'Ya Allah ini bukan perkara ikhlas karena tanpa ikhlasku, Kau berhak mengambil semua yang ada di sisiku. Rasanya baru kemarin Kau mengembalikan dia bersama kami. Baru kemarin aku melihatnya berdiri di ambang pintu dengan sinar kerinduan yang tercetak jelas. Sungguh, aku ingin membuat jiwaku tak sadar. Namun anak dan cucuku masih teramat membutuhkan wanita tua yang harus tetap tegar ketika jiwanya rapuh.'
Derap langkah orang-orang menjauh dari tempat Surti terdengar jelas di telinganya. Namun Surti memilih membuat tuli sejenak dirinya. Kepergian Wasjud yang begitu tiba-tiba membuat Surti tergoncang.
Dia tahu kalau sejatinya yang hidup tak selamanya bernapas. Hanya sang pemilik napas yang berhak mengambil setiap nyawa yang dikehendaki-Nya.
Aroma melati dan aneka bunga menyeruak saat angin berhembus menerbangkan ujung kerudung yang dipakai Surti. Di samping Surti, Wati terus saja memainkan kerikil yang tersebar di hadapannya. Kadang tangannya melempar kerikil tersebut ke atas gundukan tanah yang ditaburi aneka bunga, bibir Wati terus saja bergerak tanpa ada yang tahu apa yang sedari tadi dia gumamkan.
"Halimah, ajaklah mereka pulang. Mak Surti butuh istirahat," suruh Marjuki dengan menepuk lengan sang istri yang berdiri di sampingnya.
Halimah belum bergerak, dia masih menatap nanar ke arah ibu dan anak yang masih duduk bersimpuh di depan gundukan tanah dimana Wasjud terkubur di dalamnya.
Baru kemarin pagi dia berbincang sejenak dengan Wasjud, pria yang hampir semua rambutnya ditumbuhi uban sebagai penanda usianya sudah semakin senja. Pak tua yang masih gigih bekerja sebagai buruh tani di sawah para tetangganya.
Aroma petrikor menyeruak saat Halimah berpapasan dengan Wasjud yang memanggul cangkul di bahu kirinya. Aroma tanah yang bisa dicium jelas dari baju dan celana yang Wasjud kenakan yang terlihat dipenuhi percikan tanah yang masih terlihat basah.
"Dari sawah siapa, Pak?" sapa Halimah saat Wasjud tepat berada di hadapannya.
"Sawahnya Mila banjir gara-gara hujan semalam, bapak diminta bedah tanggul yang ke arah kali itu loh," tunjuk Wasjud dengan membalik badannya, menunjukan aliran sungai kecil yang disebut warga dusun Karang Anyes dengan nama kali.
"Iya hujan semalam gede ya, Pak. Suami saya juga langsung ke sawah begitu selesai salat subuh."
"Iya, Bapak tadi papasan dengan nak Marjuki. Katanya mau pindah ke sawah yang di dekat hutan Parimanan," ujar Wasjud.
Tak lama mereka berbincang karena Hendra sudah memanggil Halimah dari pintu rumahnya, menantikan sesuatu yang ditenteng tangan kanan Halimah dengan kresek hitam.
"Pak, duluan ya ...," pamit Halimah yang bergegas melebarkan langkahnya menuju rumah.
Tak disangka sama sekali oleh Halimah kalau itu menjadi perbincangan terakhir dengan Wasjud. Sungguh benar, maut tak bisa diminta dan tak mungkin dihindari. Allah yang memegang rahasia lamanya usia kita di dunia. Dia begitu mudahnya membuat yang bernyawa kembali ke dalam tanah seperti semula saat awal manusia dicipta.
"Mah," tegur Marjuki melihat Halimah hanya berdiri terpekur dengan tatapan matanya yang lurus ke depan, menyaksikan Surti dan Wati yang tak bersuara duduk di depan makam Wasjud.
Tidak jauh dari tempat mereka, sebuah pohon mangga yang menyembunyikan badan mungil Wengi di balik batangnya yang berdiri kokoh menjadi saksi bisu tangis sesal sang bocah.
Wengi tidak berani mendekati Surti. Sedari tadi dia memilih untuk duduk di belakang pohon mangga menyaksikan pemakaman kakeknya.
"Aku tak sanggup mengajak mereka pulang, Mas." Halimah menoleh ke arah suaminya, tangisnya kembali meluap. Namun diredam d**a bidang Marjuki yang menjadi tumpuannya kala rapuh.
Dia menangis bukan karena kepergian Wasjud, tapi lebih karena ketakutannya kehilangan sang suami seperti yang Surti rasakan kini.
