Luapan Kecewa

1291 Words
“Wengi, Ciloknya lima ribu ya,” pinta Hasan guru olah raga Wengi yang berdiri di depan gerbang. Dia mengulurkan uang lima ribu rupiah setelah Wengi mencium tanganya. “Iya, Pak. Nanti diantar ke ruang guru.” “Sekarang saja, mumpung masih pagi banyak yang belum sarapan,” saran Hasan. Semua guru di sekolah ini tahu kalau Wengi si yatim yang tinggal bersama nenek dengan ibunya yang mengalami gangguan jiwa, sehingga para guru di sana sering memborong dagangan Wati kala mereka berpapasan dengannya. “Gimana, Dra?” tanya Wati meminta persetujuan Hendra karena dia akan kerepotan kalau seorang diri masuk ke ruang guru. Hendra yang selalu dia andalkan untuk membantunya melayani para pembeli. “Yuk, lumayan biar cepat habis,” putus Hendra saat melihat jam di pergelangan tangannya. Dia melangkah terlebih dahulu setelah mereka membungkukan badan sebelum meninggalkan Hasan. Langkah Hendra berbelok ke lorong kanan sekolah diikuti Wengi di belakangnya. mereka menuju ruang guru yang terletak di pojok lorong kanan. Sementara kelas dia dan sendiri ada di deretan sebelah kiri bangunan sekolah. Namun jam di pergelangan tangan Hendra masih menunjukan kalau mereka masih memiliki waktu sekitar tujuh belas menit sebelum bel masuk berbunyi. “Assalamualaikum, sarapan, Bu, Pak,” seru Hendra menawarkan dagangan yang dibawa dia dan Wengi. “Sini, Wengi, Hendra, letakkan di sini saja,” suruh salah satu guru menunjukan meja guru di depannya. “Roti bakar cokelat s**u ya, Wengi dua,” pintanya kemudian. “Cilok puyuh lima ribuan tiga, saosnya dipisah,” sahut guru yang lain “Ibu juga mau ciloknya ya lima ribu, nggak usah di kasih saos.” “Saya lima ribu juga, rotinya satu.” Dengan sigap Wengi dan Hendra melayani pesanan para guru mereka. Hendra yang akan mengantarkan cilok yang sudah wengi masuk-masukan ke dalam plastik. Beruntung Halimah tidak pernah lupa membawakan saos yang sudah dimasukan ke dalam plastik kecil dan diikat agar tidak merepotkan Wengi jika ada pembeli yang meminta saosnya dipisah. Sekitar sepuluh menit mereka di sana, baru kemudian keluar dari ruang guru dengan membawa dagangan yang sudah habis separuh. Baru juga mereka tiba di depan kelas Wengi, bel masuk pun berbunyi. Hendra menaruh dua toples yang dia bawa di bawah meja Wengi kemudian segera beranjak keluar untuk menuju ruang kelasnya yang tepat berada di samping kelas Wengi. “Kamu telat sih, aku nunggu ciloknya,” gerutu Cindi, teman sebangku Wengi. “Tadi ke ruang guru dulu,” ringis Wengi memamerkan deretan gigi putihnya. “Pantes …. Kemarin dapat surat lagi?” tanya Cindi yang sudah tahu tiga kali melihat Wengi mendapatkan surat yang dilipat asal tergeletak di kolom mejanya. “Tuh ada lagi,” tunjuk Cindi ke arah kolong meja Wengi. Wengi mengambilnya untuk segera dibaca. Namun kedatangan guru jam pertama membuat Wengi memasukan surat itu ke dalam tasnya tanpa sempat ia baca. Dia mungkin akan ingat untuk membacanya sore atau besok paginya. Waktu istirahatnya digunakan untuk berdagang, sepulang sekolah dia akan mencuci pakaian dan mengerjakan perkerjaan rumah lainnya membantu sang nenek. Mereka berdua saling berganteng tangan, melengkapi satu sama lain, saling menghibur juga saling mengingatkan untuk selalu menjaga kesehatan masing-masing. Wengi begitu menyayangi Surti, meskipun dia masih saja bersikap acuh tak acuh pada Wati. Baginya, keberadaan Wati hanya menjadi beban untuk sang nenek. Meskipun Surti sendiri tidak pernah mengeluhkan tentang itu. Namun, Wengi masih saja menganggap sang ibu hanya benalu yang bukan hanya jadi beban mereka, tapi juga membuat malu dirinya. _____I.S_____ “Panas banget, ibumu sudah dikasih minum?” bisik Cindi saat mereka sedang mengerjakan soal Fisika di jam pelajaran terakhir. “Sudah,” balas Wengi acuh. Dia selalu malas membalas obrolan Cindi atau siapapun yang membahas tentang sang ibu, dia justru sedang memikirkan sang nenek yang harus berjuang di bawah teriknya sang surya yang membuat kulit Surti terpanggang hingga terlihat semakin hitam. “Wengi …,” panggil Bu Nurjaenah,  guru Fisika mereka. “Iya, Bu.” Wengi bergegas menuju meja guru untuk memenuhi panggilan dari Nurjaenah. “Besok bawakan kue maryam rasa cokelat seratus ribu sama cilok puyuh lima puluh ribu, biasa, sertakan saos, plastik dan tusukan ya.” Nurjaenah mengulurkan tiga lembar uang lima puluh ribuan pada Wengi. “Alhamdulillah, baik bu,” senyum Wengi mengembang saat menerima uang dari gurunya. “Ada acara apa, Bu?” lanjutnya memberanikan diri bertanya pada salah satu guru yang terkenal killer di sekolahnya. “Syukuran kecil-kecilan saja, habis dapat rejeki.” “Alhamdulillah, semoga makin lancar rejekinya ya, Bu. Biar sering beli kue sama Wengi,” ujar Wengi dengan riang. Namun, sang guru hanya menanggapinya dengan anggukan, kemudian memberi kode pada Wengi dengan tatapan matanya yang tajam bak elang agar dia segera duduk kembali. Senyum Wengi terus merekah membayangkan uang yang dia hasilkan besok akan lebih banyak dari hari ini. Seandainya bisa, dia ingin melarang neneknya untuk pegi ke sawah. Dia ingin di masa tuanya, Surti bisa hidup dengan tenang tanpa harus bekerja keras. Namun, sang nenek tidak pernah mau hanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun. “Uangmu ditabung, suatu saat kamu pasti membutuhkannya.” Kalimat seperti itu yang selalu Surti lontarkan kala Wengi memberikan uang hasil dia berjualan di sekolah. Wengi pun tak pernah menghambur-hamburkan uang yang dia dapatkan, sebagian dia gunakan untuk keperluan sehari-hari dan sebagian lagi akan dia tabung. Wengi yakin, ada masanya dia akan membutuhkan banyak uang untuk melanjutkan sekolahnya meskipun selama ini Wengi mendaptakan beasiswa dari sekolah. Namun, tetap saja dia membutuhkan uang untuk membeli perlengkapan sekolah yang tidak tercover dari beasiswa yang dia dapatkan. ______I.S_____ “Bu ayo pulang,” bentak Wengi pada Wati yang masih setia duduk di bawah pohon asam. “Bawa ini!” Wengi memberikan kedua toples kosong tempat cilok dan roti panggang ke tangan kanan dan kiri sang ibu, kemudian dia melenggang meninggalkan sang ibu dengan termos es kosong di tangannya. “Wengi … bonceng nggak?” tawar Serlin yang menggunakan sepeda motor matic untuk pergi dan pulang sekolah. Wengi menggeleng dan melambaikan tangan sebagai tanda menolak tawaran Serlin dan beberapa teman yang pulang searah dengannya. Wengi tahu kalau tawaran itu hanya sekedar bassa-basi saja karena dia tidak pernah mau diajak mereka pergi maupun pulang sekolah bersama karena sang ibu yang selalu membuntutinya. “Coba ibu diam di rumah, aku bisa ikut mereka naik motor,” gerutu Wengi saat mereka melewati hamparan sawah sebagai pemisah dusun Bulang Buana dan dusun Karang Anyes. “Jalan kaki panas tahu, ibu repotin mulu bisanya.” “Padahal enak di rumah, ibu nggak perlu kepanasan, kehujanan dan juga nggak capek karena harus jalan kaki, enak kan,” bentak Wengi membalik badan hingga Wati pun menghentikan langkahnya. “Aku lupa, ibu kan gila. Ibu mana ngerti, mana yang enak dan enggak. Ibu memang nggak berguna, cuma bisa nyusahin aku dan emak,” lanjutnya yang kerap memaki sang ibu yang selalu dianggap pembawa sial. “Ya Allah, seandainya bisa, panjangkan umur Emak … biar ibu saja yang mati duluan, eneg aku dibuntutin mulu,” seru Wengi dengan lantang. Seruan yang menggores hati wanita yang selalu menundukan kepala kala berjalan mengikuti sang putri yang begitu ia cinta, tak peduli caci, maki dan hinaan yang kerap Wengi lontarkan padanya. Tak sekalipun Wati menanggapinya, baginya sikap Wengi hanya luapan dari seorang bocah yang kecewa dengan keadaan yang menimpanya. Keadaan yang berawal dari sebuah kehilangan yang dipaksakan. “Ibu beneran bisu? Atau tuli juga? Bingung aku, sudah gila ditambah bisu-tuli juga. Ya Allah, bisa nggak sih aku ganti ibu,” teriak Wengi lagi. Teriakan dan makian yang terus saja dia lontarkan hingga langkah mereka mulai memasuki  dusun Karang Anyes, barulah bibir Wengi berhenti memaki Wati. ‘Cintaku tak kalah oleh hinaan, tak redup hanya karena makian. Biarlah kehinaan ini menutup kemegahan hati, Biarlah aku tetap tulus mencintai. Luasnya sawah terhampar, tingginya gunung menjulang, Tak kan mampu menghalang cinta dan pengorbanan wanita sepertiku.’ “Wengi … awas!” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD