdiri di sana dengan tampang kusut. Eve membuka pintu dengan kening berkerut. Max segera memeluk tubuhnya sangat erat dan menutup pintu cepat. Max meraih wajah Eve dan mengulum bibirnya buas. Eve terkejut dan berusaha memisahkan diri namun tenaga Max begitu kuat. Max menggendong tubuh Eve dan membawanya menuju kamar. Eve berontak, bibirnya bahkan menjadi memar. “M… Max!” Eve berhasil memisahkan bibir mereka. Max menatapnya berkabut. Tubuh mereka terbaring di atas tempat tidur. Tubuh besar Max menindih tubuhnya yang kecil. Max kembali melumat bibirnya tanpa ampun. Kaos yang dikenakannya segera dirobek Max cepat beserta celana dalamnya. Eve mengutuk dirinya yang hanya mengenakan kaos dan celana dalam tanpa bra ataupun celana. Eve berpikir dia hanya akan di rumah sehingga memakai pakaian yang santai. Max membuka pakaiannya dengan terburu-buru. Eve hanya pasrah dengan telanjang bulat menatap Max dengan wajah sendu. Eve merasakan Max terluka. Wajahnya memang marah tetapi Eve bisa merasakan sebuah luka. Mungkin karena dari dulu Eve terbiasa berteman dengan kepedihan. Max segera merentangkan paha Eve dan melesakkan miliknya yang menjulang tegang. “Damn!” erang Eve, lagi-lagi dia harus terbiasa dengan ukuran Max. Tanpa menunggu waktu, Max menghujam area pribadinya cepat. Eve menerima dorongan-dorongan itu dengan tabah. Berusaha menikmati apa yang Max lakukan kepadanya. Kedua tangannya memeluk lengan Max erat. Matanya terpejam merasakan ketidakpuasan Max akan sesuatu. 10 menit kemudian, Max mengosongkan benihnya didalam tubuh Eve diiringi leguhan panjang. Max jatuh kelelahan disebelah tubuh Eve. Keringat memenuhi tubuhnya. Hanya suara napas yang memburu, keduanya memilih terdiam. Eve bangkit menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya. Sekembalinya, Max sudah mengenakan pakaiannya kembali. Max meraih dompetnya dan mengeluarkan sebuah cek. “Aku rasa ini cukup untukmu. Katakan jika kurang.” Jawab Max dingin. Awalnya Eve kecewa mendengar itu namun dia sadar Max memiliki keluarga dan dia bukanlah siapa-siapa. Jadi anggap saja seperti berbisnis. Sistem jual beli jasa. Matanya menatap wajah Max dan cek itu bergantian. Eve terdiam memeluk handuk yang melilit ditubuhnya erat. “Aku akan tetap memakai tubuhmu kedepannya.” Terang Max singkat. Tanpa sadar Eve tertawa sedih, “Memakai tubuhku?” “Ya. Seperti sejak awal. Kamu mendekatiku karena uang bukan? Aku akan membayarmu setelah menggunakan tubuhmu. Aku akan menghubungimu tiba-tiba tanpa rentan waktu tertentu. Aku ingin kamu selalu siap. Atur waktumu sehingga aku tidak harus menunggu.” Max menatap dingin Eve dan pergi setelahnya. Eve melotot dibuatnya, dia tak menyangka Max akan berlaku seperti ini. Eve meraih cek tersebut. Tertulis 200 juta rupiah. Eve kembali tertawa kecil dan menyelipkan cek tersebut kedalam dompetnya. Jadi Max ingin memperlakukannya seperti wanita bayaran yang lainnya? Oke! Jika memang itu keinginannya. Eve akan mengikuti permainannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD