Tetap Sama

1358 Words
[Cantik, Kau begitu sempurna. Matamu mengalihkan duniaku. Aku mendambamu untuk selalu hadir dalam mimpiku.] Wengi kembali melipat surat yang ditulis pada kertas yang disobek asal oleh sang pengirimnya. Sudah tiga kali ini dia mendapatkan surat dari orang yang sama, meskipun tanpa nama pengirim yang tertulis di sana. Wengi yakin itu dari orang yang sama. Sama? Iya, tulisan ketiga surat itu begitu sama dan selalu meletakkan surat itu di kolong meja Wengi. Dia yakin semua surat yang diterimanya itu dari satu orang yang sama meskipun entah siapa pengirimnya. Gadis cantik itu kini beranjak remaja. Waktu yang berlalu merubahnya tumbuh menjadi gadis belia yang cantik. Hingga seorang laki-laki pun kini terjerat oleh pesona wajah ayunya. "Wengi, Mak pergi dulu. Jangan lupa kunci pintu," pamit Surti sebelum pergi ke sawah Lela pagi ini. “Iya, Mak,” balas Wengi sedikit berteriak karena suara Surti mengagetkannya dari lamunan yang diakibatkan surat-surat tanpa nama dari si pengirim yang belakangan ini mengganggu pikirannya. Pikiran dari seorang gadis yang sudah mulai beranjak remaja, jejak waktu memang terlalu cepat berpindah. Jarum jam yang terus berputar menghantarkan setiap kejadian untuk berubah jadi kenangan. Kehidupan harus terus berlalu meskipun kini tak lagi ada sosok pria gigih yang kerap membantu Surti. Empat tahun sudah Wasjud meninggalkan mereka, dan selama itu pula Surti tidak lagi keliling menjajakan sarapan. Dia lebih memilih kembali menjadi buruh tani yang hanya bermodalkan tenaga untuk menghasilkan rupiah. Setiap hari dia berangkat jam enam pagi dan pulang waktu dzuhur untuk mendapatkan upah lima puluh ribu rupiah. Selembar uang yang harus pas untuk menghidupi mereka bertiga. Dia memang masih memiliki satu hektar tanah yang masih disewakan pada Marjuki. Namun, Surti tetap tidak mungkin berpangku tangan begitu saja karena hasil sewa yang diberikan Marjuki setahun sekali tidak mungkin mencukupi kehidupan mereka selama satu tahun. Wengi sudah siap dengan seragam putih biru dengan rambut yang sudah diikat rapi ke atas. Dia hanya tinggal mengenakan kerudung seragam sekolahnya. Peraturan sekolah memang mewajibkan seluruh siswi yang beragama Islam untuk mengenakan kerudung. Dia segera meraih tasnya dan berjalan keluar dari kamar. “Jam masih menunjukan pukul enam pagi. Namun, dia harus mampir sejenak ke rumah Halimah, ibunda Hendra untuk mengambil kue atau panganan bocah yang akan dia jual di sekolah sebelum jam masuk atau saat jam istirahat. “Bu, berangkat,” ujar Wengi saat selesai mengunci pintu rumah mereka dan meletakan anak kunci di bawah pot bunga di depan rumah. Wengi melangkah lebar menuju rumah Halimah tanpa sekali pun menengok sang ibu yang selalu mengekornya. Percuma segala amarah yang tertuang dan sudah berulang dia sampaikan dengan begitu jelas di depan sang ibu agar tidak lagi mengikutinya ke sekolah. Semuanya bagai angin lalu karena nyatanya, Wati tetap saja selalu menunggunya di depan gerbang sekolah. Sama seperti saat dia masih sekolah dasar dulu. “Assalamualaikum, Bi Imah,” salam Wengi dengan sedikit berteriak karena pintu rumah Halimah yang biasanya terbuka kini masih tertutup rapat. Setahun sejak kepergian Wasjud, Halimah yang berniat membantu keluarga Surti dengan membuat kue dan panganan bocah yang khusus dijualkan oleh Wengi sejak bocah itu duduk di bangku kelas enam sekolah dasar hingga kini sudah kelas tiga SMP. Setiap hari, Wengi mendapatkan keuntungan rata-rata dua puluh hingga tiga puluh ribu rupiah. Terkadang beberapa rekan guru juga memesan kue dari Wengi untuk acara-acara tertentu. Kalau ada orderan tambahan kadang sehari Wengi bisa mendapatkan keuntungan hingga lebih dari tujuh puluh ribu rupiah. Namun, itu sangat jarang terjadi. Kalaupun kue yang dia bawa tidak habis, biasanya Halimah akan menyuruh Wengi untuk membawanya pulang agar bisa dimakan bertiga dengan ibu dan neneknya. “Assalamualaikum,” ulang Wengi yang kembali mengucapkan salam dengan lebih keras lagi karena belum ada tanda-tanda adanya seseorang yang membukakan pintu untuknya. “Waalaikumsalam.” Terdengar jawaban salam dari dalam rumah. Tak lama kemudian pintu terbuka, ternyata Sahrul yang sudah rapi dengan seragam SMK yang menjawab salam dan membukakan pintu untuk Wengi. “Kata ibu langsung masuk saja,” suruh Sahrul dengan membuka lebar daun pintu rumahnya. “Terima kasih, Kak,” jawab Wengi, dia pun berjalan masuk ke arah dapur tempat dimana Halimah menyiapkan kue untuk dia bawa nanti, sementara Wati tak berani masuk. Dia hanya duduk di depan teras rumah Halimah seperti yang sudah-sudah. “Assalamualaikum, Bi.” “Waalaikumsalam, sini bantu hitung cilok puyuhnya nih ada berapa,” suruh Halimah dengan menunjukan bulatan-bulatan cilok di nampan. Halimah sendiri sedang menghitung es bom-bom yang dimasukan ke dalam termos kedap udara agar es bom-bom tidak cepat mencair. Di sana ada juga Hendra yang sedang memasukan roti panggang aneka isi ke dalam plastik untuk dipress dengan mesin press plastik mini. “Bi ciloknya ada enam puluh tiga,” kata Wengi setelah semua cilok berada di sebuah toples kotak yang dilapisi koran dan sudah ada sebotol saos dan tusukan lidi di dalamnya. “Nanti kalau ciloknya habis kamu bayar lima puluh ribu saja ya. Ini es bombomnya cuma ada 25 biji, roti panggangnya ada 23 ya,” ujar Halimah menyebutkan total masing-masing panganan yang akan dibawa Wengi. “Nanti aku bayar berapa bu, es sama rotinya?” “Esnya dua puluh ribu rotinya juga sama dua puluh ribu ya,” jawab Halimah dengan sunggingan senyum yang membuat dirinya selalu tampak cantik. ‘Seandainya ibuku tidak gila, pasti dia akan secantik bi Imah,’ monolog yang kerap terucap dalam batin Wengi kala mengagumi sosok Halimah yang cantik dan penuh kelembutan. “Jadi sembilan puluh ribu ya,” tanya Wengi mengkonfirmasi jumlah uang yang harus dia bayarkan nantinya. “Iya, Sayang. Laris-laris ya,” pesan Halimah saat memberikan termos ke tangan Wengi. “Hendra jangan lupa Wengi dibantu,” sambungnya berpesan pada si bungsu yang sedang memakai tas gendongnya. “Iya, Bu.” Hendra menjawab sembari mencium punggung tangan sang ibu. Begitu juga Wengi yang selalu melakukan hal yang sama sebelum mereka berangkat sekolah bertiga. Setiap pagi mereka berangkat bersama sekitar jam enam lebih seperempat dengan berjalan kaki sejauh satu setengah kilometer menuju SMP Negeri Tiga Bulang karang yang berada di dusun Bulang Buana. Dari dusun Karang Anyes, mereka melewati rumah-rumah penduduk dan hamparan sawah selama kurang lebih lima belas hingga dua puluh menit sebelum sampai di dusun Bulang Buana. Kecamatan Bulang Karang terdapat beberapa dusun atau desa yakni Bulang Karang, Bulang Buana, Karang Sari, Karang Anyes, Pitunggaluh, Surya Buana dan Galuh Harja. Di antara ketujuh dusun, Karang Anyes adalah dusun yang paling jauh dengan pusat kecamatan karena lokasi langsung berbatasan dengan hutan kayu putih. “Hari ini aku ada latihan basket, kamu pulang duluan saja,” ujar Hendra pada Wengi. “Aku yang bawa ini ke rumah atau bagaimana?” tanya Wengi menunjukan termos yang dia tenteng dengan dua toples kotak yang dibawa Hendra. “Kamu saja yang bawa, bisa?” “Bisa,” jawab Wengi. Hendra dan Sherlin adalah teman satu dusun dengannya yang kini juga satu sekolah dengan Wengi yang masih mau bergaul dengannya meskipun Wati kerap membuntuti sang putri. Sebagian teman-teman SD mereka banyak yang memilih bersekolah di SMPN 1 Bulang Karang atau SMPN 2 Bulang Karang yang lebih dulu dibangun dibandingkan dengan SMP negeri tiga Bulang Karang yang baru lima tahun berdiri. Sesampainya di depan gerbang sekolah, Wengi dan Hendra berhenti sejenak. Wengi mengambilkan satu roti panggang dan tiga buah cilok untuk diberikan pada Wati. Tak lupa dia juga mengeluarkan satu botol air mineral dari dalam tas untuk bekal minum sang ibu. “Ibu aku ke masuk dulu.” Wengi meraih tangan sang ibu untuk dicium, begitupun dengan Hendra. Barulah mereka masuk ke dalam gerbang meninggalkan Wati di bawah pohon asam di pojok kiri bangunan sekolah. Dia akan tetap di sana, meski panas menerpa kulitnya dan hujan membasahi tubuhnya. Tak akan beranjak sebelum sang anak keluar dari gerbang sekolah. Tetap sama, seperti saat Wengi masih sekolah dasar. Hanya pohon tempat Wati berteduh yang kini membedakannya. Tidak jauh dari tempat Wati duduk, ada tumpukan batu dan kerikil juga sebuah botol kosong. Botol kosong yang akan Wati isi dengan batu-batu kecil dan kerikil yang selalu dia masukan satu persatu dengan bibirnya yang tak henti bergerak lirih. Tanpa seorang pun tahu, apa yang dia gumamkan. Mereka hanya tahu, kalau orang gila penunggu pohon asam SMPN 3 Bulang Karang itu bernama Wati. Si ibu gila yang akan setia duduk di sana hingga anaknya selesai bersekolah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD