Wengi masih saja duduk di sudut kamarnya wajahnya dia tenggelamkan di atas kedua lututnya yang tertekuk.
‘Aku salah, aku yang membuat Bapak pergi. Aku yang membuat emak terus menangisi kepergian bapak.’
Terus saja kalimat demi kalimat terangkai tanpa terucapkan. Kalimat yang berisi semua penyesalan atas kejadian yang terjadi karena ulahnya semalam. Tangisnya bahkan tak lagi bersuara, hanya badannya yang bergetar dengan derai air mata yang tak kunjung berhenti. Wati masih setia duduk di ambang pintu kamar Wengi, dia tidak berani masuk. Namun, tidak juga meninggalkan sang putri yang terus menyesali semua yang telah terjadi.
Surti?
Tahukah kalian kalau sekarang dia yang paling tersakiti karena kepergian sang suami? Dia merasa semuanya bagai mimpi. Mimpi buruk yang ingin segera dilalui. Kepergin Wasjud yang begitu mendadak dan tiba-tiba membuatnya tidak bisa menerima kenyataan. Bahkan, Surti ingin sejenak saja tidak peduli dengan anak dan cucunya. Raganya lelah, jiwanya rapuh. Kini badannya tertekuk memeluk guling.
Dia bahkan lupa kalau sejak semalam belum ada sesuap nasi pun masuk ke mulutnya. Andai maut bisa diminta, yang diinginkannya hanya satu. Menyusul sang suami agar tidak lagi memikul beratnya hidup sendiri seperti saat mereka terpisah sejenak.
Terpisah sejenak? Itu dulu, dulu Surti masih bisa memanjatkan doa dan harapan agar sang suami kembali. Namun, kini suaminya tidak mungkin kembali. Wasjud telah kembali ke pangkuan sang penciptanya. Terkubur dalam tanah sebagai tanpa berbedanya alam mereka. Maut yang memisahkan dan maut pula lah yang akan mengembalikan kebersamaan mereka nantinya.
“Assalamualaikum.” Suara salam terdengar dari arah pintu depan.
Halimah datang bersama Sahrul dan Hendra. Mereka membawa rantang berisi lauk pauk dan juga satu sangku nasi.
“Bu, nggak ada yang jawab. Langsung dibuka saja ya?” tanya Sahrul yang sudah bersiap memutar gagang pintu.
“Jangan, itu nggak sopan, Nak,” cegah Halimah menarik tangan Sahrul.
Halimah kembali mengetuk pintu, disertai teriakan Sahrul dan Hendra yang mengucapkan salam bersamaan. Wengi yang mendengarnya langsung berlari keluar dari kamar tanpa memandang sang ibu yang sedari tadi duduk di depan pintu tanpa sejenak pun meninggalkan dirinya.
Wati pun langsung berdiri dan mengikuti langkah Wengi, dia tidak mau kalau harus kehilangan sang putri seperti kemarin, saat Wengi meninggalkannya di masjid dusun Pitunggaluh.
“Wengi ….” Halimah terpaku melihat wajah Wengi bersimbah air mata.
Di belakang Wengi dia juga melihat Wati dengan rambut berantakan tanpa mengenakan jilbab. Miris, melihat ibu dan anak di depannya terlihat kacau.
“Emak di kamar?” tebak Halimah yang diangguki Wengi tanpa suara.
Air matanya dihapus dengan kerah kaos yang dia gunakan. Halimah pun meminta izin untuk masuk. Dia menyuruh kedua anaknya untuk meletakan makanan yang mereka bawa di ruang tamu, sedangkan dia langsung mengajak Wengi untuk ke kamar mandi.
“Wengi mandi dulu ya, nanti baru makan,” ucapnya saat sudah di depan kamar mandi yang menyatu dengan dapur.
“Bibi mau ke kamar emak boleh?”
Lagi-lagi Halimah hanya melihat anggukan kepala Wengi sebagai jawaban dari pertanyaannya.
Halimah memang sempat mendengar selentingan kabar dari orang-orang yang datang melayat tadi pagi. Mereka mengatakan kalau Wasjud meninggal karena kelakuan Wengi yang meninggalkan ibunya di sebuah masjid. Tentu saja kabar tersebut mereka dengar dari Hambali dan keluarganya yang sempat membantu Wasjud mencari Wati.
Halimah pun sempat menanyakan perihal kebenaran kabar tersebut pada kedua putranya yang juga berangkat ke pasar raya di dusun pitunggaluh kemarin. Namun, dia tidak ingin menyalahkan Wengi, Wengi tetaplah bocah yang belum mengerti apa-apa.
“Mandi, ganti baju. Nanti makan,” suruh Halimah sebelum dia menutup pintu kamar mandi.
