Hari yang terus berganti menambah usia dari setiap makhluk yang bernyawa. Wengi kecil kini sudah tumbuh menjadi gadis cantik yang mulai beranjak remaja. Meskipun semakin bertambah usia Wengi menjadi semakin tertutup dan menjauhi teman-temannya. Tidak terlihat lagi keceriaan Wengi kecil karena kini dia mulai tidak menyukai kebiasaan Wati yang selalu membuntutinya.
Dia lebih baik sendiri dari pada teman-temannya kerap berbisik-bisik karena Wati yang selalu mengikuti anaknya. Sungguh Wengi ingin merasakan sekali saja Wati berhenti membuntutinya.
Hari ini, Sheril teman sekelasnya sejak kelas satu hingga kelas lima SD, mengajak Wengi ke pasar raya yang berada di lapangan dusun Pitunggaluh yang berjarak dua kilo meter dari tempat Wengi tinggal.
“Wengi, bisa gak kita tinggalin ibu kamu, masa iya dia selalu menguntit kemana pun kita pergi,” bisik Sheril di telinga Wengi.
Sungguh dia tidak nyaman ada orang gila yang selalu membuntutinya. Namun dia juga tak sampai hati mengatakan hal itu pada Wengi yang sudah berharap diajak ke pasar raya bersama dengan syarat Wengi menyelesaikan seluruh tugas Matematika miliknya.
“Caranya bagaimana? Ibuku akan selalu mengikutiku,” balas Wengi dengan berbisik juga.
Akhirnya, mereka menyusun rencana. Wengi dan Sherlin berbelok ke arah masjid dan masuk ke kamar mandi bersama. Wati duduk di bawah parkiran sepeda motor menunggu anaknya yang dia pikir berada di kamar mandi.
“Yuk, ibumu lengah,” ajak Sheril menarik tangan Wengi.
Mereka mengendap-endap keluar dari area masjid melalui pintu belakang. Wengi tertawa lepas meninggalkan ibunya. Baru kali ini dia bisa merasa bebas tanpa diikuti Wati.
“Terima kasih ya, Aku bersyukur banget bisa ke pasar ini tanpa diikuti ibu,” ujar Wengi saat mereka sampai di pasar raya yang mulai jam dua siang hingga jam Sembilan malam.
“Ih gitu saja mah gampang, lagian aku kasian kemana-mana kamu dibuntuti….”
Sheril menggantung kalimatnya, tak mau menyinggung hati Wengi dengan menyebut ibunya gila.
“Iya sejak kecil memang sudah begitu,” aku Wengi dengan bibir yang ditekuk.
“Wengi, Sheril,” sapa Hendra yang datang ke pasar bersama Dimas dan Irfan.
Mereka bertiga celingukan mencari keberadaan Wati yang biasanya tak pernah hengkang sedikitpun dari Wengi.
“Ibu kamu mana?” tanya Dimas yang terlebih dahulu bertanya pada Wengi mewakili teman-temannya yang juga menyimpan tanya yang sama.
“Gak ikut.” Senyum Wengi merekah.
Dia merasa bangga bisa bebas dan lepas dari kuntitan sang ibu yang kerap membuatnya lebih memilih diam di rumah dari pada terus dibuntuti kemana pun dia pergi.
“Tumben banget bodyguard setia kamu gak ikut,” cetus Irfan yang diikuti tawa teman-temannya.
“Ayo naik ombak banyu lah, mumpung belum rame,” ajak Sheril pada teman-temannya.
“Yuk.” Wengi berlari bersama Sheril menuju wahana permainan ombak banyu diikuti teman-teman mereka yang lain.
Tawa Wengi tiada henti saat menikmati beberapa wahana permainan dengan teman-teman mereka. Tak sedikitpun dia terpikirkan sang ibu yang kini tampak bingung hingga terus bolak-balik ke arah kamar mandi untuk mengecek keberadaan Wengi.
Orang-orang di dusun Pitunggaluh tak mengenal Wati. Wati memang tak pernah keluar kecuali mengikuti Wengi ke sekolah dia yang arahnya berlawanan dengan keberadaan dusun ini.
“Haduh, itu orang gila kenapa belum pergi juga dari sana ya,” bisik beberapa ibu-ibu yang melihat ke arah Wati yang terus mondar-mandir ke kamar mandi, membuka semua pintu kemudian kembali duduk di parkiran motor.
“Wengi mana ya allah, Wengi, Wengi….”
“Allahumma shaliala ssayidinna muhammad, ya Allah kembalikan Wengi….”
Terus saja mulut Wati berkomat-kamit mengucapkan kalimat yang sama, menyebut nama sang anak dengan lirih dan cepat hingga orang-orang tak bisa menangkap kalimat apa yang sedang Wati gumamkan.
_______I.S_______
“Assalamualaikum,” ucap Wengi memberi salam saat membuka pintu rumahnya.
Dia pulang sebelum waktu isya, seperti janjinya pada Surti dan Wasjud saat meminta izin untuk pergi ke pasar raya di dusun Pitunggaluh bersama Sherlin.
“Waalaikumsalam,” jawab Surti dari kamar.
“Wengi salat, waktu magrib sudah hampir lewat,” perintah Surti dari kamar yang pintunya tidak dia tutup.
Wengi langsung menuju kamar mandi untuk berwudu dan melaksanakan tiga rakaat magrib seperti yang diperintahkan sang nenek.
Seusai salat Isya barulah Surti keluar, tepat saat suaminya Wasjud baru pulang dari masjid. “Wati dan Wengi mana, Ti?”
“Di kamar kayaknya,” jawab Surti yang sudah bersiap duduk di samping sang suami. Namun dia urungkan dan berbalik ke arah kamar Wengi.
“Wengi, sudah salat Isya?” tanya Surti sambil membuka pintu dan melongok ke dalam kamar sang cucu.
“Sudah Mak.”
“Ibumu mana?”
Deg.
Wengi langsung bangun dari berbaringnya, dia baru teringat meninggalkan Wati di masjid dusun Pitunggaluh.
‘Ya Allah, kenapa aku bisa sampai lupa untuk mengajak ibu kembali,’ gerutu Wengi tanpa bersuara.
“Ibumu di kamar?” Surti kembali bertanya karena Wengi tak juga menjawab tanya yang beberapa detik lalu dia lontarkan.
“Anu, Ibu, Anu….”
Surti bergegas melangkah ke kamar Wati yang pintunya masih tertutup. Kosong, Wati tak berada di sana. Dia hendak kembali masuk ke kamar Wengi. Namun cucunya sudah berdiri di ambang pintu kamar.
“Dimana ibumu?” tanya Surti dengan nada tinggi hingga Wasjud yang duduk di kursi ruang tamu pun beranjak ke arah sang istri.
“Sudahlah Mak. Biarkan saja ibu hilang. Aku bosan, terkekang. Kemanapun aku pergi dia selalu membuntuti. Biarkan ibu tak pulang, buat apa juga dia ada di sini, cuma nyusahin kita.”
Plak.
Wengi meringis dan mengusap pipinya yang merasa pedih karena tamparan tangan Surti di pipinya.
“Dia ibumu, dia anak Emak. Katakan dimana dia?” Surti menjerit di depan Wengi membuat air mata perlahan mengalir keluar dari kedua bola matanya.
“Aku gak peduli. Aku tidak meminta lahir kalau hanya menjadi anak dari ibu yang gila. Aku malu Mak,” ungkap Wengi di tengah isaknya.
“Cukup Wengi, dia tidak gila! Dia hanya ingin melindungimu. Dia hanya tak ingin jauh darimu.”
“Aku gak peduli. Nyatanya semua orang bilang ibuku gila…. Hanya Emak yang tidak mau mengakuinya,” jerit Wengi dengan suara terbata-bata karena luapan air matanya yang semakin deras.
“Sudah, Ti, sudah….” Wasjud merengkuh Surti, menarik Surti dalam pelukannya.
Tubuh Surti bergetar dalam dekapan sang suami. Dia tidak menyangka Wengi begitu tega meninggalkan Wati. Wati yang telah melahirkan dan selalu menjaganya, mencurahkan segenap hidupnya hanya untuk sang anak.
“Anak kita nggak gila pak, Wati bukan orang gila…,” elak Surti dengan suara tercekat.
Semakin hari dia semakin yakin kalau Wati tidak gila. Dia tidak pernah lagi mengamuk, dia salat, tahu bagaimana cara seorang muslim menjaga diri.
‘Anakku tidak gila, Wati hanya menutup dirinya. Sudah puluhan dokter, kiyai, maupun orang pintar yang aku datangi. Mereka semua bilang anakku tidak gila, dia waras. Ya Allah, adakah keajaiban suatu saat tabir yang sengaja dia ciptakan untuk menutup diri bisa terungkap.’
“Wengi tolong katakan pada Bapak, dimana ibumu?” tanya Wasjud dengan suara yang dia buat selembut mungkin.
“Aku gak tahu,” jawab Wengi yang memilih berbohong untuk menutupi keberadaan sang ibu.
‘Sungguh, aku berharap wanita itu tak pernah kembali lagi ke rumah ini. Biarkan dia hilang. Aku tak peduli.’
Wengi masuk ke dalam kamarnya, dia mengunci pintu kamar. Tekadnya sudah bulat, tidak mau mengatakan dimana ibunya dia tinggalkan.