"Ibu ... Bapak, cepetan pulang," teriak Sahrul karena sedari tadi dia menunggu mereka di sebuah warung yang tidak jauh dari lokasi pemakaman Wasjud. Namun kedua orang tuanya tidak juga menampakkan diri, hingga Sahrul berinisiatif mengajak Hendra menyusul mereka.
Halimah mundur hingga terlepas dari pelukan Marjuki. Dia seka matanya yang masih sedikit berair dengan ujung jilbab instan yang dikenakannya. Perlahan Halimah melangkah mendekati Surti dan Wati.
"Mak, pulang yuk. Matahari semakin tinggi, biarkan Bapak istirahat dengan tenang," ujar Halimah mencoba menguatkan Surti.
Dia mengangkat badan kurus Surti untuk berdiri kemudian beralih ke arah Wati untuk membisikkan hal yang sama padanya.
"Hendra, ajak Wengi pulang," teriak Halimah memanggil anak bungsunya yang seumuran dengan Wengi.
Hendra langsung berlari ke arah Wengi yang tubuhnya tidak terlihat seutuhnya karena tertutupi batang pohon mangga.
"Wengi ayo pulang," ajak Hendra dengan mengulurkan kedua telapak tangannya ke depan Wengi.
Wengi meraih tangan Hendra untuk berdiri. "Harusnya aku tak meninggalkan ibu waktu itu," sesal Wengi dengan air mata yang kembali jatuh membasahi pipi tirusnya.
"Ini bukan salah kamu, ayo kita pulang," ajak Hendra. Dia tidak ingin mendengar tangis penyesalan Wengi yang mau tidak mau membuatnya ikut bersedih.
Kedua telunjuk Hendra menyeka air mata yang menggenang di mata lebar memanjang milik Wengi.
Hendra menuntun Wengi melewati Surti, Wati dan Halimah yang masih berdiri di samping makam Wasjud. Begitu kedua bocah itu sampai di depan Marjuki, Halimah pun menuntun Surti agar melangkahkan kaki rentanya meninggalkan cinta sejatinya yang sudah terlebih dulu dipanggil kembali sang pencipta.
Sepanjang jalan, Surti tak juga bersuara. Lelah hati, jiwa dan raga membuatnya lebih memilih untuk diam sementara waktu. Sebagai manusia biasa, dia ingin menjerit menyalahkan Wengi yang menjadi penyebab dari semua tragedi yang terjadi hanya dalam satu malam. Namun sisi lain dari dirinya menolak, melarang dan mencegah Surti untuk meluapkan rasa marah dan kecewanya pada Wengi.
Wengi tetap lah Wengi, bocah yang belum mengerti kenapa semua ini berawal. Bocah yang juga menjadi korban keadaan yang membuatnya dipaksa mengerti keadaan sang ibu yang begitu istimewa, sangat berbeda dengan ibu dari teman-temannya.
'Lantas hanya Engkau sajakah yang bisa mendengar semua aduan dan keluh kesahku? Tidak bisakah beban berat, kecewa dan duka ini aku luapkan.'
Dalam langkahnya, Surti tetap bertafakur. Dia terus mencoba tetap menerima setiap garis kehidupan yang sudah tertulis untuknya. Halimah, terus membisikkan kata sabar di telinga Surti dengan tutur katanya yang lembut dan penuh sayang.
Surti tidak pernah meragukan ketulusan hati dari Halimah dan keluarganya. Namun dia tidak mungkin menggantungkan hidup mereka pada Marjuki dan Halimah yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan mereka.
"Mak, nanti malam tahlil bapak di musala saja ya ..., biar aku yang siapkan kue dan tumpeng tahlilnya," bisik Halimah saat mereka sudah tiba di depan rumah Surti.
"Nak Imah, Emak ...."
"Emak adalah keluarga kami. Emak sudah seperti ibuku sendiri, meskipun aku tahu kalau ikhlas itu susah. Tapi Emak harus melepas kepergian bapak dengan kelapangan hati, supaya bapak juga mendapat kelapangan kubur," ujar Halimah dengan kedua tangannya yang menggenggam erat jemari Surti yang hitam, keriput dan hanya tulang tak terbungkus daging sama sekali.
"Terima kasih Imah, entah harus dengan apa Emak membalas semua kebaikan kamu dan Marjuki."
"Emak nggak perlu balas apa-apa. Mak Surti cukup janji sama aku untuk tidak terus menangisi kepergian bapak. Kasihan bapak, Mak. Janji ya?" pinta Halimah dengan membungkukkan badan dan tatapan penuh harap agar Surti mau mengabulkan permintaannya.
"Insyaallah, Nak."