TIGA BELAS - Mulai Mencari

1176 Words
Max telah meninggalkan rumahnya begitu saja setelah menyerahkan check itu dengan sikap angkuh. Handphone berbunyi kemudian. “Kenapa kamu mematikannya tadi?” Amelia langsung mencercanya dengan pertanyaan cepat. “Aku ada urusan penting.” Eve mengenakan kaos yang diraihnya dari lemari. Kaos yang telah robek dibuangnya kedalam tong sampah. “Kamu ingin kemari?” “Ya. Kamu ingin makan apa?” “Aku sedang ingin menyantap chicken soup.” “Alright.” Jawab Amelia kemudian dan mematikan sambungan teleponnya. Eve termenung mendengar kata-kata Max hari ini. Pertemuan mereka disebuah restoran juga bukanlah pertemuan yang romantis, Max bahkan menuduhnya macam-macam. Apa dia terlalu berharap berlebihan? 30 menit kemudian, Eve dan Amelia sedang menikmati makan malam mereka dalam diam. Keduanya melanjutkan menonton sebuah box office setelahnya. Eve menyiapkan popcorn dan mereka menyantapnya. “Ada yang ingin kamu ceritakan?” tanya Amelia tiba-tiba. “Not really.” “Jangan bohong, kamu diam seperti ini pasti sesuatu terjadi.” Eve mnghela napas, “kamu pernah jatuh cinta?” Amelia tertawa, “tentu saja. Kamu aneh.” “Iya. Aku aneh ya.” Eve mengiyakan, ekspresinya datar. “Kamu lagi jatuh cinta bukan? Si pengusaha itu.” “Sepertinya.” “Wow!” Amelia memposisikan duduknya berhadapan dengan Eve. “Terus?… terus? Kamu tidak memberiku detail sebelumnya” tanyanya semangat. “Pria beristri.” “Aissh! Aku sudah tahu itu. Akhiri sekarang juga. Sama pria beristri merepotkan belum lagi dia sudah memiliki anak.” Cibir Amelia. “Uh? Anak?” Eve baru menyadari kalau Max tak pernah menyinggung anak terhadapnya. “Iya. Kasian anaknya kalau kamu jadi orang ketiga diantara mereka. Hanya saran saja. Apalagi jika istrinya cerewet dan lain-lain. Menyebalkan!” “Aku tidak tahu sama sekali tentang keluarganya.” “Lalu kenapa kamu sampai jatuh cinta dengannya?” “Entahlah. Aku pun masih mencari jawabannya.” “Kamu aneh.” Tatap Amelia bingung. “Kamu cantik dan masih muda. Masih banyak pria-pria single akan tergila-gila kepadamu. Aku tidak habis pikir. Seberapa kerennya dia sehingga kamu tergoda.” “Aku tak bisa memberi jawaban, aku pun masih mencarinya.” Amelia terdiam menatap lama Eve, “sepertinya kamu benar-benar jatuh cinta. Aku belum pernah melihatmu seperti ini.” “Dia mengatakan hanya ingin menikmati tubuhku kapan dan di manapun tanpa melibatkan perasaan, dia akan membayarku setiap kali selesai memuaskan hasratnya.” “Jerk!” umpat Amelia tanpa sadar. “Kamu yakin dengan ini?” “Aku… mencoba bunuh diri lagi saat di Taiwan.” “Eve!” teriak Amelia kecewa. “Kenapa sih? Kamu selalu seperti ini? Maafkan semuanya. Maafkan dirimu. Maafkan kakekmu. Maafkan aku. Maafkan pria itu. Maafkan semua orang. Kamu tidak sendirian.” “Kebencianku sudah diubun-ubun. Aku merasa hampa, pria itu yang menyelamatkanku.” “Siapa dia? Aku mengenalnya?” “Tidak. Kami baru beberapa kali bertemu.” “Dia sangat mencintai istrinya namun aku tak mengerti kenapa dia mencariku. Hatinya terluka, yang hanya bisa aku lakukan adalah memuaskannya sehingga bebannya bisa berkurang.” “Apa kamu yakin? Menjadi pelampiasan sangat tidak mengenakkan.” “Tapi bersamanya aku merasa sedikit dibutuhkan. Aku bisa bernapas dengan tenang.” Amelia memeluk Eve dengan erat. Air matanya tanpa sadar mengalir. Amelia merasakan perjuangan Eve semenjak kehilangan orangtuanya dan dia harus bertahan sendirian. Kemewahan yang dimilikinya harus dibayar dengan harga mahal. Eve balas memeluk Amelia dan menangis bersama. “Aku ingin mencoba. Aku ingin melihat sampai di mana aku bisa mendapatkan jawabannya.” Amelia mengangguk, “aku di sini selalu mendukungmu.” Sementara ditempat lain, Max sedang berhadapan dengan klien yang dimaksud Agatha. Mereka berbincang dengan serius, Agatha disebelahnya mendominasi berbicara. Max hanya mendukungnya jika dibutuhnya. 2 jam kemudian, Max dan Agatha tiba di rumah dengan aura wajah berbeda. Agatha terlihat gembira sedangkan Max memasang wajah datar. “Babe…” peluk Agatha manja. “Terima kasih untuk meeting hari ini.” Agatha mengecup bibirnya. “Tak masalah.” “Aku takut kamu tak datang.” “Aku pasti mendukungmu.” Max menjawab cepat dan balas memeluk tubuh Agatha. “I love you.” Bisik Agatha. “I love you too.” Max mengecup kening Agatha. “Aku janji kamu tak akan kecewa dengan mereka.” “Ya. Asal kamu bahagia.” “Tentu saja.” Agatha meraih wajahnya dan menautkan bibir mereka erotis. Menjelang tengah malam, Max bangkit dari king bed dan melirik sebelah kanannya. Agatha tertidur pulas akibat persetubuhan panas mereka. Max tersenyum dan mengecup kepala Agatha mesra. Dirinya bangkit dan mengenakan sweatpants-nya dan menuju kantornya. Max tak bisa tertidur. Jika sudah seperti itu, dia akan menikmati whiski sembari membaca beberapa dokumen penting. Max melirik handphonenya dan meraihnya. Max mencari nama ‘Evander’ yang pernah diketik oleh Eve. Begitu menemukannya, Max menatap lama nomor telepon itu. Max sudah membangun tembok tinggi antara kejelasan hubungan mereka namun gairah seksual yang Eve berikan membuat sisi lainnya kembali bangkit. Hatinya yang kecut dalam beberapa tahun ini perlahan menjadi manis. Max merasa hidup kembali. Tentu saja dia tak akan meninggalkan Agatha. Max mengenal jelas alur kehidupannya, dia tak akan semudah itu tergoda hanya kenikmatan sesaat yang diberikan Eve karena perlakuan dingin Agatha. Max juga menyadari jika Eve bukanlah wanita pada umumnya yang rese dan suka ikut campur. Max menghubungi Eve kemudian dan terdiam menunggu jawaban. “Ya?” jawab Eve diseberang sana. “Aku membutuhkanmu sekarang.” “What?” Eve menjawab bingung, “Kamu tahu ini jam berapa?” “Pakai pakaian biasa. Aku akan mengirimkan alamatnya.” Max lalu mematikan line dan mengirimkan alamat mansionnya. Eve menatap dengan bingung, Amelia sudah pulang. Tak lama alamat itu terpampang dilayar handphonenya. “Ini…” 1 jam kemudian, Max menunggu didepan pintu mansionnya bersama kepala pelayannya. Seluruh pengawalnya sudah beristirahat. Tak lama Eve datang mengendarai taksi online. Max tersenyum, “antar dia kedalam kantor saya.” “Baik, Tuan.” Eve turun menatap mansion besar Max dengan kening berkerut. Sebenarnya untuk kemewahan seperti ini, Eve tidak terlalu kaget karena kakeknya pun memiliki hal yang sama. Pria paruh baya menghampirinya. “Nona Eve?” “Ah… Ya.” “Mari ikut saya.” Kepala pelayan itu membawanya melewati pintu samping. Setiap ornament yang melekat didinding mansion ini terlihat mahal. Eve terus berjalan dan berjalan. Untung saja dia tak mengenakan heels. “Silahkan. Tuan sudah menunggu anda.” Kepala pelayan itu membukakan pintu dan Eve melangkah masuk. Max duduk dibelakang meja mahoganinya terlihat berkuasa. Max kemudian bangkit dan menghampiri Eve. Tangannya yang kekar meraih Eve dalam pelukannya dan melumat habis bibirnya yang merah. Ciuman panas itu berakhir beberapa menit kemudian karena mereka berdua sepakat menghirup oksigen dengan terengah-engah. Max meraih tubuh Eve dan meletakkannya diatas sofa. Matanya berkabut penuh birahi. “Stop!” lirih Eve tangannya menahan d**a bidang Max. “Aku ingin bertanya dulu.” matanya menyelidik. “Oke.” Max bangkit dan duduk. “Di mana ini?” “Rumahku.” tutur Max. “Aku tahu itu. Maksud aku, rumah yang mana? Apa istrimu di sini?” Eve kembali melihat sekeliling. “Ya, di atas sedang tertidur.” Eve menatap syok. “Kamu gila!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD