“Wengi … buka pintunya!”
“Buka pintunya! Katakan dimana ibumu?”
“Wengi … katakan dimana ibumu?”
Berkali-kali Surti menggedor pintu kamar Wengi dengan menyerukan kalimat yang sama, mempertanyakan keberadaan Wati. Namun, si empunya kamar tak bergeming. Wengi tetap pada pendiriannya, berharap sang ibu tidak pernah lagi kembali ke rumah ini.
Wengi menutup kedua telinganya, dia pura-pura tidak mendengar suara Surti yang sedari tadi menjerit memanggilnya dan bertanya dimana keberadaan Wati.
“Bu, biar bapak ke rumah Sheril, dia pasti tahu dimana Wati,” putus Wasjud mencoba menenangkan sang istri.
Padahal Surti sudah sejak tadi menyuruh Wasjud mendobrak pintu kamar Wengi. Namun urung dia lakukan karena tak ingin membuat Wengi semakin membenci ibunya. Wasjud keluar rumah, dia menyeberangi jalan menuju umah Lela dan Hambali.
Tangan hitam nan keriput Wasjud mengetuk pintu rumah jati di depannya dengan diiringi ucapan salam. Lama sudah dia menunggu, tapi tak ada yang menjawab salamnya, hingga netra tuanya menangkap sebuah bel tertempel di dinding samping jendela.
“Ya Allah, aku lupa, rumah gede mah pakai bel,” gumam Wasjud yang langsung memencet bel dua kali. Tidak berapa lama pintu terbuka, menampilkan Lela, ibunda Sheril.
“Eh, Mang Wasjud. Ada perlu apa Mang?” Suara Lela terdengar ramah.
“Ayo masuk dulu Mang, ngobrol di dalam,” sambung Lela mempersilakan Wasjud dengan membuka satu daun pintu rumahnya.
“Gak usah Bu,” tolak Wasjud.
“Maaf, saya mau ketemu Sheril, Bu?”
“Sheril?” ulang Lela dengan mengkerutkan kening karena biasanya Wasjud ke rumah untuk mencari sang suami, tapi kini justru Sheril yang dia cari.
“Iya Bu, boleh saya bertemu Sheril?”
“Oh, iya ya. Saya panggil dulu Sherilnya ya.” Lela masuk kembali ke dalam rumah, dia memanggil Sheril yang sedang menonton televisi dengan Hambali, suaminya.
“Sheril, di luar ada Mang Wasjud. Dia nyari kamu.”
Muka Sheril berubah pias, dia baru ingat perihal Wati. Bahkan saat pulang dari pasar raya, Sheril dan Wengi melupakan Wati begitu saja.
“Kamu kenapa gugup gitu, ayo sana temuin mang Wasjud,” perintah Hambali.
Dia dan Lela saling bertukar pandang melihat langkah Sheril yang begitu berat. Gesture tubuh Sheril begitu mengisyaratkan ada sesuatu yang dia sembunyikan dari kedua orang tuanya. Lela meraih remote TV, dia mengajak Hambali menyusul Sheril dengan isyarat mata.
“Neng Sheril, tolong katakan pada bapak dimana Wati, ibunya Wengi?” tanya Wasjud dengan suara memelas, begitu dia mendapati sosok Sheril sudah berada di ambang pintu.
“Itu Mang-, di-tinggal di mas-jid,” gugup Sheril menjawab pertanyaan Wasjud.
“Masjid mana Neng?”
“Masjid Pitung-galuh,” jawab Sheril dengan ragu-ragu.
“Ya Allah....” Wasjud mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
“Bapak mau nyusul Wati ke Pitunggaluh?” tanya Hambali yang sempat mendengar sekilas obrolan mereka.
“Iya pak, Wati tidak pernah ke sana. Dia pasti tidak tahu jalan pulang. Maaf malam-malam sudah mengganggu keluarga pak Hambali, Saya permisi-.”
“Saya antar Pak, sebentar saya ambil kunci mobil dulu.”
Hambali bergegas masuk mengambil kunci mobil, Lela meminta maaf atas kelakuan putrinya. Namun, Wasjud tidak mempermasalahkan hal itu. Jangankan Sheril, Wengi yang anak kandung Wati saja merasa risih diikuti sang ibu, apalagi Sheril.
“Ayo pak,” ajak Hambali.
Mereka menaiki mobil bak Hambali menuju masjid Pitunggaluh. Butuh waktu dua puluh menit untuk menuju ke sana. Sepanjang perjalanan Wasjud tak henti berharap sang putri masih berada di sana.
“Alhamdulillah, itu Wati Pak,” tunjuk Wasjud pada seorang wanita berjilbab menutupi d**a yang sedang mondar-mandir di depan masjid dengan mulut yang terus berkomat-kamit.
“Wati...Wati..., ini bapak,” teriak Wasjud memanggil sang putri begitu mobil berhenti di depan halaman masjid.
“Bapak, Wengi, Pak. Wengi … bapak,” isak Wati yang langsung berhambur ke pelukan Wasjud.
“Bapak, mana Wengi. Wengi hilang, Pak. Wengi....”
“Sssstttt, Wengi ada di rumah. Wati jangan nangis lagi ya,” bujuk Wasjud.
Dia mengusap punggung sang putri yang terus bergetar dalam pelukannya, meskipun lirih. Namun masih tertangkap jelas di telinga Wasjud kalau Wati terus menyebut nama sang penguasa jagat raya, disertai harap dan doa untuk Wengi.
Mata Wasjud berkaca-kaca, ‘sungguh cintamu begitu nyata, Nak. Namun keadaanmu jutru membuat Wengi tak menginginkanmu.’
Wasjud menuntun Wengi masuk ke dalam mobil Hambali. Mulutnya terus saja menceracau sesuatu yang tak jelas terdengar oleh Hambali, tapi Wasjud sudah begitu hapal kalau setiap aksara yang dirangkai Wati hanya akan membentuk kata cinta yang mengagungkan Sang Maha Kuasa.
“Sekarang sudah tidak pernah ngamuk lagi ya, Mang?” tanya Hambali dengan suara begitu lirih agar tak terdengar oleh Wati.
“Alhamdulillah, Pak.”
“Kalau dia duduk di depan rumah, kadang tamu saya tidak ada yang menyangka kalau....”
Hambali tak meneruskan kata yang sudah ada di ujung lidahnya. Namun, Wasjud sudah menerka kelanjutan dari kalimat yang digantung Hambali.
Bukan satu dua orang yang mengatakan hal itu, Wati memang tak nampak seperti orang gila saat duduk tenang. Penampilannya rapi, hanya bibirnya jarang terkantup, selalu bergerak lirih. Orang menyebut Wati terus menceracau. Namun Wasjud dan Surti tahu kalau sang putri sedang berdzikir, bersalawat atau membaca kalimat lain yang mengagungkan Sang Pemilik Cintanya.
“Terima kasih, Pak. Pak Hambali sudah berbaik hati mengantarkan saya menjemput Wati.”
“Tidak usah sungkan, Mang. Kita tetangga, saya juga sering merepotkan bapak.”
Surti langsung berdiri saat melihat mobil Hambali berhenti, seruan rasa syukur langsung dia ucapkan saat melihat Wati bersama mereka. Sedari tadi dia menunggu dengan gelisah, sedari tadi harapnya tak henti terucap. Harapan agar sang suami bisa menemukan Wati.
“Emak Wengi mana, Wengi mana.Wengi … Mak.”
Suara Wati terdengar begitu menyayat hatinya, kehilangan yang membuat Wati membentangkan tabir begitu lebar dan kokoh untuk menutup dirinya dari gemerlap dunia. Kehilangan yang begitu menyakitinya hingga membuat Wati memilih tak mengenal dunia demi menjaga satu-satunya cinta yang tersisa.
Wengi adalah buah cintanya dengan, Bram. Wengi selalu menjadi prioritas utama Wati dalam menghabiskan sisa hidupnya di dunia ini. Wati hanya menginginkan Wengi tetap berada di sampingnya, meskipun makian dan omelan Wengi kerap ia dengar. Namun dia tidak peduli, dia yakin kalau suatu hari Wengi pasti tahu kalau semua yang dia lakukan demi cintanya pada Wengi.
“Masuk Bu,” ajak Wasjud yang terlihat begitu lelah. Namun Wati terus menggeleng, dia terus menggumamkan nama Wengi.
“Masuk yuk, Nak. Wengi ada, dia di ka-mar.”
Belum selesai kalimat bujukan dari bibir Surti, Wati sudah melangkah lebar memasuki rumah. Dia berdiri di depan kamar Wengi terus memanggil nama sang putri.
“Wengi, buka pintunya. Lihat, betapa ibumu begitu mengkhawatirkan kamu.” Wasjud mengetuk pintu kamar Wengi.
“Wengi … Wengi …,” panggil Wati dengan terus mengetuk pintu kamar putrinya.
Hal itu membuat Wasjud tidak tega melihat raut khawatir dengan muka Wati yang begitu lelah, tapi terus memanggil nama sang putri.
“Wengi, dengar bapak. Buka pintunya! Bapak akan dobrak dan tidak akan bapak perbaiki setelahnya,” ancam Wasjud dengan sedikit berteriak.
Rasa lelah yang mendera, membuat emosinya meluap begitu saja. Sungguh kali ini Wengi sudah begitu keterlaluan. Napas Wasjud sudah memburu, dia bahkan sudah siap mendobrak pintu kamar Wengi. Namun, tubuh rentanya justru luruh ke lantai.
Mata Wasjud terpejam, itu membuat raungan Surti langsung menggema. Tangisnya pecah memangku sang suami yang terkulai lemah dengan mata tertutup.