“Wati, aku ke kamar Mak Surti ya,” izin Halimah pada Wati yang berdiri di pojok dapur.
Tentu saja Wati tidak menanggapi izin yang Halimah lontarkan. Dia hanya berdiri dengan tatapan kosong yang tertuju pada pintu kamar mandi dimana sang anak yang begitu berarti untuknya berada di dalam sana. Tanpa dia mengerti kalau semua tindakan posesifnya hanya akan membuat Wengi semakin membenci Wati.
Halimah lansung berjalan menuju kamar Surti. Dia mengetuk pintu kamar Surti yang tidak tertutup sempurna. Dari celah pintu yang terbuka, netranya bisa menangkap tubuh Surti yang meringkuk miring di atas ranjang.
“Mak Surti, aku masuk ya ….”
Perlahan Halimah membuka pintu tanpa menunggu izin dari Surti. Kakinya melangkah tanpa suara mendekati ranjang. Dia pun duduk di tepi kasur dengan mengusap pelan lengan Surti, membuat mata renta Surti terbuka.
“Imah,” ucap Surti dengan bibir bergetar.
Tubuhnya teramat lemah, Jangankan untuk duduk memeluk Halimah. Bahkan, untuk menyebut namanya saja terasa berat untuk Surti.
“Mak, makan yuk. Imah bawa nasi dan lauk buat Emak,” ajak Halimah.
Kepala Surti menggeleng dengan lemah, dia butuh makan. Namun, rasanya dia tidak akan mampu menelan makanan. Nafsu makannya hilang, satu yang dia inginkan hanya menyusul sang suami di alam keabadian.
“Emak sudah janji sama Imah untuk mencoba mengkihlaskan kepergian bapak. Emak harus makan. Tubuh Emak lemah. Bangun, yuk,” ajak Halimah membantu Surti untuk duduk bersandar di ranjang.
“Imah ambil makan dulu ya.”
Halimah langsung bergegas keluar untuk mengambil nasi dan lauk yang dia bawa untuk Surti dan anak-cucunya. saat dia berjalan ke dapur untuk mengambil piring, Wati masih berada di sana. Namun dia tidak mendengar suara gemericik air dari kamar mandi.
“Sahrul, Hendra …,” teriak Halimah memanggil kedua putranya dengan sebuah piring dan sendok di tangam.
“Iya, Bu,” jawab keduanya hampir bersamaan.
Halimah tidak menjawab, dia langsung mengambil nasi dan lauk secukupnya, kemudian dia berikan pada Hendra. Dia juga mengambil sebuah air minum dalam gelas dan diberikan pada Sahrul.
“Bawa ke kamar Mak Surti. Kalian temani Mak Surti makan, ibu mau urus Wengi dulu,” pesan Halimah sebelum meninggalkan anaknya dengan langkah lebar menuju ke kamar mandi.
Ceklek. Pintu kamar mandi tidak terkunci, Halimah langsung membukanya. Betapa terkejutnya saat dia melihat Wengi meringkuk kedinginan di sudut kamar mandi dengan pakaian yang basah kuyup dan tubuh yang bergetar karena menggigil.
“Ya Allah, Wengi … apa yang kamu lakukan, Nak?”
Halimah lansung melepas semua pakaian Wengi dan membungkusnya dengan handuk yang tergantung di hanger. Badan Wengi terus bergetar, bukan hanya karena dingin yang dia rasakan. Namun, juga karena isakan tanpa suara yang sedari tadi tidak mampu dia hentikan.
“Aku menyesal, Bi. Bapak marah padaku. Bapak pergi karena marah sama aku, Bi,” aku Wengi saat Halimah memeluknya.
“Kalau bapak tidak marah pasti bapak tidak akan mati, Bi. Aku yang menyebabkan bapak mati, Bi.”
Luruh air mata Halimah berjatuhan membasahi rambut Wengi. Apa yang harus dia ucapkan pada bocah kecil yang menyesali kesalahannya.
‘Ya Allah, ampuni lah kesalahannya. Dia hanya seorang bocah yang tak mengerti apapun. Seorang bocah yang terlahir dengan keadaan yang membuatnya susah mengerti alur hidupnya.’
Halimah mendekap tubuh Wengi dengan semakin erat, jemarinya mengusap rambut wengi yang masih basah menjadi semakin basah karena lelehan air matanya.
“Sudah, Nak. Yuk, Wengi ke kamar. Wengi pakai baju dulu biar tidak kedinginan,” ajak Halimah yang merangkul pundak Wengi.
Mereka melewati Wati yang masih berdiri dengan tatapan kosong, matanya hanya tertuju pada Wengi. Tanpa tahu rasa seperti apa yang kini bergemuruh dalam pikiran Wengi.